
Amarah Tuan Arles tampak menjadi-jadi, seketika dia langsung mengambil suatu barang yaitu selembar kertas dan diberikan nya kepada Astrella, "Cepat tanda tangani!" kata Tuan Arles. "Apa itu?" Astrella bertanya. Nyonya Arles hanya terdiam. Windy menjawab, "Apa kau buta?! intinya cepat tanda tangani saja!". Astrella membacanya dengan seksama tanpa melewatkan suatu kata pun. Tiba-tiba, air mata Astrella bercucuran tetapi Astrella masih terdiam. Karlezo tersentak melihat Astrella dan mengepalkan tangannya.
(Astrella)
"Bagaimana kalau aku tidak tanda tangani?"
(Tuan Arles)
"Siapa peduli? mau tanda tangan atau tidak itu bukan urusan kami, tetapi di sini kamu tidak dianggap lagi. Kamu adalah anak pungut dan kamu tidak sedarah dengan kami
Seketika jawaban itu terdengar sangat ketus di telinga Astrella. "Kenapa kalian berbuat begini?" tanya Astrella yang terus mengeluarkan air mata
(Astrella)
"Dari dulu aku tidak pernah memberatkan kalian. Aku selalu berusaha menjadi anak yang baik, putri yang menurut. Tapi, kalian selalu memperlakukan aku seperti pembantu. Dalam bidang studi aku selalu belajar keras agar kalian bangga kepada ku. Tapi kalian menukar nilaiku dengan Windy. Kalian memberikan nilai rendahnya Windy kepadaku.
Hari ulang tahun Windy kalian rayakan.. tapi hari ulang tahunku kalian sama sekali tidak ada yang mengingat nya
Aku belajar untuk selalu rajin, tapi di depan banyak orang kalian mengaku kalau anak yang paling rajin adalah Windy bukan aku
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seketika Karlezo menjadi kesal dan marah, "Cepat tanda tangani saja!" ucap Karlezo dengan nada yang kasar dan pandangan sinis pada Keluarga Arles. Keluarga Arles menghindari tatapan sinis itu karena tatapan itu sangat tajam, membuat mereka takut melihat nya. Astrella tidak mau menandatangani kertas itu. Tiba-tiba tangan Karlezo memegang tangan Astrella dan berkata untuk yang kedua kalinya " tanda tangan!". Astrella dengan terpaksa menandatangani kertas itu dan air matanya tambah banyak mengalir. Sesudah itu Karlezo langsung membawa Astrella pergi dan mereka menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan Astrella tidur. Karlezo membelai wajah Astrella, lalu mengambil handphone nya. Karlezo menghubungi Liam.
(Karlezo)
"Liam, sudah berapa persen saham Perusahaan Arles turun?"
(Liam)
"Masih diproses Tuan, tapi besok saya pastikan saham Perusahaan Arles akan turun 5%"
(Karlezo)
(Liam)
"Baik Tuan, saya akan memproses nya"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Malam hari tiba, Astrella melihat kalender dan mengingat bahwa lusa adalah ulang tahunnya. Tapi, dia sadar bahwa tidak akan ada yang mengingat hari ulang tahunnya. Dia hanya berlaku seperti biasanya, yaitu setiap hari ulang tahunnya dia menganggap hari itu seperti hari biasa. Tapi Karlezo yang keluar dari kamar mandi sadar apa yang dipikirkan oleh Astrella. Karlezo mulai merencanakan suatu hal. Karlezo datang menghampiri Astrella dan berkata, "Udah ayo tidur". Astrella menjawab nya "Lezo.. aku mau berkerja boleh ngga?". Karlezo bingung dengan maksud Astrella, "Untuk apa? apa kamu lagi kurang uang?".
(Astrella)
"Bukan.. aku mau ngisi waktu aja boleh ngga?"
(Karlezo)
"Memang nya mau kerja apa? gak mau kerja di kantor aku aja?"
(Astrella)
"Ngga mau.."
(Karlezo)
"Gini.. nanti aja baru dipikirkan lagi oke? sekarang kita tidur dulu"
Karlezo hanya menunggu Astrella di ranjang. Mereka tidur seperti biasanya, Astrella berada di dalam pelukan Karlezo, dan Karlezo terus memeluknya sepanjang malam
__ADS_1