
Saatnya Memutuskan
Angga menyusul Dinda dan Rendy di kantin. Dia memesan makanan dan ikut makan bersama mereka karena dari tadi malam Angga juga belum makan.
"Febri kamu tinggal sendiri Ga?" tanya Dinda.
"Nggak" jawab Angga singkat sambil melanjutkan makannya.
"Lho jadi maksud kamu Febri ada yang nemani Ga, siapa?" tanyanya kembali.
"Calon suaminya" Jawab Angga sedikit kesal.
"Apa? Calon suaminya?" Febri terkejut mendengarnya.
"Febri udah sadar Ga?" Gantian Rendy yang bertanya.
"Belum" jawab Angga.
"Iiih Angga kamu kog ngeselin sih. Jawabnya singkat-singkat gitu" ucap Dinda yang terlihat sangat kesal.
"Ga, kamu udah gila apa. Febri masih gak sadar trus kamu ninggalin dia berdua sama orang asing yang ngaku-ngaku calon suaminya dan kamu percaya gitu aja?" tanya Rendy dengan suara yang sedikit keras.
"Aku pernah lihat pria itu sedang makan dan ngobrol berdua dengan Febri di restourant dan mereka terlihat sangat akrab. Febri tersenyum dan tertawa lepas saat bersamanya" terdengar nada cemburu dari penjelasan Angga.
"Belum tentu juga benar Ga, bisa jadi itu kerabat atau teman. Kamu menyerah begitu aja Ga?" tanya Rendy.
"Iya ni Angga. Tadi aja waktu Febri sedang kritis nangis-nangis. Jangan pergi Feb, aku sayang kamu, aku akan melamar kamu.. Mana coba semangat kamu, masak cuma segitu aja" ledek Dinda kesal.
"Trus aku harus bagaimana Din, aku mau tanya Febri belum bisa? Febri kan masih gak sadar. Trus aku mau ngusir tuh cowok juga gak mungkin. Dia emang kenal Febri, kenal keluarganya. Aku tetap disana, aku gak tahan melihat dia bersama pria itu" Jawab Angga frustasi.
Rendy dan Dinda terdiam mendengar penjelasan Angga.
"Febri pernah cerita sama kamu soal calon suaminya?" tanya Angga.
"Nggak. Dia cuma bilang kalau dia mau dijodohkan dengan anak sahabat Papanya" jawab Dinda.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa beberapa hari yang lalu dia ungkapkan perasaannya padaku?" tanya Angga yang sebenarnya dia sendiri tak bisa menjawabnya dari kemarin.
"Maksud kamu?" Dinda balik bertanya.
"Jumat malam kemarin setelah pulang dari rumah kalian dia berkata padaku kalau dia punya perasaan kepadaku. Tapi dia tidak mau pacaran. Dia minta agar aku mempertimbangkan dia sebagai istriku. Apa coba maksud dari kata-katanya?" Jawab Angga.
"Eh dodol... Kamu kog begok amat ya. Itu ya maksudnya Dia suka sama kamu dan dia mau serius sama kamu. Tidak ada pacaran, kalau kamu mau langsung nikah, gitu Anggaaaaa" Dinda kesal lihat Angga yang sangat tulalit, ngartiin kata kata gitu aja susah amat.
"Trus kamu jawab apa Ga?" tanya Rendy penasaran.
"Aku belum sempat jawab, dia langsung keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya. Senin kemarin kan kami juga belum ada ketemu seharian, ketemunya ya baru tadi di villa" jawab Angga.
"Kalau seandainya kemarin kamu punya waktu untuk menjawab pertanyaannya, kamu mau jawab apa Ga?" Rendy tersenyum melihat tingkah Asistennya.
Bisa begok juga ni anak kalau lagi jatuh cinta. Biasanya otaknya selalu encer membantuku dikantor untuk menyelesaikan masalah.
Angga terdiam, dia kemudian menarik nafas panjang
"Awalnya aku sulit sekali mengartikan apa yang Febri katakan. 3 hari aku memikirkannya sampai saat aku melihat dia tadi tertusuk dan kritis. Akhirnya aku sadar pada perasaanku. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku mencintainya" Jawab Angga jujur pada dirinya sendiri.
"Kalau gitu perjuangkan donk. Masak menyerah gitu" ucap Rendy.
"Aku baru ingat Bos, beberapa minggu yang lalu Febri memang pernah bertanya padaku tentang perjodohan. Aku bilang ya tenang aja kalau emang jodoh pasti akan bersama. Mau dijodohkan gimanapun kalau emang gak jodoh pasti gak akan jadi. Tapi dia bilang aku terlalu pasrah. Dia bilang kalau dia akan berusaha dulu mendapatkan orang yang dia suka, nah kalau emang gak jodoh baru dia terima dan dia baru mau dijodohkan" ujar Rendy mengulang kata-kata yang Febri katakan.
"Yap itu baru benar Ga, jangan pasrah aja kayak kamu gini" Rendy melirik Angga dengan tatapan mengejek.
Angga langsung berdiri dari duduknya.
"Aku baru mengerti apa yang Febri maksudkan. Dia berusaha ngungkapin perasaannya padaku kalau memang kami tidak berjodoh baru dia terima perjodohan itu. Yang penting dia sudah berusaha dulu, jodoh urusan belakang" Angga berkata lantang.
"Nah itu pinter..." ucap Dinda tersenyum.
Angga segera berlari menuju ke kamar Febri. Dia akan berusaha memperjuangkan perasaannya. Kalau emang gak jodoh itu urusan nanti, yang penting dia sudah berjuang.
Tapi sesampainya diruangan Febri, Angga melihat keluarga Febri sudah sampai di Bandung. Papa dan Mamanya juga calon suaminya. Membuat nyalinya kembali menciut.
__ADS_1
Angga mundur lagi, dia hanya bisa melihat dan mendengar kalau keluarga Febri sangat sayang pada pria yang akan mereka jodohkan dengan anak mereka. Sedangkan dia belum pernah sekalipun bertemu dengan orangtua Febri.
Angga mondar mandir didepan pintu kamar Febri di rawat.
Rendy dan Dinda yang berjalan dibelakangnya tersenyum melihat tingkah Angga yang serba salah itu. Angga yang sedang pusing karena jatuh cinta.
Dinda sangat penasaran dengan pria yang mau dijodohkan dengan Febri, jadi dia merengek kepada suaminya untuk kembali ke kamar Febri melihat dan bertemu langsung dengan pria yang dimaksud.
Rendy menepuk bahu Angga sehingga Angga berhenti berputar-putar.
"Kita masuk aja yuk" ajak Rendy.
Rendy, Dinda dan Angga kemudian masuk ke kamar Febri dan berkenalan dengan keluarga Febri dan juga calon suami yang tadi diceritakan Angga.
"Maaf ya nak, kalian teman kantornya Febri?" tanya Papa Febri memulai pembicaraan.
"Saya Rendy Pratama Baskara CEO Baskara Corp dan ini istri saya" ucap Rendy.
Wawan yang mendengar nama tersebut tapi belum pernah bertemu langsung. Saat dia melihat pemilik perusahaan besar itu secara langsung dia sangat mengagumi sosok pengusaha itu, benar-benar sangat berkharisma, walau usianya masih muda.
"Ketepatan istri saya temannya Febri di kantor. Dan ini Angga, asisten saya dikantor" Rendy menunjuk kearah Angga.
Angga menundukkan wajahnya memberikan hormat kepada orangtua Febri.
"Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada Febri dan karena Febri belum sadar saya akan menyampaikannya pada keluarga Febri. Febri telah menyelamatkan istri saya dari tusukan seorang penjahat, Dia mengorbankan dirinya demi istri saya yang sedang hamil. Saya tidak bisa bayangkan jika tidak ada Febri, istri dan anak saya yang ada dalam kandungan mungkin tidak akan selamat" Ucap Rendy dengan sangat santun.
"Kami akan menuntut orang yang sudah membuat Febri seperti ini dan kami akan menanggung semua biaya Febri selama dirawat disini. Jika Bapak Ibu membutuhkan sesuatu jangan segan-segan untuk memintanya pada asisten saya. Maaf saya tidak bisa tinggal lama dikota ini karena saya harus kembali bekerja besok. Saya akan menugaskan asisten saya untuk tetap tinggal disini mengurus semua keperluan Febri, Bapak dan Ibu selama disini" Rendy pamit kepada orangtua Febri untuk kembali ke Jakarta.
"Sampaikan salam hormat kami pada Febri jika nanti dia siuman. Sekali lagi terimakasih" Rendy dan Dinda memberikan hormat kepada orangtua Febri sambil menjabat tangan mereka.
Mereka pun keluar dari ruang rawat inap, diikuti Angga.
"Ga kamu urus Febri aja dulu disini, biar saya dan Dinda yang balik duluan ngurus kantor. Kamu fokus aja dulu untuk memperjuangkan hati kamu" ucap Rendy sambil menepuk bahu Angga lalu melangkah pergi.
"Selamat berjuang Ga, semoga berhasil" Dinda memberi semangat kepada Angga kemudian dia berjalan menyusul suaminya.
__ADS_1
Hanya tinggal Angga yang sedang menatap kepergian mereka