
Jika tadi Gia emosi karena telepon dari Mikha, sekarang begitu jalanan hampir sampai kerumah orangtua Erick mendadak Gia jadi merasa lunglai.
"Huffff tadi hampir mem*ki orang. Sekarang siap-siap deh buat dicaci-m*ki!" Kata Gia dengan memanyunkan bibirnya.
Melihat ekspresi Gia seperti itu, Erick mencoba menguatkan.
"Yang, kalau kamu ragu ketemu orangtua aku kayak gini, aku jadi ciut juga lho. Jangan gitu lah! Kita sama-sama harus punya nyali besar dan saling nyemangatin!" Ucap Erick dengan senyum yang melengkung dibibirnya.
"Iya deh iya!" Jawab Gia menurut.
Mobil Erick pun sampai didepan kediaman Papa Johan dan Mama Anna.
Rumah yang bisa dikategorikan mewah. Dengan basement yang luas. Ada taman yang ditengah-tengahnya terdapat kolam ikan dan air mancur kecil.
Rumah dengan pilar marmer yang besar dan mengkilat. Untuk menyentuh pilar itu, harus menaiki beberapa anak tangga. Rumah itu semakin tampak mewah karena adanya lampu hias yang menjuntai dari langit-langit beranda.
Gia dan Erick menuruni mobil. Erick menggenggam tangan Gia dan Gia pun langsung menggandeng lengan Erick.
Mereka berjalan beriringan sambil mengatur nafas. Perlahan-lahan menaiki anak tangga untuk menuju beranda dan pintu masuk rumah.
Erick dan Gia sudah berada didepan pintu. Gugup. Mereka sama gugupnya. Erick mengetuk pintu rumah yang sudah terbiasa dibukanya, tapi kali ini dengan perasaan yang berbeda.
Terlihat sesosok wanita paruh baya muncul membukakan pintu. Bi inah. Pembantu dirumah keluarga Erick.
"Eh Den Erick, bapak dan ibu sudah menunggu!" Ucap bi Inah lembut.
"Iya bi" ucap Erick sembari tersenyum dan mengangguk.
Erick makin mempererat genggaman tangannya pada Gia. Mengajak Gia melangkah masuk.
"Ayo!" Ucapnya pada Gia.
Erick dan Gia masuk kedalam ruang tamu. Ruang tamu itu tampak di desain Clasic-modern.
Ruang tamu dengan cat putih, furniturnya yang unik dan terlihat sangat pas dipadu-padankan. Dengan jendela kaca yang luas menghadap halaman samping.
Selain itu, ruang tamunya juga dilengkapi dekorasi dengan barang-barang antik. Terdapat meja ditengah ruangan, sofa, dan lukisan di dinding semakin menambah kesan berkelas diruang tamu itu. Sangat pas dan tidak berlebihan.
Erick dan Gia hanya mendapati Mama Anna dan Papa Johan saja diruang tamu itu. Tanpa Rina, Frans dan pasangan mereka masing-masing.
Erick dan Gia menyalami Papa Johan dan Mama Anna bergantian. Seperti biasa, mama Anna berlagak cuek melihat Erick dan Gia. dan diam saja ketika mereka menyalaminya.
"Duduk nak!" Ucap Johan. Papa Erick. Yang masih nampak sisa-sisa ketampanannya diusianya yang tidak muda lagi.
Erick dan Gia duduk disofa seberang orangtua Erick. Hanya meja kayu dengan ukiran rumit yang menjadi pembatas diantara mereka berempat.
"Apa yang mau kamu bicarakan Erick?" Mulai papa Johan.
Terlihat Mama Anna menyikut papa Johan, ketika Erick ingin membuka suara. Tapi papa Johan mengabaikannya, malah menyuruh Erick melanjutkan apa yang akan disampaikan.
"Pa, ma.. tentu papa dan mama sudah tau dengan Gia. Gia dan Erick akan segera menikah!" Ucapan Erick yang to the point mampu membuat Gia terperangah dan tentu saja membuat Mama Anna yang paling syok.
Papa Johan tersenyum sekilas seperti mengejek Erick yang berbicara langsung pada pointnya tanpa aba-aba meminta restu.
"Erick! Kamu kan sudah tau jawaban mama atas hal ini!" Sudah dapat di duga bahwa itu jawaban yang keluar dari mulut mama Anna.
"Erick tidak minta jawaban mama lagi, ma!" Ucap Erick pelan.
"Erick kesini hanya ingin memberitahukan dan mengabarkan pada Papa dan Mama perihal Erick dan Gia yang akan segera menikah!" Tambah Erick lagi dengan nada menyolot.
"Jadi kamu akan tetap menikah tanpa restu dari mama dan papa?" Tanya mama Anna lagi.
"Sepertinya begitu, ma!" Jawab Erick.
Gia melotot mendengar kata-kata Erick. Kata-kata yang tidak pernah Gia sangka sama sekali akan langsung dilontarkan Erick. Erick berkata tegas tanpa bisa dibantah lagi oleh mamanya.
Jika Mama Anna terlihat begitu menolak, lain halnya dengan Papa Johan. Ia tampak tenang dan sumringah dengan jawaban dari mulut Erick.
Gia diam memperhatikan Ayah dan anak ini yang sepertinya sudah berkomplot.
"Mama tidak izinkan kamu menikah dengan wanita tidak jelas ini!" Ucap Mama Anna dengan nada yang mulai marah sambil menunjuk ke arah Gia.
__ADS_1
Tentu saja Erick tidak terima Gia dianggap mamanya seperti itu.
"Namanya Gia ma! Bukan wanita tidak jelas seperti kata mama!" Jawab Erick tak mau kalah.
"Tapi Erick--" ucapan mama Anna terpotong dengan suara bariton dari pria disebelahnya.
"Biarkan Erick menentukan pilihan hidupnya sendiri, ma! Benar kata Erick diawal tadi. Kita hanya tau dengan Gia. Kita tidak mengenalnya, dan yang mengenalnya serta paling tau tentang Gia ya, Erick bukan kita!"
"Biarkan mereka bersama. Kita tidak punya hak untuk mengatur mereka!" Ucap papa Johan dengan amat tenang dan bijaksana, membuat wanita disebelahnya terheran-heran dengan jawabannya.
"Tapi, kita ini orangtua Erick! Kita punya hak un--" lagi lagi ucapan mama Anna dipotong papa Johan.
"Justru karna kita orangtuanya ma, kita harus percaya padanya, bahwa pilihannya adalah yang terbaik untuk dirinya sendiri!" Kata papa Johan lagi.
Mama Anna terdiam, tapi wajahnya menunjukkan rasa tidak terima atas keputusan suaminya.
"Seharusnya tadi ada Rina atau Frans yang bisa mendukung keputusanku!" Kata mama Anna marah. Ia benar-benar marah sekarang.
"Sekalipun ada Rina dan Frans disini, itu hanya akan memperkeruh keadaan tapi tidak akan bisa menentang keputusan papa!" Ucapan papa Johan bagaikan titah yang tak bisa dilawan. Kata-katanya sekaligus mengingatkan istrinya, bahwa istri dan anaknya harus patuh atas titahnya itu!
Mama Anna mendadak ciut. Perlahan ia mengecilkan suaranya yang tadi menantang.
Gia tampak semakin menunduk. Sedangkan Erick menatap perdebatan kedua orangtuanya dengan berlagak cuek.
"Tapi pa, apa tidak bisa papa pikirkan lagi?" Tawar mama Anna sudah dengan nada pelan dan ragu-ragu.
"Papa sudah pikirkan ini dari lama, papa tidak ingin Erick melakukan hal bodoh seperti yang telah lalu. Mama tau kan maksud papa?" Ucap papa Johan pelan. Sedikit berbisik.
"Papa tidak mau Erick hancur karena keegoisan kita semua yang hendak mengatur pilihan hidupnya. Cukup sudah kita egois selama ini mengatur hidup Erick sedari dia kecil. Sekarang dia sudah dewasa, biarlah dia mengatur hidupnya sendiri! tolong pikirkan kebahagiaannya, ma!" Ucap papa diselingi kerlingan sebelah matanya pada Erick.
Erick mengulumm senyumnya melihat ulah papanya. Sedangkan Gia yang awalnya menunduk dengan rasa takut bercampur segan, mulai berubah ekspresi ketika ia tak sengaja melihat gelagat ayah dan anak didepannya ini.
Gia menahan tawa nya yang hampir meledak melihat komplotan yang bekerja sama untuk melawan istri dan mamanya sendiri.
"Baiklah, kapan kalian akan menikah?" Tanya Papa Johan lagi.
Sedangkan Mama Anna tampak menggeleng-gelengkan kepalanya tapi ia tak berkutik lagi.
Gia terperangah atas jawaban Erick. Ia menoleh menatap wajah Erick. Ia tidak percaya dengan jawaban yang Erick ucapkan.
Erick tersenyum pada Gia. Sorot matanya mengatakan agar Gia tenang dan ikuti saja. Mereka berdebat lewat sorot mata.
Papa Johan memperhatikan anak dan calon menantunya itu. Ia berdehem untuk memisahkan pertikaian tanpa suara didepannya.
"Ehemm..."
Keduanya menoleh ke sumber suara. Gia langsung tertunduk. Sementara Erick menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyegir kuda ke arah Papa nya karena ternyata ia tertangkap basah telah berdebat dengan Gia.
"Lalu bagaimana dengan pertunangan Erick dan Mikha?" celetuk mama Anna lagi.
"itu biar papa yang urus!" jawab papa Johan.
*****
Dilain kota di hari yang sama.
Arga mengantar mamanya kepasar seperti biasanya. Ia berharap bertemu dengan Gia tanpa adanya Erick.
Arga bisa saja datang ke kontrakan Gia, tapi pertemuannya dengan Erick beberapa hari lalu membuatnya malas. Malas untuk ribut dan terutama malas karena ujung-ujungnya hanya percuma. Pasti Gia akan mencuekinya seperti tempo hari.
Sebenarnya Arga tidak berniat mengganggu Gia. Hanya saja entah kenapa Ia merasa hambar semenjak hubungannya dan Gia merenggang.
Padahal, Arga tidak pernah membahas dan mempermasalahkan status Gia yang pernah hamil. Arga menutup matanya untuk hal itu. Tapi entah kenapa semenjak jujur kepada Arga, Gia seolah menjauh dan menjaga jarak darinya.
Arga berulang kali menghubungi Gia ketika ia bertugas ke Jakarta. Tapi Gia tidak pernah meresponnya. Arga kecewa tapi hatinya tetap berharap lebih banyak. Entah kenapa dan entah berharap apa. Dia pun tidak mengerti.
"Apa yang lo harapin dari dia, Ga?" Tanya Arga pada diri sendiri.
Arga menunggu mamanya dipasar pagi-pagi buta hari ini. Dengan harapan dapat bertemu Gia. Tapi, kenyataannya ia malah bertemu Lyra yang sedang berbelanja dipasar.
"Hey! Hey!" Ucap Arga pada Lyra. Menghentikan langkah Lyra.
__ADS_1
Lyra menoleh, merasa bahwa dirinya lah yang dimaksud.
"Ada apa?" Kata Lyra sembari menerka-nerka lelaki didepannya ini.
"Kau teman Gia kan?" Tanya Arga.
"Kau, Arga kan?" Kata Lyra. Matanya memicing untuk mengingat lelaki didepannya ini.
"Iya, mana Gia?" Ucap Arga sambil menoleh kesana-kemari mencari-cari sesuatu.
"Kau mencari Gia? Gia pulang kerumah orangtuanya sudah dari kemarin." Jawab Lyra jujur.
"Benarkah? Kenapa dia tiba-tiba pulang? Apa ada hal penting disana?"
"Iya, kabarnya Gia dan Erick akan menikah. Kita tunggu saja kabar baik dari Gia" ucap Lyra disertai senyum yang mengembang.
"Menikah? Bukankah mereka belum dapat restu?" Tanya Arga lagi.
"Hahaha kau sudah tau sejauh itu rupanya!" Celetuk Lyra.
Melihat Arga diam saja, Lyra mengulumm senyumnya.
"Kenapa? Kau patah hati? Kau sama saja seperti mas Nico!" Ucap Lyra sambil menutupi mulutnya yang keceplosan.
"Hey! Nico? Maksudmu lelaki yang ku pukul? Yang mengejar-ngejar Gia seperti orang gila itu? Jangan samakan aku dengannya!" Protes keras dari mulut Arga atas ucapan Lyra.
"Hahaha maksudku bukan begitu, tapi sepertinya kalian memang harus sama-sama patah hati kali ini!" Ujar Lyra sambil tersenyum.
Tapi tiba-tiba suara wanita yang adalah bu Dewi mengagetkan mereka berdua.
"Lyra? Belanja ya? Mau masak apa hari ini?" Tanya bu Dewi.
Arga menatap mamanya. Ia mengambil alih kantong-kantong belanjaan yang dipegang mamanya.
"Ma, aku tunggu di mobil!" Ucap Arga seraya meninggalkan Lyra dan mamanya.
Bu Dewi mengangguk dsn beralih lagi pada Lyra. Seperti menunggu jawaban Lyra.
"Eh Iya bu, hari ini saya belanja seadanya saja. Karena makan sendirian dirumah." Jawab Lyra atas pertanyaan bu Dewi yang belum terjawab tadi.
"Loh memangnya Gia kemana? Kalian masih tinggal sama-sama kan?"
"Iya bu, masih! Gia pulang kerumah orangtuanya bu." Jawab Lyra.
"Oh. Ada apa? Orangtuanya sehat kan?"
"Iya bu, kabarnya Gia akan segera menikah."
"Hah? Menikah?" Bu Dewi tak kuasa menahan rasa kagetnya.
"Iya bu, bu saya duluan ya. Itu ojek online saya udah datang!" Ujar Lyra sambil menunjuk kearah tukang ojek.
Bu Dewi mengangguk lemah. Tampaknya bukan hanya Arga yang kecewa, tapi mamanya pun sama.
Bu Dewi lalu melangkah menuju mobil Arga yang terparkir.
Sesampainya didalam mobil, bu Dewi terus diam memperhatikan anaknya yang juga diam sembari tetap menyetir.
Bu Dewi tahu bahwa sedikit banyaknya Arga sudah berharap dan menaruh hati pada Gia. Itu terbukti dari pembicaraan mereka beberapa waktu lalu.
"Ga, kamu tau soal Gia yang pulang kerumah orang tuanya? Apa bener kalau Gia--" ragu-ragu bu Dewi menanyakan Arga.
"Iya ma, tapi jangan bahas itu dulu ya ma." Pinta Arga.
Bu Dewi melihat aura patah hati yang terpancar dimata Arga. Ia tahu karena Arga jarang seperti ini. Arga bukan lelaki yang mudah untuk jatuh cinta. Arga pasti selalu memastikan dulu perasaannya.
Terakhir kali Arga begini ketika ia menjalin hubungan dengan Citra dan diduakan oleh Citra. Arga sejatinya adalah lelaki yang baik dan tak pernah menuntut apapun, maka ketika ia mengetahui perselingkuhan tunangannya itu ia sakit hati yang cukup berat.
Bahkan rasa sakit hati itu lebih kuat daripada rasa kehilangan Citra yang datang secara bersamaan. Karena disaat ia tahu Citra berselingkuh, disaat yang sama pula Citra kecelakaan dan meninggal.
Arga melepas kepergian Citra dengan ikhlas tapi rasa sakit hatinya sulit untuk ia hilangkan.
__ADS_1
Bersambung...