Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Canggung -


__ADS_3

"Kenapa kamu pulang sendiri? Mana suamimu?"


Gia menoleh ke sumber suara itu, benar saja itu adalah suara Arga.


"Aku bisa bawa mobil sekarang. Jadi enggak perlu diantar kemana pun aku mau!" Jawab Gia dengan entengnya sambil memaksakan tersenyum.


"Itu bukan alasan! Kamu punya suami seharusnya suami kamu yang antar kamu walau kemana pun!


"Udah ku bilang itu bukan urusan kamu, Ga!"


"Ya udah, kalo dia nggak mau anterin kamu kemana-mana, Biar aku aja! Mana kuncinya?" Arga bertanya tapi ia sudah menarik kunci mobil tanpa permisi dari tangan Gia. Membuat Gia bingung sendiri.


Arga mendorong pelan pundak Gia dan mengarahkannya menuju kursi penumpang disebelah kiri. Ia bahkan membukakan pintu mobil agar Gia masuk kesana. Kemudian, ia beralih menuju kursi kemudi dan masuk untuk mengantar Gia pulang.


Gia menatap lelaki yang sudah duduk disampingnya ini dengan tatapan bingung bercampur geli. Apalagi yang akan Arga perbuat kali ini. Gia menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir apa yang ada dibenaknya.


Sesaat sebelum mobil berjalan, Arga melirik Gia yang terdiam menatapnya dengan tatapan bingung. Arga tersenyum miring.


"Pakai dulu seatbelt nya!" Arga malah memakaikan Gia seatbelt, membuat Gia canggung karena sempat-sempatnya Arga menatap bola matanya dengan intens beberapa detik.


"ehemmm" Gia berdehem untuk membuyarkan suasana canggungnya, dan Arga pun seakan tersadar lalu lanjut dengan tujuan awalnya, memasangkan seatbelt Gia.


Perlahan mobilpun bergerak dan berjalan menembus jalanan.


"Kamu tau alamat aku di Jakarta ini?" Tanya Gia karena tak mendengar Arga menanyakan alamatnya.


Arga mengangguk samar. Tapi sesaat kemudian ia malah minta alamat rumah Gia. Setelah diberitahu Gia, Arga sedikit heran, keningnya berkerut seolah memikirkan sesuatu.


"Mungkin mereka sudah pindah, ketika aku berada di Jerman!" Batin Arga.


°


Hari beranjak gelap dan perjalanan malam ini terasa hening, tak ada yang mau memulai kata dan membuka suara. Gia dan Arga larut dalam pikiran masing-masing.


"Ga!"


"Ya?"


"Katanya kamu ke Jerman ya?"


"Katanya? Kata siapa?"


"Kata Reza."


"Oh, iya ada urusan disana."


Gia manggut-manggut tanda mengerti. Ia sesekali melirik dan berniat ingin lanjut bertanya namun ragu.


"Gi?" Kini suara Arga yang balik bertanya pada Gia.


"Hmm?


"Kamu mau bertanya apa lagi?"


"ha? eh, e-enggak ada!"


"Yakin?"


"Iya"


"Yaudah"


Hening...

__ADS_1


"Gia!"


"Kenapa Ga?"


"Gimana kalau kayak dulu aja, Kamu bebas bercerita tentang kamu, lalu nanti aku ceritakan tentang aku!"


Gia mendesah pelan sebelum berkata.


"Ga, aku..."


"Kenapa? kamu mau bilang apa?"


"Ga, Apa wanita tadi itu istri kamu?"


"Kamu penasaran soal itu rupanya?"Arga menyeringai.


"Jawab Ga!"


"Oke oke.. gini aja, aku bakal jawab semua pertanyaan kamu. Sebagai gantinya kamu juga jawab semua pertanyaan aku. Deal?"


Gia mengangguk ragu, namun rasa penasarannya menuntun untuk ia berkata,


"Deal"


"Yaudah, aku yang duluan mulai atau kamu?" Tanya Arga, matanya sesekali melirik wanita disampingnya, namun tetap fokus ke jalan.


"Itu istri kamu kan Ga?"


Arga terdiam seolah berpikir.


"Iya, itu istri aku." Arga tersenyum ke arah Gia. Sedangkan Gia membuang pandangan seketika melihat mata Arga. Gia memutuskan melihat ke jalanan didepannya.


"Jadi kamu anter aku, apa dia nggak akan marah?"


"Ya enggaklah!" Jawab Arga dengan yakinnya.


"Ya aku marahin balik lah! Seenaknya aja dia biarin kamu pulang-pergi sendiri. nyetir sendiri. Emang kamu siapa nya? Kalau istrinya ya dianterin lah!" Omel Arga.


"Hmmm"


"Aku udah boleh nanya kamu enggak?"


"Hmmm"


"Gi, apa kamu pernah rindu sama aku?" suara Arga mendadak lembut tetapi menusuk.


deg..


Gia terperangah dengan pertanyaan Arga. Apa lagi ini. Kenapa pertanyaan Arga justru soal perasaan. Gia pikir Arga akan bertanya soal rumah tangganya atau kesehariannya. Atau paling tidak, menanyakan Erick. Gia sudah menerka-nerka dan menyusun kalimat karangan untuk menjawab perihal hal itu jika Arga akan menanyakannya.


Tapi sekarang apa? Arga bertanya hal yang tidak masuk dalam jalan pikiran Gia. Dan hebatnya, pertanyaan itu membuat Gia ingin bisa menetralkan detak jantungnya agar Arga tak mendengar bahwa suara jantungnya seperti berdentum-dentum didalam sana.


"Ga, pertanyaan kamu enggak termasuk dalam kesepakatan!" Ujar Gia pada akhirnya dengan suara lirih.


Arga berdecak.


"Ck! kamu lupa tadi gimana? aku bakal jawab semua pertanyaan kamu. dan kamu juga jawab semua pertanyaan aku! SE-MU-A Gia!!!" Arga menekan kata-katanya namun tetap dengan suara lembut untuk menjawab Gia.


Gia terdiam tak bisa menjawab. Mobil pun berbelok masuk menuju kompleks tempat tinggal Gia.


"Ini udah mau sampai, kamu beneran enggak mau jawab satu aja pertanyaan aku?" Arga menatap Gia kembali. Tatapannya kali ini penuh harap.


Gia tetap bungkam.

__ADS_1


"Gia, kalau kamu enggak mau jawab nggak apa-apa. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Jika kita bertemu lagi selepas ini, anggaplah kita tidak pernah kenal satu sama lain!" Ucap Arga ketika mobil sudah sampai didepan rumah mungil yang tertulis nomor 58 sesuai dengan arahan Gia pada Arga tadi.


Ucapan Arga itu, lagi-lagi membuat Gia terperangah tak percaya. Bagaimana bisa Arga mengatakan begitu. Entah kenapa perasaan kehilangan menyelinap di relung hati Gia.


Dulu, memang ia tak pernah memiliki Arga, sekalipun Arga jauh namun Gia masih merasa Arga tak pernah benar-benar hilang. Namun, kini ketika ucapan itu keluar dari bibir Arga kenapa rasanya Gia ingin menangis.


Arga keluar dari mobil ketika melihat Gia yang tetap diam sembari menunduk.


Ia mengambil ponselnya dan seperti menghubungi seseorang, sepertinya sedang meminta jemputan untuk pulang.


Tak berapa lama, Gia ikut turun dan melangkah ke samping Arga yang sedang berdiri sambil bersedekap. Punggungnya ia sandarkan ke kap depan mobil Gia.


"Mampirlah Ga!" Ucap Gia berbasa-basi.


"Enggak usah!" jawab Arga cuek.


Gia merasa bersalah tak menjawab pertanyaan Arga tadi. Ia menghembuskan nafas dengan berat.


"Jujur Ga, aku sering memikirkan kamu! Bahkan ketika Erick ada. Tapi aku enggak tahu apa itu termasuk dalam kategori merindukan kamu atau enggak!" Akhirnya Gia menjawab pertanyaan Arga tadi dan sontak membuat Arga mengalihkan perhatiannya dari ponsel, kini ia menatap lekat wanita disampingnya yang tertunduk.


"Gi, itu artinya kamu rindu sama aku Gi!" Ucap Arga. Matanya berbinar-binar seolah menemukan hal yang ia cari-cari.


Gia menoleh ketika Arga bersuara. Ia menatap lelaki disampingnya yang kini tampak lebih gagah dan dewasa dibanding saat terakhir pertemuan mereka beberapa tahun lalu.


Arga mendekat, menghapus jarak yang ada antara dia dan Gia. Perlahan tangannya terulur meraih pipi wanita didepannya dan mengelus dengan ibu jarinya.


Nafas Gia seolah tak beraturan, ia panik namun ia tak bisa menepis lagi sosok yang kini hanya berdiri beberapa centi didepan wajahnya.


"Apa boleh aku--" Ucapan Arga terhenti, tatkala wanita didepannya terpejam seolah menyambutnya. Ia tak bisa lagi membendung yang selama ini tertahan. Perasaannya seolah meluap-luap.


Bibir Arga mendarat di bibir Gia, menyesapnya dengan perlahan dan saling merasakan ketika keduanya bertautan. Arga memegangi tengkuk Gia agar ciuman itu tidak segera terlepas. Setelah beberapa detik berlalu, Gia tersadar dan menarik diri, nafasnya tersengal dan ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk segera masuk ke rongga paru-parunya. Sepertinya ia sudah gila-batinnya.


Arga tersenyum miring, ketika menyadari ciuman singkat itu telah usai. Ia masih memandang lekat wajah Gia yang kini sudah tertunduk lagi. Arga mengelus rambut Gia sekilas. Lalu kembali menjaga jarak.


Hening dan kecanggungan kembali tercipta. Tiada yang bersuara.


Setelah itu, mobil yang menjemput Arga pun tiba.


"Aku pulang!" Ucap Arga.


"Ga!" Gia menarik lengan Arga dan Arga menoleh sambil tersenyum.


"Ada baiknya, setelah ini kita nggak usah ketemu lagi!" Ucap Gia mematahkan harapan Arga setelah terjadinya ciuman tadi.


"Gia? Maksudnya?" Arga tak percaya ucapan Gia.


"Iya Ga, seperti ucapanmu tadi, ku rasa kita sebaiknya enggak usah bertemu lagi dan jangan bertegur sapa jika bertemu tak sengaja. Anggaplah kita enggak pernah mengenal satu sama lain!"


"Tapi kita--"


"Kau sudah menikah! Begitupun aku. Lupakan yang terjadi tadi. Itu hanya kamuflase perasaan. Ku mohon turuti permintaanku!"


"Baiklah jika memang itu maumu!" Arga membuang muka dan segera masuk kedalam mobil lalu menyuruh supirnya untuk jalan. Menyisakan Gia yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri.


Arga memijat pelipisnya mengingat kejadian yang baru ia lakukan pada Gia tadi. Benar saja perasaannya memang tak berubah terhadap wanita itu. Malah setelah kejadian tadi, dapat dipastikan akan makin dalam.


"Betapa bodohnya aku, pergi jauh untuk melupakan. sekarang harus menata hatiku lagi, mengulang dari awal!" Batin Arga.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2