
Kabar Gembira 2
Mendekati waktu makan siang, Dinda masuk keruangan Bos yang akan segera menjadi suaminya itu.
"Mas mau pesan makan siang apa hari ini?" Tanya Dinda
"Pesankan saja kayak biasa, kamu pesan aja sekalian dan tolong panggil Angga keruanganku" Sejak mereka sepakat untuk menikah Rendy sudah merubah gaya bahasanya. Sekarang dia sudah bisa terlihat sangat santai. Mungkin sudah maju satu langkah menuju pendekatan.
"Aku izin makan siang bersama Febri dikantin ya Mas, ada yang mau aku bicarakan dengan dia. Mas makan siang dengan Angga saja bisa?" tanya Dinda sedikit ragu.
"Bisa, ya udah pesankan makanan Angga juga" Rendy masih asik dengan berkas berkasnya.
Selalu saja begitu setiap bicara padaku tidak pernah menatap wajah. Hanya melihat kertas kertas yang berserakan. Apa mereka lebih menarik daripada aku? Dinda cemberut sendiri.
"Hai istri pertama kamu dipanggil suami kamu tuh kekamarnya" Dinda masih cemberut.
"cieeeeh ada yang cemburu?" Goda Angga.
"Aku lebih cemburu pada berkas yang ada di meja si Bos dari pada sama kamu. Dia lebih suka menatap mereka daripada menatapku saat sedang berbicara. Mungkin mereka lebih menarik" Angga terkekeh melihat wajah cemberut Dinda.
"Jelek amat Madu kalau sedang ngambek. Sabar Din, nanti kalau kamu sudah jadi istrinya dia akan selalu menatal kamu" Bujuk Angga.
"Ga kamu mau pesan makan apa? Si Bos pesan nasi padang seperti biasa. Dia ngajak kamu makan bareng diruangannya"
"Samakan aja Din biar kamu gak repot. Aku mah pemakan segala. Apa aja masuk yang penting nasi"
Dinda melangkah pergi.
"Kamu gak makan bareng kami?" tanya Angga.
"Aku mau ketemu selingkuhanku Febri. Kami mau ngedate di kantin siang ini" ucap Dinda.
Baik Rendy ataupun Angga tau kalau Dinda bersahabat dengan febri anak HRD lantai 10. Mereka sama sama pakai jilbab mungkin karena itu mereka bisa berteman, klop ceritanya sama seleranya.
Sesampainya dikantin Dinda mencari keberadaan Febri, setelah menemukannya Dinda datang menyamperi.
"Hai Feb, kamu dah lama nunggu" Sapa Dinda
"Seperti kamu lihat makananku dah hampir habis. Lama banget" Jawab Febri.
"Sorry aku repot ngurusin makan siang si Bos dan asistennya. Tadi aku pesan makan tiba tiba di cancle, padahal udah lama nunggu. Akhirnya aku pesan lagi deh yang lain" Dinda duduk disamping Febri kemudian menyantap makan siangnya. Mereka pun makan dalam diam.
Setelah selesai makan Dinda mengajak febri ngobrol. Ketepatan meja mereka kali ini terletak disudut agak jauh dari keramaian. Dinda merasa cocok ngobrol hal penting disini posisinya aman.
__ADS_1
"Feb..." Panggil Dinda ragu.
"Apa say?? Kamu kog ragu ragu gitu manggilnya kayak ada yang mau diomongin?" Tanya febri heran melihat tingkah Dinda yang seperti itu.
"Aku mau ngomong sesuatu tapi kamu janji tutup mulut dan jangan menjerit ya" Dinda membuat Febri semakin penasaran.
"Tentang apa? aku kog jadi penasaran" ucapnya
"Pak Rendy melamar aku Feb"
"Oh my.... Sumpeh lo?" Dinda mengangguk menjawab pertanyaan febri.
"Kog bisa?" tanyanya tak percaya.
Dinda bercerita tentang keadaan Papa Rendy dan permintaannya sebelum dia meninggal karena Rendy tidak punya calon istri jadi dia mengajak Dinda menikah.
"Jadi kamu terima Din lamaran doi?" tanya Febri kembali.
Dinda mengangguk tersenyum.
"Owh... celamat!!" Mereka berpelukan.
Ssst.... Dinda memberi isyarat pada febri untuk mengecilka suaranya.
"Saat ini belum Feb" jawab Dinda sedih.
"Jadi mengapa kamu terima?" Pertanyaan febri sama seperti Angga.
"Ini keputusan terbaik untuk lari dari kejaran Ivan"
"Betul... betul.. geram banget lihat cowok itu. Udah nikah tapi masih kejar kejae wanita lain. Nikmati ajalah jatahnya masing-masing ya kan? Ngapain nyesal, salah sendiri kenapa dulu ninggalin" Inilah asiknya sama sahabatnya satu ini tidak perlu menceritakan panjang lebar dia sudah bisa mengerti.
"Kalau dia tau kamu udah nikah apalagi sama Pak Rendy pasti dia mundur teratur, secara Pak Rendy lebih segalanya dari dia, rasain tuh cowok gigit jari" Febri tertawa senang, ni juga kelemahan sahabatnya ini senang banget bahagia dengan penderitaan orang lain, dendamnya lama. Eh ini kelebihan atau kelemahan ya hehehe...
"Btw kapan nikahnya Din?" tanya Febri.
"Minggu depan" Dinda tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu
"What....? cepat banget, siapa yang ngebet ini?"
"Papanya Mas Rendy" Jawab Dinda
"Cie...cie... udah panggil Mas nih ye" Goda febri.
__ADS_1
"Supaya terbiasa Feb, kan lucu kalau sudah jadi suami tetap dipanggil Bapak, emang aku anaknya?"
Febri tertawa mendengar jawaban Dinda.
"Gimana sikap Pak Rendy sama kamu?" Tanya Febri.
"Untuk saat ini kami sama-sama belum mempunyai perasaan Feb. Aku rasa dia menikah karena memang ingin mengabulkan permintaan Papanya dan aku untuk menghindari Ivan"
"Langkah kamu sudah benar kawan lanjutkan lah" Febri terkikik merasa lucu sendiri.
"Dari pada kamu diganggu suami orang mending di gangu pria lajang yang kaya plus tampan"
Dinda geleng geleng kepala mendengar omongan Febri, satu lagi sifat sahabatnya ini suka asal ngomongnya tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya itu sering lucu membuat Dinda takjub mendengarnya. Banyak sekali kosa kata yang dikeluarkan Febri yang sama sekali tak pernah terbayangkan Dinda.
"Aku turut bahagia dengan rencana pernikahanmu. Doaku semoga kalian menemukan cinta didalam pernikahan kalian?"
"Kog kata kata kamu sama seperti omongan Angga, sehati ya, jangan-jangan jodoh" ucap Dinda.
"Amin.. Mau banget" Febri mengusap wajahnya seperti selesai berdoa.
Ni anak memang luar biasa pedenya. Dia gak akan malu-malu mengeluarkan isi hatinya pada orang lain apalagi kalau sudah kenal dekat seperti Dinda.
Dinda sangat senang memiliki sahabat seperti Febri dikantor ini. Hidupnya lebih ceria dan berwarna.
"Udahan yuk, kita shalat trus naik ke atas. Aku takut si Bos nyariin lagi" ucap Dinda.
"Nyariin calon istrinya, takut lari" Febri tak berhenti bercanda menggoda Dinda.
Mereka pun berjalan menuju mushala kemudian naik ke ruangan masing-masing. Febri lanti 10, Dinda lantai 13.
Sebelum berpisah Dinda mencoba menggoda sahabatnya itu
"Gak kirim salam buat Angga?"
"Nggak ah kirim hatiku aja untuknya" Febri keluar dari lift sambil tertawa.
Dasar Febri suka ngasal, Dinda tersenyum menatap kepergian sahabatnya itu.
Setelah makan siang Dinda melanjutkan pekerjaannya lagi karena siang ini dia dan Rendy akan keluar memesan baju untuk pernikahan mereka.
Dinda ingin sebelum pergi semua pekerjaannya selesai. Jadi urusan pribadi tidak akan mengganggu pekerjaan kantornya. Dinda menyusun jadwal besok, menyiapkan bahan meeting besok dan mengirim email ke departemen terkait dikantornya untuk bahan rapat hari kamis. Hari Kamis dijadwalkan Rendy akan rapat laporan bulanan jadi semua departemen harus berkumpul mempertanggung jawabkan pekerjaannya masing-masing.
Rapat ini rutin dilakukan setiap bulannya sebagai evaluasi kerja demi kelangsungan hidup perusahaan.
__ADS_1