
Hari terus berlalu, Minggu terus berlalu, dan bulan berganti bulan. Usia kandungan Astrella sudah mencapai Minggu yang ke 24
Sejauh ini, tak ada reaksi apa pun yang terjadi. Racun itu.. tak tahu gimana jadinya. Jadi mereka memutuskan untuk melakukan pengecekan hari ini
Karlezo: "Kita pergi sebentar lagi ya. Kamu siap-siap sekarang aja"
Astrella: "Karlezo.."
Karlezo: "Hm? kenapa? ada yang sakit kah?
kamu baik-baik aja kan?"
Astrella: "Hm.. Karlezo bayinya.. kok ngga begerak sih? atau jangan-jangan-"
*Bengong*
Karlezo: "Stttt.. dia baik-baik aja, oke? ngga perlu khawatir. Kamu ngga usah pikirkan hal yang nggak-nggak ya"
Astrella: "Karlezo.. kamu benci sama aku ya..
Maaf, aku ngga-"
Karlezo: "Please jangan ngomong gitu. Aku ngga benci sama kamu"
Astrella: "Aku keras kepala ya.."
Karlezo: "Kata siapa? menurut aku ngga kok. Jangan terlalu dipikirkan ya hal-hal yang gitu"
Astrella mengangguk kan kepalanya. Tiba-tiba Astrella memegang perutnya, dan merasakan sakit
Astrella: "Ah! sa-sakit!!"
Karlezo: "Astrella?! kamu kenapa?"
*Panik*
Astrella: "B-bayinya.. sakit!"
*Tiba-tiba tak sadarkan diri*
Karlezo: "Astrella!"
*Membulatkan matanya*
Karlezo langsung menggendong Astrella, dan membawanya ke rumah sakit. Untungnya, disana ada Vazel, dan Astrella langsung dilarikan ke ruang operasi
Karlezo mencari handphone Astrella dan segera mencari nomor Fani. Karlezo langsung menelepon, sesudah ia menemukan kontaknya
Karlezo: "Fani"
Fani: "Lha? kok bukan Astrella yang angkat? dia dimana?"
Karlezo: "Dia lagi dirawat dirumah sakit, dan sekarang aku minta tolong sama kamu.. jaga Averano dulu. Averano ada di rumah, di dalam kamar"
Fani: "Astrella kenapa?!"
Karlezo: "Sulit dijelaskan, yang penting kamu jaga Averano dulu"
Fani: "Iya, aku udah di depan rumah kalian. Tadinya aku mau ketemu sama Astrella, tapi ngga ada. Yaudah aku jaga Averano dulu"
Karlezo: "Oke"
*Langsung menutup telepon*
Karlezo menunggu di depan, keringat tak berhenti membasahi dirinya. Ia panik, takut, gelisah, semua campur menjadi satu
Tak lama Vazel keluar dari ruang operasi, dan menghampiri Karlezo dengan cepat
Karlezo: "Apa yang terjadi?!"
__ADS_1
Vazel: "Maaf, racunnya sudah menyebar ke janin itu. Secepatnya harus dilakukan aborsi, agar keadaan Astrella tak menjadi parah"
Karlezo: "Tak mungkin!"
Vazel: "Karlezo, kau tak bisa memaksakan kehendak. Batas waktunya tak bisa bertahan lama, atau racun itu akan menyebar ke Astrella juga"
Karlezo: "Apa tak ada cara lain? agar aku bisa mempertahankan keduanya?"
Vazel: "Masalahnya hanya ada pada racun itu. Jika dalam waktu 1 jam.. racun itu masih tak diketahui jenisnya, maaf harus dilakukan aborsi"
Karlezo: "Baiklah! aku akan mengupayakan apa pun, agar keduanya selamat!"
Karlezo langsung mengirimkan pesan kepada semua dokter pribadi nya, isinya:
"Siapa pun diantara kalian yang bisa menyelamatkan istriku dan anakku.. maka apa pun yang kalian mau akan aku berikan. Biaya? tak masalah, berapa pun harganya akan aku bayar"
Karlezo juga mengirimkan hasil test pemeriksaan Astrella. Semua dokter pribadi Karlezo langsung bergegas untuk meneliti racun itu
Vazel pun menyuruh agar dokter di rumah sakit itu membantu Karlezo. Mereka semua sibuk untuk mencari jenis racun itu
Karlezo melihat keadaan Astrella dari luar, sangat-sangat menyedihkan. Keadaan Astrella semakin memburuk
Karlezo: "Astrella.. aku mohon untuk kali ini saja, bertahan ya.. tunggu aku, dan anak kita. Aku akan berusaha mencari jalan keluarnya. Tapi.. aku meminta agar kau menungguku"
Waktu terus berlalu.
5 menit..
10 menit..
15 menit..
Lantas.. harus bagaimana?
jenis racunnya belum ditemukan
\=\=\=\=\=\=\=
Vazel: "Maaf, tak ada yang bisa menemukan jenis racun itu. Terpaksa harus melakukan aborsi Karlezo..'
Karlezo: "A-apa?!"
Vazel: "Maaf.. kami menyerah"
Karlezo: "Astrella.. setelah kau bangun.. jangan benci aku ya. Aku bisa membeli semua yang kau mau. Tapi aku tak bisa membeli kebahagiaan dan keselamatan mu"
Vazel: "Jadi.. Karlezo?"
Karlezo: "Lakukan saja"
*Menyerah*
Vazel: "Silahkan tanda tangan"
*Memberikan kertas serta pulpen*
Tangan Karlezo bergetar dan ia langsung menandatangani kertas itu. Sudah jelas, tinta hitam di atas kertas putih
Vazel: "Baik.. harap menunggu"
Vazel langsung masuk ke ruang operasi, bersama dengan dokter lainnya. Ya.. aborsi dilakukan..
.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
2 Jam Kemudian
Operasi selesai dan pintu terbuka. Astrella masih tak sadarkan diri, dan air mata Karlezo menetes
Vazel: "Perawatan selanjutnya di ruang XXX. Dia akan menjalani masa pemulihan dulu"
Karlezo menganggukkan kepalanya, dan berjalan ke ruang Astrella dirawat. Karlezo terus menunggu dan menunggu, agar Astrella sadar
Sepanjang hari itu, Karlezo tak makan dan tak beranjak dari samping Astrella sedikit pun
Karlezo: "Astrella tolong bangun.. kali ini saja, dengarkan permintaan ku. Aku berjanji.. aku akan membahagiakan dirimu. Kita bisa punya anak lagi nantinya. Aku masih ingin melihat senyuman mu. Jadilah seperti gadis yang ceria nantinya"
Karlezo duduk di kursi dan matanya tertutup perlahan. Hatinya masih hancur. Perasaan nya tak bisa ditutup-tutupi lagi
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
1 Jam kemudian
Karlezo terbangun dan masih melihat Astrella yang terbaring. Karlezo kembali menutup matanya perlahan.. dan air matanya mengalir deras
Tiba-tiba Karlezo membuka matanya, seolah-olah kaget. Ada tangan yang meraih wajahnya dan berusaha menghapus air mata itu
Ternyata itu tangan Astrella, ya Astrella sudah sadar. Karlezo langsung berdiri, dan mencium Astrella
Astrella: "Karlezo.."
Karlezo: "Akhirnya kau bangun!"
Astrella: "Iya.. tapi bagaimana dengan b-bayinya?"
Karlezo langsung berdiri diam, tak bisa menjawab. Astrella langsung mengerutkan keningnya
Karlezo: "M-maaf.. aku menyerah"
Astrella yang melihat ekspresi Karlezo langsung tertawa. Tunggu.. Karlezo langsung heran dengan tingkah aneh Astrella
Karlezo: "Apa kau senang setelah aku menyetujui aborsi?'
Astrella langsung meraih tangan Karlezo, dan meletakkannya di perutnya. Karlezo merasa ada yang bergerak
Karlezo: "Tunggu.. ini?!"
Astrella: "Ya, saat aku bangun aku tahu kalau bayi ini masih hidup. Rasanya dia bergerak terus, dan aku sadar berarti aborsi tak dilakukan"
Karlezo: "Jadi..?"
Tiba-tiba Vazel masuk dan menghampiri Karlezo
Vazel: "Aku hanya mengeluarkan racun nya"
Karlezo: "Kau membohongi ku?! berani sekali kau"
Vazel: "Tidak, tidak. Saat kami mau melakukan aborsi, ternyata ada salah satu dokter yang menemukan jenis racun itu. Kami pun membatalkan aborsi dan langsung mengeluarkan racun itu. Jadi.. keduanya selamat"
Karlezo: "Terimakasih, aku akan mengurus biaya nya nanti"
\=\=\=\=\=\=\=
Tahun-tahun terus berlalu, semuanya berjalan sangat lancar. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama
Ya.. Karlezo dan Astrella hidup bahagia, bersama Averano dan putri kecilnya, Avestra.
Keluarga kecil mereka, itulah kebahagiaan mereka
Semua orang punya kebahagiaan masing-masing, dan jangan berpikir kalau kebahagiaan itu jauh. Suatu saat, kebahagiaan itu akan muncul di depanmu
TAMAT
**Terimakasih sudah membaca cerita ini. Maaf kalau kesannya buru-buru, karena author udah ngga tahu harus gimana. Maaf kalau jadinya ngga nyambung dan aneh, kalau pun ada banyak kesalahan.. itu terjadi karena ketidaksengajaan. Karena ini baru cerita pertama, maka terkesan sangat aneh
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah setia membaca. Untuk cerita selanjutnya, author mau buat yang baru aja. dan kesalahan di cerita ini, tak akan author ulang ke cerita selanjutnya
salam author**