Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Usaha Gia -


__ADS_3

*POV. Gia


Setelah mimpi malam tadi, aku rasanya tidak bisa tertidur nyenyak kembali. Aku hanya uring-uringan diatas kasur. Membalik-balikkan badan kiri dan kanan berulang kali sampai pagi mulai menjelang.


Aku memutuskan untuk mandi dan berdandan ala kadarnya. Aku keluar rumah memutuskan membeli sarapan pagi.


Untunglah selama aku hamil aku jarang sekali merasakan morning sickness. Aku tidak pernah merasa yang namanya ngidam. Hanya diwaktu tertentu aku merasa sangat lelah dan ada beberapa makanan yang ku hindari karena aromanya membuatku mual.


Aku memesan sarapan didepan Gang rumah kontrakanku. Sambil menunggu antrian yang cukup ramai, aku diam tapi tersenyum ramah kepada orang-orang sekitar.


"Maaf mbak nya orang baru yang diujung itu ya?" Tanya seorang ibu-ibu kepadaku.


"Iya bu."


"Mbaknya ngontrak sendirian aja disini?"


"Iya bu" jawabku apa adanya.


"Udah menikah atau masih gadis?"


'Astaga, aku mau jawab apa dari ke-kepo-an ibu ini' batinku.


Semua yang membeli sarapan disitu seperti ikut menunggu jawabanku.


"Sudah bu" terpaksa ku berbohong. Aku belum siap langsung digunjingkan hari ini juga mengingat mulai julidnya ibu-ibu disini.


"Loh, jadi suaminya dimana dek? Kok tidak ikut tinggal disini?" Tanya ibu yang lainnya lagi.


'Bener kan, kalau soal begini pasti semua pada nimbrung. Ingin tahu ujung-ujungnya kepo.'


"Kerja bu, jadi TKI diluar Negeri" jawabku asal.


"Oh kenapa nggak ikut saja sekalian? Kan masih muda kamu, masa' ditinggal-tinggal. Nggak takut suamimu ninggalin istrinya sendirian?'


Kan benar lagi dugaanku, jiwa kepo ibu-ibu disini pada terbangun meronta-ronta ingin dipuaskan dengan jawabanku selanjutnya.


"Tuntutan hidup bu, mau bagaimana lagi. Saya juga tidak bisa naik pesawat. Suka jet-lag. Puyeng dan Mual-mual nanti." jawabku asal lagi, serah deh mereka mau percaya atau enggak.


Sampai akhirnya pesanan sarapanku siap dibuat akupun langsung undur diri.


"Mari bu" pamitku berbasa basi.


Aku tidak tahu lagi dibelakangku apa yang mereka pergunjingkan. Cuek aja aku mah.


***


Selesai dengan sarapanku, aku memutuskan untuk berbelanja kebutuhan rumah dan kebutuhan untuk usaha yang sudah ku rencanakan.


Aku memesan ojek online untuk menuju pasar yang ternyata tidak jauh dari tempatku.


Aku membeli beberapa baju rumahan yang tidak banyak ku bawa dari rumah orangtuaku.


Aku membeli barang-barang elektronik sesuai kebutuhan.


Rice cooker, supaya aku nggak beli makanan diwarung setiap hari. Serta kipas angin kecil untuk dikamarku. Jujur saja aku kepanasan tidur malam tadi apalagi setelah ku memimpikan Erick. Keringat dingin membanjiri pelipisku. 'sedih aku tuh'


Tidak lupa aku membeli peralatan tempur untuk usahaku. Mulai dari mesin jahit yang utama. Jarum, gunting, benang dan segala pernak-perniknya.

__ADS_1


Aku memasuki toko kain disebelah toko mesin jahit tadi. Dan memilih mana yang cocok. Untunglah pasar disini terbilang lengkap.


Aku juga melengkapi belanjaanku dengan membeli kertas gambar untuk desain serta alat tulisnya di toko perlengkapan.


Akhirnya, aku siap dengan barang belanjaku yang lumayan menguras isi rekeningku.


Aku mengucap syukur dan banyak-banyak terimakasih dalam hatiku kepada Nico yang bisa dengan tanggap membaca isi pikiranku yang butuh banyak biaya.


"Semoga aku berhasil, sampai aku bisa membayar uangmu kembali, Nico" tekadku dalam hati.


Aku pulang dengan ojek online. Barang-barangku dibawa oleh mobil barang yang ku sewa.


Aku mulai lelah dan aku memutuskan untuk tidur saja daripada aku pingsan.


Akupun tertidur dengan kondisi rumah yang masih berantakan akibat barang-barang belanjaanku.


💠💠💠💠💠


Waktu memerankan perannya dengan sangat baik. Tidak terasa, usahaku mulai berjalan. Dan sampai saat ini bisa dibilang lumayan lancar.


Kemarin aku sudah mendapatkan keuntungan pertama dari hasil kerja kerasku.


Ada beberapa tetangga yang melihat hasil jahitanku. Tentunya aku tidak membuat banyak. Hanya satu-dua baju sebagai barang contoh. Ya hitung-hitung modal untuk promosi.


Dan buktinya ada seorang ibu-ibu yang ku kenal nggak terlalu julid, Bu Nila namanya, dia tertarik dengan usahaku ini. Bu Nila mau memakai jasa jahitku untuk membuatkan baju anaknya yang akan bertunangan.


Aku antusias sekali sampai aku lembur mengerjakan pesanan Bu Nila. Aku tidak mau mengecewakan pelanggan pertamaku. Aku mendesain bajunya dengan jiwa khayalku yang tinggi. Dan terbukti hasilnya sangat memuaskan konsumenku.


Dia senang sekali sampai mengucapkan terimakasih berkali-kali karena model dan desain baju anaknya 'kekinian' dan tidak seperti yang dijual dipasaran. Anaknya pun kegirangan mendapati bajunya pas dibadan dan tentunya sangat bagus saat ia gunakan.


Aku bukan memuji hasil karyaku, tapi dari respon bu Nila dan anaknya aku semakin semangat lagi.


Aku cuma perlu menunggu medsos ku memberikan dampak baik nantinya untuk usahaku.


💠💠💠💠💠


Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Aku sering sekali tidur akhir-akhir ini, mungkin karena bawaan kehamilanku.


Perutku belum nampak membuncit. Tapi aku kepikiran karena aku belum pernah check-up lagi ke dokter kandungan. Terakhir kali aku check-up dan USG waktu masih di kota asalku.


Sambil melihat kertas hasil USG ku dulu (hasil USG yang ditemukan Lyra waktu itu) akupun menimbang-nimbang memikirkan kandunganku.


Tiba-tiba aku merasa khawatir, akhirnya akupun melakukan check-up siang ini ke dokter kandungan. Dengan diantar si abang ojek tentunya.


Syukurnya kandunganku baik-baik saja. Meski aku sok sibuk belakangan ini. Aku bahkan mendengarkan detak jantungnya tadi melalui alat khusus disana.


Kandunganku sudah bertambah lagi usianya sekarang. Sudah berumur 13 minggu. Memasuki trimester kedua. Dia makin berkembang didalam rahimku. Aku tersenyum mengingatnya. Sambil terus ku elus-elus perutku.


"Nggak terasa sekarang udah sebulan lebih aku pergi dari rumah. Apa kabar ya yang disana? Ibu, ayah Gia rindu..Nissa, kakak kangen dek" ucapku lirih disela-sela waktuku menggambar desain untuk membuat baju.


Tanpa terasa air mataku mengalir. Padahal baru sedetik sebelumnya aku tersenyum mengingat bayi dalam perutku. Aku merasa sangat sensitif sekarang.


Dan kini aku jadi amat merindukan keluargaku.


Tiba-tiba aku terisak dan makin terisak ketika aku mengingat Erick.


Seketika rasanya dadaku bergemuruh. Aku merasa marah pada diriku sendiri. Entah kenapa perasaanku merasa benar-benar marah sekarang. Aku sampai melempar bantalku ke sembarang arah.

__ADS_1


Mungkin ini satu sisiku yang lain. Atau, anak dalam kandunganku yang marah karena aku meninggalkan Erick begitu saja.


Tiba-tiba ingatanku pada Erick terkuak begitu saja.


*Flashback On


Aku keluar kantor dan memasuki indomar*t untuk membeli roti kesukaanku dengan merk yang sama dengan tokonya. Roti yang didalamnya ada krim keju. "Kesukaan aku banget ini" kataku senang dalam hati seperti anak kecil mendapat permen.


Tiba-tiba mataku menangkap sesosok lelaki yang tidak asing.


"Hai" sapanya.


Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dia menyapaku. Aku sering memperhatikannya, bahkan satu kantorku selalu membicarakannya disela-sela pekerjaan kami.


Dia lelaki yang jadi Trending Topic di kantorku beberapa bulan belakangan. Dengar dari anak-anak lain sih katanya Mahasiswa magang di gedung sebelah.


Jujur saja perasaanku saat dia menyapa waktu itu adalah senang tapi sekaligus kaget. Aku takut disangka ke-Pede-an oleh lelaki itu. Jadi ku putuskan hanya tersenyum singkat lalu memutuskan langsung cabut. Usailah perjumpaan kami yang singkat.


Karena mau membalas sapaannya rasanya aku tidak mampu sangking senangnya disapa lebih dulu oleh lelaki itu.


Tapi dua hari kemudian, aku kembali dipertemukan dengannya di ATM sekitaran kantor.


Kebetulan itu adalah awal bulan, aku mau menarik uang gajiku.


Tapi saat aku keluar dari bilik ATM, aku terperangah menatap lelaki yang juga sedang menatapku.


Deg...


Rasanya jantungku mau melompat keluar saat bertemu dengannya.


Aku berdebar-debar, apalagi saat menatap manik mata hitamnya yang jika arahnya ditarik sebuah garis lurus adalah kearah mataku.


Aku tersadar dan memutus kontak mata dengannya. Tapi ku lihat dia diam saja, tidak bergerak memasuki bilik ATM.


Aku mengibas-ngibaskan tanganku didepan wajahnya yang tadi serasa menghipnotisku.


"Mas nya mau masuk?


"Hei mas.. mas??" Ucapku pelan tapi dengan nada sedikit memaksanya untuk menjawab.


Dia berdehem kemudian mulai mengeluarkan suara yang serak.


"I, iya saya masuk dulu. Permisi ya."


Tapi kulihat dia diam saja tetap tidak masuk ke bilik.


Aku menggeleng pelan kemudian memasang senyum ramahku dan berlalu pergi.


*Flashback off


Aku teringat pertemuan pertamaku dengan Erick. Walau sebenarnya itu bukan pertama kalinya kami bertemu. Tapi itulah yang pertama dan kedua secara langsung. Yang sebelum-sebelumnya adalah hanya melihat sepintas saja.


"Apa iya kamu marah karna Mama meninggalkan Papa kamu, nak?" Ucapku lirih sambil mengusap perutku pelan. Mengajak anak yang ada didalamnya berbicara.


Bersambung...


.

__ADS_1


.


__ADS_2