
Dion memasuki ruangan Arga dengan tergesa. Arga menatapnya heran namun berusaha mengabaikan, ia tetap berkutat dengan pekerjaannya didepan laptop-sok sibuk-tanpa menoleh sedikitpun pada sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu.
"Nih!" Dion meletakkan sebuah amplop coklat keatas meja kerja Arga.
"Apaan ini?"
"Coba lo buka aja!"
Arga menghentikan sejenak aktifitasnya dan beralih pada amplop itu, ia membuka dan terbelalak melihat foto-foto yang ada dihadapannya kini.
"Gue nggak habis pikir lo kelewatan soal ini!" ucap Dion lagi.
"Lo harusnya buka amplop itu dari satu setengah tahun yang lalu, Bro! dan saat lo buka, lo harusnya segera balik dari Jerman saat itu juga! Dengar, Ga.. lo kehilangan banyak moment!" Dion menepuk-nepuk bahu Arga sebagai bentuk simpatinya.
Arga memejamkan mata sejenak sebelum bersuara.
"Lo harusnya ngasi tau gue, Yon!" Suara Arga melemah. Ingin marah pun seolah tak bisa.
"Gue inget pada saat itu gue coba hubungin lo, tapi elo nggak mau bahas soal Gia, lo bilang mau ngelupain dia. Ya gue hargai itu, bro!" Jawab Dion sambil tersenyum miring.
"Saat lo balik kesini dan kondisi hati lo masih sama seperti dua tahun lalu, gue baru sadar, kayaknya lo pasti belum tau soal ini!" Sambung Dion lagi.
"Yon, apapun alasan gue harusnya lo nggak nutupin ini dari gue!" Suara Aega mulai naik. Wajahnya memerah.
"Oke, gue salah. Gue pikir lo emang nggak mau tau lagi tentang Gia, sejak lo nyuruh orang-orang lo berhenti cari tahu tentang dia! " Ucap Dion dengan santai.
"Dan, sejujurnya gue malah mikir lo udah tau hal ini sebelum gue ngasih tau lo!"
"Darimana juga gue bisa tau kalo nggak dari lo!" Arga mulai emosi.
__ADS_1
"Ya teman-teman lo kan banyak, atau lo kan selalu stalking instagram Gia!" Lagi-lagi jawaban Dion membuat Arga mendengus.
"Lo gantiin gue meeting hari ini! Gue harus ketemu Gia!" Arga beranjak dari posisinya sambil membawa amplop itu dan pernyataannya diangguki oleh Dion.
"Lo nggak ngucapin makasih sama gue? gue nyari amplop itu sampe nyuruh pelayan lo di Jerman buat kirimin balik kesini!" Ucapan Dion menghentikan langkah Arga yang sudah berada diambang pintu.
Arga menoleh ke arahnya.
"Lo gue maafin. Nanti gaji lo gue potong karena gue tau hal ini terlalu telat!" Jawab Arga sambil tersenyum miring.
Dion terbengong mendengar jawaban Arga. Dion bukan meminta Arga memaafkannya, Dion menuntut ucapan terima kasih dari Arga. Bukannya mendapat kata terima kasih malah Arga akan memotong gajinya. Bukankah salah Arga sendiri tak membuka amplop itu dari dulu? Amplop itu bahkan sudah ikut dipaketkannya ke Jerman agar di lihat oleh Arga. Dion juga sudah mengiriminya email tentang hal ini waktu Arga berada di Jerman. Tapi kan Arga sendiri yang bilang tak mau tahu lagi urusan mengenai Gia. Dia yang mati-matian menolak dan berusaha melupakan Gia sampai akhirnya Dion menyerah untuk memberitahunya.
"Bukankah dulu aku sudah memaksanya membuka email-ku? Dia sendiri yang tidak mau tau lagi!" Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa dibodohi dan selalu disalahkan oleh Arga.
"Apa yang buat gue betah bertahun-tahun disamping lo, Ga? Kalo nggak mikir lo itu sahabat gue, udah gue terjang lo, Ga!" Dion merutuki Arga sambil bergumam-gumam sendiri, padahal Arga sudah keluar dari ruangannya beberapa menit lalu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Arga memasuki butik setelah merapikan Jas yang ia kenakan.
Beberapa pasang mata memperhatikan dan ada juga yang saling berbisik melihat penampilan dan perawakan pengusaha muda yang bisa mencuci mata ini. Arga sudah biasa dengan tatapan seperti itu, ia berusaha mengabaikannya.
"Selamat siang, apa saya bisa bertemu dengan pemilik butik ini?" Tanya Arga ramah pada seorang pekerja wanita dibutik. Wanita itu membalas Arga dengan tatapan tak kalah ramah dan senyuman dibibirnya.
"Maaf Pak, Ibu baru saja keluar." Jawab pekerja wanita itu sambil malu-malu. Wajahnya memerah menatap Arga.
"Kira-kira kemana dia?" Selidik Arga lagi.
"Biasanya Ibu makan siang di Cafe depan, Pak!"
__ADS_1
"Makan siang?" Arga melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang.
Wanita didepannya mengangguk sambil menyelipkan anak rambutnya ke telinga. Malu-malu yang tak henti-hentinya. Arga cuek saja dan beranjak setelah undur diri dengan bersikap ramah.
Arga ingin memasuki mobilnya, namun urung. Ia malah berjalan kaki dan menyebrang jalan untuk mencapai cafe yang dimaksudkan pekerja wanita tadi.
Setelah sampai di Cafe, Arga memindai semua pengunjung berharap ada seseorang yang ia cari sedang duduk disana. Lagi-lagi selalu saja ia menjadi pusat perhatian. Arga menarik nafas panjang setelah menyadari keberadaan Gia, satu-satunya wanita yang tak sadar akan kehadirannya di cafe ini. Malah sibuk dengan gawainya sambil mengaduk-aduk minumannya sendiri. Tapi matanya fokus ke benda pipih itu.
Arga berdehem, menyadarkan Gia yang sedang berselancar didunia maya. Gia menoleh kearahnya dan reaksinya menunjukkan seperti sedikit terkejut.
Arga duduk dihadapan Gia walau wanita itu belum mempersilahkan, dan lagi belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya.
"Aku, menuntut penjelasanmu!" Arga mengetuk-ngetuk amplop yang ia bawa dan sudah ia letakkan di meja-dihadapan Gia. Gia menatapnya heran.
"Kenapa sih? datang-datang selalu minta penjelasan!" Batin Gia. Gia melirik amplop didepannya, dan seolah bertanya pada Arga 'Apa ini?'
"Bukalah!" Ucap Arga seolah tahu isi kepala Gia yang bingung dengan tingkahnya.
Gia membuka Amplop dengan santai, namun sedetik kemudian wajahnya berubah muram dan matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku terlalu terlambat soal ini, tapi aku turut berduka cita." Ucap Arga, ia memegang tangan Gia yang terasa melemah dan seketika itu juga Gia menangis ketika membuka lembar-lembar foto yang ada dihadapannya.
"Aku sudah bilang jangan minta penjelasan soal ini!" Gia menarik tangannya dan menutup wajahnya dibalik kedua telapak tangannya itu. Arga beranjak dan duduk disamping Gia. Ia merangkul tubuh Gia yang melemah, Gia semakin terisak.
"Aku minta maaf jika membuka luka lamamu, aku hanya menyesal tidak berada disampingmu saat itu, Gia!" Suara Arga melembut dan ingin sekali ia mengobati luka dihati Gia. Ia mengelus rambut wanita itu dengan perasaan sayang.
"Ga, aku sudah mengiklaskannya." Jawab Gia dengan sesenggukan.
"Tapi rasanya begitu sulit. Erick sudah meninggalkan aku untuk selamanya." Gia menangis sejadi-jadinya di dada Arga.
__ADS_1
Arga merasa risih dengan tatapan orang-orang disekeliling. Ia meminta Gia tenang dan mengajak Gia ke mobilnya. Arga mengeluarkan dua lembar uang merah dari dompetnya dan ia letakkan diatas meja cafe, lalu ia membawa Gia meninggalkan Cafe itu.
Bersambung...