Cinta Adinda

Cinta Adinda
Enampuluh Tiga


__ADS_3

Perjodohan


Febri pulang dari Rumah Sakit diantar Angga sampai kerumah.


"Masuklah kedalam, kamu pasti sangat lelah" ucap Angga.


"Terimakasih Pak udah mengantarkan saya" Febri keluar dari mobil Angga dan membuka pagar rumahnya.


Mobil Angga bergerak meninggalkan rumah Febri. Angga heran hari ini dia perhatikan Febri tidak banyak cerita seperti biasanya. Raut wajahnya juga terkadang seperti banyak berfikir dan sedih. Ada apa dengan gadi itu?


Febri menatap kepergian mobil Angga sampai jauh. Dia masih terbayang pembicaraannya tadi dengan Dinda di rumah sakit.


Apakah memang dia harus mengungkapkan perasaannya pada Angga? Hah... Febri menarik nafas kasar, apakah dia seberani itu.


Tapi menuruti permintaam orangtuanya menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Dia ingat Dinda menikah dulu juga belum cinta pada suaminya tapi saat itu hati Dinda masih bebas belum ada diisi oleh pria lain.


Sementara dirinya, hatinya sudah menyimpan nama Angga sejak lama. Tapi dia hanya memendamnya dan hanya menikmati posisinya sebagai pengagum rahasia.


Febri masuk kedalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum" ucapnya memberi salam. Dan dijawab oleh Papanya yang sedang menonton TV.


"Wa'alaikumsalam" jawab Papanya.


"Feb, sini duduk dulu Papa mau bicara dengan kamu. Dari tadi Papa menunggu kamu tapi kamu lama sekali pulang kantornya. Dari mana saja kami?" tanya Papanya mengintrogasi.


"Maaf Pa, Febri dari rumah sakit. Teman Febri sedang sakit dan tadi tidak ada yang menemaninya dirumah sakit" jawabnya.


Febri kemudian duduk disofa ruang tv persis disebelah Papanya.


"Bagaimana dengan rencana Papa kemarin yang ingin menjodohkan kamu pada anak teman Papa di Provinsi B, walau mereka tinggal di daerah tapi mereka termasuk sukse lho dikota itu" ucap Papanya.


"Papa tidak memaksa kamu. Atau kamu sudah punya calon sendiri?" tanya Papanya.


" Be..belum Pa" jawab Febri.


"Papa lihat belakangan ini kamu sering sekali diantar dan dijemput oleh Pria yang mengendarai mobil itu, siapa dia?" tanya Papanya penuh selidik.


"Bukan siapa-siapa pa, dia Asisten Bos Febri dikantor Pa, kami berhubungan hanya urusan kantor saja" Febri memberi kejelasan pada Papanya.


"Kalau kamu memang mempunyai calon sendiri Papa tidak memaksa, bawa pria itu kerumah dan kenalkan pada Papa. Tapi kalau belum, tidak ada salahnya kamu pertimbangkan permintaan Papa untuk menjodohkan kamu dengan anak teman Papa"


Febri semakin tertunduk mendengar ucapan papanya.


"Atai begini, kamu berkenalan aja dulu sama calon dari Papa itu, pelan-pelan kan nanti kamu bisa menerima dan memikirkannya. Ingat kamu wanita, umur kamu sudah berapa? Umur kamu itu sudah pantas untuk menikah, jangan lama-lama"


Febri mendengarkan nasehat Papanya.


"Iya Pa" jawab Febri lirih.

__ADS_1


"Kalau begitu Papa atur pertemuan kalian ya, nanti akan Papa kabari kamu waktu dan tempatnya. Oke?" ucap Papanya.


"Sekarang kamu masuk ke kamar istirahat, sudah malam. Besok kamu akan bekerja"


Febri hanya sanggup menganggukkan kepalanya tak berani menatap manik mata Papanya. Dia bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju kamarnya.


Seandainya dia bisa menolak permintaan Papanya, tapi bagaimana? Dia tidak punya alasan yang tepat. Papanya tidak memaksa, kalau dia punya calon silahkan bawa dan kenalkan.


Masalahnya dia punya calon tapi calonnya tidak tau perasaannya dan calonnya itu juga tidak mempunyai perasaan padanya. Ribet kan???


Febri masuk ke kamar, bersih besih mandi setelah itu shalat. Dalam shalat dia meminta jalan terbaik untuk dia pilih.


Febri berbaring diatas tempat tidurnya, benar-benar tidak tau apa yang harus dia lakukan. Mungkin lebih baik ikut saran Papanya aja, jalani dulu setelah itu baru dia fikirkan kembali.


*****


2 hari kemudian.


Hari ini Dinda sudah diperbolehkan pulang. Menurut dokter harus istirahat lagi beberapa hari dirumah baru diizinkan bekerja kembali.


Sebenarnya Rendy sudah membujuk istrinya untuk tidak bekerja lagi di kantor tapi Dinda tidak mau, alasannya bosan dirumah terus. Lagian kehamilannya juga tidak memberatkan, asal Dinda lebih berhati-hati lagi agar tidak kepleset seperti kemarin dan tidak boleh terlalu capek.


Jam 5 sore Angga dan Febri sudah berangkat dari kantor menuju Rumah Sakit. Mereka akan menjemput Dinda dan Rendy untuk pulang ke apartemen mereka.


Setelah menyelesaikan semua administrasi Dinda sudah boleh pulang.


Mereka sudah didalam mobil menuju apartemen.


"Kamu pengennya apa?" tanya Rendy.


"Kan yang sering ngidam kamu Mas, kalau aku makan apa aja suka gak terlalu banyak pilihan yang penting aku kenyang" jawab Dinda.


"Mm.... Ga cari penjual mie rebus? Sepertinya enak dicampur sama sate padang Ga?" Ucap Rendy.


Mulai lagi deh si Bos ini, suka makan yang di campur-campur dan aneh? Duuuh.... Umpat Angga dalam hati.


Mereka singgah di penjual sate padang setelah itu baru cari mie rebus medan.


"Bungkus aja ya Mas, aku malas makan disini. Aku mau dua-duanya, laper" ujar Dinda.


"Buanyaknya Din makan kamu? belum 3 bulan kamu udah ndut Din" Febri berkomentar.


"Gak apa-apa Feb, saya aja suaminya gak masalah kog kamu yang sewot" Rendy memotong kata-kata Febri.


Salah lagi... Ucap Febri dalam hati sambil memukul kepalanya pelan.


Angga tersenyum melihat tingkah Febri.


Rasain lu Feb, asal nyerocos kena samber sama si Bos, udah tau orang hamil sensitif eh suami yang hamil ini ya ( hahaha )

__ADS_1


Setelah memesan untuk bawa pulang mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen Rendy.


"Ga makan dulu baru pulang" Perintah Rendy.


Mati gue... Disuruh lagi ni sepertinya makan begituan. Membayangkan saja Angga udah mual.


Dinda dibantu Febri menyiapkan peralatan makan malam di meja makan kemudian mereka duduk berempat didepan meja makan.


Wajah Angga terlihat sangat tegang menanti intruksi Bos nya itu.


Rendy membuka bungkus mie rebusnya kemudian meletakkan sate diatasnya setelah itu dia menuangkan sedikit bumbu sate padang untuk menambah rasa dikuah mie rebusnya.


Oooh begitu rupanya. aku kira semuanya dijadikan satu. Apa rasanya? Fikir Angga lega.


"Kenapa Ga, wajah kamu kog tegang gitu. Takut aku suruh nyobain?" tanya Rendy.


" Eh nggak Bos" jawab Angga.


Dinda baru saja menghabiskan mie rebusnya, kemudian dia membuka bungkus yang kedua sate padang. Ampun deh Ibu hamil porsi makannya udah kayak samson.


Angga dan Febri pun ikut makan bersama mereka.


Setelah makan dan membersihkan meja baru Febri pamit pulang diantar Angga.


Di Mobil lagi-lagi Angga merasa aneh dengan sikap Febri yang lebih pendiam sekarang.


"Kamu kenapa Feb, sakit gigi? kog tumben diam aja?" tanya Angga.


"Ah nggak, lagi memikirkan sesuatu Pak" jawab Febri.


"Pak, bagaimana menurut Bapak tentang perjodohan?" tanya Febri tiba-tiba.


"Perjodohan? Mmm... menurut saya simpel aja, kalau memang dia itu jodoh kita pasti akan datang kepada kita" jawab Angga.


"Kalau kawin paksa?" tanya Febri.


"Penjajah kali Feb kerja paksa, mana ada kawin paksa" jawab Angga.


"Pernikahan yang dipaksa karena perjodohan?" tanya Febri kembali.


"Ya seperti yang saya bilang tadi, kalau memang bukan jodoh kita mau dipaksa bagaimanapun pasti gak akan bakal jadi" ucap Angga.


"Tapi kita kan harus usaha Pak, gak boleh pasrah gitu menanti jodoh. Misalnya ini ya Pak, kalau ada orang yang kita suka, trus kita dijodohkan secara paksa. Apa kita pasrah aja menerima perjodohan, kalau gak jodoh pasti akan batal nah kalau jodoh kita ya pasti nikah, gitu? trus kita gak berusaha membuat orang yang kita suka itu menjadi jodoh kita? Siapa tau memang dia jodoh kita" tanpa Febri sadari dia sudah ngoceh panjang dari tadi.


Angga tersenyum mendengar ocehannya, dia rindu dengan Febri yang seperti ini.


"Ya kalau ada orang yang kita suka ya harus diperjuangkan lah Feb, tapi kembali lagi. Bagaimana pun kita berusaha memperjuangkannya kalau tidak jodoh ya akan berpisah juga" jawab Angga.


"Yang penting usaha Pak, tidak berpasrah diri. soal hasil urusan belakang" Potong Febri.

__ADS_1


Karena asik berdebat tanpa terasa mereka sudah sampai di depan pagar rumah Febri. Febri pun turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya


__ADS_2