
Layar ponsel itu menggelap, seseorang yang menatapnya seakan tak fokus lagi dengan benda pipih ditangannya itu, hingga suara dering ponselnya kembali terdengar.
Gia menarik nafas sejenak, menghentikan aktifitas melamunnya yang sempat terjadi, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menjawab panggilan yang masuk itu. Panggilan itu dari Arga. Beberapa kali nomor yang awalnya tak dikenali Gia itu meneleponnya. Gia juga tak tahu Arga mendapat nomor barunya darimana. Tapi saat Gia menjawab dipanggilan sebelumnya, Gia sudah hafal dengan suara khas milik lelaki itu dan spontan memutus panggilan karena masih merasa kesal pada Arga.
"Ada apa?" Tanya Gia dengan malas. Gia kesal tapi dia juga bingung kenapa juga ia harus kesal pada Arga. Ia hanya malas meladeni Arga yang telah membohonginya perihal statusnya dengan Sandra.
"Kau masih marah?"
"Siapa bilang aku marah? Biasa saja."
"Serius? Aku pikir kau marah karena cemburu dengan Sandra." Arga terkekeh diujung kalimatnya.
"Udahlah, Ga! Kalau nggak ada pembicaraan penting lebih baik panggilan ini diakhiri." Gia menjadi kesal karena Arga kembali mengungkit hal itu. Apa benar Gia cemburu? Gia tak mau ambil pusing dengan perasaan aneh itu saat ini.
"Tunggu! Jangan tutup teleponnya. Ada yang ingin berbicara denganmu!"
"Siapa?"
"Aku."
"Mulai lagi! Aku tutup telp--"
"Tunggu, oke aku serius! Benar-benar ada yang ingin bicara padamu!"
"Baiklah, aku akan mendengarkan!" Jawab Gia pada akhirnya. Menyerah dan mendengarkan mungkin akan lebih baik daripada berdebat dengan Arga.
"Gia.." Terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
Gia mengerjap-ngerjap sebentar untuk menyadari siapa sosok yang tengah memanggil namanya diseberang sana.
"Apa kamu masih ingat dengan wanita tua ini?" Sapanya lagi.
"Bu Dewi...apa kabar, Bu?" Gia hampir memekik untuk menyapa wanita diseberang sana. Ia mengingat sejenak pertemuan pertamanya dengan wanita setengah baya yang baik hati itu.
"Kabar ibu baik dan sehat. Bagaimana dengan kamu, Gia?"
"Gia juga sehat, Bu. Gia senang bisa mendengar ibu sehat dan baik-baik saja"
"Yah, Kapan ya kita bisa bertemu lagi?"
"Apa sekarang ibu berada di Jakarta? Gia akan menemui ibu hari ini!" Jawab Gia dengan girang.
"Ibu masih dirumah yang lama, kebetulan Arga sedang kesini. Sayang sekali ya kita belum bisa bertemu. Tapi--"
["Oh Arga berada disana?"]Batin Gia bergumam, pantas saja ia tak terlihat setelah hari terakhir pertemuan mereka. Ah, apa Gia merindukan lelaki itu?
"Tapi kenapa, bu?" Tanya Gia, mencoba kembali fokus ke pembicaraannya dengan Bu Dewi.
"Tapi Ibu akan ke Jakarta karena Arga akan menikah." Sang Ibu menatap anaknya yang sedang mendengarkan pembicaraan itu. Arga tampak terkejut dan bingung sendiri.
"Apa Arga akan menikah, Bu?" Tanya Gia dengan lirih. Nada pertanyaan itu juga membuat Bu Dewi dan Arga saling berpandangan satu sama lain diseberang sana, karena ada nada kecewa yang tertangkap oleh kedua orang itu.
"Ibu memintanya menikah, Gia. Kamu tau kan Arga anak ibu satu-satunya."
__ADS_1
"Hehehe iya, Bu. Semoga acaranya berjalan lancar." Gia sebal sendiri dengan kata-katanya itu. Terdengar tidak tulus. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya diatas meja kerjanya.
"Tapi bisakah kita bertemu dulu? Ibu ingin bertemu denganmu."
Akhirnya mereka berdua mrencanakan sebuah pertemuan. Ketika Arga kembali ke Jakarta nanti, Bu Dewi akan ikut serta untuk bisa bertemu dengan Gia. Gia sendiri merasa dihargai, tapi ada rasa tak enak hati karena Bu Dewi harus jauh-jauh datang hanya untuk bertemu dengannya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Tiga hari kemudian ..
Gia melangkahkan kaki di halaman depan kampusnya. Hari ini ia merasa sangat lelah tapi mau tak mau harus ke kampus karena ada satu mata kuliah yang harus ia ikuti.
Gia menatap jam dipergelangan tangannya. Belum terlalu larut, ini masih pukul delapan malam. Gia mengeluh karena tak kunjung mendapatkan driver melalui aplikasi ojek online-nya. Andai saja mobil miliknya tidak harus di servis hari ini, mungkin Gia tidak akan merasakan hal seperti ini lagi. Gia jadi terpikir ingin mengganti mobil saja jika harus sering rusak tiba-tiba seperti mobil miliknya.
Suara klakson mobil menyadarkan Gia yang sedang khitmad menatap layar ponselnya. Gia mendongak untuk melihat seseorang yang tengah keluar dari kursi kemudi dan sedang berjalan menghampirinya.
"Aku dengar mobilmu masuk bengkel lagi, ayo ku antar pulang!"
Gia menghembuskan nafas dengan gusar. Nico selalu tahu gerak-geriknya belakangan ini. Bahkan, ia tahu jam kepulangan Gia dari kampus.
"Sudahlah, jangan merengut begitu! Aku kebetulan lewat dan melihatmu duduk disitu!" Nico menyunggingkan senyumnya yang memuakkan dipandangan mata Gia. Demi apapun, Gia ingin melarikan diri saja dari hadapan lelaki ini. Dan apa tadi dia bilang? Kebetulan lewat? Itu tidak mungkin.
"Aku sudah memesan Taxi Online." Gia menunjukkan ponsel kehadapan Nico, karena ia tahu Nico tak dapat melihat jelas jika sebenarnya dirinya belum sukses memesan Taxi.
"Cancel saja!" Jawab Nico enteng.
"Mana bisa gitu, sebentar lagi taxinya sampai!" Gia melihat-lihat kondisi jalanan seolah-olah sedang menunggu Taxi. Hingga sebuah sedan mewah terlihat menghampiri keduanya. Tentu saja Gia tahu mobil ini milik siapa. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gia hampir memekik kesenangan melihat mobil itu. Ia buru-buru menghampiri mobil itu.
"Sudah ya, Taxi ku sudah datang!" ucap Gia, yang membuat Nico terperangah tak percaya. Gia langsung masuk kedalam mobil itu sebelum sang empunya keluar untuk menghampiri dirinya dan Nico.
Gia memandang orang yang duduk dibalik kemudi dengan cengiran, jauh didalam lubuk hatinya ia amat berterima kasih atas kedatangan orang ini yang tepat pada waktunya.
"Mau apa dia disana? Mau jemput kamu? Belum nyerah juga?" Suara lelaki itu menuntut Gia untuk menjawab.
"Katanya kebetulan lewat!"
"Ck! Modus!" Arga mendengus sebal. Tadi dia ingin menghampiri Nico tapi kalah cepat karena Gia sudah lebih dulu masuk kedalam mobilnya tanpa ia pinta.
"Kamu tau aku mau jemput kamu? Semangat banget masuk mobilnya?" Arga tersenyum tipis sambil tetap fokus mengemudi.
"Abisnya kamu mau ngapain lagi ke kampus kalo bukan mau jemput aku?" Jawab Gia dengan percaya diri. Sebenarnya ia malu mengucapkan itu, tapi mana mungkin ia jujur pada Arga jika ia mau menghindari Nico dan mengatakan jika mobil Arga adalah tameng seolah-olah adalah Taxi online-nya.
Arga menggeleng sambil mengulumm senyumnya.
"Halah, pasti kamu mau menghindar dari Nico kan?"
Gia membuang pandangan ke arah jendela mobil disampingnya.
"Lagian siapa juga yang bilang mau jemput kamu?" Sambung Arga lagi.
"Terus kamu mau ngapain tadi? Yaudah aku turun aja disini!" Gia seolah ingin beranjak dari duduknya.
"Hah? Ya jangan lah! Ini udah arah rumah kamu kok!"
__ADS_1
"Ya terus kamu ngapain ke kampus tadi? Apa mau ketemu pacarmu?"
"Pacar? Ya enggaklah. itu..."
"Itu apa?"
"Itu, mau ketemu calon istri." Arga nyengir memperlihatkan deretan Giginya yang rapi.
"Hah?" Gia menoleh ke arah Arga lagi seolah meminta penjelasan. Tapi, Arga dengan santainya malah mengikuti irama lagu dari audio mobil yang terdengar nyaring. Gia merengut dan kesal sendiri dibuat lelaki itu.
"Aku juga tadi masuk mobil kamu nggak sadar, aku pikir tadi taxi online yang aku pesan!" Jawab Gia sedikit jujur dan sedikit bohong. Ia sadar betul ini mobil Arga.
"What? Kamu.." Arga ikut kesal mendengar alasan Gia.
"Apa?" Gia seolah menantang Arga yang tengah kesal dibuatnya.
Arga yang melihat reaksi Gia semakin gemas melihat tingkah wanita ini.
"Awww!" Gia memekik kesakitan ketika Arga dengan tega menjewer kupingnya, Arga terkekeh puas.
"Makanya jangan cari alasan lagi. Bilang aja kamu senang kan aku datang ke kampus kamu!"
Gia masih memegangi kupingnya sambil berlagak meringis kesakitan.
"Udah deh, nggak sakit juga kan? nggak kuat juga kok aku jewernya!"
"Terserah!" Satu kata ampuh yang membuat Arga mencebik.
"Keluar deh kata-kata andalan kaum wanita. Iya iya maaf deh maaf!"
"Hmm"
"Kamu kenapa sih? Kan aku udah minta maaf, jangan marah lagi, ya ya ya?" Bujuk Arga.
Gia sendiri tak tahu sebab awal dia marah pada Arga. Apa karena Arga bilang ingin bertemu calon istrinya yang berada di kampus yang sama dengan Gia. Ya mungkinlah-batin Gia.
"Kamu marah karena aku mau ketemu calon istriku ya?" Tanya Arga seolah bisa membaca pikiran Gia.
Gia diam bergeming.
"Kalau diam berarti iya. Kamu cemburu kan?"
Gia tetap diam tanpa kata, matanya memandang kearah jalanan.
"Diam lagi berarti fix ya kamu cemburu! Lagian calon istri aku kan kamu. Gimana caranya coba cemburu sama diri sendiri?" Ungkap Arga sambil menyeringai penuh Arti.
"Hah? Maksudnya?" Gia terkesiap benar-benar tak mengerti maksud Arga.
Arga menarik nafas dengan gusar.
"Kamu ini nggak ngerti atau pura-pura nggak ingat? Kan tempo hari aku sudah ngajakin kamu buat nikah? Kamu lupa?"
Seketika itu juga Gia bingung dan salah tingkah. Ia menautkan jari jemarinya untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menjalar. Perasaannya tak karuan, dan ia berharap agar segera sampai ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung...