
Erick melakukan aktifitasnya sebulan belakangan ini dengan kegiatan yang sama. Kegiatan yang tidak berguna.
Setiap hari ia tidak fokus bekerja. Pekerjaannya bertumpuk-tumpuk, diliriknya pun tidak. Ia bahkan mendapat makian dari bos nya. Ia diam saja mendengarkan makian itu sambil menunjukkan ke-tidak-semangatannya.
Untungnya dia tidak dipecat. Ia hanya disuruh mengajukan cuti hari itu juga sampai seminggu kedepan.
Cafenya hampir sebulan pula tidak pernah dikunjunginya. Ia hanya mengecek perkembangannya lewat ponsel dan laptopnya.
Erick melakukan kegiatan tidak berfaedah setiap harinya.
Setiap malam di apartment nya ia cuma bisa bermain PS untuk mengalihkan pikirannya.
Di pagi hari ia akan menunggu didepan gang rumah orangtua Gia, menunggu Gia berangkat kerja.
Dan jika sore ia menunggu Gia pulang bekerja, duduk termenung tidak jelas dicafe yang dulu sering dibuatnya nongkrong ketika masa magang didaerah itu.
Sudah sebulan ini hidupnya terasa hambar setelah Gia memutuskan hubungan mereka. Berulang kali dia menghubungi Gia tapi tidak bisa.
Erick Menscroll ponselnya mencoba melihat siapa tahu ada postingan baru dari sosial media Gia yang bisa menunjukkan aktifitas Gia sekarang. Tapi usaha stalking nya berhenti saat nama yang dicarinya tidak muncul di kolom pencarian.
Erick beralih ke sosial media lain yang berlogo biru putih. Namun, yang didapatnya adalah ia tidak menemukan akun Gia lagi.
Sepertinya Gia menutup akses untuk Erick tau tentang kabarnya. Erick benar-benar merasa frustasi sekarang.
Erick ingin memantau Gia dan betemu dengannya. Ia ingin bicara sekali lagi saja dengan Gia. Ia mau Gia memberinya kesempatan dan keberanian.
Erick berjanji pada dirinya sendiri kali ini ia akan memberanikan diri melamar Gia meskipun orangtua Gia tidak akan menyerahkan anak gadisnya kepadanya. Tapi ia bertekad untuk mencobanya dulu.
Erick sadar, hidupnya memang punya semuanya. Uang, fasilitas, pekerjaan dan usaha yang mapan serta penampilannya yang jauh dari kata kurang.
Tapi ada satu yang Erick tidak punya selama dia mengenal Gia. Yaitu keberanian. Keberanian untuk bertemu orangtua Gia.
Hal itu pula lah yang membuat Erick tidak bisa datang kerumah Gia untuk menemui wanitanya itu meskipun ia ingin.
Ia terlalu pengecut. Bahkan hanya untuk bicara saja ia tidak punya nyali.
Semuanya berawal dari keluarganya sendiri yang selalu terang-terangan menyepelekan dan menghina Gia. Ia memang selalu membela Gia didepan keluarganya dan keluarga Gia.
Tapi Erick tahu keluarga Gia menyimpan sakit hati yang dalam atas keangkuhan keluarganya. Terutama keangkuhan dua saudaranya yang selalu merasa lebih dan lebih. Itulah sebabnya hubungan Erick dan Gia ditentang kedua belah pihak.
Padahal awalnya keluarga Gia sangat mendukung hubungan mereka.
Tapi karena seringnya Gia mendapat Hinaan dari keluarga Erick, lambat laun keluarga Gia pun seperti urung menerima posisi Erick sebagai pasangan Gia.
Erick mengerti bagaimana perasaan orangtua Gia. Maka dari itu ia sangat segan untuk berjumpa. Nyalinya selalu menciut untuk bertemu orangtua Gia apalagi setelah kejadian yang sangat memalukan itu.
Kejadian dua tahun lalu saat Erick mencoba mengenalkan Gia pada orangtuanya. Kebetulan saat itu ada acara keluarga dirumah orangtua Erick.
Gia dihina dan diremehkan habis-habisan oleh Rina disana. Didepan banyak orang dan keluarganya yang lain.
"Bagaimana seorang wanita sepertimu bisa mendampingi adikku yang mempunyai rekan dan keluarga dari kalangan atas? bahkan mengimbanginya pun kau tidak akan bisa!" cetus Rina tiba-tiba menyepelekan Gia saat itu.
Gia sangat malu saat itu. Erick pun sangat mengetahuinya. Gia hanya diam menunduk dan tidak menjawab karena menghargai Erick dan orangtuanya.
Erick murka mendengar kata-kata kakaknya. Tangannya mengepal. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Kau bahkan tidak mengenalnya, Kak. bisa-bisanya kau sudah menjudge Gia seperti itu. Ah iya, aku lupa. kau terlalu sibuk mengimbangi orang kalangan atas. Hingga kau tidak punya hati Nurani sama sekali" cecar Erick menahan amarahnya hingga urat-urat dilehernya jelas terlihat.
Erick sangat marah waktu itu. ia berusaha memberontak tindakan kakaknya. ia membela Gia sampai akhirnya Erick memutuskan keluar dari rumah yang sangat ingin ditinggalkannya sedari remaja.
Meskipun Rina dan Frans sudah tidak tinggal disana lagi seusai menikah. Tapi Erick tidak sudi menginjakkan diri lagi di rumah penuh belenggu itu.
Kesabaran Erick terasa sudah habis dan sampai diubun-ubun. hal itu pula lah yang membuat Erick sekarang tinggal di apartment yang dibelinya sendiri.
****
Saat ini Erick berada didalam mobil tak jauh dari kediaman rumah orangtua Gia. Ia sedang menunggu Gia keluar dari rumahnya.
"Kau harus berani Erick! Jangan jadi pecundang seperti ini! " Gerutu Erick pada dirinya sendiri.
Ini adalah hari minggu, Erick bahkan dari pagi memantau rumah Gia, bak seorang detektif.
Ia mau menarik tangan Gia saat Gia keluar rumah. Dan membawanya jauh-jauh untuk hidup bersama jika saja bisa. Tapi itu tidak mungkin.
Ia tidak ingin hidup Gia nanti tanpa status. Ia bertekad ingin menikahi Gia. Dan status Gia akan menjadi istrinya.
Erick menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Penampilannya belakangan ini sudah seperti tidak terurus. Ia tidak berselera apapun semenjak Gia memutuskan hubungan mereka sebulan lalu.
Yang ada dikepalanya hanya Gia, Gia dan Gia.
__ADS_1
"Aku harus kesana! Sudah setiap hari aku kesini tapi aku nggak pernah melihat Gia sekalipun" batin Erick sambil melihat kearah rumah orangtua Gia.
Erick memukul stir mobilnya dengan tangannya berkali-kali. Meluapkan rasa kesalnya. Sampai akhirnya ia tertunduk lesu menghentak pelan dahinya di atas stir mobil.
"Aku ingin bertemu sayang! Kamu dimana Gia?" Ucapnya lirih.
"Aku nggak bisa tanpa kamu sayang. Lihat aku disini jadi pecundang tanpa kamu!"
Dengan segenap hati dan mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia punya, akhirnya Erick beranjak keluar dari mobilnya. Ia berjalan sedikit menuju kediaman orangtua Gia.
Erick mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Sampai keluar lah seorang wanita paruh baya yang ia tahu itu adalah bu Ratih. Ibu dari kekasihnya, Gia.
"Erick?" Kata bu Ratih terkejut.
Erick menangkap keterkejutan diwajah bu Ratih saat melihatnya.
"Bu, Gia--" belum sempat Erick melanjutkan kata-katanya. Dia ingin bertanya 'apa Gia ada dirumah'.
Tapi kata-kata bu Ratih selanjutnya malah membuat Erick terperangah.
"Mana Gia, Erick? Mana?" Ucap bu Ratih sambil matanya kebelakang badan Erick mencari-cari sesuatu.
Erick tentu saja terlihat bingung, karena diapun memberanikan diri kesini untuk mencari Gia. Kenapa bu Ratih malah menanyakan Gia padanya. "Ya Tuhan, apalagi ini?" Batin Erick.
Dia terdiam sembari melihat bu Ratih yang menangis dan makin histeris memanggil-manggil nama Gia. Tak lama seseorang keluar dari arah dalam rumah, menghampiri Erick yang masih berdiri diambang pintu.
"Masuk dulu nak!" Suara dengan nada bersahabat dari pria paruh baya yang Erick yakini adalah ayah Gia.
Erick memang belum pernah bertemu sebelumnya. Lain halnya dengan Bu Ratih yang sering ia temui ketika ia ngapel kerumah Gia.
Selama ini ayah Gia kerja keluar kota. Sesekali pulang namun tak pernah ada kesempatan bertemu dengannya. Erick hanya pernah melihat fotonya di ponsel Gia.
Erick pun melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Duduk dulu nak" ucap Pria itu lagi. Sembari mengelus-elus pundak istrinya, bu Ratih. Yang sedari tadi masih menangis.
Erick diam tidak tahu mau memulai dari mana. Karena keberaniannya yang susah payah dikumpulkannya dimobil tadi mendadak hilang ketika tau Gia tidak berada dirumah orangtuanya.
"Kenalkan, Saya Anton. Ayahnya Gia." Kata Pak Anton memperkenalksn diri sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Erick.
"Saya Erick, Oom" ucap Erick sambil membalas jabatan tangan Pak Anton, yang menurut Erick ternyata cukup bersahabat dan bisa diajak bicara antara sesama lelaki.
"Awalnya saya ingin bertemu Gia, Oom. Tapi melihat reaksi ibu sepertinya saya sudah dapat jawaban bahwa Gia tidak berada disini" jawab Erick terus terang.
"Jangan sok nggak tau kamu, Rick. Gia ada sama kamu kan? Sebenarnya kamu mau apa kesini Rick?" Potong bu Ratih yang masih menangis.
Erick makin bingung.
"Lebih baik buat minum dulu gih bu, biar ayah yang bicara sama Erick" sambut pak Anton menengahi.
Setelah bu Ratih beranjak kedapur, pak Anton memulai bicaranya kembali.
"Begini nak, sudah sebulan ini Gia tidak berada dirumah ini bersama kami. Dia pergi entah kemana. Dia hanya meninggalkan surat tanda pamit. Oom juga nggak tahu kemana tujuannya, kami pikir dia pergi bersamamu, Erick."
Lagi lagi Erick terperangah atas jawaban dan penjelasan Pak Anton.
"Kami sudah berusaha mencarinya kemana-mana. kerumah saudara, kerumah kerabat dan mencari tahu dari teman-temannya. Tapi nihil. Tidak ada yang tau keberadaan Gia dan belum ada pula yang mengabari kami kembali perihal Gia." tambahnya lagi.
Mata Pak Anton menyiratkan kekhawatiran yang dalam terhadap keadaan anaknya.
"Dia memutuskan hubungan kami sudah sebulan yang lalu, Oom. Itulah terakhir kalinya saya bertemu dengan Gia."
"Masih ada yang ingin saya bicarakan dengannya tapi setiap saya mencarinya saya tidak pernah bertemu. Makanya, hari ini saya memberanikan diri untuk kesini, Oom"
"Baiklah, saya percaya sama kamu. Tapi--"
Pak Anton tidak melanjutkan kalimatnya. Raut wajahnya yang tadinya tampak Khawatir seketika memerah seperti menahan amarah dan kekecewaan.
"Kenapa Oom? Tanya Erick yang melihat Pak Anton ragu-ragu untuk berkata.
"Sebentar ya" katanya lagi.
Lalu Pak Anton masuk kedapur, tak lama pak Anton dan bu Ratih keluar bersamaan. Pak Anton duduk ditempatnya semula, lalu bu Ratih menghidangkan minuman kepada kami.
"Silahkan diminum, Rick" ujarnya.
Erick melirik pancaran wajah bu Ratih yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sepertinya Bu Ratih sudah bisa mengendalikan diri.
Erick tidak berselera untuk minum saat ini. Tapi dia meminum beberapa teguk air dihadapannya untuk menghargai orang yang membuatnya.
__ADS_1
Erick melihat bu Ratih masuk kekamar entah mengambil apa. Lalu keluar lagi.
"Ini rick, sekarang ibu mau menanyakan ini sama kamu?" Ucap bu Ratih sambil menyodorkan benda pipih yang membuat Erick tercengang. Syok.
Erick bukan orang bodoh yang tidak tahu apa artinya itu. Erick sangat tahu makna dua garis diatas benda pipih itu.
Tapi bibirnya seakan kelu tidak bisa bertanya apa-apa lagi. ia melirik pak Anton yang meneteskan air mata kekecewaannya.
"Ibu menemukan ini dikamar Gia, rick"
"Itu artinya--"
"Iya Erick, Gia hamil"
Erick mengusap kasar wajahnya. Jiwanya terasa gusar. Mendadak dia ingin marah tapi ia tidak tahu mau melampiaskan kemana.
Marah karena Gia yang meninggalkannya disaat kondisi Gia sedang hamil. Seharusnya Gia terbuka tentang hal ini kepada Erick.
Terutama marah kepada dirinya sendiri yang sangat naif atas problem yang sebenarnya ia sendirilah dalangnya.
"Kamu adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini kan?" Suara Pak Anton bergetar. Pak Anton mulai bersuara lagi setelah tadi diam beberapa saat membiarkan istrinya berbicara.
Erick mengingat kembali atas apa yang telah ia perbuat pada Gia. Mengingat kegagalannya menjadi pelindung Gia.
Dia mengangguk tanpa berkata.
"Apa itu artinya kamu mengakuinya?" Tanya Pak Anton lagi. Suaranya mulai meninggi.
"Saya adalah orang yang harusnya bertanggung jawab atas Gia dan kehamilannya, Oom. Saya dan Gia minta maaf telah mengecewakan Oom dan ibu" jawab Erick Gentle.
Pak Anton mengepalkan tangannya. Ia seperti siap meninju lelaki muda yang tepat didepannya ini. Sikapnya yang bersahabat di awal tadi seolah hilang ditelan Amarah.
Erick menutup matanya bersiap menerima tinjuan di wajahnya. Bahkan jika orangtua Gia ingin memaki, menend*ng dan menuntutnya, ia siap menerima segala konsekuensinya. 'aku memang layak mendapatkan semua itu.' batinnya.
Erick pasrah tapi ia bertekad tidak akan melepaskan Gia kali ini. Ia harus menemukan Gia dan darah dagingnya yang ada dikandungan Gia.
Bu Ratih dengan sigap merangkul dan mengelus kedua lengan Pak Anton. Berusaha menetralkan perasaan suaminya itu. Menatap matanya dalam-dalam seolah sedang bicara dari mata ke mata.
Seketika Pak Anton menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Baiklah, sekarang apa rencanamu untuk mempertanggung-jawabkannya?" ujarnya kemudian.
"Saya akan mencari Gia kemanapun, Oom. Saya berjanji akan menemukannya" jawab Erick lagi.
Tanpa disadari Erick, air matanya setetes demi setetes jatuh. Ia merutuki kebr*ngsekan dirinya sendiri yang telah merusak Gia.
Seharusnya ia melindungi Gia. Menjaganya. Bukan malah memanfaatkan kepolosan Gia.
Erick menangisi keadaan Gia yang dalam kondisi hamil tapi harus jauh darinya dan dari keluarganya sendiri.
"Saya merasa telah menyia-nyiakan Gia. Saya menyesal karena tidak dapat mengendalikan diri saya. Saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada Oom dan keluarga, Oom" ucap Erick sambil berlutut didepan kedua orangtua Gia.
Erick menangis sejadi-jadinya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menangis seperti ini.
"Sudahlah nak, tidak usah begini. Bangun Erick. Berdiri lah. jangan seperti ini." ucap Pak Anton pelan yang Erick sadari telah kembali bijaksana dan bersahabat seperti diawal tadi.
Erick tahu hati Pak Anton dan Bu Ratih sangat sakit atas tindakan yang dilakukan Erick. Sikap bijaksana mereka seperti cambukan perih untuk Erick.
Bersambung...
.
.
.
.
.
.Hai hai jangan lupa yah sesudah dibaca berikan Like dan Coment yang membangun buat Author. segala macam kritik dan saran yang masuk akal bakalan author terima dengan lapang dada. hmmmmm..
. jangan lupa bintang 5 nya yah guyss
. jangan lupa juga yang punya poin lebih boleh dikasi ke aku ya. hihihi (ngarep)
Episode kali ini 2000 kata guys. terharu aku tuh..
Luv Luv dulu deh ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1