Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- The Wedding -


__ADS_3

Aku menatap pantulan cermin didepanku yang menampilkan bayangan nyata wajahku. Wajah yang sudah dipoles make-up Flawless yang tak terlalu berlebihan.



Hari ini adalah hari dimana aku harus melepas masa lajangku dan membuka lembaran baru bersama pendamping hidupku.


Semuanya nyaris sempurna. Kini, balutan kebaya pun sudah ku kenakan dan tampak pas ditubuhku yang ramping.



Aku melihat ibuku yang tak henti-hentinya memujiku. Begitupun Nissa, adikku. Mereka kompak mengenakan pakaian yang senada di acara pernikahanku ini.


Andai saja aku masih punya banyak waktu, ataupun Erick tidak memutuskan menikahiku dengan secepat ini, mungkin aku akan merancang busana khusus untuk dikenakan oleh keluargaku dihari pernikahanku ini.


Aku juga ingin mempunyai gaun pengantin rancanganku sendiri. Tapi itu hanyalah angan-angan yang mungkin akan ku wujudkan suatu hari nanti pada orang lain. Karena aku paham betul mengapa Erick memutuskan untuk meminangku secepatnya.


"Huffffff." Aku menarik nafas dalam dan menghebuskannya perlahan. Mencoba menghilangkan rasa gugup dihatiku.


Tiba-tiba aku mengingat Erick, entah bagaimana pula perasaan gugup calon suamiku itu sekarang. Mungkin gugupnya sama denganku atau bahkan lebih gugup daripada aku.


Entah bagaimana pula keadaan diluar sana. Aku, Ibu dan Nissa sedari semalam memang sudah disiapkan kamar untuk menginap dihotel tempat berlangsungnya acara spesial-ku ini.


Dan hari ini, aku dirias oleh MUA yang juga sudah tersedia. Aku belum keluar kamar walau sekarang aku sudah siap dengan penampilanku sebagai calon mempelai pengantin.


..."Tok Tok Tok ! "...


Suara pintu kamarku diketuk dari luar, Nissa cepat-cepat membukanya. Menampilkam sosok yang ku ketahui adalah Indira, kakak ipar Erick.


"Sudah siap?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum.


Aku hanya tahu dengannya, tapi aku tak pernah mengenalinya secara dekat. Kami beberapa kali bertemu dengan keadaan kurang mengenakkan dikarenakan dua kakak Erick.


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Indira. Indira masuk ke dalam kamar dan mengambil tanganku.


"Jangan gugup, aku dulu juga begitu. Semua pasti berjalan lancar." Ucapnya tulus menepuk-nepuk punggung tanganku.


Aku tersenyum. "Terimakasih, Kak." Kataku pada Indira yang ternyata menyapaku dengan ramah.


Semua tidak ku sangka. Aku mengira kakak ipar Erick ini akan memperlakukanku sama dengan Kak Rina atau suaminya lakukan padaku. Tapi ternyata aku salah. Ia menggandeng tanganku, mengapitku diantaranya dan Ibu ku. Nisa berjalan dibelakangku. mengiringiku yang mulai berjalan menuju tempat ikrar pernikahan.

__ADS_1


Aku memasuki satu bagian ruangan yang dibuat sedemikian rupa untuk mengucap janji pernikahanku dan Erick.


Semua nampak terkesima dengan kehadiranku. Acara ini hanya dihadiri orang-orang terdekat, sisanya akan datang di acara Resepsi yang langsung diadakan malam nanti. Suasana nampak khidmat dengan sesekali orang-orang yang tak kukenali siapa, sedang berbisik-bisik.


Aku melihat didepan sana sudah ada Ayahku dan Papa Johan. Mereka tersenyum padaku. Ku lirik disekitar, ada Mama Anna yang kini senyumnya terlihat tulus. Entahlah.


Ku edarkan pandangan, nampak Kak Rina yang sebentar lagi akan resmi jadi kakak Iparku. Wajahnya tidak bisa menutupi rasa ke-tidak-suka-annya terhadap acara ini. Sedangkan suami yang disampingnya berlagak cuek.


Indira yang tadinya disampingku, mulai melepaskan gandengannya dilenganku.


"Aku ikut bahagia akhirnya kalian menikah" bisik Indira disela-sela kepergiannya. Ia menuju Frans yang berdiri tak jauh dari posisi Mama Anna.


Ku lihat lagi didepan sana, Seseorang yang membelakangiku. Dia tak menoleh untuk melihatku, walau dia tahu kini aku berada tak jauh dibelakangnya. Mungkin dia sedang sangat gugup dan larut dalam pikirannya sendiri. Dia adalah Erick. Orang yang akan mengucapkan janji pernikahan didepan semua orang yang ada disini. Menyebut namaku dalam janji itu.


Dengan perlahan-lahan, Aku didudukkan Ibu di kursi yang tepat berada disamping Erick. Aku melirik Erick dan mendengar Erick menarik nafas panjang sembari menghembuskannya. aku menahan gelak yang hampir ku keluarkan karena aku tahu ia sekarang sedang tak baik-baik saja alias gugup setengah mati.


*******


Aku dan Erick duduk di kursi pelaminan yang sama malam ini. Ini adalah acara resepsi pernikahan kami. Kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri hari ini. Tak banyak kata dari mulutku ketika duduk bersanding dengan Erick.


Aku hanya memasang wajah tersenyum yang memang itulah pancaran kebahagiaan yang bisa ku tunjukkan. Sedangkan suasana hatiku? tentunya sangat berbunga-bunga mengalahkan hamparan bunga yang tersusun menghias ruangan dan pelaminan kami.




"Kamu cantik sayang, beruntung ya aku!" bisik Erick tiba-tiba ditelingaku. Lalu ia menyunggingkan senyum khas-nya. Kurasa kini pipiku sudah semerah tomat mendengar gombalan receh nya. Sempat-sempatnya ia menggombali ku padahal aku masih gugup berada di acara ini. Walau tidak segugup diacara ikrar pernikahan, tapi rasa itu tetap ada karena tetap saja perasaanku campur aduk ketika melihat keluarga Erick.


Acara sudah dimulai, Ballroom yang sudah didekorasi dengan sangat cantik itu pun satu persatu diisi oleh tamu-tamu yang hadir.



Aku dan Erick mulai menyalami banyak kerabat, rekan dan teman-teman sejawad yang turut hadir diacara resepsi ini.


Tampak tamu yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang. Dialah Lyra. tamu VIP ku. hehehe.


Ku lihat Lyra datang bersama seorang pria.Tapi aku tak tahu siapa pria itu. Nanti saja akan ku tanyakan pada Lyra. Siapakah Pria ini sebenarnya, kenapa ia terlihat cocok bersama Lyra. Pikiranku mulai mengada-ada karena berfikir Lyra akan segera menyusulku menikah dengan Pria yang dicintainya dan tentu sama harus mencintainya juga. Jangan seperti Nico lagi!


"Selamat ya, Gi!" Ucap Lyra menyalamiku setelah lebih dulu menyalami Erick yang ada disisi kananku. kami pun bercipika-cipiki.

__ADS_1


Aku melihat pria yang menyusul menyalami Erick. Erick sepertinya mengenal Pria ini. Tapi sebelum ia lanjut menjabat tanganku, aku menatap Lyra meminta penjelasan.


"Gi, ini Ivan!" Ucap Lyra pelan dan terkesan malu-malu.


Ivan menyodorkan tangannya, kami pun bersalaman sekaligus berkenalan. Ivan mengucapkan selamat kepada aku dan Erick.


Pantas saja Erick mengenali Ivan yang adalah Kakak Mikha. Meski ku lihat Erick juga tampak bingung karena Ivan datang bersama Lyra. Entah apa yang ada dipikiran Erick ketika melihat mereka berdua.


Lyra ingin turun dari pelaminan, tapi tanganku menjegat tangannya. Membuatnya menghentikan langkah.


"Kamu jelasin sama aku nanti!" Ucapku menuntut tapi terkekeh pada Lyra. Lyra mengangguk setuju. Senyumnya tak kunjung pudar meski telah berhasil turun dan menyusul Ivan yang lebih dulu turun dan sudah menunggunya dibawah pelaminan.


Tamu-tamu selanjutnya adalah rekan-rekan kerjaku dulu, setelahnya rekan kerja Erick serta kolega-koleganya yang menjubel. Kalau boleh jujur, rasanya aku sangat lelah menyalami para tamu undangan yang tak kunjung habis.


Mikha menaiki pelaminan dan menyalamiku. Wajahnya memasang raut cemberut. Aku terkejut mendapati sosok yang tempo hari sudah meminta maaf padaku dengan tulus tapi sekarang malah datang dengan wajah awut-awutan.


Erick seketika memasang wajah malas. Aku tahu ia masih jengkel dengan kelakuan Mikha yang pernah membawaku ke Villanya dengan cara tidak mengenakkan.


"Awas aja ya kalian kalau sampai berpisah! jangan buat pengorbanan aku sia-sia!" Ucap Mikha tiba-tiba. Ia cemberut lalu tertawa ngakak.


Mendengar ucapan Mikha sontak Erick menyikutku yang terpaku. "Sial! aku di Frank!" umpatku hanya dalam hati. Ku pikir tadi dia hendak marah-marah apa, ternyata dia sekarang sudah tertawa seperti tidak ada kejadian.


Mikha menyodorkan tangannya pada Erick dan aku.


"Selamat ya kalian!" ucapnya dengan wajah yang kini terlihat sumringah.


"Aku sama Gia akan bersama terus dan nggak akan ada perpisahan!" Ucap Erick seolah menjawab kata-kata Mikha diawal tadi. Nada Erick bicara seolah mengejek Mikha. Aku memelototinya. Tapi Mikha malah makin terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.


"Udah ah! nggak enak sama yang lain udah antri mau salaman!" Ucap Mikha menyudahi sendiri tawa gilanya yang sudah jadi bahan bisikan orang-orang yang hadir disekitar pelaminan.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2