Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Pertemuan berujung bencana -


__ADS_3

Sudah dua minggu ini Erick kesana kemari mencari Gia dikota yang sebenarnya juga asing untuk Erick. Erick hanya mengandalkan Gps di ponselnya untuk mengetahui arah jalan.


Erick sudah mencari ke berbagai tempat. Mulai dari tempat yang biasa didatangi para turis jika berlibur dikota ini. Hingga ke tempat-tempat yang mungkin akan Gia kunjungi seperti Mall atau Rumah sakit. Semuanya tidak luput dari pencarian Erick.


Erick saat ini bersandar di kursi mobil sewaannya, dibelakang kemudi. Ia berpikir tentang masa cuti kerja nya yang akan segera berakhir sementara ia belum menemukan titik terang soal keberadaan Gia.


Tiba-tiba ponsel Erick berdering. Menunjukkan nomor asing sedang memanggil ke nomornya.


Erick tidak ingin mengangkatnya. Menganggap itu bukan sesuatu yang penting. Erick mengabaikannya.


Ponselnya kembali berdering untuk kedua kali. Erick mengabaikannya kembali karena ia mau berpikir lebih keras untuk mencari tahu dimana Gia berada.


Tapi mendadak otaknya berpikir, mungkin saja nomor yang menelponnya dua kali barusan adalah Gia atau ada hubungannya dengan Gia. Ia memutuskan melakukan pangggilan kembali kepada nomor itu.


...Tutt......


...Tuutt.......


Panggilan diterima dengan suara seorang wanita dipendengaran Erick.


"Hallo" jawab wanita diseberang panggilan.


"Gia?" Tanya Erick bertanya apakah itu Gia? Karena di otaknya saat ini hanya ada Gia saja.


"Gia? Siapa Gia? Aku bukan Gia!" Jawab wanita itu bingung.


"Jadi kau siapa?" Kata Erick dengan Nada Tegas.


"Aku Mikha, aku menemukan nomormu diponsel kak Ivan. Kamu masih mengingatku kan? Jawab wanita yang ternyata adalah Mikhayla. Orang yang pernah ditolong Erick tempo hari.


"Ada apa kau menelponku?" Kata Erick acuh.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu dengan cara yang pantas" ujar Mikha seperti ada keraguan di kalimatnya karena ia mendengar nada acuh dari suara Erick.


"Kau sudah mengucapkannya ketika dirumah sakit. Ku rasa itu tak perlu lagi"


"Ta, tapi aku ingin melakukannya. Karena kau benar-benar sudah menyelamatkan nyawaku. Tolonglah!" ujar Mikha seraya memaksa.


"Aku sibuk. Aku punya hal yang lebih penting. Sudah ya"


"Tunggu! Ku mohon jangan tutup panggilannya dulu. Aku masih ingin bertanya"


"Apa lagi? Aku benar-benar tidak punya waktu"


"Apa hal yang lebih penting itu adalah Gia? Maksudku--


"Kau mengenal Gia? Dimana dia?" Kata Erick sumringah langsung memotong ucapan Mikha.


Mikha mendengar nada antusias dari suara Erick setelah ia menyebut nama Gia. Mikha ingin mengambil kesempatan ini untuk bertemu Erick.


"Kau mencarinya? Aku akan membantumu menemukannya!"


"Benarkah?" Kata Erick seperti terhipnotis oleh kata-kata Mikha tanpa mempedulikan lagi logikanya. Ia hanya ingin bertemu Gia saat ini. Sangat ingin.


"Iya, aku akan membantumu. Bisa kita bertemu nanti malam? Kebetulan aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit kemarin sore" ucap Mikha dengan senangnya.


"Baiklah, aku akan menemuimu. Kirimkan saja alamatnya melalui pesan" ucap Erick.


Dari nada suara Erick, Mikha bisa mendengar ada kebahagiaan disana. Panggilan pun berakhir.


Mikha segera mengirimkan alamat ke nomor Erick agar mereka berdua bertemu malam nanti.


Erick membaca pesan Mikha. Dan dia sangat berharap pada Mikha. Ia sangat tak sabar untuk menemukan Gia.


Logika Erick menyangkal bahwa Mikha akan membantu Erick menemukan Gia. Tapi lagi-lagi logika itu dikalahkan dengan rasa penuh harap dihati Erick.


"Semoga memang melalui dia, aku akan bisa bertemu Gia" batin Erick.


Sedangkan dilain tempat, Mikha pun tersenyum bahagia akan bertemu dengan Erick nanti malam. Hanya dengan menyebut nama Gia bisa membuat Erick yang awalnya cuek berubah menjadi terdengar antusias sekali.


Mikha tidak mengenal Gia sama sekali. Ia hanya menangkap nama Gia ketika diawal Erick menelepon nya, Erick langsung menyebut nama Gia. Mikha hanya menerka-nerka. Karena Erick juga bertanya dimana Gia waktu Mikha menyebut nama itu lagi. Jadi, Mikha dapat menyimpulkan bahwa Erick sedang mencari seseorang bernama Gia. Tapi ia tidak menyangka Erick sampai seantusias itu.


"Gia? Siapa dia? Kenapa Erick mendadak berubah jadi semangat ketika aku menyebut namanya? Batin Mikha bertanya-tanya.


Mikha memanfaatkan nama Gia untuk kepentingannya sendiri agar bisa bertemu dengan Erick.


"Aku akan membuatmu lupa pada Gia" ucapnya tersenyum sinis dan yakin pada ucapannya sendiri.


💠💠💠💠💠


Gia berjalan sambil menenteng dua buah bungkusan cukup besar dikanan-kiri tangannya. Ia menuju rumah bu Nila mengantarkan baju seragaman pesanan bu Nila.


"Permisi bu" ucap Gia sambil mengetuk pintu.


Pintu terbuka dan keluarlah si empunya rumah. Bu Nila.


"Eh Gia, masuk dulu yuk!"


Gia mengangguk setuju. Lalu masuk kedalam rumah sembari duduk di sofa ruang tamu.


"Eh bajunya udah siap ya?"


"Udah bu, ini!" Jawab Gia sembari memberikan bungkusan-bungkusan itu kepada bu Nila.


Merekapun membicarakan tentang detail seragaman yang sudah selesai itu.


"Kalau ada yang kurang, kesempitan atau nggak nyaman, ibu langsung hubungi Gia aja. Ini nomor ponsel Gia" ucap Gia sembari menyobek kertas dan menuliskan nomor ponselnya.


"Siap bos" kata bu Nila sambil mengacungkan jempolnya.


Mereka pun lanjut membahas tentang sisa pembayaran. Bu Nila langsung membayar langsung hari itu juga.


"Terima kasih banyak ya, Gi. Semoga usaha kamu lancar dan makin banyak pelanggan ya" ucap bu Nila tulus.


"Amin.... Terimakasih ya bu. Jangan lupa kalau ada job lagi, hubungi Gia ya bu. Hehehe"


"Beres itu mah, yang penting kamu tetap jaga kualitas ya"


"Ya pasti bu, Gia usahakan yang terbaik supaya nggak mengecewakan para pelanggan Gia. Hehe"


Setelah membahas segala macamnya. Bu Nila juga memberikan undangan pernikahan anaknya kepada Gia. Yang akan dilaksanakan tak lama lagi di salah satu hotel mewah yang cukup terkenal di kota ini.


Kata bu Nila anaknya mendapatkan suami dari kalangan orang ber-ada. Ya meski menurut Gia bu Nila pun termasuk salah satu orang kaya disini. Bu Nila orangnya cukup Ramah dan bersahabat.

__ADS_1


Bu Nila juga tidak sombong seperti yang Gia pikirkan sebelum mengenalnya. Dan yang pasti tidak kepo dengan orang lain alias julid.


"Oh iya Gi, nanti malam ibu ada syukuran. Kamu datang ya Gi."


Benarkan dugaan Gia, bu Nila memang ramah dan bersahabat.


"Syukuran apa bu?"


"Syukuran kecil-kecilan aja sih Gi, makan-makan. Sekalian Mona anak ibu mau buat acara pelepasan masa gadis gitu. Apa itu namanya ya? Yang menjelang pernikahan gitu. Aduh ibu lupa istilahnya, Gi. Hehehe" Ucap bu Nila mengetuk-ngetuk jidatnya dengan telunjuk.


"Oh itu. Itu namanya bridal shower, bu" ucap Gia mengingatkan bu Nila dari rasa lupanya.


"Ha..iya itu. Kamu datang ya, Gi. Ajak teman atau pasangan kamu. Eh, ibu lupa suamimu di luar Negeri ya. Hahaha" bu Nila menutup mulutnya yang tertawa lepas dengan telapak tangan.


Gia pun ikut tertawa. Tertawa karena merasa kebohongannya yang ternyata banyak memakan korban. Termasuk bu Nila ini salah satu korban yang percaya bahwa suami Gia bekerja di Luar Negeri.


Setelah berbincang cukup lama. Dan tak lupa juga bu Nila memberi alamat cafe untuk acara bridal shower anaknya. Gia pamit untuk pulang.


Hari menjelang sore, Gia memilih-milih baju di lemarinya. Tapi ia merasa tidak ada yang cocok untuk dipakainya ke acara Mona anaknya bu Nila.


"Sepertinya aku sudah lama tidak punya dan membeli baju baru, lagian aku tidak pernah kepikiran akan ke acara seperti ini di misi pelarianku ini. Baju yang ku bawa kebanyakan baju rumahan, kaos dan celana jeans. Aku tidak punya gaun atau semacamnya dilemariku" Gia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Perut Gia yang masih rata membuatnya nyaman saja memakai kaos dan celana jeans.


Kalau dirumah paling mentok Gia pakai daster sebagai baju dinasnya.


Mata Gia menatap patung manekin disudut ruangan. Patung itu dipakaikannya Gaun yang lumayan bagus hasil jahitan dan rancangan Gia sendiri. Cocok lah untuk Gia pakai ke acara semi formal.


Gia tersenyum. Ia menjahit Gaun di patung itu dulunya menggunakan ukuran badannya sendiri. Karena Gaun itu tidak untuk dijualnya. Melainkan untuk koleksi barang-barang promosinya.


Gia melepas Gaun itu dari patung manekin. Gaun itu belum lama dipajangnya.


"Hahaha aku pakai ini saja. Hitung-hitung promosi juga kan" ucap Gia kegirangan dengan ide nya.


****


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Menampilkan panorama indah didepan mata. Jingga bercampur biru. Serta awan-awan putih kecil ikut serta berkelompok diatas langit yang tak lama lagi berubah gelap.


Gia sudah siap dengan penampilannya yang anggun. Rambutnya tergerai rapi. Ia memoles wajahnya dengan make-up tipis dan lipstick warna nude dibibirnya untuk kesan flawless.


Ia memakai gaun rancangannya sendiri. Gaun itu berwarna hitam selutut. Lengan gaunnya ber-aksen transparan dari bahu sampai menyentuh siku, Dengan leher V-neck. Tidak terlalu terbuka sesuai selera Gia.


Gia memakai Clutch bag Maroon dan heels hitam sebagai pelengkap penampilannya.


Kali ini Gia tidak memakai jasa kang ojek seperti biasanya. Gia memutuskan memesan taxi online melalui aplikasi.


Tak berapa lama Taxi itu terlihat berhenti didepan Gia yang sudah menunggu didepan rumah.


Setelah bertegur sapa dengan supir, Gia memasuki taxi dan ikut menikmati perjalanannya menuju cafe tempat acara Mona berlangsung.


****


Erick sangat antusias memasuki Cafe untuk bertemu dengan Mikha. Ia berharap besar bahwa Mikha akan membantunya menemukan Gia.


Mikha mengirimkan alamat cafe ini kepada Erick. Dan Erick percaya saja dengan Mikha, entah kenapa hatinya tidak menolak untuk menuju cafe ini.


Erick duduk di sudut ruangan sembari memesan minuman untuk dirinya. Ia menunggu Mikha datang.


Tak lama, wanita itu sudah datang, Mikhayla memakai dress selutut berwarna kuning cerah. Semakin membuat kulitnya yang putih menjadi terkesan bersih.


Tapi bagaimana dengan reaksi pria yang kini duduk disudut ruangan? Erick.


sepertinya penampilan Mikha tidak menarik perhatian Erick sama sekali. Erick diam saja dalam pandangan Mikha.


Mikhayla sudah melihat Erick yang duduk disudut sedang meminum orange jus nya dengan sedotan di bibirnya. Membuat Mikha semakin terpesona pada lelaki itu.


Erick menggunakan setelan casual. memakai kemeja Navi dengan dua kancing atasnya yang terbuka serta lengan bajunya digulung sampai sikunya.


Erick pun sudah melihat Mikhayla yang datang dengan senyuman merekah dibibirnya menghampirinya.


"Maaf sudah menunggu lama"


"It's ok. Tidak masalah." Jawab Erick datar melihat Mikhayla.


Menurut Erick Mikhayla memang cantik, mungkin lebih cantik dari wanita-wanita yang pernah Erick kenal.


Tapi bagi Erick Gia-nya tetaplah yang tercantik diantara wanita manapun. Hati Erick sudah tertutup dengan Gia sepenuhnya.


Mikhayla berparas blasteran. ia terlihat kaya. Tidak bisa ditutupi dari penampilan dan barang yang ia digunakan.


"Kamu sudah pesan makanan?" Tanya Mikha pada Erick.


"Belum" jawab Erick cuek. ia sangat ingin bertanya to the point tentang Gia kepada wanita didepannya ini. Tapi ia urungkan, mengingat ia harus menghargai wanita.


"Aku pesankan ya?" Tawar Mikha kepada Erick.


"Emm. Tidak usah aku tidak berselera makan"


"Makanlah dulu. Nanti baru kita bahas masalah Gia" ucap Mikha membawa nama Gia untuk memancing semangat Erick.


"Baiklah, kamu saja yang pesankan. Apa saja terserah" jawab Erick yang kini jadi bersemangat setelah mendengar nama Gia.


Mikha tersenyum melihat reaksi Erick. Ia senang sekali bertemu Erick malam ini. Dan ia ingin menuntaskan tujuannya. Ia ingin memiliki Erick untuk dirinya sendiri. untuk saat ini Ia harus memakai nama Gia untuk menarik perhatian Erick.


****


Gia sampai di cafe dan memutuskan masuk menemui bu Nila didalam cafe. Suasana sangat ramai.


Tiba-tiba Gia merindukan hidupnya yang dulu. Keluar masuk Cafe bersama teman-temannya. Nongkrong dengan riuh dan ramai disertai canda gurau.


Gia menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan ingatannya sendiri tentang masa-masa itu. Ia menemukan bu Nila disisi Cafe.


"Bu Nila, selamat ya sebentar lagi ibu akan punya menantu" kata Gia berbasa-basi. Lalu melihat sisi lainnya dimana ada Mona.


"Selamat ya Mona, kamu sebentar lagi akan menikah" kata Gia kepada Mona.


Mereka berpelukan dan melakukan cipika-cipiki khas orang zaman sekarang.


Gia memutuskan duduk disatu sisi meja. Dia datang sendiri ke cafe dan akhirnya harus duduk sendiri juga. Untungnya, bu Nila menemaninya mengobrol.


Gia memakan cemilan sambil matanya melihat-lihat desain cafe yang dibuat bak di istana castil. Sangat indah dan kekinian. Cocok untuk ber-swafoto.


Tapi matanya menangkap sosok yang tidak asing dimatanya. Ia menajamkan matanya ke sudut ruangan dimana ada Erick dengan wanita lain. Wanita cantik yang sepertinya anak orang kaya. Serasi dengan penampilan Erick malam itu. Mereka berdua sedang makan malam.

__ADS_1


Tentu saja pemandangan itu membuat Gia syok dan langsung berdiri, sampai kursi yang didudukinya terjatuh. Memancing orang-orang di cafe itu melihat ke arahnya.


Erick dan Mikha yang berada disudut ruangan pun ikut melihat ke arahnya. Tanpa Gia sadari, air matanya tidak bisa terbendung lagi.


"Bu, Gia pamit" ucap Gia pada Bu Nila yang masih duduk tak jauh dari tempatnya duduk tadi. Bu Nila terheran-heran melihat Gia.


Gia berlari, dan tentu saja orang yang sudah hampir dua bulan mencarinya itu ikut berlari mengejarnya. Itu adalah Erick.


Erick meninggalkan Mikha begitu saja dimeja makan cafe. Sebelum beranjak, Erick meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas meja. Lalu, ia pun berlari mengejar Gia.


Erick tidak peduli dengan suara teriakan Mikhayla memanggil-manggil namanya.


"Gia! Tunggu Gi! Ucap Erick yang sudah berjalan cepat dibelakang Gia.


"Gia, ini tidak seperti yang kamu lihat!


Gia berjalan setengah berlari menuju pintu keluar Cafe.


Sesampainya diluar Cafe, Erick masih saja mengejarnya.


Gia mau marah dan mengomeli Erick seperti yang biasa ia lakukan pada Erick jika Erick membuat kesalahan. Tapi, ia tidak bisa. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada Erick saat ini.


"Aku mencarimu Gia! Aku mencarimu kemana-mana sudah hampir dua bulan ini" kata Erick tersengal-sengal disela-sela jalannya.


Gia mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Erick dibelakangnya. Erick pun berhenti tepat didepan Gia.


"Bisa-bisanya kau bilang mencariku sedangkan kau sedang makan malam istimewa dengan wanitamu?" Cecar Gia kepada Erick.


Erick terperangah mendengar kata-kata sinis di nada bicara Gia. Bahasa Gia juga berbeda daripada biasanya dia berbicara kepada Erick.


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia bukan siapa siapa. Dia berjanji akan membantuku mencarimu disini!" Erick berkata terus terang.


"Hahaha, kau pikir aku percaya?" Kata Gia tertawa sinis padahal air matanya masih mengalir sedari tadi.


"Gia, percayalah"


"Sudahlah, kita juga sudah tidak punya hubungan lagi sejak dua bulan lalu. Jadi terserahmu mau menjalin hubungan dengan siapapun" ucap Gia sembari memutuskan melangkah pergi.


"Sayang..." Teriak Erick pelan yang berhasil menghentikan lagi langkah Gia.


Gia hanya melirik Erick sekilas tak tahu mau mengucap kata apa pada Erick. Ia lalu berlari cukup kencang menuju keluar lahan parkir untuk mencapai jalan raya dan menyetop Taxi. Beberapa kali ia menabrak oranglain dan sisi-sisi mobil karena ia sudah tidak fokus lagi.


Tapi belum sampai ke jalan raya, tangan Gia tiba-tiba ditarik seseorang dan menyembunyikan Gia diantara sebuah mobil dan kungkungannya.


Erick mengejar Gia, tapi entah kenapa Gia tiba-tiba tidak nampak lagi di pandangannya.


Gia menyadari seseorang yang menarik tangannya dan berada didepannya ini adalah Arga. "Kamu?" Kata Gia terperangah.


Arga hanya meletakkan jari telunjuknya dibibirnya sendiri sebagai kode untuk Gia agar diam tak bersuara. Karena Arga tahu Erick masih mengejar-ngejar Gia.


Erick melihat sekelilingnya mencari-cari keberadaan Gia seperti orang bodoh. Dan sebuah suara mengagetkannya.


"Itu tadi Gia kan?" Ujar Mikhayla sok tahu.


"Sudah, kita pulang saja. Besok kita cari lagi dia dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya padanya." Tambah Mikha lagi menenangkan Erick.


Erick pasrah dan memutuskan untuk pulang. Mikhayla ingin ikut pulang bersamanya. Tapi Erick menolak keras. Mikhayla pun mengalah untuk pulang sendiri juga pada akhirnya.


****


Setelah ia merasa kondisi cukup aman. Arga melepaskan kungkungannya pada tubuh Gia.


Arga berdehem cukup kuat untuk menetralkan aliran darahnya yang entah kenapa berdesir saat melihat Gia dibawah kungkungannya tadi.


Arga kemudian menarik tangan Gia menuju mobilnya.


"Kamu tidak apa-apa?" Lagi lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Arga seperti saat Arga melihat kejadian Lyra menampar Gia tempo hari.


Gia menggelengkan kepalanya. Pandangannya kosong menatap lurus kedepan.


Tapi tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali.


"Astaga perutku!!"


"Kamu kenapa? Perutmu kenapa?" Tanya Arga panik.


Gia menunduk, tak lama ia histeris menemukan darah dibetisnya sudah mengalir. Ia baru sadar tadi ia berlari terlalu kencang menghindari Erick. Sampai ia lupa ia sedang mengandung. Ia bahkan beberapa kali terbentur ke mobil-mobil yang dilewatinya di area parkir tadi.


"Ya Tuhan, anakku!!!" Pekik Gia sembari memegang perutnya.


Kata-kata Gia memancing syok pada Arga.


"Anak? Kamu hamil?" Tanya Arga serius menatap mata Gia.


"Tolong aku, tolong anakku! Ku mohon!" Mohon Gia pada Arga.


Arga terkejut tetapi ia memutuskan menghidupkan mobilnya dan dengan tergesa ia melajukan mobil itu menuju rumah sakit.


****


"Maaf pak, janin yang dikandung oleh istri bapak tidak bisa diselamatkan!" Ujar seorang dokter wanita kepada Arga. Yang menyangka Arga adalah suami dari pasiennya. Gia.


"Terima kasih dokter" ujar Arga kemudian langsung masuk kedalam ruangan Gia.


Arga menatap Gia yang sudah menangis sesenggukan dalam posisi terbaring.


Gia menyesali atas pertemuannya dengan Erick yang membawa bencana. Mendadak, ia sangat membenci Erick. Tapi disisi hatinya yang lain, ia sangat mencintai lelaki itu. Gia semakin menangis terisak-isak.


Arga mendekati Gia. Duduk disamping ranjangnya.


"Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu" ujar Arga tulus.


Gia menatap Arga. Gia refleks memeluk Arga yang ada disampingnya. Gia menangis sejadi-jadinya didada Arga.


Arga terkejut dengan respon dari Gia ini. Tapi ia berusaha menenangkan Gia kembali dengan mengusap-usap lembut kepala Gia. Arga kembali merasa darahnya berdesir kuat seperti dipompa. Entah kenapa Dalam kondisi seperti ini Arga ingin sekali menghentikan waktu untuk benerapa menit kedepan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2