
"Ma, gimana Papa?" Erick mulai bertanya pada Mama Anna sesampainya dikediaman orangtuanya itu.
Erick melihat mama Anna yang duduk dipinggiran ranjang, tempat Papa Johan sedang terbaring lemah seperti sedang tidur.
Terlihat, Mama Anna masih tak henti-hentinya menangis sedari dia menelepon Erick tadi. Bahkan kini terlihat makin histeris.
Melihat Erick dan Gia yang baru saja tiba, Mama Anna menghambur ke pelukan anak bungsunya itu.
"Erick, papa udah nggak ada. Papa udah ninggalin Mama, ninggalin kita!" Mama Anna berucap sambil beberapa kali menggelengkan kepalanya histeris.
Erick dan Gia tercengang dan tak percaya. Erick sedikit menguncang badan lelaki yang tengah terbujur itu. Sedikit memaksanya untuk bangun.
"Tadi Mama ninggalin papa sebentar ke kamar mandi. Pas balik, Mama pikir papa tidur. Tapi lama-lama entah kenapa Mama tersadar sepertinya Papa bukan tidur." Ucap Mama Anna disela-sela tangisnya.
Gia seolah melihat pemandangan yang sangat memilukan, airmatanya jatuh setetes demi setetes melihat ibu dan anak yang meratapi kepergian seorang lelaki yang berjasa pada hidup mereka.
"Mama berfikir apa jantung Papa kumat, terus mama telpon kamu sama yang lainnya. Mama cek nadinya, tapi--" Ucapan Mama Anna sudah tak disambungnya lagi karena seketika ia menangis dan terisak histeris kembali.
Gia beberapa kali menenangkan Erick dan Mama Anna. Sesekali mengusap pelan punggung suami dan mertuanya itu secara bergantian.
Tak lama, saudara Erick yang lainnya pun sampai. Rina beserta keluarganya, serta Frans dan istrinya. Tak jauh berbeda, reaksi mereka juga pecah dengan isak tangis dan kata-kata merelakan yang mengguncang sanubari.
*****
Prosesi pemakaman langsung digelar hari itu juga. Langit mendung mengiringi duka mendalam bagi keluarga Ravendra.
Erick beserta keluarganya mengiringi kepergian Papa Johan ketempat peraduan terakhirnya. Suasana haru yang terlalu tiba-tiba pun terjadi.
Erick merasa baru saja ia mengecap kebahagiaan kemarin. Bahwa Papa nya itu sudah sepemikiran dengannya, mengingat betapa apiknya mereka berkomplot untuk membuat Mama Anna merestui pernikahan Erick dan Gia.
Erick tak bisa menutupi rasa kesedihannya, mengingat di akhir hidup Papa Johan sangat mengerti akan kondisi dan perasaannya. Serta, Erick mengingat wajah bahagia sang Papa ketika akhirnya Erick menikah beberapa minggu lalu.
Rina dan Frans pun terlarut dalam kesedihan, teringat sering menentang keputusan ayahnya itu. Bahkan terasa baru kemarin keduanya menentang pernikahan Erick didepan Almarhum, tapi mereka bersyukur akhirnya keinginan Papa Johan yang terakhir--melihat Erick menikah--sudah terwujud.
Mama Anna beberapa kali pingsan tak sadarkan diri, melihat jenazah suaminya yang memasuki liang lahat. Ia syok dan sangat sulit menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
Gia dan Indira--istri Frans--turut menguatkan mertua mereka itu. Entah kenapa Mama Anna terasa sangat dekat saat ini dengan Gia. Beberapa kali ia memeluk menantunya itu untuk melepas kesedihannya dan mencari ketenangan dengan berada di pelukan Gia.
Mama Anna mengingat bahwa Gia adalah menantu yang akhirnya direstui oleh suaminya. Ia merasa bersalah karena juga pernah menentang suaminya itu ketika harus memberi restu. Makin menangis mengingat salah dan dosanya pada suami tercintanya.
"Mama sudah ikhlas Pa, setidaknya Papa sudah tidak merasakan sakit lagi". Ucapnya disela-sela menaburkan bunga diatas pusara sang suami.
💠💠💠💠ðŸ’
"Erick, Gia.. mama boleh minta satu permintaan sama kalian berdua?" Mama Anna sedang duduk termenung ditaman belakang rumah saat Erick dan Gia ikut duduk menghampirinya.
Seminggu sudah berlalu semenjak kepergian Papa Johan menghadap sang pencipta. Mama Anna belum terlihat bersemangat walau ia sudah mengatakan ikhlas atas kepergian suaminya, tapi sikapnya masih belum seutuhnya bersemangat seperti dulu.
"Permintaan apa itu, Ma?" Tanya Erick.
"Kalian, pindahlah kerumah ini. Jangan tinggal di Apartment lagi. Mama sendirian disini. Kakak-kakakmu tidak mungkin disini, kamu ngerti kan?"
Erick paham, bahwa saudara-saudaranya punya rumah yang dekat dengan masing-masing kantor mereka. Dan juga mereka tak mungkin meninggalkan aktifitas mereka.
Sedangkan Erick, kantor Erick memang lebih dekat dengan kediaman milik orangtuanya. Dan lagi, Gia belum punya aktifitas jadi lebih bisa menemani mama Anna dirumah sembari mendekatkan diri, pikir Erick.
Gia melihat suaminya yang sedang menatapnya, seolah menunggu keputusannya. Ia tersenyum dan mengelus punggung tangan Erick seraya mengangguk.
Erick mengerti maksud istrinya itu dan menyetujui untuk kembali tinggal dirumah orangtuanya.
"Baiklah ma, kami akan pindah kesini. Tapi, boleh Erick minta sesuatu juga?"
"Katakan apa itu!" Jawab Mama Anna dengan lembut.
"Emm, Tolong anggap Gia sebagai anak mama juga dirumah ini." Jawab Erick sedikit ragu-ragu pada awalnya, takut menyinggung wanita yang masih cantik diusia yang tak lagi muda itu.
Mama Anna mencebik. Lalu tersenyum. Ia melihat wajah Gia yang ada didepannya kini.
Tanpa diduga, wanita itu memeluk Gia.
"Maafkan mama ya nak, selama ini mama mungkin keterlaluan. Sejak kamu menikah dengan Erick, drjak itulah mama sudah resmi menjadi orangtuamu juga." Ucapnya disela-sela pelukannya pada Gia. Ia mengelus punggung Gia dengan begitu lembut dan dengan jiwanya yang ke-ibu-an.
__ADS_1
Gia membalas pelukan mertuanya itu dengan hati yang tenang dan gembira. Ia tak menyangka atas permintaan Erick dan reaksi mama Anna. Sepertinya, sekarang mama Anna memang sudah berubah. Tidak Arrogant seperti dulu.
******
Gia dan Erick sudah pindah kerumah orangtua Erick. Gia mulai membiasakan diri untuk hidup dirumah mertuanya ini.
Lambat laun, Gia mulai akrab dengan mama Anna. Benar kata Erick, perlahan-lahan hati mama Anna yang keras akan mencair. Ibaratkan batu, hati mama Anna tidak bisa dilawan dengan sikap sekeras batu juga. Itu akan membuat keduanya hancur. Tapi, Gia harus menjadi air untuk mengikis kerasnya batu itu. Meski akan memakan waktu yang lama, tapi kenyataannya benar bahwa sekarang mama Anna sudah mulai melunak dan menepati janjinya--menganggap Gia sebagai anak sendiri--
Sedangkan saudara-saudara Erick memang masih bersikap acuh meski tak pernah lagi mengeluarkan kata-kata pamungkas yang menyakitkan hati. Mereka jarang datang karena sibuk, itu menjadi kelegaan tersendiri untuk Gia yang kadang masih harap-harap cemas ketika bertemu dengan mereka.
Belakangan, Erick semakin sering pulang pergi keluar kota dengan urusan pekerjaan. Sedangkan Gia kadang ikut andil mengurus cafe milik Erick yang juga sudah membuka beberapa cabang, yang sering ditinggal sang pemilik tanpa dikunjungi.
Mama Anna yang melihat betapa gigihnya Gia mendampingi dan mendukung anaknya, mulai terbiasa dan mulai menyanyangi Gia dengan tulus. Ditambah lagi, Gia terkadang masih menyempatkan diri dengan menggambar desain gaun disela-sela kegiatannya sehari-hari karena itu adalah hobinya dimasa senggang. Hal itu tentu menarik perhatian Mama Anna.
Mama Anna yang notabene nya mempunyai usaha butik dan dulunya sebagai dosen dibidang seni sangat antusias melihat bakat yang ternyata tak ia sangka dimiliki oleh Gia, menantunya itu.
Gia dan Mama Anna sekarang terlihat kompak membicarakan fashion dan desain. Kadang mereka saling tukar pendapat dan memberi ide-ide baru.
"Bagus ini desainnya! Nanti kita pilih kain yang cocok untuk desain yang ini ya." ucap mama Anna sambil sumringah.
Gia mengangguk setuju. Tak jarang mereka bahkan menghabiskan waktu berdua untuk melihat dan membeli kain bersama-sama.
Tentu saja itu semua membuat Mama Anna yang terlihat murung sepeninggalnya Papa Johan mulai bersemangat kembali. Butiknya yang sudah hampir sebulan ini ditutup, mulai ia buka kembali.
Erick pun sangat senang melihat kedua wanita yang ia cintai dalam keadaan yang sangat kompak. Ia merasa tenang bekerja walau kadang harus meninggalkan istrinya untuk keluar kota.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1