Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Sakit -


__ADS_3

Erick memasuki sebuah rumah sakit, deru nafasnya mengiringi setiap langkahnya.


"Terimakasih sudah menolong dan membawa istri saya kesini Pak, Bagaimana keadaan istri saya, sekarang pak?" Tanya Erick pada Pak Dahlan. Asisten yang menemaninya bekerja selam di Jakarta.


"Ibu sudah berada dalam ruangan Pak, silahkan masuk!" Ujar Pria yang selalu santun itu.


Erick masuk kedalam ruang rawat yang didominasi oleh warna putih itu. Erick menghambur kedepan seorang wanita yang terbaring lemah diatas kasur rumah sakit. Ia menciumi punggung tangan wanita itu berkali-kali.


"Sayang, maafin aku!" Ucapnya serak.


Wanita yang terbaring itupun mengangguk lemah dihadapan sang suami. Erick menatap wajah wanitanya, Gia. Gia tampak pucat sambil memaksakan untuk tersenyum.


*Flashback On


"Sayang, hari ini kayaknya aku mau ketemu Reza, nongkrong bareng mumpung Weekend. Kamu ikut yuk!" Erick mengajak Gia ikut bersamanya bertemu Reza, kawan semasa kuliahnya yang tinggal di Jakarta.


Sudah hampir sebulan mereka menetap di Jakarta, Erick yang sudah berjanji akan menemui teman lamanya itu pun menjadi sungkan akibat janjinya belum ia tepati sampai pada hari ini.


Akhir pekan pertama ditempat tinggal barunya, ia sudah mengajak Gia jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta. Begitupun di akhir pekan selanjutnya, ia menemani istrinya itu berbelanja kebutuhan rumah tangga.


Hari ini adalah hari yang tepat menurut Erick untuk bertemu dengan Reza, menepati janji temunya. Reza sudah bolak-balik menuntutnya untuk pertemuan itu. Sebagai kawan lama yang berteman cukup akrab, Erick sangat menjaga hubungan baik itu. Dan lagi, ia sudah lama tak bertemu Reza. Ketika Erick menikah, Reza berada diluar Negeri dan tidak bisa ikut hadir di acara itu.


"Kamu pergi sendiri aja ya sayang! Itukan Man time kalian!" jawab Gia santai.


"Lagi pula, beberapa hari ini badanku terasa berat!" sambung Gia lagi sambil tetap tersenyum menatap suaminya.


"Kamu sakit? Apanya yang sakit? Apa masih dibagian yang sama?" Erick menyerbu Gia dengan pertanyaan.


Erick memang sempat melihat istrinya itu beberapa kali mengerang kesakitan, bahkan sejak masih tinggal dirumah orangtua Erick. Ia mengajak Gia kedokter tapi selalu ditolak oleh Gia dengan dalih mungkin ia sakit karena terlalu lelah.


"Ti-tidak, Mungkin aku kecapekan aja!" ucsp Gia terbata-bata, selalu alasan yang sama yang diucapkan Gia.


"Kalau kamu sakit, aku batalin aja ketemu sama Reza! Aku mau temenin kamu aja dirumah." Ujar Erick.


"No! enggak usah. Kamu udah janji kan? yaudah tepati janji kamu sama Reza, abis itu baru temani aku. aku enggak apa-apa." jelas Gia menolak usul Erick. Ia tak mau membatasi Erick selagi itu masih hal wajar. Erick juga perlu sesekali berkumpul dengan teman-temannya. Tidak mungkin harus bersama Gia terus menerus.

__ADS_1


Setelah melakukan perdebatan yang cukup pelik, dan Gia tak mau dibantah lagi. Akhirnya, dengan berat hati Erick pergi juga untuk menemui Reza. Sebelum pergi, ia menitip pesan kepada Bi Dijah, wanita setengah baya yang bekerja dirumah dinas ini sebagai tukang bersih-bersih.


"Bi, Aku titip Gia ya. Dia kurang enak badan! Kalau ada apa-apa telepon aku ya, Bi! " Erick mengucapkannya dengan nada sungkan namun langsung diiyakan oleh Bi Dijah.


Selang hampir satu jam kepergian Erick, ia mendapat telepon dari Bi Dijah yang mengatakan bahwa ia menemukan Gia tergeletak tak sadarkan diri diruang tv.


Erick segera menelepon dan meminta bantuan Pak Dahlan yang rumahnya satu kawasan dengan rumah dinas Erick, untuk mengantar Gia kerumah sakit segera. Karena posisi Erick yang lebih jauh dan akan lebih lama untuk tiba dirumah dibandingkan Pak Dahlan.


Erick undur diri kepada Reza dan mengakhiri pertemuan singkat mereka yang baru beberapa menit. Reza ikut tak tenang dan melepas kepergian sahabatnya dengan tatapan khawatir.


*Flashback Off


Erick menatap wajah istrinya yang putih tanpa rona. Bibir yang selalu pink kemerahan itu pun sama, pucat pasi.


"Mana yang sakit sayang?" Tanya Erick pada Gia. Tangannya terulur membelai wajah sang istri.


Gia menggeleng, ia tak mau suaminya mengiba padanya. Erick mengelus lembut rambut dan pelipis Gia dengan sayangnya.


Pintu ruangan terbuka dari luar. Menandakan ada yang masuk kedalam ruangan.


Erick mengangguk lemah.


"Apa bisa kita bicara mengenai kondisi istri anda, Pak!" Tanya dokter itu lagi.


"Silahkan dokter! Bagaimana kondisi istri saya? Dia sakit apa dokter?" Tanya Erick sopan.


Dokter melirik kearah pasiennya yang sedang tergeletak lemah. Gia mulai menutup matanya, sepertinya obat yang dokter berikan sedang bekerja dan membuatnya sedikit mengantuk.


"Bisa kita bicara diruangan saya Pak. Agar pasien bisa istirahat dulu!"


Erick mengikuti langkah dokter itu dan duduk tepat dihadapannya ketika sampai dalam ruangan empat kali empat itu.


"Dok, istri saya sakit apa?" tanya Erick pada dokter. menuntut jawabannya.


"Begini Pak, menurut pemeriksaan, Ibu Gia mengalami gangguan ginjal kronis." jelas dokter itu pelan.

__ADS_1


"Apa?" Erick syok dan tidak percaya dengan ucapan dokter.


Hening sesaat.


"Bagaimana agar istri saya bisa sembuh dokter?" Mata Erick mulai berkaca-kaca membayangkan wajah sang istri.


"Dalam hal ini, istri anda perlu menjalani dialisis. Prosedur ini dibutuhkan untuk menyaring cairan ekstra dan limbah agar keluar dari darah. Istilah lainnya Cuci darah." Jelas dokter itu.


"Tapi, Dialisis dapat membantu mengobati penyakit ginjal tetapi tidak dapat menyembuhkannya." Sambung dokter itu lagi.


Erick tertunduk lesu, jauh didalam lubuk hatinya malah berpikir istrinya sedang mengandung. Ia berharap Gia bisa mengandung anaknya lagi seperti waktu itu. Erick ingin menebus kesalahannya pada Gia. Tapi kenapa sekarang kenyataan tak berpihak padanya? Inikah balasan untuk dosa yang telah ia perbuat?


"Apa yang bisa menyembuhkannya dokter?" Ucap Erick lesu. Ia tampak seperti orang yang mulai putus asa, padahal cobaan untuk rumah tangganya baru saja dimulai.


"Transplantasi ginjal mungkin merupakan pilihan pengobatan lain, tergantung pada keadaan pasien" Ujar dokter kemudian.


Tanpa sadar airmata Erick jatuh dan lama kelamaan mengering sendiri di pipinya.


°


Erick mengintip istrinya dari luar ruangan melalui kaca kecil transparan yang berada ditengah pintu. Erick melihat wanitanya yang sedang terbaring lemah berbalut selimut dan tangannya dihiasi selang infus.


Ini begitu tiba-tiba untuk Erick. Baru saja rasanya pagi tadi ia makan makanan masakan Gia sebelum memulai aktifitasnya. Bahkan Gia mengupaskannya buah apel, dan dengan manjanya Erick minta disuapi oleh istrinya itu. Sebagai anak bungsu, Erick sering bersikap demikian yang selalu disambut hangat dan senyuman oleh istrinya.


"Sayang, kamu pasti sembuh!" Tutur Erick seolah berbicara pada istrinya yang berada dalam ruang rawat.


"Aku akan usahakan apapun untuk kesembuhan kamu!" Ucap Erick dengan yakin pada dirinya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2