Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Pindah -


__ADS_3

"Sayang, sepertinya kita harus pindah!" Ucap Erick sambil mengelus-elus rambut istrinya yang berada dipangkuannya. Mereka baru saja selesai melanjutkan hal yang sempat tertunda akibat tragedi ketukan pintu dan acara makan malam..


"Pindah?" tanya Gia. Gia menatap wajah suaminya yang terduduk memangku kepalanya sesekali membelai dan mengelus rambutnya yang terurai.


Erick mengangguk seraya menghembuskan nafasnya teratur. Kepalanya tertunduk untuk menatap manik mata sang istri.


"Aku akan pindah tugas ke Jakarta dan kamu harus ikut!" pinta Erick.


Gia bangkit dari posisinya, memegangi selimut, agar tetap menutupi tubuh polosnya.


"Loh? memangnya tugasnya menetap disana, sayang?"


"Huum" Erick mencubit gemas hidung istrinya, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Tapi sayang? aku dan mama kan baru mau joint usaha, bulan depan kan butik mama akan dibuka kembali!" Protes Gia sedikit berteriak agar suaminya yang tengah berjalan ke arah kamar mandi yang berada diujung kamar, tetap mendengar suaranya.


Erick menghentikan langkahnya tepat sebelum memasuki kamar mandi. Ia berbalik untuk menjawab protes istrinya itu.


"Aku nggak bisa jauh dari kamu. Emang kamu mau tinggal pisah sama aku gara-gara join-an sama mama?" Keluh Erick. ia seolah memberi pilihan pada sang istri.


Gia terdiam memikirkan kalimat yang suaminya ucapkan, ia menggeleng lemah. Tentu saja ia sama halnya dengan Erick. Tak mau tinggal terpisah dengan sang suami terlalu lama, ia juga tak bisa jauh dari Erick.


Erick tersenyum miring.


"yaudah! ikut enggak?"


"ikut!" jawab Gia dengan nada manjanya.


"Hahah yaudah ayo!" Ajak Erick sembari menunjuk kearah kamar mandi dengan dagunya sendiri.


Gia berdecak, maksud ucapannya 'ikut' adalah ikut ke Jakarta dengan Erick. Tapi maksud suaminya itu ternyata memintanya ikut ke kamar mandi bersama-sama. Karena sudah terlanjur menjawab 'ikut', akhirnya ia bangkit juga dengan menyeret serta selimut yang dari tadi menutupi tubuhnya. Gia berjalan perlahan dengan niat ingin ikut membersihkan diri juga.


Tentu saja hal itu dimanfaatkan Erick untuk mendapat 'hal yang lebih' lagi dari sang istri.


"Sayang kamu kebiasaan banget sih!" Protes Gia ketika sampai dikamar mandi malah mendapatkan ciuman yang menuntut dari suaminya. Erick hanya membalas ucapan sang istri dengan seringaian nakalnya.


💠💠💠💠💠💠

__ADS_1


"Hai, Gi? sorry, udah lama ya?" Lyra menghampiri Gia yang sedang duduk menunggu kedatangannya disebuah Cafe.


Gia tersenyum dan menggeleng.


"Apa ada kabar baik?" Tanya Gia pada Lyra.


"Memangnya kamu mau mendengar kabar baik apa?" Lyra memanyunkan bibirnya sesaat.


"Ya siapa tau denger kabar kamu mau nikah lagi gitu!" Ucap Gia dengan mudahnya tanpa rasa bersalah.


"Hisss!! Aku belum mau memikirkan soal itu. Gimana? gimana? kamu mau bilang apa?"


"Ya jangan lama-lama juga ya. Nanti keburu tua!" Gia terkekeh dengan ucapannya sementara Lyra memicingkan matanya pada Gia.


"Hahaha maaf maaf! Betewe aku mau bilang soal kepindahan aku. Erick dipindahin tugas ke Jakarta, jadi kita nggak bisa hangout kayak gini lagi deh!" Jelas Gia.


Semenjak kepindahan Gia kerumah orangtua Erick, Gia tetap leluasa untuk bertemu Lyra yang kini memang akrab dengannya. Lyra sudah kembali kerumah orangtuanya dikota yang sama.


Terkadang mereka sering menghabiskan waktu bersama. Ladies time mereka dimulai dengan kesalon bersama, berbelanja dan kadang mereka hanya menghabiskan waktu untuk curhat seperti kebiasaan lama mereka di kontrakan dulu.


Namun, kemarin Erick sudah mengatakan bahwa ia dipindah tugaskan. Mau tak mau Gia harus ikhlas melepas angan-angannya lagi kali ini. Karena apapun yang terjadi, Gia punya komitmen untuk tetap ikut kemana suaminya akan menetap.


"Loh emang kamu ikut sama Erick ke sana?"


"Iya dong, Ra! Kemana suami itu harus diikuti biar nggak diincer cewek lain. Hahaha" Gia menaik-naikkan alisnya menggoda Lyra.


"Kalau lakinya kayak Erick mah yang doyan bukan cewek doang, Gi! Zaman sekarang, cowok juga bisa naksir sama yang modelnya seperti dia. Hahaha" Lyra tak kuasa menahan tawanya. Ia tergelak, tak menyangka dengan apa yang ia ucapkan.


"Iyakan? nggak salah aku harus waspada!' Gia ikut terkekeh mengikuti jejak Lyra.


"Gimana sama kerjaan kamu?" Tanya Gia lagi. Lyra sempat mengatakan akan meminta izin pindah ke cabang rumah sakit yang ada dikota ini. Dan akhirnya permintaannya itu disetujui. Jadilah ia sudah bekerja beberapa pekan dikota kelahiran mereka ini.


"Baik kok. semua berjalan lancar!" Lyra menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.


"Kalau Ivan?" goda Gia pada Lyra, akhirnya.


"Aku...." Lyra sedikit ragu mengatakan perihal Ivan.

__ADS_1


"Kenapa? ada yang salah?" Gia tak mampu menutupi rasa keingintahuannya.


"Enggak sih. Kami berhubungan jarak jauh sekarang. Pekerjaannya kan ada disana!"


"Jadi kamu sekarang ngaku kan kalo ada hubungan sama Ivan?" Gia mencoel dagu wanita didepannya yang tampak memerah seperti kepiting rebus setelah menyadari ucapannya sendiri.


Lyra mendengus sambil menahan tawa, menutupi rasa malunya dengan membuang pandangan wajahnya kerah lain yang penting tak menatap wajah Gia.


"Ayolah, Ra! Ivan sudah terlalu lama nunggu kamu. Dia lelaki baik. Kamu nunggu apa lagi?"


"Aku belum siap, Gi. aku masih trauma berumah tangga!" Ungkap Lyra pada akhirnya.


Gia menghembuskan nafas, ia menyadari bahwa Lyra lebih dulu mengerti seluk-beluk berumah tangga dibandingkan dirinya.


"Terus? sampai kapan coba?" Gia merasa geregetan sekarang, karena ia tahu Ivan sudah terlalu lama menunggu wanita yang duduk didepannya ini. Dan sekarang Lyra seolah menyuruh Ivan menunggunya lagi secara tak langsung akibat rasa trauma nya yang belum hilang.


"Sampai aku yakin bahwa Ivan nggak akan berbuat seperti Mas Nico. Dan sampai aku yakin pada diriku sendiri bahwa udah nggak ada nama Mas Nico lagi dihati aku!" suara Lyra terdengar lirih.


Gia berdecak mendengar nama Nico. Akhirnya, Ia menepuk-nepuk pelan punggung tangan Lyra. "Aku yakin kamu pasti bisa melupakan dia, dan Ivan pasti lebih baik dari Nico." Ucap Gia menyemangati.


"Iya, Gi! Aku nggak mau memilih Ivan hanya karena ingin melupakan Mas Nico. Aku mau, aku benar-benar melupakan Mas Nico dulu barulah aku memilih Ivan." Jelas Lyra.


Gia mengangguk setuju.


Keduanya mengakhiri pertemuan singkat mereka ketika hari beranjak sore dan setelah selesai menghabiskan makanan pesanan mereka di Cafe itu.


Lalu melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Lyra akan melanjutkan pekerjaannya yang masuk di jam sore. Dan Gia akan berbenah untuk kepindahannya beberapa hari lagi.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2