Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Clue -


__ADS_3

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Gia. Ia membuka pesan itu sambil tetap berkutat dengan pekerjaannya. Siang ini, butik milik Gia tampak ramai pengunjung.


"Barang pesananku akan tiba sebentar lagi." Gumam Gia ketika membaca pesan diponselnya.


Gia bergegas untuk menyuruh karyawannya menerima barang yang akan sampai. Setelah itu, Gia ingin kembali ketempatnya dengan segera. Karena sedikit terburu-buru, ia tidak sengaja menabrak seorang pengunjung.


Wanita itu sedikit menatap tak suka kepada Gia walau Gia sudah meminta maaf padanya.


"Sekali lagi maafkan saya, sebagai bentuk permintaan maaf, saya akan memberi potongan harga pada semua barang belanjaan anda pada hari ini" Gia sedikit membungkukkan badannya sopan.


"Baiklah, aku memaafkanmu! Tapi bukan berarti aku mau menerima diskonan, uangku masih cukup bahkan sangat cukup jika hanya untuk membeli butik ini beserta isinya!" Jawab wanita itu dengan nada sombong disertai senyum miringnya.


Gia menggeram mendengar jawaban wanita didepannya ini. Ia mencoba tetap diam dan tersenyum. Malas meladeni ucapannya yang dianggap Gia hanya omong kosong.


"Tunggu, aku seperti mengenalimu!" Ujar wanita itu ketika Gia hendak melangkah pergi.


"Maksudnya?" Gia menatapnya kembali dengan tatapan bingung.


"Maksudku, aku pernah melihatmu!"


"Oh ya? Mungkin kau mau mengatakan bahwa wajahku pasaran, begitu?" Gia memasang wajah sarkas.


Wanita itu menggeleng perlahan, lalu tersenyum ramah.


"Maafkan sikapku jika kau tersinggung. Aku Sandra!" Ia mengulurkan tangan pada Gia.


Gia memutuskan menyambut uluran tangan itu untuk menjabatnya sebentar.


"Aku Gia"


"Hemm.. ternyata benar itu kau!"


"Kau benar-benar mengenalku? Hingga tau namaku?" Gia kembali dengan ekspresi bingung sambil berfikir siapa wanita yang tengah ia temui ini.

__ADS_1


"Apa kau mengenal Arga?" Ucap Sandra lagi.


Gia seperti mengingat sesuatu ketika wanita didepannya menyebutkan nama Arga.


"Dia kan wanita yang mesra bersama Arga di pesta pernikahan Mikha dan Reza" Batin Gia berkata-kata.


"Arga? Maaf aku tidak kenal!" Ucap Gia kemudian. Ia memilih jawaban itu karena ia sudah sepakat dengan Arga tempo lalu, untuk tidak saling mengenal lagi, walau sebenarnya Gia sangat terpukul atas keputusan yang ia ajukan pada Arga.


"Haha, sayang sekali. Berarti aku yang salah. Emm... tapi sepertinya tidak mungkin. Ya sudahlah!" Sandra berlalu pergi tanpa permisi dari hadapan Gia, membuat Gia semakin jengkel dengan sifatnya yang berubah-ubah. Sebentar ramah tapi didetik berikutnya jutek dan sombong.


Sandra menghentikan langkahnya sejenak. Ia melirik Gia yang sepertinya masih berada dibelakangnya.


"Aku pikir kau mengenal Arga, jadi ku rasa kau harus tau jika aku adalah istrinya!" Ujar Sandra di detik berikutnya.


Gia memejamkan mata sejenak untuk mencerna ucapan wanita itu. Ternyata benar jika Arga sudah mempunyai seorang istri. Gia tertunduk. Entah apa yang ada dibenaknya kini. Namun ia segera tersadar ketika mobil barang sudah tiba didepan butiknya untuk mengantar barang pesanannya. Gia pun memutuskan kembali bekerja dan menyibukkan diri.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Mereka berjalan beriringan keluar dari area proyek. Arga, Dion dan Nico masih mengenakan helm safety di area itu. Mereka berbincang-bincang sejenak mengenai progress kedepan hari. Arga cukup salut dan antusias melihat sikap Nico yang profesional dibidangnya. Arga tersenyum puas dengan semua penjelasan Nico.


"Apa Bapak sudah menikah?" Nico berbasa-basi kepada Arga, mencoba menanyai perihal pribadi tapi masih dalam ranah sopan sebagai rekan kerja.


"Aku sudah memiliki istri!" Jawab Arga mantap. Jawabannya itu dibalas senyuman oleh Nico, namun mendapat tatapan aneh dari Dion. Tapi Dion memilih diam dan menyimak saja dua orang yang sepertinya sudah saling mengenal jauh sebelum dimulainya kerjasama diantara mereka.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku?"


Arga mengangguk. " Ya, Apa kau sudah menikah? Maksudku, sudah menikah lagi?" Arga terkekeh dengan pertanyaanya sendiri. Nico pun membalasnya dengan tawa yang sama.


"Aku belum, tapi setelah mendengar kau sudah memiliki istri, aku pastikan aku akan segera menyusul!" Jawab Nico dengan percaya diri.


"Wah, siapa wanita tidak beruntung itu?" Arga memasang senyum mengejeknya.

__ADS_1


Nico mengangkat bahu, lalu melakukan hal yang sama. Ia tersenyum mengejek ke arah Arga sebelum memutuskan menjawab.


"Aku yang cukup beruntung karena akan memilikinya!" Jawab Nico sambil menatap Arga seolah menantangnya.


"Kau yakin? bukannya bersamamu akan membuatnya tidak beruntung?"


"Hahaha, Pak Arga bisa saja. Kami berdua sama-sama beruntung karena kami dipertemukan lagi sekarang dalam kondisi dan status yang sama!"


"Maksudmu?"


"Jangan penasaran Pak, Bapak jangan lupa jika Bapak sudah menikah!" Nico memperingatkan. Jelas Arga menangkap ucapan Nico dan mencoba memahami keadaan dari penjelasan Nico.


Arga tentu mengingat Nico yang sangat terobsesi pada Gia dimasa lalu, Arga sangat yakin jika wanita yang dimaksudkan oleh Nico adalah Gia. Karena kalimat Nico seolah mewanti-wantinya untuk tidak mengganggu mereka, karena Nico tahu Arga sempat dekat dengan Gia.


"Aku tidak bilang bahwa aku sudah menikah!" Kilah Arga.


"Tadi Bapak bilang kan sudah punya istri!" Nico menatap Arga heran, namun didetik berikutnya ia sadar bahwa Arga telah membodohinya.


"Pak, kita boleh saja bernegosiasi soal pekerjaan, bahkan bekerja sama perihal proyek. Tapi urusan yang baru saja kita bahas, aku peringatkan agar Bapak tidak tahu lebih jauh!"


Arga tersenyum miring, benar saja dugaannya, bahwa ini pasti menyangkut Gia. Karena Nico hanya terobsesi pada Gia. Dan Nico takut jika Arga tahu lebih lanjut tentang hal apapun yang menyangkut Gia.


"Memangnya apa yang aku tidak boleh tahu lebih jauh?"


Nico terdiam dan hanya tersenyum kecut.


"Terimakasih banyak Bapak Nico! sudah mau memberi saya clue untuk masalah diantara kita!" Arga menatap lurus ke bola mata milik Nico. Seolah mengerti dan mengetahui maksud ucapan Nico.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2