Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Setelah Dua Tahun -


__ADS_3

Setelah selesai menemui dan membahas pekerjaan bersama klien-nya di Pasola Resto, Arga langsung bergegas kembali ke kantornya untuk bertemu dengan kontraktor. Ini adalah pertemuan pertama kalinya untuk membahas pembangunan cabang usaha baru milik keluarga Arga yang semakin berkembang dari tahun ke tahun.


Arga baru bergabung kembali usai kepulangannya dari Jerman. Sebelumnya Arga melanjutkan study selama kurang lebih 24 bulan di Jerman, dan menitipkan perusahaannya kepada Dion, sahabat sekaligus tangan kanannya sedari dulu.


Tentu saja kepergiannya itu bukan hanya semata-mata untuk study, tapi ia juga ingin menata hatinya kembali.


Arga pun meminta Reza sepupunya untuk ikut bergabung dalam proyek baru mereka. Reza adalah sepupu Arga dari pihak ibunya. Reza dulunya melanjutkan usaha Papanya dibidang properti, namun beberapa bulan belakangan usaha itu mengalami penurunan drastis.


Dari pendidikannya, Reza memiliki kemampuan bahasa yang baik, dia bisa membantu usaha Arga, menangani bidang ekspor-impor ke Luar Negeri..


Reza tidak bisa ikut meeting hari ini karena ia baru saja menikah kemarin, Arga memintanya untuk cuti. Jadi, Arga dan Dion akan meng-handle masalah proyek baru dan meeting dengan kontraktor yang sudah membuat janji temu dengan perusahaannya.


Arga dan Dion memasuki ruang meeting diikuti oleh Metha, sekretaris pribadi Arga sekaligus kekasih Dion.


"Selamat Sore!" Sapa Arga sambil menyunggingkan senyum, berusaha seramah mungkin.


Sapaan Arga itu pun disambut oleh beberapa orang yang sudah turut hadir diruangan itu.


Arga tersenyum miring menyadari sesosok orang yang ia kenali duduk disisi meja oval itu, senyuman Arga dibalas hal yang sama oleh lelaki yang ia tatap.


Mereka pun mulai melakukan meeting dengan baik dan membicarakan apa yang projek mereka kedepannya.


Setelah semua selesai dibahas dan puas dengan segala perundingan yang telah disepakati. Arga dan Dion ingin beranjak, diikuti Metha yang juga telah selesai menyusun semua file nya.


"Sudah lama juga ya!" Suara lelaki yang tadi dilihat Arga, ia menyapa Arga yang sudah keluar dari ruangan meeting. Dion dan Metha ikut menatap lelaki yang sepertinya berbicara pada Arga itu.


Arga pun ikut berbalik badan ketika ia menyadari sapaan itu ditujukan untuknya.


Arga menyeringai, sudut bibirnya tersungging miring.


"Kau, ternyata benar itu kau!"


"Aku tak menyangka kau pimpinan disini!" Celetuk lelaki itu.


"Ya, itu memang aku." Ujar Arga sarkas.


"Baiklah, semoga kita bisa bekerja sama secara profesional" Lelaki itu mengulurkan tangan agar Arga menyambutnya.

__ADS_1


Arga mengangguk dan berjabat tangan dengannya. Setelah itu, Arga dengan ke-cuek-an-nya berlalu meninggalkan tempat pertemuan mereka itu.


"Ku pikir sainganku sudah habis, ternyata ada satu lagi yang hampir saja ku lupakan!" Batin Nico terkekeh menatap kepergian Arga yang nyaris tanpa menoleh kembali ke arahnya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Gia mengecek ulang daftar kain dan pernak-pernik untuk produksi pembuatan gaun di butik miliknya. Selama satu tahun belakangan, Gia mencoba fokus dengan bidang yang ia geluti ini. Bahkan, dalam jangka waktu itu, Gia membuktikan pada khalayak bahwa ia mampu berkarya dan berkreasi. Semua desainnya bahkan juga dipertimbangkan di dunia fashion.


Kini, Gia bukan hanya sebagai pemilikbutik tetapi ia juga merancang hampir semua baju yang dijual dibutik miliknya itu. Gia juga memutuskan kuliah dibidang desain untuk memperdalam ilmunya. Dan itu ia lakukan semata-mata untuk menunjang semua yang telah ia raih.


Setiap hari, Gia menyibukkan diri dengan segudang aktifitas. Dia bukan hanya seorang wanita karir, dia juga seorang mahasiswi. Gia bertekat tidak mau diremehkan lagi disuatu saat nanti karena ia pernah merasakan sakitnya direndahkan pada masa lalu. Itu pulalah yang membuatnya meminta Nissa untuk ikut bersamanya ke Jakarta. Selain untuk menjadi temannya, Gia juga ingin Nissa kuliah dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Arsitek.


Gia dan Nissa sama-sama suka melukis, namun berbeda haluan. Jika Gia lebih tertarik ke bidang fashion, adiknya Nissa lebih senang tentang desain bangunan dan hal-hal yang menyangkut keunikan dari segi arsitektur.


Gia memasuki mobilnya, ia meregangkan otot-ototnya yang kaku sehabis mengecek semua keperluan di butik tadi. Gia menggeliat seraya menutup mulutnya karena menguap. Rasanya ia lelah sekali, tapi ia harus melanjutkan kegiatannya sore ini, ia harus mengikuti mata kuliah sore.


Gia mulai melajukan mobilnya menuju kampus, namun ditengah perjalanan, mobilnya mendadak mogok. Gia menahan kekesalan hatinya sembari keluar dari balik kemudi.


"Kenapa harus mogok sih?" Gia menggerutu.


"Astaga! Hp pake acara lowbet lagi!" Gia menekan-nekan ponselnya yang ternyata sudah mati total itu. Ia celingak-celinguk kesana-kemari seperti orang yang kebingungan. Lebih baik ia menunggu taxi lewat saja-pikir Gia.


Lamunan Gia seketika buyar, tatkala suara klakson mobil terdengar, mobil itu sedikit menepi dan berhenti tepat dihadapan Gia.


"Kenapa Gi? Mogok?"


Gia mengangguk.


"Yaudah bareng aku aja. Kamu mau kemana?"


"Aku mau ke kampus." Jawab Gia datar.


Gia ingin menolak tapi percuma saja, usahanya itu akan sia-sia. Dan jika ia harus berdebat dengan Nico sekarang, dapat dipastikan ia akan telat datang ke kampusnya. Akhirnya Gia mengalah dan mengikuti Nico untuk masuk dan ikut dimobilnya.


"Kamu udah telepon bengkel? Apa mau aku telponin?" Tanya Nico, ia menatap Gia yang memandanv lurus kedepan.


"Belum. Yaudah kamu urus aja lah!" Gia mencoba pasrah. Lagi-lagi ia malas berdebat dengan Nico. Nico menyeringai melihat Gia yang sekarang sedikit berubah, agak melunak terhadapnya.

__ADS_1


"Emm, nanti pulang kuliah aku jemput ya!" Nico mulai memulai aksinya kembali, mengejar Gia.


"Udahlah, Co! Aku bukan Abege yang harus dijemput-jemput segala. Lagi pula, aku enggak mau kamu mengharapkan sesuatu dari aku!"


Nico mengulas senyum yang selalu ia pasang dihadapan Gia jika melihat Gia mulai menolaknya. Gia membuang muka kesamping, menatap jalanan dari jendela mobil, malas melihat Nico yang tak pernah berubah setelah dua tahun.


"Kamu enggak kepikiran mau nikah lagi aja, Co?" Gia bertanya sambil tetap melihat ke jalanan.


"Ya aku kepikiran Gi, tapi maunya sama kamu!"


Gia memutar matanya malas. Mendengar jawaban Nico membuatnya mendadak pening.


"Ah, seperti enggak ada pilihan lain aja kamu! Lyra aja udah hidup bahagia sekarang!"


"Justru itu, aku akan bahagia juga kalo pasangan aku itu kamu!" Celetuk Nico sambil tetap fokus menyetir.


"cih... kayak nggak laku aja kamu!"


"Hahaha, jawaban kamu selalu buat aku senang Gi!"


Gia melotot mendengar ucapan Nico. "Dasar Gila!" Batin Gia memaki Nico.


"Kalau dipikir-pikir, kita itu jodoh loh Gi, buktinya kita bertemu lagi dan lagi. Bahkan sekarang kita menetap dikota yang sama. Satu lagi, status kita sekarang--" Nico menjeda ucapannya dan melirik Gia yang juga meliriknya sekilas dengan masih memanyunkan bibir.


"Status kita sekarang...benar-benar cocok!" Sambung Nico lagi dan diakhiri dengan suara tawanya yang menggelegar.


Gia hanya bisa mendengus melihat sikap Nico yang selalu percaya diri dan tidak berubah dari dulu, terkesan tak tahu malu jika dihadapan Gia. Gia menatapnya jengkel.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2