
Perdebatan Pertama
Dinda terbangun tepat saat adzan subur berkumandang. Saat matanya terbuka dia melihat wajah suaminya sedang tidur nyenyak. Wajahnya begitu tenang. Dinda menatap setiap celah diwajah suaminya tak ada yang terlewat. Rambut dan alis yang lebat, hidung mancung dan bibir yang tipis. Garis rahang yang jelas dan jambang yang tersusun rapi menambah kesan maskulin. Turun ke bawah, Dinda melihat dada bidangnya diisi bulu bulu halus dan tipis, perutnya yang langsing menandakan bahwa suaminya ini rajin berolah raga. Tidak ada lemak ditubuhnya. Secara kelesuruhan laki laki yang ada dihadapannya ini tampan dan gagah.
Rendy tidur memeluk guling yang menjadi pembatas tidur mereka semalam. Tadi malam Dinda duluan tidur, dia tidak tau kapan suaminya menyusulnya ke kamar.
Tidak mau berlarut dalam keterpesonaan suaminya Dinda turun dari tempat tidur dan mandi. Takut suaminya telat shalat subuh Dinda pun membangunkanya.
"Mas.. bangun sudah lewat adzan subuh"
Mungkin karena Rendy cepat tidur tadi malam sehingga tidak terlalu sulit membangunkannya pagi ini.
Rendy bangkit dan langsung menuju tempat tidur, Dinda menyiapkan pakaian shalat suaminya setelah itu keluar menuji dapur.
Sudah menjadi kebiasaan suaminya setiap pagi minum kopi. Dinda membuat kopi suaminya kemudian menggoreng ayam dan sayur capchai.
Selesai shalat Rendy masuk keruang kerjanya menyiapkan berkas yang akan dia bawa setelah itu baru menyamperin istrinya di dapur.
Rendy meminum kopinya dan menyaksikan pemandangan yang sudah 2 hari ini dinikmatinya.
Makanan sudah siap dan mereka sarapan bersama.
"Din kita langsung ke lapangan ya ada yang masih harus aku selesaikan habis itu baru kita ke kantor" ucap Rendy.
Dinda yang belum siap bertemu Ivan lagi merasa malas ikut Rendy ke lapangan. Dan perubahan raut wajah Dinda itu masih diperhatikan Rendy tapi Rendy belum mau meminta penjelasan dia masih menunggu Dinda yang bicara sendiri padanya.
Setelah sarapan Dinda menyiapkan baju dia dan suaminya. Hari ini dia gak lupa untuk memasang dasi suaminya dan mereka pun langsung berangkat ke lapangan.
****
__ADS_1
Rendy dan Dinda sudah sampai dilokasi pembangunan.
"Mas kesana aja duluan, nanti aku nyusul. Aku mau kirim email dulu" ucap Dinda.
Rendy keluar dari mobil dan langsung masuk kearea pembangunan sedangkan Dinda membereskan kerjaannya melalui email. Setelah selesai cek dan balas email ke kantor Dinda keluar dari mobil.
Tepat bersamaam dengan datangnya mobil Ivan yang langsung parkir disebelah mobil Rendy.
Ivan yang melihat Dinda sendiri langsung tak mau melewatkan kesempatan untuk berbicara dengan Dinda.
"Dinda tolonglah dengar penjelasanku. Kasi aku waktu untuk bicara dengan kamu tentang alasan keluargaku menolak kamu" Ivan mengejar Dinda yang baru keluar dari Mobil.
"Van kemarin kan sudah ku katakan gak ada lagi yang perlu aku omongkan pada kamu. Urusan kita sudah selesai. Aku gak mau lagi membahas masa lalu. Mari kita bersikap profesional. Kita sedang bekerja. Jangan mengganguku" Dinda berusaha menjauh.
Ivan yang panik melihat Dinda mulai menjauh tiba-tiba menarik tangan Dinda dan menggenggamnya erat.
"Lepaskan Van" Teriak Dinda
Rendy yang sedang berjalan kearah mereka segera mendekat.
"Apa-apaan ini?" Tanya Rendy.
Ivan yang terkejut dengan kedatangan Rendy refleks melepaskan genggaman tangannya.
"Gak ada Mas kami cuma ngobrol tentang proyek" Jawab Dinda.
Rendy sebenarnya sudah terbakar api cemburu, dia sudah sangat marah melihat istringa berpegangan tangan dengan pria lain. Tapi dia berusaha menahannya.
"Bisa kamu jelaskan dikantor nanti?" Rendy masuk kedalam mobilnya mencoba mengalihka emosinya. Kalau terus disini dan bertemu dengan Ivan bisa bisa dia menghajar Ivan sampai babak belur.
__ADS_1
Rendy masih menghargai kerjasama yang baik mereka mengingat sejauh ini cara kerja Ivan juga baik.
Tapi sekali lagi Ivan kelewat batas dia tidak akan segan segan membatalkan kerjasama perusahaan mereka.
Dinda yang melihat amarah suaminya langsung menyusul suaminya masuk kedalam mobil.
Mobil bergerak keluar dari lokasi pembangunan dan melaju kencang. Dinda sangat takut suaminya ini murka.
Rendy yang sudah tidak bisa menahan amarahnya menghentikan mobil dipinggir jalan.
"Bisa kamu jelaskan apa yang aku lihat tadi! Aku tidak bodoh dan aku tidak buta. Aku bisa melihat dan mendengar pembicaraan kalian tadi bukanlah pembicaraan biasa. Apa hubungan kamu dengan Ivan?" Tanya Rendy akhirnya.
"Maaf Mas aku merahasiakannya selama ini, dia itu mantan pacarku. Kami sudah putus dan tidak mempunyai hubungan apapun sejak 3 tahun yang lalu" Dinda tertunduk tak berani menatap wajah Rendy.
Rendy memukulu setiur mobil. Dinda tersentak kaget.
"Mas punya alasan mengajak aku menikah, aku juga punya alasan menerima lamaran Mas" Dinda memberanikan diri menatap wajah suaminya itu dan Rendy juga menatap kearah Dinda. Mereka saling tatap, menilik dalam kemata pasangannya mencoba berbicara dengan hati.
"Pertemuan pertama kami setelah 3 tahun putus adalah pada saat kita meeting diluar dengan PT. ABC. Setelah itu dia selalu mencari cara untuk bertemu dan berbicara padaku tapi aku tidak pernah memberi kesempatan sampai pada suatu hari dia mengikutiku sampai rumah dan memaksa untuk mengajak aku bicara diluar, aku tidak mau. Dia tetap memaksa dan Mas Nanda marah dan memukulnya. Sejak saat itu setiap pulang dan pergi kerja aku selalu pergi bersama Mas Nanda" Dinda memulai ceritanya.
Rendy hanya diam mendengarkan.
"Aku mengenal Ivan saat tahun terakhir aku kuliah, dia kuliah di fakultas arsitektur dan aku kuliah di ekonomi. Kami tak sengaja bertemu di perpustakaan. Sejak saat itu kami semakin akrab dan akhirnya kami pacaran. Dulu aku belum memakai jilbab seperti sekarang ini".
Dinda menarik nafas panjang kemudian kembali bercerita.
"Kami pacaran selama 3 tahun sampai kami sama -sama sudah bekerja. 3 tahun yang lalu pada saat Papaku meninggal karena kecelakaan dan Mama stroke karena terkejut mendengar kematian Papa aku sangat-sangat terpukul. Pada saat itu dialah harapanku satu-satunya tempat aku berkeluh kesah dan bercerita. Aku memutuskan berhenti bekerja dan merawat Mama. Sejak saat itu dia semakin menjauh sampai dia datang dengan membawa surat undangan dan mengabarkan kalau dia akan menikah dengan pilihan orangtuanya. Keluarganya tidak setuju dia berhubungan denganku karena keluargaku yang miskin" Dinda pun menangis mengingat pahitnya hidupnya dulu.
"Aku sudah melepas Dia, aku sudah menghapus semua kenangan dia dalam hatiku. Tiba-tiba dia datang lagi kekehidupanku, meminta maaf dandia menyesal. Katanya rumah tangganya tak bahagia dan dia ingin kembali padaku. Aku tidak mau kembali padanya Mas, dia adalah masa laluku. Tapi dia tidak terima dengan penjelasanku. Dia terus berusaha bahkan memaksa untuk bertemu danganku. Aku bingung dan takut waktu itu" Dinda terus menangis sambil bicara terbata bata.
__ADS_1