Cinta Adinda

Cinta Adinda
Empatpuluh Enam


__ADS_3

Mall JTC


"Mas pang kerja nanti aku pergi sama Febri ya" Dinda meminta izin suaminya untuk pergi bersama sahabatnya.


"Mau kemana sayang?" tanya Rendy.


"Aku mau ke Mall JTC, cari gaun buat aku pakai ke acara reunian kampus kamu" jawab Dinda.


"Oh iya aku lupa. Karena kita baru 2 minggu menikah dan biasanya kamu kalau belanja selalu bersama aku. Kamu pegang ini" Rendy menyerahkan sebuah kartu ATM kepada istrinya.


"Gak perlu Mas, aku masih bisa pakai punyaku sendiri" Dinda menolak pemberian suaminya.


"Sayang... aku ini suami kamu jadi aku wajib memberi nafkah kepada istriku" Rendy memegang lembut wajah istrinya.


"Kamu boleh pergi dengan syarat harus membawa kartu ini dan kamu harus diantar supir" Rendy memberi izinnya.


"Kalau kamu tidak mau, mas tidak izinkan" Ancam Rendy.


Dinda berfikir sejenak lalu mengangguk tanda mau.


Rendy mencium kening istrinya dengan lembut.


Sebenarnya bukan keberatan menerima kartu ATM yang baru diberikan suaminya tapi Dinda sedikit keberatan dengan syarat kedua Rendy. Kemana-mana dia pergi harus diantar supir.


Dinda sudah terbiasa mandiri, pergi kemanapun dengan menggunakan angkutan umum, ojek online atau terkadang taxi. Itupun kalau sudah sangat mepet dan penting. Karena menurut Dinda naik taxi itu mahal, maklumlah Dinda kan berasal dari keluarga yang sederhana jadi sangat hati-hati untuk menggunakan uangnya.


Setelah menikah dengan Rendy dia harus merubah kebiasaannya itu. Sekarang dia sudah menjadi istri, seorang istri sudah seharusnya ikut apa kata suami. Karena perkataan suami adalah titah untuknya yang harus dia turuti dan jalankan. Kata Mama pahalanya sangat besar dan Dinda tidak mau mendapat dosa jika melawan perkataan suaminya.


"Nanti pulangnya aku jemput ya. Ketepatan Jam 3 sore aku dan Angga jumpa klient yang lokasinya tidak jauh dari situ. Kita ketemu disana ya" ujar Rendy.


Dinda tersenyum manis menerima perhatian dari suaminya itu. Dinda sangat bersyukur suaminya mencintai dan menyayangi dirinya.


****


Di Mall JTC


Dinda sampai di Mall JTC bersama Febri dengan diantar supir kantor. Mereka langsung menuju butik muslimah terkenal yang berada dilantai 4.


Dinda melihat gaun yang di pajang di etalase butik tersebut. Ada beberapa gaun yang menarik perhatiannya. Gaun berwarna merah dengan mutiara yang disusun berjarak di lengannya. Gaun ke dua berwarna navi model babydoll dengan hiasan mutiara dibagian dada dan payet di bagian pinggang dan gaun terakhir berwarna coklat, dibagian atas terbuat dari bahan renda dan bagian lengannya mod balom.


Dinda mencoba ketiga gaun itu dan dia sangat bingung memilih gaun yang mana. Dinda menyuruh Febri mengambil foto dirinya sedang memakai 3 gaun itu kemudian mengirimkannya ke pada suaminya.


Dinda


Mas yang mana yang bagus?


Bos Beku


Semuanya bagus. Beli aja semua.


Dinda


Serius lho Mas, mubazir beli semuanya.


Bos Beku


Mas serius sayang...


Dinda

__ADS_1


Ah gak asa solusi. Warna Navi ya


Bos Beku


Mas suka yang warna merah


Dinda


warnanya terlalu cerah Mas, aku gak PD


Bos Beku


Beli aja semuanya, nanti biar Mas lihat dirumah kamu lebih bagus makai yang mana


Dinda menutup hpnya dengan kesal. Febri heran melihat tingkah Dinda.


"Gimana Din, si Bos bilang apa?" Tanya Febri


"Dia menyuruhku membeli ketiga gaun itu"


"Waw... horang kayaaah. Trus kenapa kamu malah kesal"


"Pemborosan Feb, aku kan cuma butuh satu gaun aja" Dinda menghembuskan nafasnya kesal.


"Yaelah Din, kapan-kapan juga pasti kamu butuh. Kamu sekarang kan udah jadi istri Bos pasti akan sering menghadiri undangan menemani suami kamu. Lagian itu kan perintah suamiku Din, gak boleh ditolak" Febri mencoba meyakinkan Dinda.


"Iya deh aku beli semuanya" Dinda meminta karyawan butik untuk membungkus ketiga gaun yang dia pakai.


"Din.. din... yang bayar juga suami kamu kog kamu kayak gak ikhlas gitu dibeliin" Febri menggeleng gelenkan kepalanya.


"Aaah... seandainya aku juga mendapat suami kaya seperti suami kamu mungkin sudah ku borong semua yang ada dibutik ini" Febri mulai menghayal.


"Ih sakit lho Din" teriak Febri karena merasa sakit.


"Biasa aja ngomongnya. Asalkan kamu berdoa dan tetap berusaha" Dinda mengedipkan matanya.


"Apa maksud kamu tetap berusaha? Aku disuruh merayu om-om kaya gitu? Ih amita-amit Din"


"Gak harus om-om kali Feb, masih ada Angga tuh"


"Iya... iya aku lupa. Oh Mas Angga tunggu aku. Aku tidak akan menyerah untuk berusaha menggapaimu" Febri berbicara dengan mata yang bercahaya.


"Lebay lo" Dinda tertawa senang melihat tingkah laku sahabatnya itu.


"Feb kamu gak pengen sesuatu?" Tanya Dinda.


"Sesuatu apa Din?" Febri balik bertanya


"Gak pengen beli juga? cepat gih pilih biar aku bayar" Dinda memberi penawaran.


"Gak ah Din, aku bukan wanita matre yang memanfaatkan sahabatnya"


Dinda tersenyum melihat Febri. Kemudian mereka menuju kasir dan membayar semua belanjaan mereka menggunakan ATM yang diberi Rendy tadi.


Tiba-tiba hp Dinda berdering.


"Assalamu'alaikum Mas?" Dinda mengucap salam dan salamnya dibalas dari seberang.


"Ya Mas, Mas udah dimana?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Mas udah di parkir. Kamu dimana?" Rendy balik bertanya.


"Aku masih dibutik ini Mas" Kami turun ya ke parkiran.


"Jangan, biar Mas aja yang naik ke atas. Sekalian kita makan malam bareng ya" Rendy menutup hpnya.


Dinda dan Febri keluar dari butik dan berdiri di selasar Mall menunggu kedatangan Rendy. Dari jauh mereka melihat Rendy berjalan bersama Angga.


"Tuh Feb cowok idaman kamu datang" Dinda menyikut lengan Febri.


Febri yang melihat kedatangan Angga jadi merasa salah tingkah.


"Udah selesai belanjanya?" tanya Rendy.


"Udah" jawab Dinda.


"Yuk kita makan di Restourant depan" Ajak Rendy.


Rendy menggenggam tangan Dinda membawanya berjalan sejajar dengan langkahnya. Sedangkan Febri dan Angga mengikuti mereka dari belakang.


Febri menyapa Angga dengan senyuman.


Mereka berempat makan disebuah Restourant jepang, memesan makanannya kemudian mereka makan bersama.


Setelah selesai makan mereka menuju parkir yang.


"Ga kamu antar Febri pulang" Perintah Rendy pada Angga.


"Baik Pak" ucap Angga.


"Kami duluan ya Feb, kamu pulang sama Angga gak masalah kan?" Tanya Dinda pada Febri.


"Tidak Din, sampai ketemu besok ya" Mereka pun berpamitan.


Rendy dan Dinda pulang dijemput supir yang tadi mengantarkan Dinda dan Febri ke Mall sementara Angga dan Febri pulang berdua.


Febri dan Angga sudah masuk kedalam mobil dan mulai meninggalkan Mall JTC.


"Pak Angga kog diam aja, sariawan?" tanya Febri.


"Nggak" Jawab Angga singkat.


"Senang ya Pak, lihat Pak Rendy dan Dinda mesra sekarang. Sepertinya mereka sudah saling mencintai" Febri mulai membuka suara.


"Syukurlah saya juga senang melihat mereka seperti itu. Mudah-mudahan tidak ada yang mengganggu rumah tangga mereka" Angga ikut menimpali kata-kata Febri.


"Ternyata Pak Rendy itu orangnya romantis ya. Saya kira dingin dan kaku"


"Pak Rendy memang seperti itu, kaku kalau belum kenal dekat. Aslinya dia baik, ramah dan perhatian" jawab Angga.


"Kalau Pak Angga romantis juga gak?" Febri mencoba menggoda Angga.


"Tergantung.... Sekarang kita sudah sampai. Silahkan kamu turun" Angga bersikap datar.


"E..eh iya. Terimakasih ya Pak udah antar saya dengan selamat" ucap Febri.


"Gak singgah lagi Pak?" Febri menawarkan Angga untuk mampir.


"Sudah malam, terimakasih" Angga kemudian menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Febri.

__ADS_1


Bos sama asistennya sama aja beda tipis. Sama bekunya. Eh berarti kalau sudah menikah romantis juga donk... Owh bahagianya bisa jadi istrinya Pak Angga. Febri berteriak dalam hati.


__ADS_2