
Semakin Dekat
Angga mengirim pesan ke Febri.
Asisten Tampan
Saya sudah didepan
Febri tak percaya membaca pesan dari Angga. Dia melirik jam tangannya menunjukkan angka 7. Untung saja dia belum berangkat pagi ini ke kantor kalau tidak kan bisa zonk tuh si asisten.
Febri segera bergegas dan keluar rumah. Benar saja mobil Angga sudah menunggu. Dia pun segera masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Pak, kenapa Bapak jemput saya pagi-pagi sekali. Kita mau ke apartemen Pak Rendy lagi?" tanyanya keheranan.
"Nggak. Rumah kita kan searah ke kantor jadi aku sekalian aja mampirin kamu" jawab Angga.
Sebenarnya dia juga tidak sadar kenapa bisa-bisanya dia mengarahkan mobilnya ke rumah Febri, saat sudah dekat baru dia tersadar dan sudah terlambat. Kepalang basah akhirnya dia kirim pesan ke Febri agar segera keluar dari rumahnya.
Mobil bergerak menuju perusahaan Baskara Corp.
Dan sampailah mereka diarea parkir khusus untuk pejabat perusahaan.
"Terimakasih ya Pak, atas tumpangannya" ucap Dinda.
"Hem.." hanya itu saja jawaban Angga.
Mereka berdua menaiki lift yang khusus disediakan untuk pejabat sehingga hanya ada mereka saja di lift tersebut tidak padat dengan desakan karyawan lain.
Febri menekan angka 10 dan 13 untuk dia dan Angga.
"Kalau butuh sesuatu untuk Dinda jangan segan-segan hubungi saya ya Pak"
Angga menanggapinya hanya dengan diam tapi Febri yakin dia mendengarnya. Saat pintu berbunyi menandakan lift sampai dilantai 10
"Selamat bekerja Pak Angga, yang semangat ya Pak kerjanya. Jangan rindukan saya. Karena rindu itu berat, biar Dilan saja" Febri segera keluar dari lift tanpa memandang kearah Angga lagi.
Angga menatap kepergian Febri. Gadis yang selalu ceria, mengapa jantungku selalu tak tenang setiap bersamanya. Dan mengapa aku tak bisa bersikap santai kepadanya seperti aku bersikap pada Dinda padahal kan mereka bersahabat.
Angga berusaha menetralkan jantungnya, sejak dia menjemput Febri kerumahnya jantungnya sudah sangat kencang berpacu mengalahkan kencang laju mobilnya.
******
Hari ini Angga akan mengurus semua pekerjaan Rendy. Di Perusahaan ucapan Angga sangat disegani, karena setiap apa yang dia perintahkan sudah hampir sama dengan perintah CEO Baskara Corp. Para karyawan juga sangat segan dengan Sang Asisten CEO.
Bahkan sikap dan gaya mereka hampir sama datarnya. Wajah mereka juga hampir sama tampannya walau masih lebih tampan Rendy sedikit, Angga lebih banyak (hahaha itu menurut Angga ya).
Angga memantau perkembangan pembangunan hotel yang bekerjasama dengan PT. ABC milik Ivan, dan juga pembangunan Tol yang bekerjasama dengn Bima Corp perusahaan keluarga yang dipimpin Frengky teman Rendy.
Pembangunan Hotel sudah semakin rampung. Tidam terlalu menguras fikiran karena Ivan memang bekerja sangat bagus dan profesional. Angga hanya tinggal memantau saja. Setelah selesai dari sana, siangnya Angga berangkat menuju area pembangunan Tol.
__ADS_1
Sebelum sampai ke lokasi Angga mendapat telepon. Alangkah terkejutnya Angga mendapat kabar bahwa disana banyak didatangi oleh para demonstran. Dari Informasi yang dia dapatkan, para demonstran menuntut ganti rugi lahan secara layak.
Angga segera menelepon Rendy.
"Ada apa Ga" tanya orang yang berada diseberang sana.
"Bos saya baru mendapat kabar, dilokasi pembangunan Tol sudah banyak didatangi para demonstran yang menuntut pembayaran lahan" Angga melaporkan kepada Rendy.
"Lho bukannya bagian itu sudah diatur Frengky?" tanya Rendy terkejut.
"Mereka meminta tanggung jawab kita Bos selaku perusahaan yang bertanggung jawab atas proyek ini. Mereka menuntut untuk bertemu dengan Bos. Bagaimana ini?" Rendy balik bertanya.
"Gini saja, sekarang kamu dimana?"
"Saya sebenarnya sedang menuju ke lokasi Bos" jawab Angga
"Tolong kamu balik, jemput Febri dari kantor antar ke rumah sakit untuk menemani Dinda. Setelah itu kita pergi kelolasi" perintah Rendy.
"Baik Bos" ucap Angga.
Angga langsung bertindak cepat menghubungi Febri.
"Halo Pak" sapa wanita itu
"Feb cepat kamu bereskan kerja kamu 10 menit lagi saya jemput di lobi bawah. Kita kerumah sakit" Suara Angga terlihat sangat serius, membuat Febri tidak berani bertanya lebih.
"Baik Pak" jawabnya. Febri segera menyiapkan kerjaannya kemudian mematikan komputer dan izin keatasannya sesaui permintaan Pak Angga untuk meninjau kelapangan. Setelah itu Febri turun kebawah menunggu Angga menjemputnya.
"Ada apa Pak? kenapa sepertinga buru-buru sekali. Apa terjadi sesuatu dengan Dinda" akhirnya Febri berani bertanya.
"Tidak, Dinda baik-baik saja. Ada masalah di lokasi pembangunan Tol. Pak Rendy harus segera menyelesaikannya. Jadi kamu yang temani Dinda di rumah sakit, saya akan pergi sama Pak Rendy ke lokasi" ujar Angga menjelaskan.
Febri pun hanya diam tak berani bertanya ataupun bercanda karena dari wajah Angga sepertinya masalah yang mereka hadapi sangat pelik.
Tidak memakan waktu lama mereka sudah sampai dirumah sakit.
****
"Ada masalah Mas? Kenapa Mas mau pergi?" tanya Dinda.
"Hanya masalah kecil sayang yang harus Mas selesaikan, kamu jangan khawatir" ucapnya sambil mencium kening istrinya.
"Kamu ditemani Febri selama Mas pergi ya. Ingat jangan banyak fikiran dan jangan lasak. Kamu harus bedrest" suara Rendy sangat tegas mengingatkan.
"Iya Mas, Mas juga hati-hati kerjanya ya" Dinda mencium tangan suaminya.
Angga dan Febri masuk kedalam kamar Dinda dirawat.
"Mas pergi dulu ya sayang" Rendy membelai lembut kelapa Dinda.
__ADS_1
"Feb, saya titip Dinda ya" ucap Rendy kepada Febri.
"Baik Pak" Jawab Febri.
"Bu Bos saya langsung pamit ya" Sapa Angga.
"Iya Ga, hati-hati ya" jawab Dinda.
Angga dan Rendy pergi menuju lokasi pembangunan Tol untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Sementara Dinda dan Febri menunggu di rumah sakit, mereka hanya bersantai sambil makan cemilan. Mereka berbincang soal keadaan kantor dan masalah pribadi.
"Din, aku mau curhat sama kamu nih" Febri memulai pembicaraan.
"Soal apa Feb, cerita aja" jawab Dinda sambil makan buah-buahan yang dipotong Febri.
"Aku bingung Din, kemarin Papaku menyeruruh aku berkenalan dengan seorang pengusaha dari Provinsi B" ucap Febri mulai bercerita.
"Bagus donk sesuai keinginan kamu pengen dapat pengusaha yang mapan dan kaya" Dinda tersenyum padanya.
"Masalahnya Din, aku gak suka. Apalagi dijodohkan" Febri terlihat sedih, tak biasanya dia begini.
"Kamu punya pilihan lain, begitu?" tanya Dinda.
Febri menganggukkan wajahnya tanda iya.
"Bisa aku tebak siapa orangnya?"
Febri mengangguk lagi.
"Angga" tebak Dinda
Febri mengangguk untuk yang ketiga kalinya.
"Tapi aku kan cuma pengagum rahasia. Belakangan ini aku coba dekat dengan Pak Angga. Mengajaknya bercanda dan bercerita tapi dia gak berubah Din, tetap aja ketat tuh wajah"
Dinda tersenyum mendengar sahabatnya ini bercerita.
"Mungkin kamu masih kurang usaha kali" Dinda mencoba memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Aku kan wanita Din, masak aku yang harus bilang padanya lebih dulu. Sementara dia tetap aja diam padahal aku udah kasi sinyal, kode dan sandi cinta gitu kedia" celoteh Febri kesal.
"Kayak tentara aja pakai sinyal, kode dan sandi. Emangnya mau perang" Dinda meledek Febri.
"Ya tapi kan aku malu Din" ucapnya.
"Kenapa harus malu, kalau kamu emang serius ungkapkan aja. Ini kan zamannya emansipasi wanita. Lagian dulu juga Rasulullah duluan dilamar Istrinya Siti Khadijah Ra" jawab Dinda.
"Iya juga sih, nanti lah Din, aku fikirkan dulu. Saat ini aku belum sanggup" ujar Febri.
__ADS_1
"Jangan lama-lama. Kamu bilang kamu mau dijodohkan sama Papa kamu. Berarti waktunya tinggal sedikit lho. Keburu dilamar Si Pengusaha baru nyahok lo gak bisa lari lagi" Dinda meledek Febri sampai tertawa.
Febri terlihat sedang berfikir dengan serius, memikirkan masa depan yang akan dia ambil dan jalani. Apapun itu dia berharap itu yang terbaik.