
"Terus? Kalau kamu sama mantan tunangan kamu itu gimana?"
Arga pun menceritakan pada Lyra perihal Citra, mantan tunangan Arga yang kecelakaan bersama selingkuhannya, lalu meninggal dunia. Persis seperti yang pernah ia ceritakan pada Gia.
"Sorry ya, aku jadi ngingatin masa-masa buruk kamu waktu ditinggal Citra. Kayaknya kamu sama Ivan nggak sebelas dua belas deh, Tapi nasib kamu lebih menyedihkan!" Ungkap Lyra. Wajah Lyra berubah jadi prihatin.
Arga mengangkat bahu. Lalu ia mencoba tersenyum meski senyumannya amat dipaksakan.
"Trus Ivan kenal sama kamu karena Citra temannya Mikha?"
Arga menggeleng.
"Ivan tahu aku dengan sendirinya, dia selalu mencari tahu latar belakang orang-orang yang ingin dia ketahui."
"Benarkah? Kenapa?"
Arga diam, mobil Arga berhenti didepan sebuah rumah dengan desain minimalist tapi kelihatan cukup besar. Ya rumah itu adalah rumah yang dulu pernah Lyra tinggali.
"Udah nyampek! Nggak usah dilanjutin bahas yang tadi! Ayo!" Ujar Arga.
"Isss curang ya. Aku udah cerita panjang lebar tentang Ivan juga!"
Arga mengacuhkan Lyra yang mengomelinya. Ia memutuskan turun dari mobil. Lyra pun mengikuti Arga untuk menuruni mobil.
Dalam hati Lyra terkekeh miris melihat keberadaannya sekarang.
"Nggak nyangka aku kerumah ini lagi dengan status yang berbeda." Batin Lyra.
Arga tampak gelisah, ia ingin benar-benar memastikan perihal Gia yang ada pada Nico.
Arga mengetuk-ngetuk pintu rumah Nico dengan kuat dan terdengar tidak sabaran.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu itu dibuka dari dalam.
Tampaklah sosok Nico sedang mengucek-ngucek matanya.
Tak mau membuang waktu, Arga langsung melakukan niatnya pada Nico.
"Mana Gia?" Ujar Arga tanpa basa-basi.
"Kalian? Mau apa kerumahku?" Jawab Nico ketika menyadari bahwa yang datang adalah Lyra dan seseorang yang pernah menghadiahi-nya pukulan tempo lalu.
"Dimana Gia, mas Nico?" Tanya Lyra dengan nada tak kalah serius dari Arga tadi.
"Tunggu, tunggu! Kalian mencari Gia padaku? Di jam segini?" Nico balik bertanya. Tampak kebingungan dari matanya.
"Jadi kamu nggak tau dimana Gia mas? Dia tidak bersamamu?" Tanya Lyra lagi.
Nico menggeleng heran.
"Kalau Gia bersamaku, mana mungkin aku berada disini pasti ku bawa dia pergi jauh! Karena kalau disini pasti dia akan berubah pikiran!" Jawab Nico dengan khasnya yang selalu percaya diri.
Arga berdecak. Ia menarik kerah baju Nico.
"Lo jangan main-main! Lo tau kan Gia dimana? Lo jangan sembunyiin dia!"
Nico menepis tangan Arga, sekarang Nico nampak panik.
"Jadi beneran Gia nggak ada sama kalian? Nggak ada dirumah gitu?" Nico malah balik bertanya.
Lyra dan Arga mengangguk cepat.
"Sial! Kemana Gia sebenarnya!" Ucap Arga setelah sadar bahwa Nico memang tak menyembunyikan Gia.
"Gimana, Ga? Kemana lagi kita mau cari Gia?" Tanya Lyra.
Arga terduduk dikursi teras rumah Nico. Ia menggeleng lemah menjawab pertanyaan Lyra. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia benar-benar gusar saat ini.
Nico yang awalnya merasa terkejut. Sekarang mulai menampakkan wajah panik juga. Terdapat kekhawatiran pada raut wajahnya.
"Apa kalian bertengkar, Ra? Mungkin Gia menghindar darimu, Ra!" Ujar Nico malah menuduh Lyra.
Lyra memelototi Nico. Begitupun Arga yang sekarang menatap Nico lagi karena pernyataannya barusan.
"Gila kamu mas! Kamu liat kan tadi pagi dia sama aku baik-baik aja! Setelah kepergian Gia pagi tadi itulah dia tak kunjung pulang kerumah hingga sekarang!" Ujar Lyra marah.
Nico memijat pelipisnya. Pening disekujur kepalanya mengingat Gia. Gia yang ia kenal adalah Gia yang ceroboh.
"Kenapa aku jadi takut terjadi sesuatu padanya, Ra! Kamu tau kan gimana cerobohnya dia. Bahkan dia dulu pernah dirampok!" Ujar Nico.
Lyra mengangguk setuju sementara Arga terkejut dengan pernyataan Nico.
"Ternyata dia tahu banyak tentang Gia!" Batin Arga berkata-kata.
Mereka bertiga sekarang hanya bisa terdiam dengan pikiran masing-masing. Entah mau kemana lagi mencari Gia. Rasanya sudah buntu tanpa tujuan.
Lyra dan Arga memutuskan untuk pulang saja karena mereka pikir lebih baik melihat dirumah dulu, mungkin saja Gia sudah pulang sekarang.
Meski selalu ada kemungkinan-kemungkinan yang lain, tapi mereka sepakat untuk mengakhiri pencarian malam ini sampai disini saja. Karena hari sudah beranjak subuh.
"Kalau sampai besok Gia belum juga pulang. Kita lapor polisi saja!" Ujar Arga kemudian.
"Tunggu! Apa mungkin Gia bersama dengan lelaki itu?" Tanya Nico menerka-nerka.
"Siapa?" Jawab Lyra dan Arga kompak.
"Yang akan menikahinya! Aku tidak tahu namanya!"
Arga memandang Lyra ingin tau juga jawaban dari mulut Lyra.
"Maksudnya Erick? Tidak mungkin! Erick tidak dikota ini. Gia kesini hanya mau menyelesaikan urusan dengan Mikha saja!"
"Siapa Mikha?" Lagi lagi Nico yang bertanya pada Lyra.
__ADS_1
Lyra menjelaskan pada Nico perihal kerjasama antara Gia dan Mikha. Serta mereka akan segera putus kontrak kerjasama.
"Aku rasa, Gia ada bersama Mikha!" Ujar Nico kemudian.
"Nggak mungkin, Mas! Tadi kami sudah mencarinya kesana!"
"Trus kalian bertemu dengan Mikha disana?"
Keduanya menggeleng.
"Sudah jelas Gia sedang bersama Mikha! Kamu bilang tadi mereka sempat bertengkar kan karena masalah putus kontrak? Pasti Mikha yang ada dibalik hilangnya Gia." Ujar Nico.
Lyra tiba-tiba mengingat ucapan Gia tempo hari.
"Gia sempat cerita sih bahwa mereka bukan cuma bertengkar soal putus kontrak tapi--"
"Tapi apa Ra?" Tanya Arga yang kembali tidak sabaran.
"Astaga! Aku ingat sekarang! Ya Tuhan, apa Mikha mau berbuat nekat?" Lyra menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?" Kini Nico dan Arga satu suara.
"Aku ingat, sepertinya Mikha menyukai Erick dan tak terima kenyataan bahwa Gia dan Erick akan menikah! Itulah alasan utamanya memutuskan kontrak sepihak. Gia pernah cerita sama aku! Tapi aku nggak nyangka kalau jadi seperti ini." Jelas Lyra.
Arga terperangah. Sedangkan Nico mengangguk seolah mengerti keadaannya sekarang.
"Baiklah, Mikha nggak mungkin menyakiti Gia lebih jauh. Aku yakin. Kita pulang saja, Ra! Besok kita kerumah Mikha lagi!" Ujar Arga.
Lyra ingin protes karena ia urung bertemu ivan lagi. Tapi ia lebih mengutamakan kondisi Gia. Akhirnya ia mengikuti saja keinginan Arga.
Nico tampak antusias, ia mengajukan diri untuk ikut mencari Gia. Tapi jelas saja keinginannya itu ditolak mentah-mentah oleh Arga dan Lyra.
Nico pun pasrah. Tapi ia menantikan kabar baik dari Lyra dan Arga perihal penemuan Gia.
Setelah itu, Arga dan Lyra benar-benar memutuskan untuk pulang setelah tadi tertunda.
💠💠💠💠ðŸ’
Di lain tempat, Gia mulai tersadar dari efek obat biusnya. Setelah beberapa saat menetralkan pikiran dan penglihatannya, Gia menyadari bahwa ia sekarang sedang berada dalam sebuah kamar.
Gia mencoba bergerak, tapi sulit. Ia melihat tangannya yang diikat menggunakan tali.
Gia meneteskan airmatanya, mengingat-ingat siapa yang tega menyekapnya dikamar asing ini.
Gia berteriak-teriak tapi sepertinya ruangan ini kedap suara.
Gia ingin bangkit dan beranjak tapi lagi-lagi ia menyadari itu adalah hal mustahil karena kakinya juga dalam kondisi terikat.
Tak lama Gia mendengar suara seseorang yang membuka pintu kamarnya.
Tampaklah sosok lelaki dengan kepala plontos dan berbadan tambun, Gia tak mengenalnya. Lelaki itu menyeringai pada Gia.
"Siapa kau? Kenapa kau menyekapku disini?" Tanya Gia dengan nada marah.
"Mari makan mbak!" Pinta wanita itu sembari ingin menyuapi Gia makan.
"Aku bisa sendiri. Lepaskan saja ikatan pada tanganku!" Ujar Gia.
Wanita itu melirik kearah lelaki yang masih berdiri diambang pintu sambil memperhatikan Gia.
Wanita itu lalu menunduk, menunjukkan bahwa ia takut dan sedang berada dibawah tekanan.
Gia mengerti bahwa wanita itu hanya orang suruhan. Gia mendengus sebal.
"Aku mau pergi dari sini! Lepaskan aku!" Ujar Gia sambil menjerit meronta-ronta.
Gia tak menggubris lagi wanita muda yang ada didepannya ini. Wanita itu terpaku tetap diposisinya.
Gia kembali menangis dan menjerit-jerit minta dilepaskan.
Wanita itu tampak melirik Gia dengan iba dan rasa kasihan terpancar dimatanya ketika melihat Gia. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena rasa takutnya lebih dominan.
"Jika kau tidak mau makan ya sudah! Mungkin kau akan mati kelaparan disini!" Kata lelaki itu kasar pada Gia.
"Keluar kau!" Perintahnya pada wanita muda itu.
Seperginya wanita muda itu dari dalam kamar yang ditempati Gia, lelaki itu pun ikut beranjak dan mengunci Gia dari luar kamar.
Gia meratapi nasibnya kini. Gia tak tahu harus bagaimana sekarang.
Gia menangis didalam kesendiriannya dikamar yang sangat asing. Bahkan ia tak tahu sekarang ia berada dimana.
"Siapa yang tega membuatku begini?" Lirih Gia dalam hati.
Gia tertidur dalam tangisnya yang sudah berlarut-larut.
💠💠💠💠ðŸ’
Pagi ini Ivan memutuskan menyusul Mikha yang katanya sedang berada di Villa untuk menenangkan diri.
Ivan merasa ada yang aneh dari Mikha, tidak biasanya Mikha pergi mendadak tanpa persiapan, apalagi adiknya itu selalu mengutamakan penampilan.
Ivan sudah berada dikamar Mikha dan tak melihat tanda-tanda adiknya itu membawa barang atau pakaian untuk berlibur.
Seharusnya ia membawa barang-barangnya minimal sedikit pakaian ganti. Mengingat di Villa hanya ada pakaian seadanya dan pasti Mikha sudah tak minat untuk mengenakannya.
"Apa dia mau membeli baju baru untuk dikenakannya selama di Villa?" Gumam Ivan pada dirinya sendiri sembari keluar dari kamar Mikha.
Ivan teringat kedatangan Arga tadi malam yang mencari wanita bernama Gia.
Ivan mengingat Gia adalah wanita yang tempo hari pernah Mikha minta untuk dicari tahu latar belakang dan asal usulnya oleh Ivan.
Ivan mencari-cari salinan berkas tentang Gia dimeja kerjanya. Karena selama ini Ivan tak begitu memperhatikan perihal wanita itu.
__ADS_1
Ketika Mikha meminta mencari tahu tentang Gia, Ivan hanya menyuruh salah satu asistennya untuk mencari dan memberikan laporan tanpa tahu siapa sebenarnya Gia ini.
Ivan membaca beberapa lembar yang ada ditangannya kini. Ia sedikit terkejut bahwa Gia adalah kekasih Erick.
"Jadi wanita ini yang akan menikah dengan Erick." Ujarnya sendiri.
Kini Ivan jadi merasa yakin bahwa hilangnya Gia ada kaitannya dengan Mikha.
Ivan segera menuju Villa menyusul Mikha.
******
Sesampainya di Villa, benar saja ada yang mencurigakan dipenglihatan Ivan.
Ivan bertemu bodyguard Mikha didepan Villa padahal adiknya itu sangat benci jika Ivan menyuruh bodyguard untuk sekedar menjaganya, bahkan dari jarak jauh sekalipun.
"Kenapa si botak ini ada disini?" Batin Ivan bertanya-tanya dan mulai curiga.
Ivan menghampiri lelaki plontos itu. Lelaki itu tampak terkejut dengan kedatangan Ivan dan tampak seperti ketakutan.
"Mana adikku?"
"Mmm No-nona Mikha ada di kamarnya tuan!" Jawabnya gugup.
Ivan ingin berlari menaiki tangga. Tapi sebelum naik, ia melihat pelayan wanita yang biasa mengurus Villa nya itu.
"Apa kamu tahu sesuatu?" Tanya Ivan pada wanita muda itu.
Wanita itu menggeleng. Tapi tangannya menunjuk kamar tamu yang ada di Villa, lalu ia menunduk.
"Oke. Terima kasih!"
Ivan lalu melangkahkan kaki menuju kamar tamu yang letaknya dilantai dasar dan sedikit menyudut.
Ivan memutar handle pintu, pintunya terkunci. Ivan memutar kunci yang memang sudah tergantung dilubang kunci pintu itu.
Setelah itu, Ivan membuka sedikit pintu untuk melihat keadaan didalamnya.
Ivan tak begitu terkejut melihat seorang wanita didalamnya karena ia sudah menebak ini dalam hatinya. Tapi ia terkejut melihat wanita yang terbaring itu dalam kondisi tangan dan kaki terikat.
Tak ingin membuat keributan disitu, Ivan menutup kembali pintu tanpa menguncinya.
Ivan buru-buru menaiki tangga untuk mencari dan menemui Mikha.
Ivan mengetuk-ngetuk pintu kamar Mikha yang ada di Villa itu. Ia ingin segera berlari mengintrogasi adiknya tapi ia memilih sabar dan terus mengetuk pintu karena ia menghargai privasi Mikha.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka dari dalam. Mikha tersenyum pada Ivan.
"Kakak? Kakak disini juga?" Tanya Mikha dengan sumringah seolah tak terjadi apapun.
Ivan menarik Mikha masuk kedalam kamar. Mendudukkannya di sofa.
"Kamu tahu kesalahanmu, dek?" Ujar Ivan.
Mikha berdecak kesal.
"Kakak jangan ikut campur kak! Ini urusanku!" Jawab Mikha acuh.
"Dek, kakak nggak akan ikut campur selagi itu masih batas wajar!"
"Ini wajar kak. Aku berbuat ini karena rasa kecewaku kak!"
"Jadi kamu nggak merasa ini salah?"
"Ya enggaklah. Toh aku juga nggak nyakitin dia. Nggak nyiksa dia!"
"Dek, kamu salah! Dengan kamu menyekapnya begitu, itu nggak akan merubah keadaan. Erick tetap nggak akan merubah keputusannya dek!" Ucap Ivan menatap dalam mata adiknya.
"Ck! Setidaknya mereka tidak jadi menikah!" Jawab Mikha sambil menunjukkan smirk diujung bibirnya.
"Tapi itu juga nggak bisa merubah perasaan Erick! Erick tetap akan mencintainya dan lebih parahnya Erick malah akan membencimu!" Ucapan Ivan membuat Mikha terdiam.
"Kamu memang nggak menyiksa wanita itu! Tapi ini tetap salah dek! Kamu tau nggak, tindakan kamu ini udah kriminal namanya!" Sambung Ivan lagi.
Mikha diam dalam pikirannya sendiri. Ia tak membantah lagi ucapan Ivan sedikitpun.
"Kakak nggak pernah ngajarin kamu bertindak seperti ini. Meskipun kamu punya kekuasaan bukan berarti kamu berhak berbuat semaumu! Kita hidup dinegara hukum! Kakak takut kamu nanti nggak bisa keluar dari masalah yang kamu buat sendiri!"
"Kak?"
"Kakak akan membela jika itu benar, dan jika itu memang salah kakak tidak akan membenarkan!"
Mikha terdiam mendengar ketegasan dari ucapan kakaknya. Kemudian Ivan berdiri dari posisinya. Ia mengambil handphone dan mengetik sesuatu disana.
Ivan turun kebawah, dan memutuskan untuk duduk sendiri sembari berfikir.
"Aku telah gagal mendidik adikku. Ia hidup dengan mengandalkan kekuasaan untuk meraih keinginannya, ia tak memikirkan nasib orang lain! Apa nuraninya telah tertutup hanya karena egonya?" Batin Ivan berkata lirih.
Cukup lama Ivan duduk, ia menunggu keputusan Mikha. Tapi nampaknya Mikha masih berfikir dikamarnya dan belum memutuskan untuk turun dan mengambil sikap yang seharusnya.
Ivan terus menunggu, tak lama bodyguard Mikha masuk kedalam ruangan. memberitahu Ivan bahwa seseorang telah datang ke Villa.
Ivan menyuruh bodyguard itu mengarahkan orang yang datang untuk segera menemuinya.
Setelah beberapa saat, orang yang datang itu tampak berdiri dihadapan Ivan.
"Baguslah kau menuruti ku untuk datang sendiri. Duduklah!" Ujar Ivan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....