
*Pov Gia
Aku menginjakkan lagi kakiku ditanah kelahiranku. Ku pegang travel bag yang ada di genggamanku sembari mataku mengedarkan pandangan, mencari-cari seseorang yang akan menjemputku di Bandara hari ini.
Mataku menangkap sosoknya. Aku menemukannya, lelaki yang aku cintai sedang duduk menungguku dengan tampilannya yang santai dan casual.
Sosok yang selalu ku rindukan meski kami sedang berada dekat sekalipun.
Erick menatapku yang sudah berdiri dihadapannya. Mata kami bersirobok. Matanya memancarkan aura kerinduan yang sama denganku. Manik hitam yang selalu teduh saat menatapku. "Ah rindunya" Batinku serasa ingin berteriak didepannya.
Erick lalu berdiri dan beranjak menghampiriku.
"Sayang!" ucapnya seraya memelukku dengan erat. Namun pelukan itu tak berlangsung lama, aku merenggangkan sedikit agar wajahku bisa melihat wajahnya.
Aku mendongak menatapnya dan mulai bersuara.
"Udah lama? Maaf ya." ucapku sambil tersenyum.
Erick melihat jam yang melingkar ditangannya, ia menggeleng pelan.
"Enggak, baru 20 menit-an." Ujarnya seraya meraih Travel Bag dari tanganku lalu beralih menggantikanku untuk membawanya.
Sebelah tangan Erick yang kosong ia satukan dengan jemariku. Kami saling menggenggam jemari yang sudah tertaut.
Aku dan Erick berjalan beriringan menuju Carport yang cukup luas. mencari keberadaan mobil Erick yang terparkir dengan apik.
Setelah menemukan mobilnya, Erick membukakan pintu untukku masuk, lalu meletakkan barang bawaanku ke kursi penumpang dibelakang.
Didalam perjalanan menuju pulang, ia tak pernah melepaskan genggaman tangannya di jemariku, sambil satu tangannya tetap fokus mengemudi.
Ku lirik Erick, ia mulai ikut larut menyanyikan lagu yang disambungkan dari Bluetooth ponselnya ke audio mobil.
Sesekali ia melirikku sambil tersenyum.
"Calon istri makin cantik aja" sayup-sayup gumamannya terdengar ditelingaku.
__ADS_1
Aku mencoba pura-pura tidak mendengar.
"Apa?" tanyaku berlagak bodoh.
"Nggak. Nggak apa-apa!" Jawab Erick sambil menggelengkan kepalanya pelan, namun lengkungan tetap terbit dari kedua sudut bibirnya. Tersenyum.
Perjalanan terasa sangat singkat, dan terasa kurang. Meski kami sudah banyak bercerita kesibukan satu sama lain selama berbeda kota. Kami sampai kehabisan bahan cerita.
Tapi, lagi-lagi waktu seolah tak mengizinkan kami bertemu lebih lama. Tiba-tiba kendaraan Erick sudah sampai dikediaman orangtuaku.
Ini adalah kali terakhir aku bertemu dengan Erick sebagai pacarnya. Karena, setelah ini kami tidak boleh bertemu lagi sesuai kesepakatan bersama.
Kami akan bertemu kembali disaat Erick sudah resmi menjadi suamiku dan aku sudah menyandang status sebagai istrinya. beberapa hari lagi. Itu tak akan lama, tapi kenapa rasanya aku akan sangat merindukan Erick.
Bahkan hari ini pun aku baru bertemu dengannya, kenapa harus diakhiri sampai disini pertemuan kami ini. Sangat singkat.
Ingin rasanya berlama-lama walau hanya diam tanpa adanya kata-kata. Tapi, mengingat masih banyak hal yang harus diurus Erick, aku memutuskan mengalah. Toh nanti kami akan memiliki waktu yang panjang untuk bersama-sama.
Erick pamit setelah mengantarkanku dengan selamat dihadapan kedua orangtuaku.
Hari ini, aku sedang bersantai-santai untuk menyambut hari pernikahanku yang datangnya tak lama lagi.
Aku melihat beberapa lembar surat undangan yang tersisa diatas meja. Aku tersenyum mengingat bahwa namakulah yang tertulis sebagai mempelai wanita dalam surat undangan ini. Akhirnya aku menikah, terlebih lagi yang membuatku amat bahagia karena lelaki yang akan menjadi suamiku adalah Erick.
Surat undangan sudah tersebar tanpa ada andil dariku untuk ikut menyebarkannya. Untunglah aku dikelilingi orang-orang yang memaklumi ke-absenan-ku terkait hal itu.
"Mama juga antusias sayang! Mama ikut menyebarkan undangan untuk rekan dan teman-temannya. Mama juga ikut sibuk bersama orang-orang WO" Aku tersenyum mengingat ucapan Erick kemarin, disaat perjalanan kami menuju pulang dari Bandara.
"Semoga aku bisa menyesuaikan diri dengan keluarga Erick nantinya!" tekadku dalam hati.
Semua cukup berjalan lancar, bisa dibilang hampir 100% selesai. Aku tinggal mempersiapkan diri saja di hari H untuk menyandang status baru yaitu seorang istri. Hatiku rasanya berdebar-debar.
"Jangan banyak pikiran nak!" Ucap Ibu yang memperhatikan aktifitas melamunku sambil memegang surat undangan.
Aku beranjak menuju Ibu yang terduduk tak jauh dari posisiku. Aku ikut duduk dan memeluk Ibu. Meletakkan daguku di pundaknya.
__ADS_1
"Bu doakan Gia agar bisa menjadi istri yang baik ya!" Pintaku disela-sela pelukanku pada tubuh Ibu.
Terasa Ibu menepuk-nepuk pelan punggungku.
"Pasti, pasti ibu selalu doakan yang terbaik untuk kamu meskipun kamu tidak memintanya, Nak!" jawab Ibu.
Jawaban Ibu serentak dengan air mataku yang jatuh menetes. Aku menangis, lalu melepaskan pelukanku pada Ibu. Ku lihat Ibu juga meneteskan airmatanya. Airmata haru dan bahagia.
Bagaimanapun, Ibu akan melepaskan anaknya untuk dijaga dan dibahagiakan oleh orang lain.
"Ayah percaya Erick bisa menjaga kamu, Nak!" Ucap Ayah yang tiba-tiba sudah ada diantara aku dan Ibu.
Ku lihat ayah yang baru selesai dengan kata-katanya itu. Aku lanjut memeluk ayahku yang amat ku hormati. Aku merasa malu pada ayah karena kesalahanku dimasa lalu. Mengingat itu kembali membuatku menangis.
"Makasih ya, Yah!" ucapku yang kini malah terisak didalam pelukan ayah.
Ayah mengelus rambutku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia tak bisa berkata-kata tapi kurasakan ia mengangguk mengiyakan. Setelah pelukanku terlepas, ku lihat mata Ayah berkaca-kaca.
Aku paham dari ucapan ayah tadi, bahwa ayah yakin Erick bisa menggantikannya untuk menjaga aku. Bagaimanapun aku adalah seorang anak perempuan ayah, yang statusnya akan berubah menjadi seorang istri dari lelaki lain.
Kini harapanku pada Erick sangat besar, karena bukan hanya aku yang akan bersandar padanya. Melainkan ada harapan orangtuaku pula yang harus Erick ingat dan realisasikan.
Orangtuaku yang telah memberi restu pada kami, pasti tak mau menyesal karena telah menjadikan Erick sebagai menantunya.
Dengan kata lain, harapanku dan harapan orangtuaku bertumpu pada Erick seorang dimulai dari hari pernikahan kami yang tinggal menghitung hari.
.
.
.
Bersambung...
Next ? siapin baju untuk hadir di acara pernikahan Erick dan Gia ya...😬😬😬😬
__ADS_1
Yang mau lanjut, tolong tinggalkan komentar dan Like nya yah.. 🙏🙏🙏jangan lupa dukungannya biar makin semangat nih!!❤️❤️❤️❤️❤️