
Erick tak sabar untuk segera pulang hari ini, ia akan memberitahukan Gia berita bahagia ini secara langsung.
Setelah jam kerjanya usai, Erick memutuskan langsung mengemudikan mobilnya untuk pulang menuju rumah.
Wajahnya sumringah begitu menjumpai sang istri.
"Sayang, aku punya kabar gembira." Erick memasang senyum sejuta watt nya.
Gia yang menyambut kepulangan suaminya pun terheran-heran karena aura wajah sang suami tak seperti biasanya. Belakangan hari semenjak Gia sakit, Erick lebih sering diam dan sulit ditebak. Seolah tak bersemangat.
Sudah hampir sebulan pula, sikapnya semakin protectif terhadap Gia.
"Kabar gembira apa?" Alis Gia tertaut satu sama lain. Heran.
Erick memeluk tubuh Gia dan meyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Kamu udah dapat pendonor ginjal, sayang!" ucapnya disela-sela dekapannya itu.
Gia merasa terharu sekaligus bahagia.
"Serius? Aku pikir akan nunggu sangat lama!"
Erick melepaskan tautan tubuhnya, memegang kedua pipi istrinya.
"Iya. Nanti kita tanya ke dokter kapan kamu bisa segera operasi ya!"
"Makasih ya sayang" kini Gia yang memeluk dan mendekap erat tubuh sang suami.
Erick mengangguk. Mereka berjalan beriringan, untuk menuju kamar.
"Sayang, bajunya udah aku siapin. Kamu mandi dulu ya!" Gia berjinjit, tangannya melambai keatas untuk mencapai rambut suaminya, lalu mengacak-acaknya dengan perasaan sayang.
Erick tersenyum. Rasanya ia amat bahagia melihat istrinya sudah semangat lagi. Energi semangat yang terpancar dari Gia seolah berpengaruh pula untuk mood dan energi Erick sendiri.
Selepas mandi, mereka berdua makan malam bersama diruang makan.
"Sayang kamu masak? Aku kan udah bilang jangan masak-masak dulu! Aku enggak mau kamu kecapek-an nanti!" Erick cemberut.
"Enggak kok, ini tadi pesan makanan dari aplikasi!"
__ADS_1
"Oh" Erick ber-oh ria sambil manggut-manggut.
Mereka makan dalam keheningan. Selesai makan, Erick membantu membereskan piring dan gelas yang ada dimeja dan Gia yang mencucinya di kitchen sink.
Mereka memang selalu kompak dan apalagi kini semangat mereka sudah kembali karena telah menemukan titik temu dalam permasalahan yang mereka hadapi.
Erick dan Gia memutuskan bersantai bersama sambil menonton DVD di ruang tv. Sebuah film action-comedi menjadi pilihan mereka untuk diputar. Erick merangkul pundak istrinya sambil bersandar di sofa. Sesekali Gia menyuapinya snack seolah mereka berada disebuah bioskop dengan camilan pop-corn yang jadi andalannya.
Suara tawa melengkapi kebersamaan mereka malam ini. Erick sesekali memindai wajah istrinya yang lebih sering pucat semenjak sakit. Namun, malam ini rasanya Erick mulai mendapatkan rona kebahagiaan lagi diwajah wanita yang ia cintai ini.
Gia pun sama, ia melihat sang suami yang malam ini memancarkan aura kebahagiaan. Ia tahu bahwa selama ia sakit, ia banyak merepotkan suaminya itu. Terutama dalam hal beban pikiran.
"Sayang, maaf ya aku udah banyak merepotkan kamu!" Gia mengalihkan pandangannya, menatap lurus manik mata suaminya yang juga menatapnya.
"Kamu enggak pernah merepotkan aku. Kamu jangan bilang gitu ya, kamu itu tanggung jawab aku, dan kamu adalah prioritas aku!" Erick membelai lembut wajah sang istri.
"Makasih ya sayang. Walaupun ucapan makasih itu belum seberapa dibanding semua pengorbanan kamu!"
"Aku enggak ngorbanin apa-apa buat kamu sayang. Sempat hampir ngorbanin ginjal sih, tapi kan enggak bisa dan nggak jadi! Makanya, kamu jangan bilang gitu ya." Suara Erick terdengar sangat lembut.
Gia hanya tersenyum simpul dan menggenggam erat jemari suaminya yang bebas.
Benar saja, bukan hanya Erick yang merasa ini semua ada kejanggalan. Erick sudah curiga sedari dapat pemberitahuan ini. Tapi, Erick mencoba tak menggubris rasa curiganya itu. Biarlah ia yang akan mencari tahu nanti dan menanyakan pada pihak rumah sakit, siapa pendonor untuk istrinya ini.
"Udah, kamu jangan mikirin itu ya, sekarang kamu fokus aja sama operasi kamu. Nanti kita atur jadwal yang pas sama dokter!"
Gia mengangguk dengan cepat.
"Oh iya, jangan lupa jaga makan dan kesehatan kamu. Jangan sampai drop!" Pesan Erick lagi pada sang istri.
Gia hanya mengangguk sekilas karena kini ia sudah fokus dengan film yang terputar dilayar tiga puluh dua inci didepannya.
Erick mencebik karena ucapannya seperti diabaikan oleh Gia. Ia hendak protes dan melakukan aksi protesnya. Ia menahan tengkuk sang istri agar tidak bergerak kemana-mana, lalu ia mendaratkan ciuman di bibir lembut istrinya. Gia sedikit terkejut namun akhirnya menikmati tautan dan ******* dari bibir suaminya.
Tautan bibir mereka terlepas, Gia tersengal dan mengambil nafas, sebelum akhirnya lagi-lagi sang suami mencumbunya dengan ciuman yang makin menuntut.
Bagi Erick, istrinya seperti ekstasi. Memberikan efek candu dan memabukkan. Hehehe!
"Itu adalah hukuman karena berani mengabaikan ucapan suami!" Erick berkata sambil memasang wajah serius. Gia terperangah menatap suaminya yang berkata seolah sedang memarahinya.
__ADS_1
Erick lalu menyeringai melihat raut wajah Gia yang tiba-tiba memelas dan berkaca-kaca seolah ingin menangis. Akhirnya ia tertawa teebahak-bahak.
Tentu saja reaksinya itu membuat Gia mencebik. Padahal Gia hampir menangis karena ucapan Erick tadi, Gia sudah mengira Erick serius memarahinya. Keterlaluan-pikir Gia.
"Kalau kamu mengabaikanku lagi. Maka itu akan terjadi lagi!" Erick menaik turunkan alisnya menggoda Gia. Kali ini tak memasang wajah serius lagi.
"Dasar kamu! Itu sih maunya kamu!" Gia protes tak berkesudahan.
"Loh emang kamu enggak mau?"
"Enggak tuh" jawab Gia kesal melihat tingkah suaminya.
Erick berdecak. Lalu Gia bangkit dari posisinya,
"Awas kamu ya!" Ucap Erick masih menahan tawa.
"Hei sayang mau kemana?" Erick bertanya ketika melihat istrinya sudah akan beranjak. Erick menjadi salah tingkah sendiri melihat istrinya yang malah membalasnya dengan bersikap merajuk.
"Mau tidur aja!" Gia menjulurkan lidah mengejek Erick.
"Kenapa jawabannya seolah kayak kamu yang marah?" Erick ikut menyusul Gia yang sudah berjalan didepannya.
"Bodo!" Gia berlagak masa bodoh dan kemudian masuk ke kamar.
"Dasar cewek emang enggak pernah salah ya!" Erick mendengus dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Namun ucapannya yang cenderung pelan itu terdengar oleh Gia.
"Tidur diluar aja kamu!" Ucap Gia sambil menutup pintu.
Erick menepuk jidatnya sendiri. Susah memang melawan istrinya. Jangankan menang, seri pun sepertinya tidak mungkin.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...