Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Pulang -


__ADS_3

"Ada urusan apa dia kesini?" Tanya Erick to the point pada Gia.


Erick sudah keluar rumah lagi seperginya Arga, ia duduk dikursi teras lalu disusul Gia yang juga ikut duduk disampingnya.


"Hmm Dia, dia cuma melihat keadaanku!" Jawab Gia pelan sambil mengatur posisi duduknya.


"Oh. Keadaanmu begitu penting untuknya?" Sindir Erick.


"Udahlah, enggak usah dibahas. Jangan perbesar masalah kecil, Rick!"


"Ck, masalah kecil kamu bilang? Terus kalau dia punya perasaan lebih sama kamu apa itu bisa dianggap masalah kecil?"


"Ya udah lah, Rick. Memangnya aku bisa mencegah perasaan orang lain!" Ujar Gia sambil membuang muka.


"Sayang, aku tau kamu enggak bisa mencegah perasaan orang. Nggak bisa juga mengatur perasaan orang lain! Tapi paling enggak, kamu jangan kasi dia harapan. Itu namanya kamu menyakiti hati orang!"


"Aku enggak pernah ngasih dia harapan. Dia juga tau kok kalau aku sama kamu ada hubungan!" Jawab Gia nyolot.


Erick menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gia, denger aku! Aku itu laki-laki jadi aku tau kalau dia itu punya rasa sama kamu. Jangankan aku, kamu juga pasti tau lah!"


"Dengan kamu dekat sama dia, secara nggak langsung namanya kamu ngasih harapan sama dia, sayang!" Tambah Erick


"Lah terus? Memangnya aku nggak boleh berteman gitu sama dia?"


"Aku enggak bilang gitu. Aku cuma nggak suka. Kalau kamu hargain perasaan aku. Kamu nggak usah maksain berteman sama dia!" Tegas Erick.


"Aku mungkin bisa menahan rasa ingin tau ku tentang kalian. Tapi aku nggak bisa nahan rasa cemburuku, Gia!


"Buktinya selama ini aku nggak pernah membahasnya lagi kan? Itu artinya, aku menahan rasa ingin tau ku tentang kalian. Tapi kedatangannya kesini tadi, itu cukup mengusik rasa cemburuku!"


"Kok jadi besar ya masalahnya? Bisa enggak kalau jangan dibahas?"


"Terus aja kamu menghindar dari pembahasan ini! Supaya apa? Atau kamu juga ada rasa sama dia?"


"Kalau aku ada rasa sama dia, aku udah nggak mau berjuang sama kamu, rick! Kedatangan kamu kesini pun pasti aku tolak mentah-mentah!" Cecar Gia, lalu ia bangkit dan berdiri dari duduknya.


Gia melangkah melewati Erick, ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya, lalu ia masuk dan menutup pintu rumah begitu saja.


"Oke kalau kamu enggak mau bahas lagi! Besok pagi aku jemput kamu disini." Ujar Erick sedikit berteriak dari luar rumah.


Erick menarik sudut bibirnya menjadi sebuah Smirk.


Erick pun memutuskan untuk pergi tapi langkahnya terhenti diambang teras, mendapati sesosok wanita yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya.


Wanita itu berhenti dan menyapa Erick.


"Kamu Erick kan?" Sapanya.


Erick mengangguk sambil mengingat siapa wanita didepannya ini.


"Aku Lyra, teman satu kontrakannya Gia" ucapnya seraya mengulurkan tangan.


Lyra baru pulang bekerja dan ia mendapati Erick didepan rumah.


"Oh.. iya, aku Erick" jawab Erick sembari menjabat uluran tangan Lyra.


"Udah mau pulang? Atau baru sampai tapi nggak dibukain pintu?" Tanya Lyra sambil mengulumm senyumnya. Lyra sedikit menyindir Erick.


"Udah mau balik!" Jawab Erick cuek.


"Oh yaudah. Aku masuk dulu ya!"


"Oke!"


Erick pun pergi meninggalkan kediaman Gia. Ia memutuskan kembali ke Hotel tempatnya menginap.


Sesampainya dihotel, Erick memutuskan memesan tiket pesawat melalui aplikasi travel, Erick memesan untuknya dan Gia agar bisa pulang ke rumah orangtuanya esok hari.


Setelah memastikan rute penerbangannya telah tersedia, Erick beberapa kali bertukar pesan dengan Gia, untuk melengkapi semua syarat penerbangannya dengan Gia esok hari.


Sebenarnya Erick merasa sangat lelah karena Erick baru sampai di kota ini sore tadi. Ia memutuskan pergi dengan mendadak, karena ia sudah dapat restu dari Papa Johan. Erick berlagak seolah-olah telah diusir Papanya agar Mama Anna tidak banyak komentar tentang kepergiannya dari rumah.


Beberapa waktu lalu, Erick sempat mendengar Mikha membicarakan soal Gia dengan Mama Anna. Mikha menjelaskan bahwa Gia sedang menjalin kerjasama dengannya.


Erick jadi tahu bahwa yang selama ini Gia ceritakan soal rekan bisnisnya adalah Mikha.

__ADS_1


Tapi dari pembicaraan Mikha dan mama Anna, Erick menangkap kesimpulan bahwa mereka akan merencanakan sesuatu.


Terbukti setelah pembicaraan mama Anna dan Mikha waktu itu, Erick menemukan surat undangan yang baru dicetak beberapa lembar sebagai contoh. Yang sepertinya akan digunakan untuk undangan pertunangan Erick dan Mikha.


Padahal pertunangan itu belum jelas tempat dan tanggalnya. Belum ada pembicaraan sejauh itu.


Mendadak, Erick teringat Gia. Ia memutuskan untuk segera Flight dan menemui Gia secara langsung karena Erick yakin Mikha akan melakukan sesuatu pada Gia dan surat undangan yang mencurigakan itu.


Ternyata benar saja dugaan Erick, bahwa undangan itu telah sampai ke tangan Gia hari ini.


Dan meskipun dengan kondisi yang sangat lelah harus kesana-kemari dalam jangka waktu yang sangat singkat, mau tidak mau Erick harus segera menyelesaikan masalahnya. Ia tidak mau semuanya semakin berlarut-larut.


Erick tidak mau Mikha semakin menaruh harapan besar kepadanya. Terutama Erick tidak mau Gia semakin tersakiti nantinya.


💠💠💠💠💠


Siang ini terasa sangat terik dan menyilaukan pandangan.


Pintu kedatangan Bandara terasa padat dan ramai. Banyak orang-orang berlalu lalang untuk pergi dan pulang ke tempat tujuan mereka masing-masing.


Tampak sepasang, lelaki dan wanita keluar dari pintu kedatangan itu. Merasa tidak ada yang akan menjemput di Bandara, Erick dan Gia memutuskan langsung menaiki Taxi kosong yang sudah banyak berjejer didepan pintu masuk Bandara.


Mereka memutuskan untuk ke rumah orangtua Gia lebih dulu. Gia sangat merindukan keluarganya.


Taxi pun bergerak dan perlahan berjalan menuju kediaman orangtua Gia. Ayah Anton dan Ibu Ratih.


Sesampainya didepan rumah yang telah menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya, Gia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.


Mendadak Gia merasa canggung untuk menemui orangtuanya. Ia merasa malu dan penuh dengan rasa bersalah.


Gia menatap Erick disampingnya, tapi mata Erick menyuruhnya untuk yakin dan berani.


Gia pun mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu itu.


...*Tok tok tok*...


Hening.


Gia mengetuk untuk kedua kalinya dengan perasaan gugup yang sama seperti ketukannya yang pertama tadi.


...*Tok tok tok*...


Pintu terbuka, sang empunya rumah tercengang mendapati dua sosok manusia didepan matanya.


"Gia? Gia anakku!" Ucap wanita separuh baya itu dengan nada tidak percaya bercampur haru.


"Ibu, Gia pulang bu!" Gia memeluk ibunya yang sangat ia rindukan. Aroma tubuh ibunya semakin membuatnya memper-erat pelukannya.


"Ibu sehat kan bu? Maafkan kesalahan Gia, bu. Gia banyak dosa, banyak salah sama ibu" ucap Gia sembari menangis sejadi-jadinya dipundak ibunya.


"Sudah nak, masuklah! Ayo masuk!" Jawab Bu Ratih sambil menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.


"Ayo masuk, Rick!" Ucap bu Ratih lagi sembari menatap Erick.


Erick mengangguk patuh dan berjalan mengikuti Gia yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.


"Ayah sama Nissa kemana, Bu?" Tanya Gia.


"Nissa lagi ada ekstrakurikuler disekolahnya. Kalau ayah tadi lagi ke bengkel, paling sebentar lagi udah pulang." jawab ibu.


Gia manggut-manggut tanda mengerti.


"Kalian sudah makan, nak?"


"Udah bu" jawab Gia dan Erick kompak.


"Kalian pasti capek, istirahat lah dulu ya. Ibu buatkan minum dulu!"


"Nggak usah bu!" Lagi-lagi Gia dan Erick menjawab serentak dengan nada yang sama pula.


Bu Ratih tersenyum melihat keduanya.


"Ada yang ingin kalian sampaikan?" Tanya bu Ratih lagi. Kali ini lebih bertanya kepada keduanya bukan hanya Gia atau Erick saja.


Erick berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Saya memang ingin menyampaikan suatu hal bu, tapi apa boleh jika saya mengatakannya hanya pada Ibu saja? Apa tidak lebih baik jika menunggu Oom pulang?" Tanya Erick dengan begitu sopan.

__ADS_1


Bu Ratih sepertinya tahu arah pembicaraan Erick menuju kemana. Ia mengangguk.


"Baiklah, sebaiknya kita tunggu ayah pulang saja ya! Ibu buatkan kalian minum dulu biar lebih rileks"


Bu Ratih lalu beranjak menuju dapur. Gia tertunduk di posisinya. Sedangkan Erick merangkul bahu Gia dan mengusapnya pelan.


"Sabar. Kita lagi usaha!" Kata Erick lembut pada Gia.


Gia pun mengangguk setuju. Sikap Erick menenangkan jiwa Gia yang resah dan gugup karena akan menemui dan berbicara pada ayah Anton.


Suara kendaraan beroda dua itu pun sayup-sayup terdengar ditelinga Gia. Gia sudah hafal suara itu sedari lama. Suara yang sering dinantikan hampir setiap anak yang menunggu ayahnya pulang dari bekerja.


Gia semakin gugup, tapi Erick menggenggam tangannya untuk menguatkan.


Erick yakin dan percaya bahwa ayah Anton akan merestui mereka. Karena sejak permintaan maaf Erick dulu dan sejak Erick pun telah menemukan Gia, hubungan Erick dan keluarga Gia sudah sangat membaik.


Ayah Anton terdengar memasuki rumah.


"Bu, ayah sudah pul--" kata-kata ayah Anton terputus begitu melihat Gia dan Erick yang ada didalam rumah.


Gia berlari kecil menuju ayahnya diambang pintu. Gia meringkuk dan bersujud di kaki ayahnya.


"Ayah, maafkan Gia ayah! Gia telah banyak mengecewakan ayah! Gia membuat beban pikiran ayah semakin banyak dan Gia juga telah mencoreng nama baik ayah!" Ucap Gia menangis dikaki ayahnya.


Ayah anton memegang bahu Gia, mengajaknya untuk berdiri, lalu memeluk tubuh anaknya dengan penuh haru dan air mata.


"Ayah sudah memaafkan Gia ! Itu kesalahan ayah nak, tidak bisa mendidikmu lebih baik!" Ucap Ayah Anton dengan berlinang air mata.


Melihat ayahnya yang selama ini tak pernah mengeluarkan air mata, serta ucapan ayahnya yang malah menyalahkan diri sendiri, Gia semakin merasa berdosa.


"Bukan ayah, ini bukan salah ayah. Gia yang tidak tau menjaga kehormatan ayah. Gia minta maaf ayah!" Gia terisak-isak didepan ayahnya.


Erick memandangi keadaan pilu itu didepan matanya. Ia merasa sangat berdosa dan bersalah karena telah menjadi perusak anak perempuan yang paling berharga untuk seorang ayah.


Erick ikut bersimpuh dikaki Ayah Gia. Memohon dan meminta maaf.


"Mungkin ini bukan permintaan maaf saya yang pertama, Oom. Tapi saya tetap akan meminta maaf lagi kepada Oom karena telah banyak mengecewakan dan saya akan bertanggung jawab atas hidup Gia, Oom" ucap Erick dengan yakin dan mantap.


Bu Ratih yang sudah dari tadi siap membuatkan minuman pun terpaku melihat pemandangan didepannya. Ia bagai terhipnotis dengan nampan yang berisi air minum masih berada ditangannya. Ia tak beranjak dari posisinya.


"Sudah-sudah! Ayo kita duduk dulu, nak! Ucap ayah Anton sembari merangkul dan menepuk-nepuk pelan bahu Erick.


Erick dan Gia pun beranjak lalu duduk, kemudian melanjutkan pembahasan tentang rencana mereka.


Erick memulai membicarakan perihal restu. Dan seperti dugaannya Ayah Anton dan ibu Ratih menerima dengan baik niat Erick untuk menikahi Gia.


Erick juga menceritakan perihal orangtuanya, Papa Johan telah memberi restu meskipun mama Anna tetap enggan. Tapi itu adalah sebuah kemajuan menurut Erick.


Erick pun menyatakan akan kembali meminta restu pada Mama Anna untuk terakhir kalinya.


Dan apapun keputusan mama Anna itu tidak akan merubah keputusan Erick untuk menikahi Gia.


"Kalau Papa kamu sudah merestui, itu adalah awal yang baik, nak. Tapi alangkah lebih baik mama kamu juga memberi restu!" Ucap Ayah Anton bijak.


"Pintalah restu mamamu sekali lagi, apabila beliau belum juga bisa memberikan restu. Semua ayah serahkan kepada kalian, apa kalian tetap mau melanjutkan atau tidak!" Sambung ayah Gia lagi.


"Baiklah, Oom. Kami memang tetap akan menemui mama saya untuk membahas hal ini. tapi apapun keputusannya, saya punya pendirian untuk tetap bertanggung jawab atas Gia, Oom!" Jelas Erick.


Ayah Anton dan Bu Ratih menyerahkan semua keputusan kembali kepada Erick dan Gia. Mereka juga mendoakan Erick dan Gia akan mendapatkan yang terbaik.


.


.


.


.


Bersambung...


Hallo, jangan Lupa Vote, Like dan tinggalkan komentar kalian ya...


buat yang punya poin lebih boleh dong dikasih😂


balik ke halaman depan novel ini, trus tekan bintangnya ya..🙏


terimakasih yang sudah baca sampai disini. dukung terus karya aku ya biar aku semangat untuk Up tiap hari.❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2