
Fani: "Ini, ada pemberitahuan dari universitas kita. Hari ini baru dikasih. Kamu punya tadi dititip ke aku"
Astrella: "Oke, thanks ya"
Fani memberikan kertas itu kepada Astrella dan Astrella mengambilnya. Karlezo hanya diam disana
Fani: "Itu.. setelah kamu isi, nanti kertas nya dikembalikan. Kamu mau aku bawakan sekalian ke universitas langsung atau kamu aja yang bawa nanti?"
Astrella: "Ini diisi ya?"
Fani: "Iya, kamu isi datanya lengkap dulu"
Astrella: "Oh, kalau gitu nanti aku bawa sendiri aja"
Fani: "Oke, aku pergi dulu ya. Aku masih ada urusan di universitas"
Astrella: "Iya, thanks"
Fani pun pergi dari ramah Karlezo dan Astrella. Sebenarnya kertas apa itu? apa itu penting?
Karlezo: "Dengar kan tadi? aku menang. Hadiahnya aku tagih nanti malam. Aku mau lihat Averano dulu"
Astrella: "Iya iya, terserah kamu"
Astrella berjalan menuju kamarnya sambil membawa kertas yang diberikan Fani tadi. Astrella tak membaca kertas itu, ia hanya meletakkan nya di meja
Astrella pun keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Ia mengambil cupcake miliknya dan milik Karlezo, lalu menyimpan nya di dapur
Astrella: "Berantakan lagi dapurnya.. ntar lah bereskan dulu"
Astrella membereskan dapurnya perlahan. Merapikan alat dan bahan yang tadi dipakai. Membersihkan krim yang berserakan di meja dapur
Setelah semuanya beres, Astrella pergi mencuci peralatan yang kotor
\=\=\=
Sekitar 25 menit berlalu, kini dapur kelihatan sangat bersih dan rapi. Tak ada yang kotor lagi
Astrella: "Seru juga taruhan bikin cupcake nya, jarang-jarang bisa gini. Tapi okelah kalau kalah"
Astrella menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar Averano. Karlezo masih disana dan sedang bermain bersama Averano
Karlezo tak berhenti mengelus pipi Averano. Karlezo tertawa kecil melihat bayi nya yang mungil itu
Karlezo: "Mau gendong Averano ga?"
Astrella: "Hm? kamu ga mau gendong dulu?"
Karlezo: "Oke lah, aku gendong dulu"
Karlezo mengangkat Averano perlahan dari box bayi. Karlezo memeluk nya dan mencium bayinya
Karlezo: "Sayang, kamu lucu banget. Ga sabar tunggu kamu bisa jalan. Kalau kamu udah besar, kamu pasti pintar kayak papa"
Astrella: "Gemes banget ya sama Averano? kalau gitu cukup 1 aja lah bayinya"
Karlezo: "Gemes sih iya sama Averano, tapi Averano harus punya adik perempuan"
Astrella: "Hah? harus?"
Karlezo: "Iya lah, Averano ganteng kayak aku. Adik perempuan nya cantik kayak kamu lah"
Astrella: "Oh? tunggu lima tahun lagi lah
Karlezo: "Lima tahun? lama banget. Tapi, aku tunggu kamu aja lah. Kalau kamu ga mau, ya ga bisa"
Astrella: "Oke, kamu tunggu lima tahun lagi"
Karlezo: "Astaga sayang, toleransi lah. Ga mungkin selama itu juga"
Astrella: "Hm hm, terserah kamu lah"
__ADS_1
Karlezo: "Pfffft.. yaudah, nih kamu mau gendong Averano ga?"
Astrella: "Oke, sini"
Astrella menggendong Averano dengan lembut. Perasaan Astrella sangat senang. Tak bisa dibayangkan rasa senang nya
\=\=\=\=
Pukul 19.00 malam
Astrella sedang di kamar sendirian. Ia merasa penasaran dengan kertas yang diberikan oleh Fani tadi. Sampai sekarang ia masih belum membuka nya
Sedangkan, Karlezo sedang mandi sehabis menidurkan Averano. Perasaan Astrella yang penasaran semakin bertambah. Akhirnya, Astrella mengambil kertas itu di meja dan kembali duduk di tapi ranjang
Astrella mulai membacanya dengan seksama. Kata-kata yang tertulis di kertas seperti kereta api, beruntun dan panjang
Di sana tertulis nama universitas. Tempat menyantumkan identitas diri secara lengkap dan tepat. Berikut nya ada tertera tulisan..
Pilih opsi di bawah ini:
a. Masih lanjut kuliah
b. Berhenti kuliah
Bukan, bukan, bukan. Kertas itu bukan surat untuk pengunduran diri. Tapi, di universitas itu ada jangka waktu 1 tahun untuk kuliah. Selanjutnya, harus daftar ulang. Kalau mau berhenti kuliah, bisa langsung berhenti
Ya, pertimbangan berat untuk Astrella sekarang. Mungkin orang lain masih bisa memilih opsi A. Tapi, tidak dengan Astrella
Astrella tahu bahwa sekarang ia sudah punya bayi. Akan sulit untuk kuliah sambil mengurus keluarga nya. Ia bisa merasa sangat kewalahan
Tapi.. kuliah itu sebuah kesenangan bagi Astrella, karena ia kuliah di bidang yang memang ia sukai.
Tapi, sangat egois kalau ia lebih memilih kuliah dari pada Averano. Lagi pula, Astrella sangat sayang kepada Averano
Tidak mungkin ia meninggalkan Averano sendiri atau membiarkan Karlezo yang mengurus nya
Lalu.. bagaimana dengan Karlezo?
Astrella pun bertekad untuk memilih berhenti kuliah. Astrella mengisi semua data yang dibutuhkan dan memilih opsi B
Dddrrrrttt Dddrrttt
Tiba-tiba handphone Astrella berbunyi. Astrella pun mengangkat teleponnya. Telepon itu dari Fani
Astrella: "Hm? kenapa?"
Fani: "Kamu udah baca kertasnya belum?"
Astrella: "Udah kok, ini aku lagi isi"
Fani: "Gimana? aku masih lanjut kuliah, kamu lanjut kuliah juga kan? kita bisa barengan lagi!"
Astrella: "A-aku.. aku.. aku berhenti kuliah. Aku stop sampai disini aja"
Fani: "Lho? kenapa? bukannya kamu suka kuliah di bidang seni?"
Astrella: "Iya, ga ada salahnya kok. Tapi, kamu tahu kan kalau sekarang aku udah punya bayi. Aku harus fokus ngurusin keluarga dari pada kuliah"
Fani: "Kenapa ga pakai baby sitter aja?"
Astrella: "Ngga.. aku ga mau"
Fani: "Tapi.. kuliah kan sebentar aja"
Astrella: "Iya, ga masalah sebentar atau lama. Tapi, aku lebih milih Averano dari pada kuliah. Ga mungkin aku tinggalin dia gitu aja"
Fani: "Tapi-"
*Astrella memotong pembicaraan Fani*
Astrella: "Maaf ya, aku sibuk. Nanti aja baru telepon lagi"
__ADS_1
Astrella langsung matikan telepon nya. Sungguh.. tak bisa lagi berbicara. Tidak bisa berkata-kata lagi
Astrella sudah memilih dan bertekad akan berhenti kuliah dan lebih bertanggung jawab pada keluarga nya sendiri
Astrella: "Oke, keputusan udah bulat. Ga bisa diganggu gugat. Averano lebih penting! semangat Astrella! ga boleh iri sama orang lain"
Tapi tak tahu kenapa.. tiba-tiba
Tes.. tes..
Air mata Astrella tak terbendung lagi. Matanya yang sudah berkaca-kaca dan merah, pada akhirnya juga meneteskan air mata
Astrella sendiri juga terkejut dengan air mata itu. Astrella berusaha menghapus nya dengan cepat, tapi air mata itu tak kunjung berhenti menetes
Astrella: "Astaga Astrella.. kenapa harus nangis sih? kan udah punya keputusan. Gini tuh lemah banget! stop lah nangisnya!"
Tiba-tiba Karlezo keluar dari kamar mandi, menggunakan kaos putih. Rambutnya masih basah
Sorot mata Karlezo langsung tertuju pada Astrella yang membelakangi nya. Astrella tahu Karlezo ada dibelakang nya, karena itu ia cepat-cepat mengusap air matanya
Astrella: "Cepetan lah berhenti nangis.. Karlezo udah keluar tuh! ga usah lemah lagi! ga usah nangis"
*ucap nya dalam hati*
Karlezo yang melihat tingkah aneh Astrella, merasa sangat heran. Karlezo pun memegang pundak Astrella
Karlezo: "Kamu kenapa? perut kamu sakit kah? mau ke dokter sekarang? bagian mana yang sakit?"
Astrella: "Ngga.. ga papa. Mata aku kelipatan debu"
Karlezo: "Serius? sini aku lihat. Biar aku tiup dulu"
Astrella: "Ngga usah. Udah oke kok"
Karlezo: "Ada yang kamu sembunyikan ya.. Astrella?"
Astrella: "Ngga"
Karlezo: "Jawab yang jujur Astrella! aku ga suka kamu tuh bohong, sampai nangis lagi.."
Lalau Astrella membalikkan tubuhnya. Tangannya masih memegang kertas dan sebuah pulpen.
Karlezo mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti
Beberapa saat kemudian..
Karlezo: "Astrella.. kamu?"
Astrella: "Ngga.."
Karlezo: "Kenapa kamu berhenti kuliah?"
Astrella: "Ga papa, ga ada alasan"
Karlezo: "Jawab yang jujur Astrella!"
Astrella: "Beneran.. ga ada apa-apa"
Karlezo: "Aku tahu.. sebenarnya kamu mau lebih fokus ngurusin keluarga kan? terlebih kamu udah punya anak di usia yang seharusnya kamu masih bisa bersenang-senang di universitas
Kamu milih Averano dari pada kuliah. Kamu benar-benar sayang sama Averano. Makanya kamu berhenti kuliah sekarang. Kamu punya tekad, tapi akhirnya kamu ga bisa nahan air mata kamu. Jadi sekarang kamu nangis"
Astrella menganggukkan kepala. Dengan cepat Karlezo memeluk nya dalam dekapan nya. Hal yang benar-benar dirasakan saat itu adalah.. tenang. Rasa yang aneh. Tapi semua itu menjadi hangat lalu tenang
Karlezo: "Maaf, kamu ga bisa kuliah lagi..
aku terlalu memaksa kamu. Aku terlalu egois. Dengan gampangnya aku ga mikir perasaan kamu. Maaf"
Kali ini, lagi-lagi Karlezo minta maaf. Karlezo merasa bersalah terhadap dirinya sendiri
Astrella: "Ngga.. ga perlu minta maaf"
__ADS_1