
Astrella berjalan menuju kamar dan membuka pintunya. Astrella terus melangkah kan kakinya sampai ia berhadapan dengan Averano
Astrella mengangkat Averano dari box bayi dan menggendong nya. Tatapan penuh kasih sayang terlihat di mata Astrella
Astrella mencium kening Averano dan terus menepuk-nepuk agar Averano tidak menangis terus
Astrella: "Ssttt.. mama udah disini, ga usah nangis lagi ya"
Rasa yang sebenarnya masih sakit di bawah perut nya, terus ia tahan. Astrella terlihat sangat bahagia saat menggendong Averano
Astrella: "Sayang.. kamu bikin mama senang. Perasaan yang sekarang ini ga bisa dideskripsikan"
Astrella pun menghapus air matanya dan tertawa kecil melihat bayinya yang sudah tak lagi menangis
Astrella: "Kamu mungil banget. Ga bisa kebayang.. cepat banget waktu 9 bulan itu berlalu. Rasanya kadang berat tapi ada rasa senang"
Lalu, Astrella membawa Averano menuju ranjang dan meletakkan nya perlahan. Astrella berbaring di sebelah Averano
Astrella hanya ingin bermain dengan Averano. Karena itu Astrella tidak meletakkan Averano di box bayi
Tangan Astrella tak berhenti mengusap pipi Averano. Astrella juga meletakkan tangannya di atas tubuh mungil Averano
Astrella: "Kamu yang kayak gini.. bikin mama ga rela kalau kamu diurus sama baby sitter. Bukan egois atau pun keras kepala. Tapi, mama rasa bisa kok ngurusin kamu"
Perasaan Astrella bertambah kacau. Entah ada rasa bersalah terhadap Karlezo atau rasa bersalah terhadap diri sendiri
Mungkin tidak semua adalah kesalahan Karlezo. Karlezo hanya ingin agar Astrella pulih terlebih dahulu
Tapi juga bukan kesalahan Astrella. Mana mungkin seorang ibu yang sangat sayang kepada anaknya membiarkan anaknya diurus oleh orang lain. Pikiran nya pasti saja kemana-mana. Entah takut anaknya terus menempel pada orang itu. Mungkin saja jadi kebiasaan sehingga anak itu tak mau dekat dengan ibunya sendiri
Sebenarnya tak ada salahnya menggunakan baby sitter. Tapi, apa baby sitter itu benar-benar ingin menjaga anak itu?
Astrella hanya takut jika baby sitter itu melakukan hal buruk bagi bayinya. Mana mungkin waktu bisa diputar
Astrella terus memandangi wajah bayi mungil nya. Rasa tak rela terus menguasai dirinya sendiri
Astrella: "Kalau kamu diurus sama baby sitter.. kamu ga bakal nempel sama baby sitter kan? mama cuman takut kalau baby sitter nya melakukan hal buruk sama kamu, Averano
Jujur banget mama sayang sama kamu. Mama pengen ngurusin kamu secara terus-menerus. Tapi, kayaknya ga bisa.. itu semua tergantung papa kamu
Tapi, jangan khawatir. Kalau ada baby sitter pun.. mama ga akan lepaskan kamu begitu aja. Mama akan tetap jaga kamu. Ga mungkin biarin kamu sama baby sitter itu aja. Mama usahain agar cepat sembuh. Jadi anak yang baik dan nurut ya"
__ADS_1
Kemudian Astrella beranjak dari ranjang dan menggendong Averano kembali ke box bayi nya, lalu duduk di kursi. Astrella hanya bisa tersenyum melihat bayi kecilnya
\=\=\=
Tapi.. siapa tahu? dari tadi Karlezo berada di dekat pintu kamar. Karlezo terus memperhatikan Astrella
Ya, Karlezo tahu Astrella memang orang yang penuh kasih sayang. Rasanya pun berat untuk membiarkan anaknya diurus orang lain
Memang pada dasarnya, Karlezo terus menanti-nanti kan bayi kelahiran bayi itu. Karlezo sangat senang pada putra kecilnya
Sepanjang Karlezo mengurus bayinya itu, Karlezo terus menggendongnya dan memberikan tatapan yang sangat lembut
Tapi, tanpa sadar Karlezo mengucapkan kalimat yang membuat Astrella merasa sakit hati
Keadaan yang dialami cukup buruk. Karlezo benar-benar sayang dengan anak itu. Begitu juga dengan Astrella
Tanpa sadar, air mata Karlezo mengalir. Benar-benar sangat jarang Karlezo meneteskan air mata nya
Karlezo: "Harus gimana sih? aku benar-benar ga sadar ngomong hal itu. Dengan gampang nya aku bisa menyakiti dia. Bodoh! benar-benar ga berperasaan!"
Karlezo pun menghapus air matanya, lalu masuk dan menggendong Averano dari box bayi dengan lembut. Astrella langsung melirik Karlezo
Astrella: "Kamu mau ngapain?! jangan bawa dia!"
Astrella: "Ngga! mau ngapain kamu gendong Averano?"
Karlezo: "Emangnya aku ga boleh gendong anak aku sendiri? dia bukan cuma anak kamu. Dia itu milik kita berdua! milik kita"
*Karlezo menekan perkataannya*
Astrella: "Anak kamu? kayaknya dia bukan anak kamu. Menurut kamu dia itu beban buat kamu"
Karlezo: "Astrella.. please lah, aku ga sengaja ngomong gitu. Aku cuman kesal karna kamu ga bisa dengar dulu penjelasan aku"
Astrella: "Ga sengaja? Sama aku aja kamu gini! apalagi sama anak aku!"
Karlezo mengambil nafas panjang dan menghembuskan nafas nya perlahan. Air matanya tak bisa terbendung lagi dan mulai mengalir lagi
Karlezo: "Please udahlah, ga usah gini terus. Aku ga suka kamu terus bilang kalau dia anak kamu aja. Dia anak kita! milik kita! Sampai kapan kamu gini terus? Masalah kita cuman gara-gara baby sitter
Aku bisa pastikan orangnya itu ga akan melakukan hal buruk sama bayi kita. Aku kenal sama orang itu. Dia itu adik dari teman kuliah aku
__ADS_1
Dan aku ga mau hubungan kita hancur begitu aja. Aku minta maaf. Kalau memang aku salah ngomong. Aku ga merasa terbebani. Aku senang dengan kehadiran bayi kita. Omongan aku waktu itu.. bukan bohongan
Gimana caranya biar kamu bisa percaya? aku ga tahu harus gimana lagi. Sampai saat ini pun aku masih ga kebayang sama kenyataan ini. Aku ga cuman sayang sama kamu. Tapi juga sama bayi kita"
Karlezo pun meletakkan Averano kembali ke box bayi. Karlezo mengusap air matanya dengan kasar
Karlezo: "Udahlah, aku minta maaf. Ga ada lagi yang aku mau omongin. A-aku pergi dulu"
Astrella yang mendengar hal itu, langsung bingung apa yang dirasakan oleh dirinya sendiri. Perasaan tambah kacau
Ada perasaan senang namun sedikit tidak percaya. Hatinya benar-benar merasa sangat tersentuh
\=\=\=
Baru beberapa langkah Karlezo berjalan mendekati pintu, tiba-tiba Astrella menangis dan memeluk Karlezo dari belakang. Pelukannya sangat erat, seakan-akan tak mau menjauh dari Karlezo
Karlezo sedikit terkejut, tapi ia berusaha menanggapi nya dengan benar. Karlezo membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Astrella
Karlezo mencium puncak kepala Astrella, lalu mengusap punggung Astrella. Tangisan Astrella semakin menjadi-jadi
Karlezo: "Astrella.. kamu-"
Astrella langsung menggelengkan kepalanya yang sedang dalam posisi tertunduk. Astrella hanya memberikan isyarat agar Karlezo tak berbicara lagi
Karlezo mengerti akan hal itu. Ia pun hanya diam. Karlezo mendorong bahu Astrella perlahan
Tapi, saat ini Astrella tak mau melihat tatapan Karlezo. Astrella tak berani memandang Karlezo
Tangan Karlezo pun meraih wajah Astrella, dan dengan lembut mengusap air mata Astrella
Karlezo: "Ja-jangan nangis lagi please. Aku ga bakal ngulangi kata-kata tadi. Aku minta maaf, mungkin aku salah ngomong"
Astrella: "Ngga! aku yang minta maaf! aku egois! aku ga suka anak kita diurus orang lain! aku juga ga bisa nahan emosi aku"
Karlezo: "Sstttt.. please, tenang dulu yah? kamu tatap mata aku"
Astrella: "Ngga mau!"
Karlezo: "Sttt.. dengarin aku, tatap mata aku.. oke?"
Karlezo mendorong bahu Astrella dan memandang Astrella. Ya, tatapan mata Karlezo sangat lembut memandang Astrella. Karlezo mencium mata Astrella
__ADS_1
Karlezo: "Ga usah nangis lagi, aku udah punya pertimbangan yang cukup. Jalani aja yah? aku ga bakal serahkan tanggung jawab kamu sebagai ibu ke baby sitter itu. Kamu bisa ngurusin Averano kok"
Astrella pun menggangguk kan kepalanya. Ya, setidaknya perasaan mereka cukup lega. Tidak ada lagi perasaan kacau diantara mereka