
Seminggu kemudian, Astrella sudah pulang ke rumah. Sepanjang 1 Minggu itu, Karlezo mengurus Averano dengan penuh kasih sayang
Bisa dibilang keadaan rumah tidak buruk. Semuanya biasa saja. Tidak ada yang berubah dari sana
Pagi itu, Astrella menuruni anak tangga. Ya, tidak seperti biasanya.. Astrella tidak bisa turun dengan langkah kaki yang cepat
Karlezo melirik ke arah Astrella. Astrella pun melihat ke arah Karlezo. Ekspresi Karlezo sangat serius, seakan-akan ada hal yang penting yang akan dibicarakan
Astrella pun berjalan mendekati Karlezo dan duduk di samping Karlezo. Karlezo memulai pembicaraan mereka
Karlezo: "Kamu belum pulih banget kan?"
Astrella: "Hm? sedikit, tapi sebentar lagi aku pilih kok. Memangnya Kenapa?"
Karlezo: "Ada hal penting yang aku mau omongin, tentang bayi kita"
Astrella: "Ngomong aja lah, serius banget kayaknya"
Karlezo: "Ya aku tahu kalau kamu habis operasi, dan ga bisa langsung ngurusin Averano. Aku sih ga keberatan kalau ngurusin dia. Aku ga ada masalah. Aku ga ngeluh atau apa pun, tapi.." *Berhenti sejenak*
Astrella: "Hm? kenapa berhenti?
Oh! aku tahu apa yang kamu pikir.."
Karlezo: "Ya gitu lah, ini bukan rencana aja.. tapi baby sitter nya akan datang nanti siang dan akan berkerja mulai dari siang ini"
Astrella langsung menatap Karlezo dengan tatapan tak percaya. Dengan mudahnya Karlezo langsung mengambil keputusan
Karlezo tidak berdiskusi dengan Astrella. Lantas Astrella tidak mungkin langsung setuju dengan keputusan Karlezo
Dari awal, sebenarnya Astrella sudah bertekad untuk mengurus Averano sendiri tanpa baby sitter
Bukan perasaan egois. Tapi, Astrella hanya ingin menjalankan kewajiban nya sebagai seorang ibu
Astrella tidak mungkin rela melihat bayinya diurus oleh orang yang tak dikenal nya. Apalagi melihat bayinya tumbuh bersama orang itu
Astrella tahu benar seperti apa Karlezo itu. Karlezo pasti menyediakan baby sitter, dan menyuruh baby sitter itu untuk mengurus bayi itu
Lama-kelamaan bayi itu tidak akan lepas dari baby sitter. Lantas bagaimana perasaan Astrella sebagai ibunya?
Astrella: "Ga perlu, kamu kirim balik aja baby sitter nya"
Karlezo: "K-kenapa? bukannya bisa lebih gampang ya pakai baby sitter?"
__ADS_1
Astrella: "Engga! aku ga mau pakai baby sitter! aku bisa ngurus Averano sendiri!"
Karlezo: "Astrella.. jangan egois lah, ini buat kesehatan kamu dulu. Ini juga untuk meringankan pekerjaan kamu. Kalau kamu udah pilih baru bisa ngurus Averano"
Astrella: "Engga, justru kayak gini tuh momen yang harus dijalani dengan baik. Kalau nanti bayi kita udah tumbuh besar.. mana mungkin waktu bisa diputar kembali, mana mungkin aku bisa ngerasain kebahagiaan main sama dia sewaktu masih bayi"
Karlezo: "Astrella, kamu dengar dulu. Aku ga bermaksud untuk menjauhkan kamu dari bayi kita. Tapi aku rasa kita butuh baby sitter"
Astrella: "Kita ga butuh! aku ga butuh! aku ga akan mau lihat baby sitter itu terus-terusan main dan dekat sama anak aku!"
Karlezo: "Itu anak aku juga Astrella. Aku punya perasaan. Hal kayak gini harus dipertimbangkan. Bagi aku ini juga berat. Tapi mau gimana?"
Astrella: "Kenapa sih kamu ga mau ngomong dari awal? kenapa kamu semena-mena gini? aku merasa mampu kok ngurusin dia!"
Karlezo: "Maaf, tapi hal kayak gini udah aku pikirkan sebelum bayi ini lahir. Aku udah tahu apa yang harus diutamakan. Aku selalu menjadikan kesehatan kamu sebagai prioritas aku"
Astrella: "Aku ga peduli! kamu mau jadikan apa pun prioritas kamu, yang jelas aku udah tahu resiko dari semua yang kamu pikir!"
Karlezo: "Astrella! jangan keras kepala!"
*Kesal*
Astrella: "Kalau mau marah ya marah aja! teriak aja! sampai kamu puas atau apa pun!"
Karlezo: "Kenapa sifat kamu berubah gini? aku mikir yang terbaik untuk kamu! untuk anak kita! bayi kita!"
Karlezo: "Aku juga Astrella! aku juga mau gitu! tapi ga mungkin aku ngurusin bayi kita sampai kamu pulih! lantas gimana sama urusan aku yang lain?"
Astrella tidak bisa berkata-kata dan langsung meneteskan air matanya. Bukan karena marah atau apa pun. Tapi karena perkataan Karlezo
Dadanya terasa sesak. Seperti sulit untuk bernafas. Air matanya semakin mengalir deras dan semakin tidak percaya akan apa yang tadi dia dengar
Astrella: "Gitu ya? ternyata pikiran ku terlalu bodoh, gitu aja bisa langsung percaya sama kamu"
Karlezo: "A-astrella..?"
Karlezo berusaha meraih wajah Astrella untuk menghapus air matanya. Seketika perasaan Karlezo langsung kacau
Astrella terdiam dengan air matanya yang tak berhenti mengalir. Tangan Karlezo meraih wajah Astrella, tapi..
PLAKK
Astrella menghempaskan tangan Karlezo. Karlezo merasa ada sesuatu yang salah dari dirinya
__ADS_1
Karlezo: "Kamu..!?"
Astrella: "Hahaha, bodoh juga dari dulu"
Karlezo: "Kamu ngomong apaan sih?"
Astrella: "Kamu memang ga tahu bersyukur ya. Kamu sadar ga sih sama omongan kamu tadi? kamu ga mikir perasaan aku?"
Karlezo: "A-aku.."
Astrella: "Ternyata kamu lebih pilih urusan lain ya dari pada bayi kita sendiri. Lebih penting ya urusan itu? Sepenting apa sih sampai ga peduli sama bayi kita, hah?"
Karlezo: "Ngga, aku ga bermaksud itu. Aku cuma-"
Astrella: "Ternyata selama seminggu ini kamu ga pernah merasa senang bisa ngurus bayi kita. Kamu ga bersyukur sama hal itu. Menurut kamu hal kayak gitu berat ya? Itu masalah ya kalau kamu yang ngurus Averano?"
Astrella tak tahu apa yang ada di pikiran Karlezo. Rasanya sangat sulit untuk saling memahami
Karlezo: "Ngga, aku ga keberatan sama sekali. Tapi-"
Astrella: "Tapi urusan kamu lebih penting kan? aku ga nyangka ya kamu bisa ngomong gitu. Menurut kamu bayi aku itu jadi beban ya?"
Karlezo: "Perlu berapa kali sih aku bilang? dia bayi aku juga!"
Astrella: "Aku ga tahu kamu keceplosan atau apa tadi. Cuman kamu ga bisa seenaknya juga! Waktu itu kamu yang paling senang dengar aku hamil. Kamu selalu nungguin bayi kita. Kamu bisa mengesampingkan hal yang lain. Tapi sekarang apa?
Dengan beraninya kamu bilang "Gimana dengan urusan aku yang lain?". Sampai sekarang aku baru tahu kalau kamu cuman pura-pura senang di depan aku. Tapi dalam hati kamu tuh terpaksa ngurusin Averano. Kenapa ga bilang aja dari awal? ga usah di bikin repot ngomong nya!
Coba kalau kamu ngomong dari awal. Mungkin aku bisa ngurusin Averano langsung. Aku ga perlu istirahat. Apa pun yang terjadi aku bakal buat Averano senang
Aku pikir kamu ngehargai momen gitu. Aku pikir kamu senang bisa lihat bayi kita secara langsung. Lihat wajah imutnya. Lihat tubuhnya yang mungil gitu"
Tiba-tiba terdengar suara Averano yang menangis dari atas. Astrella langsung melirik ke arah tangga dan langsung berdiri
Astrella: "Udah lah, aku baru tahu kalau kamu tuh terbebani. Aku baru tahu kalau kamu itu.. pembohong besar"
Astrella pun berusaha berjalan dengan cepat sambil memegang perut bagian bawahnya. Air matanya tak berhenti mengalir
Astrella: "Tunggu sebentar sayang"
Astrella berbicara sambil menahan rasa sakitnya. Tapi Astrella berusaha untuk cepat datang ke arah bayinya
Astrella: "Ugh... sakit.. mama datang sayang"
__ADS_1
Karlezo merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Bagaimana mungkin hal itu terucap secara spontan tanpa dipikir
Karlezo: "Bodoh! gimana aku bisa ngomong gitu sih?!"