Cinta Dari CEO Muda

Cinta Dari CEO Muda
Bagaimana?


__ADS_3

Sesegera mungkin Karlezo dilarikan ke rumah sakit terbaik di kota itu. Astrella tak bisa berhenti menangis.


Ia jadi tak berdaya saat menggendong Averano. Tapi bagaimana lagi? Averano tak bisa ditinggal begitu saja


Mendengar suara yang sangat berisik, Averano jadi terbangun dan ia jadi pun menangis


Astrella berusaha menenangkan nya, tapi Averano menjadi semakin rewel. Sulit untuk membuatnya tenang


Untung saja, perjalanan untuk pergi ke rumah sakit tidak lama. Sesampainya di rumah sakit, Karlezo langsung mendapatkan penanganan khusus


Karlezo segera di bawa ke ruang operasi. Astrella terus mengikuti nya sambil menggendong Averano dan tiba-tiba Astrella menabrak seseorang


BBBUUGGHH


Astrella: "Maaf, aku ga sengaja"


*Terisak*


Astrella berbicara dalam keadaan sambil menangis. Suaranya terdengar jelas dan tidak jelas


Fani: "Hm.. Astrella?"


Astrella menatap Fani sejenak. Fani terkejut melihat air mata Astrella yang terus menetes. Vio yang berada di sebelah Fani pun merasa terkejut


Oweekk Owwweekk


Astrella langsung mengarahkan pandangan nya. Ia mencoba menepuk-nepuk punggung Averano


Fani: "Kenapa kamu nangis? kamu ngapain di sini?"


Astrella: "K-Karlezo.. dia"


Vio: "Dia? dia kenapa? terjadi sesuatu sama Karlezo?"


Astrella: "Iya"


Fani: "Kok bisa? kalian berdua habis dari mana?"


Vio: "Bentar, duduk dulu tuh disana"


*Menunjuk kursi di dekat ruang operasi


Mereka pun duduk di sana sambil menunggu kabar mengenai Karlezo. Astrella menceritakan semua masalah nya tadi, secara detail kepada Fani dan Vio


Fani: "Jadi, punggung Karlezo kena kayu yang terbakar itu?"


Astrella: "Iya"


Vio: "Sabar ya, keadaan ini juga bukan mau kamu. Jangan salahkan diri sendiri"


Astrella hanya menganggukkan kepalanya. Tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, Astrella hanya dipenuhi rasa khawatir


Fani: "Averano nangis terus ya, kamu dari tadi gendong dia?"


Astrella: "Iya, dia rewel banget.. susah diatur. Ga mungkin aku tinggal sendiri di rumah"


Fani: "Kamu mau nunggu Karlezo dulu?"


Astrella: "Iya"


Fani: "Oh, yaudah. Kalau kamu ga keberatan, aku bisa ngurus Averano dulu. Jadi kamu ga pusing ngurusin ini itu"


Astrella: "Emang kamu ga repot? ntar kalau kamu jadi tambah sibuk gimana?"


Fani: "Ya engga lah, aku ga terlalu sibuk, aku masih bisa ngurusin Averano kok"


Vio: "Iya, jadi kamu ga ada beban pikiran dulu. Kami bisa sering-sering datang kok"


Fani: "Yap, kapan pun kamu mau ketemu bayi kamu, kami bisa ke sini. Jadi kamu fokus tungguin Karlezo aja"

__ADS_1


Astrella: "Thanks ya, mungkin untuk sementara aku serahin Averano dulu"


Fani: 'Iya, ga papa kok"


Fani meraih wajah Astrella dan menghapus air matanya. Fani memeluk Astrella dalam dekapannya


Fani: "Udah, ga usah nangis lagi. Kami percaya kok kalau Karlezo akan baik-baik aja"


Astrella: "Iya"


Setelah itu, Astrella menyerahkan Averano kepada Fan. Fani menggendong nya dengan sangat hati-hati. Perlahan, Averano menjadi lebih tenang


Astrella: "Hm.. keperluan Averano semua ada di rumah aku. Kalau kalian mau ngambil bisa ke sana"


Vio: "Iya"


Fani: "Oke, kalau kurang kami bisa belikan lagi kok"


Astrella: "Thanks ya, ntar aku ganti uangnya kalau ada keperluan tambahan. Terus.. kalian mau pulang sekarang?"


Fani: "Ya.. sebenarnya sih iya. Soalnya masih ada keperluan lain dan mau ngurusin Averano dulu. Tapi kalau kamu mau kami tetap disini, ga papa juga kok"


Astrella: "Ga usah, ga papa kok. Kalian pulang aja kalau mau. Aku bisa nunggu sendiri kok disini"


Vio: "Kalau gitu kamu pulang dulu ya"


Fani: "Iya, kami pergi dulu. Kamu jangan nangis terus ya"


Astrella: "Iya"


Astrella menunggu di luar ruang operasi. Astrella hanya bisa duduk, berdiri, dan mondar-mandir


Astrella: "Kenapa harus sampai masuk ke ruang operasi? lukanya parah ya? ini semua gara-gara kamu Astrella!! coba aja kalau kamu bisa peka jadi orang! Karlezo pasti ga jadi gini!!"


*Ucapnya dalam hati*


\=\=\=\=\=


Astrella: "Kenapa lama? udah jam segini tapi.. kenapa belum ada kabar juga?"


Astrella terus menunggu. Rasanya berat dan lelah. Menunggu dan terus menunggu. Tak terbayang jika terjadi sesuatu


Seharusnya dari awal Astrella sudah bisa memastikan keselamatan nya dan juga Karlezo serta bayinya


Tapi, tidak dalam bayangan nya. Jalan hidupnya begitu berliku-liku bagaikan labirin yang luas


Setiap saat masalah selalu datang, tapi.. semuanya sudah berlalu. Waktu tak akan bisa diputar lagi


Entah kakaknya, yaitu Windy masih mencari masalah dengannya atau tidak. Tapi, tetap saja Astrella tidak bisa menyingkirkan Windy


Windy bisa kembali sewaktu-waktu untuk membalas dendam. Tapi, kapan Windy kembali, tak bisa dipastikan


Begitu juga dengan Louis Karlet. Kedua orang itu tak pernah ada rasa jera. Sulit sekali untuk membantai mereka


Tapi, kenapa Windy dan Louis tidak boleh disingkirkan? sedangkan orang lain bisa langsung main tembak?


Ya, keluarga Windy Arles, Keluarga Arles dan Keluarga Louis Karlet, Keluarga Karlet sangat sulit dihadapi


Meskipun Keluarga Astrella bisa dibilang lebih berkuasa, tapi tetap saja tidak boleh melenyapkan mereka


Urusannya akan semakin panjang dan semakin sulit. Karena.. Keluarga Astrella yaitu Keluarga Vesrezzle mempunyai hutang kepada Keluarga Arles dan Keluarga Karlet


Hutang apa itu? Hutang Nyawa. Tapi, Astrella tidak seberapa tahu akan hal itu. Yang jelas papanya sudah mempersiapkan untuk tidak boleh menyakiti Keluarga Arles dan Karlet


Dalam kondisi itu, untuk membuat Windy dan Louis menyerah juga sulit. Astrella harus lebih bersabar


Ya, intinya Astrella tak bisa semena-mena memperlakukan kedua orang itu


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Astrella terus tertunduk dalam posisi duduk. Astrella berusaha untuk tidak menangis. Tapi, sulit rasanya


Tiba-tiba, seseorang datang menghampiri nya. Wangi parfum nya sangat pekat di hidung


Astrella mengangkat kepalanya dan itu dia. Orang yang baru saja dibilang, tiba-tiba muncul di hadapan Astrella


Astrella: "Kau lagi! untuk apa kau datang!"


Windy: "Yah.. sebenarnya aku ga mau datang sih, cuman kebetulan aja. Pas juga sih aku bawa ini. Papa suruh aku kasih ini"


Windy menyerahkan sebuah kertas yang menyerupai kartu undangan. Astrella mengambilnya dan menatap Windy dengan tajam


Astrella: "Ini buat apa?"


Windy: "Undangan doang, papa suruh datang ke klub malam, hari ini. Ada acara resmi"


Astrella: "Huh? bodoh!, acara resmi kok di klub malam"


Windy: "Ya terserah. Oh iya, aku dengar-dengar.. Karlezo masuk rumah sakit ya?"


Astrella: "Ga ada urusannya sama kamu, pergi dari sini sekarang"


Windy: "Kamu sok jual mahal banget, yang pasti kamu akan lebih menderita setelah ini. Lihat aja aku balik ke sini nantinya"


Astrella: "Kamu!? Argh! terserah lah!"


Windy pun pergi meninggalkan Astrella. Astrella tahu kalau dia akan dijebak lagi. Maka dari itu ia pasti tidak akan pergi ke klub itu


Tapi, apa yang dikatakan Windy akan terjadi?


Tidak, tidak, tidak. Astrella bertekad untuk melindungi Karlezo


\=\=\=\=\=


1 jam berlalu, operasi nya masih berjalan.


KRREEETT


Tak lama, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dari ruang itu dan Astrella langsung berjalan ke arah dokter itu


Astrella: "Gimana dok? dia baik-baik aja kan? dia pasti segera sadar kan?"


Dokter itu diam. Tak tahu harus berkata apa untuk memberitahu kan keadaan Karlezo


Astrella: "Dokter! jawab!"


Dokter: "Begini.. operasi nya berjalan sangat lancar. Banyak goresan di punggung pasien. Karena itu lukanya perlu dijahit. Ya, untungnya waktu kalian datang tidak terlambat. Kalau sampai terlambat.. kami tidak tahu harus apa lagi. Tapi.."


*Terbata*


Astrella: "Tapi kenapa dok?! ga ada yang serius lagi kan selain itu? dokter bisa jamin keselamatan nya kan?"


Dokter: "Maaf tapi.. kondisi nya sangat kritis. Kami harus memasang banyak alat bantu. Mungkin untuk waktu lebih dari 2 Minggu.. dia belum bisa sadar"


DEG!


Jantung Astrella berdegup sangat kencang


Astrella: "Dokter.. ini bercanda kan?"


Dokter: "Maaf, keadaan memang sangat lemah"


Astrella langsung tertunduk. Air matanya mengalir sangat deras. Hatinya terasa sangat-sangat perih seperti disayat pisau tajam


Tak bisa menahan diri lagi, Astrella hanya bisa menangis dan terus menangis. Sakit sekali rasanya. Hatinya benar-benar hancur


Astrella: "Karlezo, kenapa kamu tega sampai begini?"


Rasanya sangat sulit untuk bernafas. Astrella terus menggertak kan giginya

__ADS_1


__ADS_2