
*Pov. Gia
Aku baru saja menjalani proses kuret. Janin dalam kandunganku tidak dapat diselamatkan. Aku merasa lemas dan sakit. Sakit dibagian intiku dan terutama sakit didalam hatiku.
Aku meratapi nasibku, Janinku yang baru menginjak usia kurang dari 15 minggu atau kurang dari 4 bulan, tidak bisa ku pertahakankan lagi untuk tetap hidup dan tumbuh.
Aku menyesali atas pertemuanku dengan Erick yang membawa bencana. Mendadak, aku sangat membenci Erick. Tapi disisi hatiku yang lain, aku sangat mencintai lelaki itu. Aku semakin menangis terisak-isak.
Aku menyadari aku telah melakukan kesalahan teramat besar. Aku bahkan membuat diriku sendiri kehilangan janin yang seharusnya aku lindungi.
Seharusnya aku tidak lari ketika melihat Erick, tapi aku harus menerima kenyataan bahwa kami memang sudah tidak bersama dan Erick yang justru sudah menemukan penggantiku.
Tunggu, apa benar wanita itu adalah wanita special bagi Erick sekarang? Apa dia kekasihnya?
Aku tidak boleh menyimpulkan sesuatu hanya dengan melihatnya saja.
Lalu apa bedanya aku dengan Lyra? Yang langsung menganggapku merebut miliknya hanya dari apa yang dilihatnya saja. Tidak! Tidak! Aku bukan seperti Lyra. Aku harus meluruskan apa yang ada dipikiranku saat melihat Erick tadi.
Dan apabila Erick sudah menjelaskan yang sebenarnya, akupun harus siap menerima kenyataan apapun yang terjadi.
Termasuk jika memang wanita itu adalah pilihan Erick untuk menggantikan posisiku.
Dan anakku? Apakah aku harus mengikhlaskannya begitu saja?
Sepertinya memang harus begitu. Aku harus lebih menguatkan hatiku lagi saat ini.
Aku tidak bisa menyalahkan Erick juga dengan kondisiku. Karena sejatinya Erick justru tidak pernah tahu bahwa aku dalam keadaan hamil dan mengandung anaknya.
Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk aku dan anakku. Bukankah kehidupan seseorang sudah ada yang mengaturnya? Serta kematian juga sudah satu paket dari kehidupan?
Aku berusaha menegarkan hatiku. Karena aku sadar, saat ini aku tidak punya siapapun untuk menguatkan aku.
Aku melihat Arga masuk kedalam ruanganku. Dia menatapku yang masih menangis sesenggukan dan semakin terisak-isak saat aku mengingat Eric didalam ingatanku.
Arga mendekat. Duduk disamping ranjangku.
"Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu" ujar Arga kepadaku.
Aku menatap Arga. Arga tampak tulus prihatin terhadap kondisiku. Aku refleks memeluk Arga yang ada disampingku. Akupun menangis sejadi-jadinya didada Arga.
Aku merasakan Arga seperti terkejut atas perlakuanku padanya. Tapi aku tidak peduli lagi tentang apa pendapatnya. Karena saat ini aku sangat butuh seseorang untuk menegarkan hatiku dan tempat untuk ku bersandar.
Aku merasakan Arga mengusap-usap lembut kepalaku. Entah kenapa perlakuan Arga membuatku merasa nyaman berada dalam dekapannya.
Aroma maskulin dari tubuhnya tercium di indera penciumanku. Aku merasa tenang dan enggan melepaskan kaitan tanganku yang melingkari pinggangnya.
Aku segera menetralkan perasaanku tadi. Aku menarik diri dari dada bidang Arga. Aku menyakinkan diriku bahwa ini terjadi karena aku hanya butuh seseorang untuk menguatkanku saat ini.
"Maafkan aku sudah merepotkanmu, terimakasih banyak" ucapku disela-sela tangisku yang belum reda.
Ku lihat kini pandangan Arga sedikit berbeda kepadaku. Tatapannya yang biasanya acuh, kini terlihat khawatir menatap diriku. Tatapan itupun penuh tanda tanya yang besar.
Aku memakluminya. Aku mengerti dia sekarang pasti merasa bingung dan tidak tahu harus memulai bertanya dari mana.
Arga diam beberapa saat seperti mencerna ucapanku. Sampai akhirnya ia berbicara
"Sudahlah, jangan pikirkan tentang aku. Lebih baik fokus pada dirimu saja. Hmm?" Ucap Arga dengan sangat lembut.
Arga yang ada didepanku kini sangat berbeda dengan Arga yang pertama kali ku temui ketika menjemput bu Dewi tempo hari.
Aku sampai tidak percaya bahwa ini adalah benar Arga. Arga yang cuek, acuh dan tidak peduli dengan orang lain. Yang didepan mataku ini terlihat seperti bukan dia yang biasanya.
"Aku keluar dulu ya, aku mau menanyakan pada dokter sampai berapa lama kamu akan dirawat disini."
"Kamu sudah makan malam? Aku akan sekalian membelikannya untukmu!" Tambahnya.
Aku baru mengingat aku belum makan malam sama sekali, karena tadi aku cuma makan cemilan di acara bridal shower Mona, anaknya bu Nila. Itupun baru beberapa suap yang masuk kedalam perutku.
Perutku terasa lapar tapi aku tidak bernafsu lagi untuk makan.
"Aku tidak nafsu makan. Aku--"
"Sebaiknya kamu makan ya, agar tubuhmu kembali segar seperti semula" jawab Arga memotong ucapanku.
Aku hanya mengangguk pasrah karena aku tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan Arga. Ku lihat Arga bangkit dan berlalu dari hadapanku.
💠💠💠💠ðŸ’
*Pov Erick
Aku merasa tidak tenang saat berada dimobil menuju ke hotel tempatku menginap.
Aku memutar arah, kembali menuju cafe dimana aku bertemu dengan Gia tadi.
Aku memarkirkan mobilku dengan layak di parkiran. Dan aku segera masuk kedalam cafe.
Aku menuju meja tempat Gia tadi duduk menatapku dan Mikha. Ternyata meja itu sudah di booking untuk acara pribadi dan aku tidak bisa duduk disitu.
Sebenarnya tujuanku memang bukan untuk duduk disitu, tapi aku ingin menanyakan kepada siapa saja di acara itu yang bisa memberitahuku perihal Gia.
Aku ragu-ragu untuk menghampiri seorang wanita yang sepertinya sedang jadi pusat perhatian karena sepertinya ini adalah acaranya.
Sampai pada akhirnya seorang wanita paruh baya menghampiriku.
"Kamu temannya Mona?" Tanyanya.
"bukan, bu. Saya mencari seseorang yang tadi juga ikut menghadiri acara disini."
Ibu itu seperti berpikir dan menimbang-nimbang apa yang ada dipikirannya. Tapi aku sangat yakin ibu ini pasti mengenal Gia.
"Perkenalkan bu, nama saya Erick" ucapku lagi sembari memperkenalkan diri dan mengulurkan tanganku.
"Saya Nila, kamu mencari Gia ya?" Tebaknya.
Benar saja dugaanku ibu Nila ini mengenal Gia.
"Iya bu, saya sedang mencarinya. Apa ibu tahu sekarang dia dimana?"
Bu Nila diam sambil berpikir seperti sebelumnya.
"Ini bu." Kataku sambil memperlihatkan foto aku dan Gia yang ada diponselku. Aku ingin menyakinkan kepada bu Nila bahwa aku dan Gia sangat dekat sehingga dia tidak perlu berpikir terlalu lama untuk memberitahuku dimana Gia berada.
Ku lihat ekspresi bu Nila yang terperangah karena melihat fotoku dan Gia yang mesra sedang ber-wefie di ponselku.
Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan seperti berpikir.
"Kamu, suaminya Gia? Kamu sudah kembali dari Luar Negeri?" Tanyanya.
Tanpa berpikir, secepat kilat ku anggukkan kepalaku. Aku tidak mau bertanya atas pertanyaan bu Nila tadi yang sebenarnya membuat aku bingung. Aku ingin tahu Gia dimana secepatnya. Jadi aku tidak menyanggah perkataan bu Nila sedikitpun.
"Hahaha kamu ini gimana sih? Masa' istrimu ngontrak dimana kamu tidak tahu"
__ADS_1
Ucap bu Nila yang kini seperti mulai akrab denganku.
"Kebetulan saya juga bukan orang sini bu, alamat yang dikirim Gia ke ponsel saya hilang ketika ponsel saya rusak kemarin. Dan sudah dua hari ini saya menghubungi nomor Gia tapi tidak bisa" ucapku mengarang-ngarang cerita.
"Ya ampun kasian bener sih kamu mau ketemu istri aja susahnya kayak di sinetron sampai nunggu episode 100 baru ketemu. Hahaha"
Bu Nila tertawa-tawa melihat aku yang kebingungan.
Aku cuma menyengir menunjukkan deretan gigiku.
"Ya sudah, ini juga kami sudah mau pulang. Kamu ikut saja dengan kami. Nanti kami pulang juga pasti melewati Gang rumah kontrakannya." kata bu Nila masih dengan tersenyum di bibirnya.
"Baik bu" ucapku menurut.
Akupun duduk menunggu acara yang sebentar lagi memang sepertinya akan selesai.
****
Setelah mobilku mengikuti mobil bu Nila yang ada didepan. Tak lama bu Nila pun turun dari mobilnya yang sudah menepi dipinggir jalan.
Bu Nila berjalan sedikit dan menghampiri mobilku dibelakang. Dia mengetuk kaca jendela mobil. Akupun membukanya.
"Kontrakan Gia didalam Gang itu, nanti kamu masuk kesitu. Rumah kontrakannya yang paling ujung." ucapnya dari balik kaca jendela mobilku.
Penjelasan bu Nila dapat ku pahami. Akupun mengucapkan banyak terimakasih kepadanya. Seraya aku mengemudikan mobilku masuk ke arah Gang kontrakan Gia.
Mobilku berhenti tepat didepan rumah kontrakan pertama, karena untuk masuk kedalam tidak bisa dilalui oleh mobil.
Akupun turun dan berjalan sedikit menuju kontrakan Gia. Beberapa kali aku mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Aku melihat kedalam melalui jendela, tapi sepertinya Gia memang sedang tidak berada dirumah.
Aku melihat jam dipergelangan tanganku. Menunjukkan pukul 23.15 Wib.
"Kamu kemana sayang? Ini sudah larut" batinku.
Aku tidak ingin kehilangan jejak Gia lagi kali ini. Ku putuskan untuk duduk di kursi kayu yang ada diteras depan rumah. Menunggu Gia.
💠💠💠💠ðŸ’
*Pov Author
Gia sudah selesai makan dibantu oleh Arga dirumah sakit. Malam sudah sangat larut. Gia diizinkan pulang besok pagi karena kondisinya masih sangat lemah.
Gia memutuskan untuk tidur, tapi pandangannya menuju Arga.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri" ucap Gia lemah pada Arga
Arga yang sedang memainkan pomselnya seketika meletakkan ponselnya diatas meja ketika mendengar Gia bersuara. Ia menatap Gia.
"Aku masih mau disini. Kita akan pulang bersama besok pagi."
"Baiklah, terserah kamu saja."
"Istirahatlah. Jangan pikirkan hal yang membuatmu semakin sedih"
Gia hanya diam tidak ingin menjawab kata-kata Arga. Ia pun memutuskan untuk tidur.
Arga juga mengatur posisinya untuk tidur di sofa. Mengambil bantal sofa untuk alas kepalanya. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk slonjoran karena ia melihat Gia yang sepertinya langsung tertidur pulas.
Arga beranjak dari tempatnya, menghampiri Gia. Ia menatap wanita yang benar saja sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Arga menaikkan selimut sampai batas dada Gia. Ia masih berdiri disamping Gia. Memperhatikan lebih dalam lagi. Ia tersenyum menatap wajah itu.
Arga mengusap kasar wajahnya, lalu kembali ke sofa untuk tidur.
💠💠💠💠ðŸ’
"Kamu sudah bangun?" Tanya Arga pada Gia yang terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Hmm, apa aku sudah boleh pulang sekarang? Aku tidak betah disini."
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengeluarkan senyuman khas nya yang selalu menampilkan lesung dipipinya.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Gia yang melihat Arga tersenyum.
"Tidak apa-apa, kamu bilang kamu tidak betah disini. Tapi kamu tidur amat nyenyak semalam bahkan bangunpun kesiangan. Apa memang jam bangun tidurmu jam segini? Ini sudah cukup siang untuk jam bangun seorang wanita." Kata Arga panjang lebar.
Gia tidak berkedip melihat Arga yang baru selesai menyelesaikan ucapannya. Menurut Gia, itu adalah kalimat terpanjang Arga kepada Gia selama ini.
"Kenapa?" Kini Arga yang bertanya ketika melihat ekspresi Gia yang bengong.
"E, itu..a,aku? tidak apa-apa" jawab Gia tergugu karena merasa telah ketahuan memperhatikan Arga sampai bengong.
Arga diam. Gia pun terdiam. Ruangan itu hening dengan dua orang yang saling menatap dengan pikiran masing-masing.
"Ya sudah, kita pulang sekarang. Aku akan bantu bereskan semua barangmu. Jawab Arga memutus kekakuan diantara mereka beberapa saat tadi.
****
Erick terbangun ketika cahaya mentari menyilaukan wajahnya yang tertidur diluar rumah. Tepatnya diteras depan rumah kontrakan Gia.
Erick melihat jam tangannya. Sudah pukul 08.15 wib. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya ketika tidak melihat tanda-tanda kepulangan Gia.
"Apa dia tidak pulang semalaman? Kemana dia sebenarnya?" Batin Erick.
Erick berdiri menatap sekelilingnya, lingkungan rumah kontrakan Gia cukup ramai. Terbukti banyak orang berlalu lalang dan melewati Erick dengan senyuman dari bibir mereka.
"Maaf mas nya suami nya neng Gia ya?" Tanya seorang ibu-ibu.
Erick tersenyum kikuk tapi akhirnya dia mengangguk.
"Apa semua orang disini menganggap Gia sudah memiliki suami?" Erick berkata dalam hati.
"Neng Gia nya kemana mas? Suaminya pulang kok nggak dirumah? Tanya ibu itu lagi.
"Gia ada urusan dirumah saudaranya bu, saya yang nggak ngasih tahu dia mau pulang kemarin" jawab Erick berbohong.
"Oh, mau kasih kejutan ya mas nya? Hehehe"
Erick hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ibu itu yang tak tahu kapan ujungnya.
"Mungkin sebentar lagi pulang mas. Dia biasanya nggak pernah begini kok. Selalu dirumah neng Gia. Nggak pernah kemana-mana. Paling mentok ke pasar"
Erick hanya manggut-manggut mendengar ibu itu berbicara.
"Yasudah Mas, saya permisi ya"
"Silahkan bu" jawab Erick lagi.
Erick menatap kepergian ibu itu sembari matanya juga melihat sebuah Porsche Panamera hitam memasuki kawasan yang sama dengan tempat ia memarkir mobil sewaannya.
__ADS_1
Erick melihat seorang lelaki turun dari balik pintu kursi pengemudi. Lelaki itu memakai kaos putih dan celana jeans biru tua. Ia membuka kacamata yang melekat di pangkal hidungnya, lalu menyampirkan asal di kerah kaosnya.
Lelaki itu berputar mengitari mobil menuju pintu kursi penumpang dan ia membukakan pintu mobil.
Dan yang terlihat adalah seorang wanita muda nan cantik yang sangat dicintai oleh Erick. Dia adalah Gia.
Gia masih memakai Gaun yang dikenakannya malam tadi. Itu membuktikan ia sama sekali tak pulang kerumah untuk berganti baju selepas kepergiannya dari Cafe semalam.
Erick terus memperhatikan dua orang manusia yang kini sudah berjalan kearahnya dengan Gia yang merangkul leher lelaki itu dari samping. Mereka sampai tak menyadari keberadaan Erick sama sekali.
Tangan Erick mengepal sangat kuat melihat pemandangan didepan matanya. Ia ingin sekali mematahkan lengan lelaki yang berjalan disamping Gia itu karena lelaki itu memegangi pinggang ramping Gia.
Muka Erick sudah memerah menahan amarah. Ia ingin sekali berlari dan menghajar laki-laki yang hampir berada didepannya kini.
...1...
...2...
...3...
...Buggg!!!...
Erick meninju wajah Arga sekuat tenaganya. Ia tidak bisa menahan lagi emosinya ketika Arga dan Gia sudah tepat didepan matanya.
Gia yang merangkul Arga karena merasa kondisinya masih lemas dan harus berjalan tertatih-tatih akibat kuret mendadak semalam pun, hampir terjungkal karena pukulan Erick kepada Arga, yang dijadikan Gia tumpuan tubuhnya.
Arga menjaga keseimbangan tubuhnya dari serangan Erick yang tiba-tiba. Ia menahan agar ia dan Gia tidak terjatuh.
"Apa-apaan kamu, Erick!" Teriak Gia dengan suara yang lemas. sebelum Erick menghujani Arga dengan pukulan lagi.
Erick menegakkan badannya yang sedikit terbungkuk akibat memukul Arga barusan. Erick mengurungkan niatnya untuk kembali memukul Arga tanpa ampun ketika mendengar suara Gia.
Gia pikir Arga akan membalas perlakuan Erick saat itu juga. Tapi Gia salah besar.
"Kamu tidak apa-apa?" Lagi-lagi kata-kata itu keluar dari mulut Arga menanyakan keadaan Gia. Yang seharusnya Gia lah yang bertanya keadaannya setelah dipukul Erick.
Gia melihat sudut bibir Arga yang berdarag akibat ulah Erick.
Gia menahan amarahnya yang bertumpuk-tumpuk kepada Erick. Karena mengingat lingkungan kontrakannya yang pasti akan ramai jika mereka bertiga membahas ini diteras.
"Arga! Masuklah. Aku akan mengobati lukamu"
Erick terperangah mendengar kata-kata Gia yang tertuju bukan untuknya tetapi untuk lelaki yang sudah di nobatkan Erick sebagai Rivalnya.
Arga melangkah masuk kedalam kontrakan dengan gaya khas nya yang cuek. ia melewati Erick, kemudian melewati Gia yang berdiri didepan pintu.
"Ada yang ingin ku tanyakan. Tidak disini. Masuklah!" Kata Gia pada Erick.
Gia masuk kedalam rumah dan disusul oleh Erick. Mereka bertiga sudah didalam.
Keadaan hening dengan suasana yang panas dihati ketiganya.
"Aku akan mengambil kotak obat dulu. Ujung bibirmu terluka" ucap Gia pada Arga.
Erick diam memperhatikan Gia yang sedang mengobati luka Arga akibat ulahnya. Ia mau marah dan protes, tapi ia masih ingin bicara kepada Gia. Ia takut diusir Gia dari sini sebelum mereka bicara sama sekali. Jadi Erick memutuskan diam menahan Emosi.
Arga merasakan Tangan Gia yang menyentuh ujung bibirnya menggunakan kapas dan Alkohol. Rasa perih dari Alkohol itu tidak sebanding dengan rasa kesal Arga kepada lelaki yang telah memukulnya.
Arga mau membalas pukulan itu. Tapi sepertinya ia akan sangat egois jika melakukannya didepan Gia yang kondisinya sedang dalam pemulihan. Maka Arga mengurungkan niatnya dan lebih fokus pada kondisi Gia.
Entah kenapa Arga tiba-tiba bersyukur karena pukulan Erick yang membuatnya berada sedekat ini lagi dengan Gia. Jantung Arga kembali berdetak cepat sembari darahnya terus berdesir seperti dipompa.
"Sudah" kata Gia menyudahi pengobatannya terhadap Arga.
"Aku sebaiknya pulang, karena aku sudah tidak ada urusan disini" kata Arga ingin beranjak.
"Tidak, kamu disini saja" jawab Gia.
Lagi-lagi Erick terperangah dengan kata-kata Gia.
"Apa-apan? Kita mau membahas soal kita. Kenapa harus ada dia?" Tanya Erick tidak terima.
"Apa kamu sudah lupa kalau aku dan kamu bukan lagi kita?"
Kata-kata Gia seperti bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang mengangetkan Erick dan mengundang sekilas senyum dibibir Arga.
"Tapi sayang, ak--"
"Stop! Kalau kamu tidak mau Arga ikut berada disini. Berarti tidak akan ada pembicaraan antara kamu dan aku"
"Oke baiklah. Apa yang ingin kamu tanyakan? Biar aku jelaskan" tawar Erick.
"Aku ingin bertanya, kenapa kamu ada dikota ini?"
"Aku mencarimu"
"Jawab dengan jujur!"
"Aku mencarimu Gia. Bagaimana aku bisa berbohong kepadamu! Aku tidak pernah melakukannya!"
Gia menarik nafas dalam sembari menghembuskannya perlahan.
"Darimana kamu tau aku disini?"
"Aku mengingat ini adalah kota impianmu! Yang akan kamu datangi. Dan ternyata aku benar, kamu memang ada disini"
Gia menatap Erick tidak percaya. Bagaimana bisa Erick masih mengingat Gia pernah mengatakan hal itu.
Sedangkan Arga mulai tertarik dengan pembahasan mereka. Ia awalnya cuek seperti kebiasaannya tapi lama-lama ia menajamkan pendengarannya. (Kepo juga Arga ternyata)
"Siapa wanita yang malam tadi bersamamu?
"Dia? Dia bukan siapa-siapa. Dia orang yang ku tolong. Dan dia berjanji akan menolongku pula mencari kamu, sayang"
Arga melotot mendengar Erick terus-terusan memanggil Gia dengan sebutan sayang. Awalnya dia biasa saja. Tapi lama-lama dia merasa tak terima.
Arga ingin mengatakan jangan memanggil Gia dengan sebutan itu. Tapi dia punya hak apa atas Gia.
"Jangan panggil aku sayang!!!" Ucap Gia sedikit berteriak.
Erick dan Arga sampai terkejut melihat ekspresi kemarahan Gia. Tapi setelah itu Arga malah tersenyum lagi sekilas karena kata-kata Gia barusan mewakili isi hatinya.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1