Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Cemas -


__ADS_3

Erick keluar dari Apartment nya dengan sangat tergesa-gesa di pagi buta. Ia segera mengeluarkan mobilnya dari basement dan langsung menuju kerumah orangtua Gia.


Erick merasa risau, dari kemarin Gia tidak memberi kabar apapun. Tidak seperti biasanya. Saat Erick menelepon pun nomor Gia berada diluar jangkauan.


.


.


.


Sesampainya dikediaman orangtua Gia, Erick langsung menanyakan tentang Gia pada Ibu Ratih. Ternyata bu Ratih juga sedang menunggu kabar Gia dari Lyra.


"Ibu juga meneleponnya dari kemarin. Tapi tidak tersambung. Untungnya ibu sempat menyimpan nomor Lyra waktu Gia pulang kesini kemarin."


Ibu Ratih diberitahu Gia bahwa disana Gia tidak tinggal sendirian, ia bersama Lyra menempati rumah kontrakan yang sama. Dan ibu Ratih berinisiatif meminta nomor Lyra pada Gia.


"Bu, saya mau menghubungi Lyra. Apakah boleh saya minta nomor handphone-nya?" Pinta Erick. Ia menyesal tidak menyimpan contact orang-orang yang dekat dengan Gia disaat nomor Gia tak bisa dihubungi seperti saat ini.


Setelah mendapatkan nomor Lyra, Erick mencoba menghubunginya.


.


.


"Apa maksudmu dengan Gia yang tak pulang semalaman?" Pantas saja perasaan Erick tak enak sejak semalam.


"....."


"Astaga! Aku harus kesana mencarinya!"


"....."


"Arga akan menjemputmu? Dia ikut mencari Gia?" Erick menarik nafas berat.


"Baiklah, aku tunggu kabar darimu secepatnya! Terimakasih Lyra!" Sambung Erick lagi.


Erick memutuskan panggilan dan pamit dari rumah orangtua Gia.


.


.


.


Erick memutuskan kembali ke Apartment. Tapi ia terlalu tak sabar menunggu kabar dari Lyra. Setelah menunggu cukup lama, ia ingin menelepon Lyra tapi Lyra lebih dulu menghubungi Erick.


" ....."


"Arga tidak jadi menjemputmu? Memangnya kalian akan mencari Gia kemana?"


"......"


"Mikha?" Erick terkejut. Dan ia mengerti sekarang bahwa hilangnya Gia ada kaitannya dengan Mikha. Dan mungkin saja ini juga menyangkut Erick sendiri.


"Baiklah, aku sudah tau sekarang!"


Panggilan berakhir. Erick memutuskan menelepon Ivan sekarang daripada menanyai Mikha. Nomor Ivan memang tersimpan diponselnya sejak ia menolong Mikha dulu.

__ADS_1


"Kau sudah tau?" Jawab seseorang diseberang sana tanpa basa-basi ketika panggilan itu baru saja tersambung.


"Apa dia baik-baik saja? Bisakah kau menghentikan kegilaan adikmu!" Ujar Erick kemudian.


"Kau minta tolong padaku tapi kau menghina adikku?" Bukannya menjawab pertanyaan Erick. Ivan malah balik bertanya dengan nada mengejek.


"Lalu kau mau aku memohon-mohon padamu? Atau mengemis pada adikmu agar dia melepaskan Gia?" Ujar Erick dengan nada sinis.


"Lakukanlah!" Jawab Ivan santai.


Erick menggeram tangannya mengepal. Seandainya Ivan ada didepan matanya sekarang, mungkin akan ia habisi saat ini juga mengingat tingkahnya yang angkuh dan tengil.


Erick menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kau tau disini yang salah siapa kan? Apa kau mau aku memastikan, siapa nanti yang akan memohon padaku untuk melepaskan adikmu itu?" Jawab Erick mencoba tenang tidak terpancing emosi.


"Wow...aku takut sekali. hahahaha" jawab Ivan mengejek.


"Wanita itu, emm maksudku Gia sudah pulang. Baru saja. Kau terlalu lambat!" Ejeknya lagi.


"Apa maksudmu?"


"Iya, kekasihmu itu baru saja pulang bersama Arga. Emm aku tidak tau mereka ada hubungan apa. Tapi kurasa saat ini kau pasti lebih takut--" jawaban Ivan yang memanas-manasi itu tak berlanjut.


Erick cepat-cepat memotong ucapan Ivan


"Diam kau!" Kata Erick langsung memutus panggilan teleponnya.


Ivan disana tertawa karena ia yang menang karena telah berhasil membalas Erick untuk menakut-nakuti.


Sedangkan Erick yang tadinya gelisah memikirkan kondisi Gia sekarang malah dilema karena mengingat ucapan Ivan bahwa Gia sedang bersama Arga.


"Tenang Erick! Paling enggak, Gia udah aman sekarang. Si kunyuk itu nggak mungkin nyakitin atau ngapa-ngapain Gia!" Batin Erick mencoba berfikir postitif.


"Tapi, kalau Gia kenapa-napa gimana?" Tanyanya pada diri sendiri. Frustasi.


"Nggak, nggak! kalau Gia sampai kenapa-napa, berarti si kunyuk memang udah bosan hidup!" Erick mencoba meredam emosinya lagi saat ini.


******


Gia menatap nanar pemandangan jalanan dari jendela mobil Arga.


Arga hanya diam menyetir mobilnya sambil sesekali melirik Gia. Sejak dari Villa, Gia diam saja ketika Arga telah berhasil menjemputnya.


Arga ingin memulai obrolan. Tapi ia tahu bahwa dirinya pun sangat canggung untuk memulainya.


"Makasih ya udah menjemputku! Pasti kamu juga mencariku kemana-mana!" Ucap Gia yang kini fokus menatap kedepan. kearah jalanan didepannya.


"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Arga.


Gia menunduk. Ia memilin ujung bajunya dengan jari. Ia menahan tangisnya namun airmata itu tetap keluar.


Semua itu tak luput dari pandangan Arga. Meski ia fokus mengemudikan mobilnya tapi ia tak bisa mengacuhkan wanita yang duduk disampingnya saat ini.


"Kamu nggak usah takut lagi. Kita udah menuju jalan pulang kok!" Arga mencoba menenangkan Gia.


Gia mengangkat wajahnya menatap Arga.

__ADS_1


"Astaga gue nggak bisa liat lo nangis!" Batin Arga.


"Ga?"


"Iya?"


"Maaf ya"


"Untuk?"


"Karena lagi-lagi kamu harus berurusan denganku. Seharusnya kamu nggak perlu repot, Ga. Aku ini bukan urusanmu." Ujar Gia sambil tersedu-sedu.


Arga mengangkat alisnya.


"Kamu memang bukan urusanku, Gi! Tapi sampai saat ini kamu masih salah satu prioritasku!" Ucap Arga yang membuat Gia terperangah tak percaya.


"Kamu jangan nangis lagi. Kamu kan udah nggak disana. Kamu bakal pulang sebentar lagi!' lanjut Arga.


Gia mengangguk setuju. Ia diam dalam pikirannya sendiri.


"Aku bukan nangis karena mengingat disana tadi Ga. Tapi aku sedih, karena lagi-lagi aku tidak tahu diri karena merepotkanmu!" Batin Gia.


Gia mengecek ponselnya yang ada didalam tas sudah dalam keadaan mati, habis baterai.


"Nih, pake aja!" Tawar Arga sambil menyodorkan ponselnya yang dia ambil dari dashboard.


"Makasih" ucap Gia sembari menerima ponsel Arga.


Gia mengetik beberapa nomor lalu menghubunginya.


Samar-samar Arga mendengar obrolan Gia dengan seorang lelaki. Arga menebak itu pasti Erick.


Gia memberitahukan kabarnya pada Erick. Benar saja Erick sudah cemas memikirkannya, dan entah darimana Erick tahu Gia disekap Mikha. Gia tak ingin bertanya lebih jauh. Ia hanya ingin Erick tahu bahwa dia sekarang baik-baik saja.


"......"


"Iya, aku sedang bersamanya. Ini aku pakai ponselnya. Maaf" ucap Gia tak enak hati.


"......"


"Emmm baiklah"


Tiba-tiba Gia memberikan ponsel itu pada Arga.


"Sudah?" Tanya Arga.


Gia mengangguk.


"Erick mau bicara padamu jika kita sudah sampai dirumah!" Ucap Gia pelan. Ia tak tahu apa kini yang akan Erick tanya dan katakan pada Arga.


Arga mengangguk dan melanjutkan perjalanan mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2