
*POV Author
Erick menekan sandi Apartment nya, ia menunggu bunyi "bip bip" dan pintu pun terbuka. Ia langsung menghamburkan diri masuk ke area dapur. Mengambil air dari kulkas, menuangnya ke gelas lalu menenggak habis isinya.
Erick mondar mandir kesana kemari. Berpikir tempat yang mungkin akan dituju Gia.
Seminggu telah berlalu semenjak Erick datang kerumah orangtua Gia dan mengetahui tentang Gia yang entah kemana, pergi meninggalkan Erick dan keluarganya. Seminggu ini jugalah Erick sudah kemana-mana mencari Gia.
Erick kini sudah dapat menyimpulkan tentang kepergian Gia yang mendadak dan tiba-tiba. Tentang keputusan Gia yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak tanpa ada alasan yang jelas.
Kini Erick sadar bahwa Gia memutuskannya karena Gia hamil, dan Gia tidak mau Erick bertanggung jawab atas hal itu. Tapi Erick tidak habis pikir kenapa Gia malah meninggalkannya.
"Sayang, kamu sebenarnya kemana? Kenapa kamu tidak terbuka tentang hal ini. Seharusnya aku orang pertama yang kamu beritahu tapi kenapa kamu memilih pergi?" Lirih Erick dalam pikirannya.
"Padahal aku pasti akan bertanggung jawab atas ulahku. Semua ini salahku. Kebodohanku!" Erick lagi-lagi menyesali perbuatannya, ia merutuki dirinya sendiri. Tapi ia berpikir pasti Gia punya alasan kenapa Gia menyimpan semuanya dari Erick dan memutuskan untuk pergi.
Erick makin terlihat gusar, dan sudah tahu kan kalau belakangan ini ia tidak mempedulikan lagi penampilannya.
Ia semakin kacau dengan rambutnya yang mulai panjang dan ia sudah lupa terakhir kalinya ia bercukur. Meski itu tidak mengurangi ketampanannya, tapi ia sudah merasa seperti orang yang stress akut. Ya dia merasa stress sekarang.
Erick benar-benar makin frustasi kala mengingat Gia yang pergi dalam kondisi hamil. Ia berulang kali menyugar rambutnya asal.
Erick masuk ke kamarnya setelah lelah mondar-mandir didapur dan tak mendapatkan jawaban dimana Gia berada.
Erick merebahkan tubuhnya dikasur king size miliknya. Ia menatap langit-langit kamar dan lagi-lagi berpikir tentang Gia.
Tapi kali ini pikirannya menjalar entah kemana. Bukan lagi tentang Gia yang berada dimana. Tapi tentang hari-hari yang ia lewati bersama Gia.
Erick mengingat bagaimana perkenalan pertamanya dengan Gia. Dia merindukan wanitanya.
*Flashback on
Erick berlarian menembus hujan dari gedung tempatnya magang menuju mobilnya di area parkir. Ia baru saja pulang magang.
Hujan turun sangat deras sore itu. Erick memasuki mobilnya, duduk dibalik kemudi dan saat ingin memasang seat belt nya, lagi dan lagi tanpa sengaja dia melihat wanita yang membuatnya berdegup ketika bertemu di ATM beberapa hari lalu.
Wanita itu adalah Gia. Gia terlihat bingung berdiri sendiri seperti menunggu seseorang didepan lobby kantornya.
Erick menajamkan pandangan matanya, ketika wanita itu keluar dari Lobby menuju depan gedung kantor sambil tangannya terulur kedepan menunggu air hujan menetes jatuh tepat ke telapak tangannya, merasakan dinginnya air hujan.
Tanpa disadari, senyum Erick terbit melihat pemandangan itu.
Erick melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi secara cepat. Dia menghidupka mobil, dan mobilpun melaju perlahan mendekati wanita itu.
Entah keberanian darimana Erick menekan klakson mobil dan membuka jendela mobilnya.
"Nggak pulang? Nunggu pacarnya jemput ya? Sapa Erick pada Gia memulai percakapan.
Dalam hati Erick menyebut pacar didepan Gia ada maksud tersendiri. Sudah tahu kan maksudnya apa? Pasti mau sekalian konfirmasi status Gia sudah ada yang punya apa belum. (Heee bisa aja si ini Erick ya)
"Ini mau pulang. Iya pacarku belom jemput nih! Mungkin karena hujan. Telat deh" jawab Gia sedikit berteriak karena hujan menghalangi suaranya.
Erick tersenyum kecut, hatinya senang mendengar Gia menjawab sapaannya kali ini. Tapi ia ikut kecewa mengetahui Gia sudah ada yang punya.
"Emmm kalau kamu nggak keberatan, nebeng aku aja biar nggak kehujanan! Udah sore ini bentar lagi seputaran sini bakal sepi" kata Erick lagi.
"Emang nggak papa? Enggak ngerepotin gitu?"
"Iya nggak apa lah. Daripada kamu disini. Bahaya tau!"
Erick melihat pancaran wajah Gia yang ragu-ragu.
"Kalau kamu ragu atau takut sama aku ya nggak apa-apa." ucap Erick seraya melepaskan Seat belt nya, membuka pintu mobil lalu keluar sambil menutup kepalanya dengan tangan menghindari hujan dan menghampiri Gia.
"Loh kenapa? Kok keluar?" Tanya Gia bingung melihat sikap Erick.
"Kamu kan nggak mau nebeng sama aku. Yaudah, aku temenin kamu disini sampai pacar kamu datang. Nggak mungkin aku biarin kamu sendirian disini." jawab Erick serius.
Gia tersenyum mendengar jawaban Erick. Kemudian tawanya menyusul.
"Hahaha, siapa yang bilang aku nggak mau nebeng?"
"Itu tadi kamu keliatan ragu-ragu. Kamu takut sama aku? Memangnya wajah aku keliatan nyeremin gitu bagi kamu?"
"Hahaha aku nggak takut sama cowok ganteng, yang aku takut sama cowok ganjen" ucap Gia sambil menutup mulutnya yang tertawa. Gia masih saja terkekeh geli melihat Erick.
Dan jawaban Gia membuat Erick mengullumm senyumnya. Erick tidak menyangka bahwa Gia akan menyebutnya ganteng secara tidak langsung. Eh tapi kok tadi dia juga bilang ganjen? Maksudnya saat ini Gia menganggap Erick ganjen gitu? Makanya Gia takut mau nebeng gitu?
"Memangnya menurut kamu aku ganjen ya?" Keluar juga dari mulut Erick pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Enggak kok"
"Terus? Kenapa takut?"
"Aku....emmmm" mendadak Gia terlihat Gugup dan menunduk.
"Kamu takut pacar kamu nanti datang, terus dia liat kita berdua, gitu? Nanti aku lah yang jelasin sama pac..--
Belum sempat erick menyelesaikan kalimatnya, Gia bersuara.
"Yaudah ayo. Nanti keburu malam. Hujannya juga makin deras ini"
__ADS_1
Erick terperangah menatap Gia. Gia tersenyum yang menurut Erick amat sangat manis. Lalu mereka berdua berlari kecil sebentar menghadang hujan menuju mobil Erick yang sudah ada didepan mata.
"Nanti kalau pacar kamu jemput kesini dan kamu nya nggak ada, gimana?" Tanya Erick pada Gia. Mereka sudah berada dalam mobil sekarang.
"Udah nggak apa-apa"
"Yakin?"
"Huum" kata gia mengangguk pelan.
Erick pun mulai melajukan mobilnya menembus hujan.
"Kalau kamu belum tau namaku, namaku Erick" kata Erick memperkenalkan diri sembari menjulurkan tangannya.
"Udah tau kok" ucap Gia mengabaikan uluran tangan Erick.
"Ha?"
"Apanya yang ha?"
"Kok bisa tau nama aku?"
"Tau dong. Dikantor aku kan banyak paparazzi yang selalu aktif kalau ada orang ganteng di sekitaran kantor"
Ucapan Gia buat Erick makin senyum-senyum tidak jelas. Awalnya Erick tersenyum karena akhirnya ia bisa mengantarkan Gia pulang hari ini.
Tapi senyum itu semakin melebar mendengar jawaban wanita yang sudah dua bulan ini sering merusak fokusnya.
Tidak salah ia memang menyukai Gia. Gia wanita yang polos dan apa adanya. Tidak ada istilah jaim dari caranya berbicara. Dia ramah dan juga nyambung diajak bicara.
Dan sepertinya dia pintar membawa diri. Itulah pendapat Erick mengenai Gia yang baru diajaknya berbicara beberapa menit ini.
"Aku juga tau nama kamu, Anggia Eldira" ucap Erick menyebutkan nama panjang Gia.
Gia tersenyum. Wajahnya menunjukkan rona merah di pipi seperti di edit pakai efek Glow yang ada di aplikasi smartphone.
"Dikantor kamu ada paparazzi nya juga ya?" Tanya Gia penasaran.
Erick terkekeh.
"Lucu banget kamu. Hahahaha"
"Apanya yang lucu? Kan aku serius nanya, dikantor kamu ada paparazzi juga yang khusus bicarain cewek-cewek gitu?"
"Ya enggak lah."
"Terus?"
"Tau darimana?"
"Dari nametag kamu, Anggia!"
Gia melihat-lihat dirinya sendiri. Mencari cari sesuatu. Entah apa.
"Aku nggak pakai nametag sekarang. Nametag aku aja di tas nih" kata Gia sembari menunjukkan nametag yang rupanya dicarinya tadi.
Erick tertawa kuat-kuat. "Astaga aku sampai lupa kapan terakhir aku tertawa begini. Bisa-bisanya baru beberapa menit bersamanya aku tertawa sangat lepas" batin Erick. Erick menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Kok malah ketawa? Apa jangan-jangan kamu liat nametag aku pas kita ketemu saat yang lalu-lalu ya?" Tebak Gia.
Erick mengangguk sambil tersenyum. Tak menyangka Gia akan mengingat pertemuan mereka yang telah berlalu dan terus terang mengatakannya saat ini tanpa segan.
Erick melirik Gia yang tersipu malu melihat anggukan Erick barusan.
"Oh iya, ini alamat kamu dimana? Aku sampai lupa bertanya"
"hehe iya juga ya. alamat aku di jalan Letda Sudjono. Nanti kalau udah mau masuk gang nya aku kasi tau" Gia cengengesan.
"Nanti kalau pacar kamu marah, aku mau jawab apa? Biar kompak gitu. Jadi jawabannya sama pas ditanya" kata Erick serius bertanya.
"Enggaklah. Dia nggak bakalan marah. Kan udah aku cancel"
"Maksudnya?"
"Iya, pacar aku kan kang ojek. Udah aku cancel tadi di aplikasi jadi dia nggak bakalan marah sama aku. Waktu aku cancel juga posisinya masih ditempat yang sama. Nggak jalan-jalan. Mungkin karena hujan deras kali ya"
Erick bengong mendengar jawaban Gia. Padahal ia sudah bersiap 'bersaing sehat' dengan lelaki yang dibilang Gia adalah pacarnya. Tapi Gia bilang apa tadi? Kang Ojek? Oh Tuhan.. Erick rasanya mau mencubit kedua pipi chubby Gia dengan gemas saat ini juga.
"Kenapa?" Tanya Gia menatap sikap Erick yang bengong. Nada pertanyaan Gia itu seperti tidak merasa bersalah sudah membodohi Erick.
"Nggak apa, cuma kamu pinter aja"
"Pinter apaan?'
"Pinter buat emosi aku naik turun"
"Kamu emosi sama aku?"
"Iya. aku emosi kalau kamu nolak jadi pacar aku. Hahahaa"
"Dihhh apasih?" Gia tersenyum sambil membuang pandangannya. mencoba menatap arah lain yang penting tidak menatap wajah Erick.
__ADS_1
Erick merasa ia benar-benar telah jatuh kini. Semakin dekat dengan Gia, semakin pula ia jatuh dan terperosok dalam perasaannya. Perasaan yang dianggapnya hanya penasaran, kini ia yakin kalau ia bukan hanya penasaran dengan Gia. Melainkan ia benar benar jatuh cinta pada wanita itu.
Seiring berjalannya waktu, mereka berdua semakin dekat dan malah hampir setiap hari meluangkan waktu untuk bertemu dan saling bertukar kabar melalui aplikasi chatting. Tidak satupun hari mereka lalui tanpa saling mengabari satu sama lain.
'hampa' begitulah Erick jika Gia lama membalas pesannya karena sibuk. Begitupun sebaliknya bagi Gia. Mereka seperti saling terikat satu sama lain meski tanpa status hubungan yang jelas alias hubungan tanpa status.
Lambat laun, Erick semakin yakin akan cintanya pada Gia. Namun, ia tidak yakin dengan dirinya sendiri. Bisakah ia membahagiakan Gia? karena ia masih seorang mahasiswa saat itu sementara Gia sudah berkerja.
Erick menunda untuk menyatakan perasaannya, dia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuknya meminta Gia menerimanya yang bahkan masih meminta uang jajan pada orang tua.
Untungnya Erick dianugerahi otak yang cerdas. Ia semakin semangat untuk cepat lulus dan bekerja agar bisa menjadikan Gia kekasihnya.
Gia adalah moodbooster Erick dikala ia penat dengan skripsi-skripsinya.
Gia pun tampak begitu andil dalam perannya sebagai moodbooster Erick.
Akhirnya, Erick lulus dengan mulus dan predikat Cumlaude sudah ditaklukannya. Serta menyandang gelar dibelakang namanya.
Tidak hanya itu. Tak lama setelah kelulusan, Erick membuktikan dia mampu bekerja sendiri meski bisa dikatakan belum diatas kakak-kakaknya tapi Ia bangga kepada dirinya sendiri atas pencapaiannya itu.
Pekerjaan pertama Erick adalah penerjemah atau translator di salah satu perusahaan Asing. Pekerjaan yang tidak terlalu buruk, tapi tetap selalu diremehkan kedua kakaknya.
Erick terus bekerja sembari mengumpulkan pundi-pundi Rupiah ditabungannya. Hingga akhirnya ia bisa mempunyai Cafe sendiri atas tabungannya sedari remaja ditambah gajinya yang lumayan ditempatnya bekerja sekarang.
Kini, Erick punya dua penghasilan sekaligus dua profesi.
Dikantornya ia adalah bawahan. Tapi di cafe ia adalah bos nya.
Meski usaha cafenya baru mulai merintis. Tapi dia optimis dengan kemampuannya dan hasilnya nanti.
Setelah dirasa cukup dengan kemapanan dan usahanya untuk masa depan, pendekatannya yang selama ini lancar dengan Gia pun sudah di level matang.
Kurang lebih satu tahun mereka bersama, tanpa pernah dekat dengan orang lain. Dan Gia pun menunjukkan sikap bahwa selama ini ia benar-benar menunggu dan mensupport Erick sampai mapan.
Akhirnya Erick menyatakan perasaannya yang tidak pernah berubah sedari awal itu kepada Gia.
"Gia, maaf untuk penantianmu yang cukup lama. Maaf baru mengatakan sekarang, meskipun sudah lama aku ingin mengungkapkannya" Ucap Erick merangkai kata.
"Maaf karena membuatmu menunggu begitu lama, padahal perasaanku sudah ada sebelum kita resmi berkenalan waktu itu"
"Gia, kamu mau kan menerima aku menjadi pasanganmu? Satu satunya dalam hidupmu?" Tanya Erick serius dengan tatapannya menatap dalam di manik mata Gia.
Gia diam sembari tersenyum.
"Memangnya kamu masih mau sama aku? Aku udah di kerubungi laler nih nungguin kamu!"
Bukan Gia namanya kalau tidak menjawab Erick dengan kepolosan sambil memasang tampang tidak berdosa. Padahal Erick sudah merangkai kata-kata yang serius. Erick menepuk jidatnya mendengar jawaban Gia.
"Yaudah, jadi intinya mau apa enggak nih jadi pacar aku?' kata Erick to the point pada akhirnya.
"Ya maulah. Kan udah aku bilang aku udah dikerubungi laler. Masa' udah segitunya aku nunggu kamu terus aku tolak. Rugi dong aku" jawab Gia sambil memanyunkan bibirnya. Kebiasaan Gia.
Dan jawaban Gia itu sontak membuat Erick kegirangan setengah mati. Meskipun jawaban Gia juga membuat Erick berdecak karena hilanglah sudah moment romantis yang sengaja diciptakan Erick untuk Gia.
Sejak saat itu mereka pun resmi berpacaran.
*Flashback Off
Erick tertegun dengan pemikirannya sendiri. Ia merasa sangat sangat merindukan Gia-nya.
Erick tidak sengaja menatap gambar dikamarnya. Gambar kota metropolitan yang ditangkap dengan kamera canggih dari atas gedung tinggi memperlihatkan Gedung-gedung tinggi lainnya dihiasi banyak lampu dan kendaraan berlalu lalang.
Gambar itu dulunya adalah hasil photografi dari kawan Erick. Reza.
Erick pernah mengatakan pada Reza akan pergi ke kota itu dan meningggalkan rumah orangtuanya yang penuh belenggu. Itu adalah kota impian Erick untuk meraih cita-citanya.
Oleh karena itu, Reza memberikan hasil fotonya pada Erick sebagai hadiah wisuda. Yang disudut gambarnya terukir tulisan nama Erick beserta gelar yang baru disandangnya.
Gambar itu sudah diberi Figura oleh Reza supaya Erick memajangnya dikamar. Tujuannya untuk menyemangati Erick menggapai impiannya dan akan bersemangat jika melihat foto itu.
Tunggu! Erick memikirkan sesuatu. Impian. Ya Gia juga punya kota impian seperti Erick. Erick ingat Gia pernah mengatakannya.
-
-
Bersambung...
.
.
Hi!!!! Maaf ya Aku agak sibuk beberapa hari inii. Tapi aku usahain update terus setiap hari. Karena inspirasi ku menulis suka datang sewaktu-waktu.
Aku nggak mau maksain nulis kalau masih belum dapat feel buat nulis. Takutnya malah jd kepaksa kesannya. Dan akhirnya jadi nggak bagus.
Btw, makasih ya buat yang udah support dengan vote, like dan coment. Semoga aja aku bisa terus semangat tulis novel ini sampai ending...
next part, kemungkinan aku bakal uji cinta Erick dan Gia ya...!!!! pantengin terus deh ya!!
Jangan lupa ya yang punya poin lebih kasi vote ke aku dong😬
__ADS_1
Bintangnya juga segera diserahin ya... Makasih readersss!!!