Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Galau dan Perkara Hutang -


__ADS_3

🎶🎶All I want is nothing more.


To hear you knocking at my door.


'Cause if I could see your face once more.


I could die a happy man I'm sure.


But if you loved me,


Why'd you leave me?


Take my body!


Take my body!


All I want is,


And all I need is,


To find somebody!


I'll find somebody!


Like you, oh, oh, oh🎶🎶


Sayup-sayup terdengar suara Steve Garrigan menyanyikan single dari kodaline tersebut, lagu itu terdengar dari sebuah mobil yang sedang melaju dijalanan.


Didalam mobil itu Arga seakan terhanyut oleh makna dari lirik lagu tersebut. Lagu itu seolah mewakili perasaan hatinya saat ini.


Malam sudah sangat larut. Arga masih berada dijalanan dan entah hendak menuju kemana, tanpa tujuan. Hatinya serasa mencelos setelah panggilan telepon dengan Gia berakhir.


Apalagi setelah mengetahui Gia yang akan menikah.


Arga merasa marah. Padahal ia menyadari bahwa kata-kata Gia benar adanya. Gia tidak pernah menjanjikan hubungan yang lebih dari pertemanan kepadanya. Hanya saja dirinya yang mungkin terlalu berharap lebih pada Gia.


Ponsel Arga berdering, ia melambatkan laju mobil yang ia kendarai. Terlihat di layar bahwa mamanya sedang memanggil.


Arga menggeser tombol hijau.


"Ada apa ma?"


"Kamu dimana, Ga? Ini sudah tengah malam!"


"Iya sebentar lagi aku pulang ma. Aku lagi cari udara segar aja!"


"Iya tapi ini udah jam 1 malam Arga. Kamu jangan macem-macem ya. Mama nggak tenang kamu belum pulang. Mama tunggu kamu pulang!"


"Iya mamaku sayang!"


Panggilan berakhir. Arga memutuskan berhenti saja dipinggir jalan. Jalanan memang lengang mengingat ini sudah dini hari.


Arga mengusak rambutnya. Beberapa kali ia menghembuskan nafasnya kasar. Entah sudah berapa kali pula ia memukul-mukul stir bulat yang ada dihadapannya. Ia kacau. Ia kecewa. Tapi ia menyadari ini salahnya sendiri.


Setelah puas dengan pikirannya sendiri dan sudah merasa sedikit tenang, Arga memutuskan untuk beranjak dan pulang kerumahnya.


Sesampainya dirumah, benar saja bu Dewi sudah menunggu anaknya itu.


"Ga? Kamu darimana?" Pertanyaan bu Dewi menyambut kepulangan Arga.


"Nggak ada ma, jalan-jalan aja!" Ucap Arga berlagak tersenyum senang.


"Mama tau kok kamu lagi patah hati!" Jawab Bu Dewi tak mau lagi berbasa-basi.


Arga menghembuskan nafasnya pelan sembari merangkul mamanya.


"Udah, mama sekarang tidur aja ya!" Ucap Arga tenang sambil beralih memegang kedua pundak mamanya dari belakang. lalu berlagak mengarahkan bu Dewi menuju kamar.


"Mama cuma mau--"


Arga meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya sendiri, memotong ucapan bu Dewi, agar mamanya itu berhenti bicara.


"Udah malam, ma! Mama tidur ya sekarang! Ucap Arga sambil menatap mamanya yang mengangguk-angguk seperti terhipnotis oleh Arga.


Arga menutup pintu kamar mamanya setelah sang empunya kamar berada didalam. Lalu Arga menghembuskan nafas lega seraya berlalu menuju kamarnya sendiri.


Arga memutuskan langsung tidur setelah ia membersihkan diri. Meski matanya sulit untuk terpejam karena pikirannya yang entah kemana, tapi Arga memaksakan untuk tetap memejamkan mata.


Semakin ia terpejam semakin pula wajah Gia terbayang-bayang dikepalanya.


Arga terduduk secepat kilat. Ia seolah berpikir. Gelisah. Saat ini itulah gambaran keadaan Arga yang berada dikamarnya.


Arga mengambil ponselnya, mengalihkan pikirannya dengan cara berselancar didunia maya. Ia mengutak-atik sosial medianya dan terpikir untuk mencari media sosial milik Gia di kolom pencarian.


Setelah menerka-nerka dan mengingat nama asli Gia ketika mendaftarkan Gia dirumah sakit tempo lalu, ia mencoba mengetik nama itu dikolom pencarian.


Dan voila, benar saja akun sosmed Gia menggunakan nama aslinya.


Arga menyunggingkan senyum. Sosmed itu juga tidak di-lock. Memudahkan siapa saja untuk men-stalking-nya.


"Tidak sulit" batin Arga terkekeh.


Arga melihat-lihat postingan apa saja yang pernah Gia post.


Bahkan beberapa hari lalu Gia memposting foto di sosmednya itu.


Foto terbaru menampilkan Gia yang sedang berada di butik. Foto itu diambil secara candid. Gia nampak sibuk dengan kegiatannya yang sepertinya seolah berdiskusi dengan tim produksi sebuah rancangan.


Arga kemudian men-scroll layar ponselnya untuk melihat foto-foto lama milik Gia.


Arga tersenyum mendapati Gia memposting fotonya waktu kecil. Foto itu diposting sekitar 7 bulan yang lalu.

__ADS_1


"Imut" batin Arga melihat foto gadis kecil sedang duduk menggunakan topi lebar yang background nya adalah ditengah-tengah pasir pantai.


Arga melihat lagi postingan lainnya, tampak Gia berselfie dengan senyum sumringah menampilkan gigi gingsulnya. Lagi-lagi membuat Arga tersenyum, lalu dengan sengaja Arga men-screenshoot foto itu.


"Astaga! Gue nggak bisa tidur gara-gara dia. Mau lupain dia tapi gue malah liatin fotonya!" Batin Arga berkata-kata.


Arga melihat lagi foto yang lain karena rasa ingin tahu-nya lebih besar kini dibanding rasa ingin melupakan.


Tapi, kali ini Arga menelan kecewa melihat foto kebersamaan Gia dengan Erick. Foto itu diambil beberapa tahun lalu. Erick dan Gia tampak duduk berdampingan disebuah sofa restoran. Erick merangkul bahu Gia. Mereka terlihat seperti sedang merayakan sesuatu. Ada cake yang terlihat mencolok diatas meja beserta makanan lain sebagai pendamping.


Caption difoto itu tertulis;


"Selamat ulang tahun My Future❤️ selalu bahagia ya"


Arga mencebik membacanya. Ia spontan melempar ponselnya ke arah bedcover tempat tidurnya.


Arga mengusap wajahnya beberapa kali dengan kasar.


"Sepertinya Gue bukan harus ngelupain. Karena itu susah! Tapi gue harus belajar mengikhlaskan walau itu juga sulit!" Kata Arga berbicara dengan dirinya sendiri.


(Sudah ya, kita Akhiri kegalauan Arga sampai disini)


*****


Pagi menjelang, Erick yang memutuskan untuk tetap tinggal di Apartment nya sedari berlagak diusir oleh papanya, kini harus pergi bekerja tanpa mengisi perut.


Ia sudah terbiasa akan hal itu.


Erick sampai ditempat kerjanya dan memutuskan untuk langsung bekerja tanpa jeda mengingat pekerjaannya yang menumpuk.


Benar bahwa Erick hampir dipecat, tapi mengingat kemampuan Erick dibidangnya dan betapa kompeten pekerjaannya, membuat atasannya enggan untuk memecatnya.


Erick masih diberi kesempatan meski ia mendapat teguran beberapa kali dan atas tindakannya yang sering menyalahi aturan beberapa bulan belakangan ini.


Erick harus menerima konsekuensinya yaitu potongan gaji beberapa persen. Erick juga dituntut harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk sebelum jadwal deadline.


Setelah hampir seharian bergelut dengan dunia pekerjaannya, Erick melangkah mantap keluar dari ruangannya untuk pulang dan menjemput Gia.


Ya, Erick punya janji hari ini dengan Gia sebelum besok Gia akan kembali ke kontrakannya dikota lain untuk mengurus satu dan lain hal soal bisnisnya dengan Mikha, sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.


Mobil Erick berhenti tepat didepan halaman rumah orangtua Gia yang asri. Erick menuruni mobil dan disambut oleh Gia dengan senyum sumringah.


"Masuk dulu?" Tawar Gia pada Erick.


"Enggak usah. Kita langsung berangkat aja boleh ya!"


Gia mengangguk dan berjalan ke arah mobil Erick.


"Nggak usah pamit sama ibu, ibu ada urusan diluar rumah. Ayo!" Ucap Gia yang sudah berjalan didepan Erick.


Erick menurut dan berjalan dibelakang Gia memperhatikan wanitanya itu yang sudah membuka pintu mobil dan segera masuk kedalamnya.


Mobil melaju dengan mulus tanpa hambatan yang berarti, setelah memasuki jalan raya barulah terasa padat merayap dijam-jam sepulang kerja begini.


"Kasi tau enggak ya?" Jawab Erick yang malah memasang muka seolah berpura-pura berpikir.


"Kasi tau lah!" Cetus Gia.


"Cium dulu" ujar Erick sambil menunjuk pipi kirinya dengan jarinya sendiri.


"Issss" Gia membuang muka melihat kelakuan Erick. Erick terkekeh melihat tingkah Gia.


"Nanti kamu nyesel loh, nolak rezeki!" Ujar Erick lagi.


"Rezeki dari mananya, Bambank?" Tanya Gia dengan respon jengkelnya.


Erick tertawa ngakak mendengar kata-kata Gia. Dan ia melanjutkan mengemudikan mobilnya.


Tak berapa lama, mobil Erick sudah sampai ke salah satu parkiran Mall terbesar dikota itu.


"Ngapain ke Mall?" Tanya Gia penasaran.


"Kita makan dulu ya. Aku laper banget!"


Gia mengangguk setuju.


"Good Girl" ujar Erick sambil mengacak rambut Gia, membuat Gia mencebik.


Erick hanya tertawa menanggapi Gia. Ia tahu Gia bukan benar-benar marah.


Mereka memasuki Lift dan menuju lantai dimana adanya foodcourt yang menjual berbagai macam menu makanan di Mall itu.


Setelah memilih dan menentukan ingin makan apa, Gia dan Erick masuk kesalah satu tempat makan yang menjual makanan khas indonesia.


"Makan nasi memang paling nendang" celetuk Erick disela-sela makannya.


Gia hanya geleng-geleng kepala melihat Erick yang sedang menghabiskan nasi dengan lauk Ayam kalasan itu.


"Emm Yang, abis ini kita kemana?"


"Kamu dari tadi ribet aja nanyain kemana terus!" Ujar Erick.


"Abisnya aku bingung kamu nggak mau ngasih tau! Aku kan jadi nebak-nebak dalam hati!"


"Memangnya kamu nebak kita mau kemana?"


"Semalam kamu ajak ke bridal. Kemungkinan sih hari ini kamu ajak aku beli cincin" ujar Gia dengan polosnya.


Erick menatap Gia dengan tatapan dinginnya, membuat Gia bertanya-tanya apa yang salah atas ucapannya barusan.


"Kenapa?" Tanya Gia lagi yang tak terima atas tatapan mata Erick.

__ADS_1


"Nggak asyik kamu, Yang!"


"Loh emangnya kenapa? Ada yang salah?"


"Ya salahlah! Aku kan mau kasi kamu kejutan ajak kamu beli cincin, tapi kamu kok udah tau duluan aja!" Cerocos Erick yang membuat Gia terperangah tidak percaya.


Setelah beberapa saat terkejut dengan jawaban Erick, Gia malah tertawa sampai menutup mulutnya sendiri ketika ia sadar bahwa suara tawanya sudah keterlaluan.


Erick menatap Gia yang tertawa dengan sedikit kesal bercampur malu karena kali ini rencananya sudah dapat ditebak oleh Gia.


"Kamu kalau udah tau, pura-puta nggak tau aja kenapa sih!" Protes Erick masih tidak terima rencananya sudah diketahui Gia.


"Hahaha abisnya kamu itu mudah ketebak!"


"Mudah ketebak tapi bolak-balik nanyak mau kemana!" Sindir Erick pada Gia.


Selesai dengan makanannya, Erick mengajak Gia yang juga sudah lebih dulu selesai makan untuk langsung menuju toko perhiasan yang ada didalam Mall.


Banyak model cincin yang menjadi pilihan mereka, sampai mereka sendiri bingung memilih yang mana. Semuanya bagus dan rasanya cocok.


Tapi bukan Gia namanya jika tidak memilih sesuatu yang simple dan sederhana.


Gia menunjuk sepasang cincin dengan bentuk unik dan diatasnya terdapat satu mata cincin yang simple dan elegan.


Erick mengangguk setuju dengan pilihan Gia.


Setelah dirasa cocok, mereka berdua mulai melakukan sesi ukur jari, agar cincin nya dibuat sesuai ukuran jari masing-masing.


Tak lupa pula Erick me-request ukiran nama dimasing-masing cincin mereka. Cincin Erick bertuliskan nama Gia dan cincin Gia bertuliskan nama Erick.


Setelah dirasa cukup, dan menyelesaikan hal pembayaran. Mereka berdua keluar dari toko itu dengan senyum yang sama-sama tiada habisnya.


Erick semakin erat menggenggam jari-jari tangan Gia sambil sedikit menggoyang-goyangkan gandengan tangan mereka.


"Kamu tau, capek aku seharian ini rasanya hilang abis ketemu kamu!" Kata Erick.


"Heleh gombalmu, Malih!" Jawab Gia yang membuat Erick mencubit kedua pipinya dengan gemas.


Sesampainya didalam mobil, Erick langsung mengemudikan mobil agar segera keluar dari basement Mall. Hari terlihat sudah gelap.


"Yang, sebentar lagi kan kita nikah. Aku mau jujur sama kamu! Aku nggak mau ada yang ditutupi." Kata Gia memulai pembicaraan mereka kearah serius.


"Soal apa?" Tanya Erick sedikit heran dan menerka-nerka.


"Soal Nico!"


"Nico? Mantan pacar kamu pas SMA?"


Gia mengangguk. Erick memang tau dengan Nico tapi tidak pernah mengenalnya, hanya sekedar tau itupun Gia yang pernah bercerita tentang mantan pacarnya ketika bersekolah dulu. Erick tahu sosok Nico, dulu mereka pernah bertemu beberapa kali dalam keadaan yang tidak disengaja.


"Ada apa dengannya? Jangan bilang kamu punya hubungan lagi sama dia dibelakang aku!" Wajah Erick tampak memerah.


"Bukan! Aku nggak ada hubungan dengannya. Sumpah deh!" Jawab Gia sembari mengacungkan dua jari membentuk huruf V.


"Lah terus? Kenapa dengan dia?"


"Ya kamu tenang dulu. Jangan marah dulu. Calm sayang! Sabar!" Gia menenangkan Erick dulu sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Nico itu dulunya suami Lyra. Kamu tau kan Lyra yang tinggal bersamaku?"


Erick terkejut kemudian dia mengangguk. Erick memutuskan diam menunggu Gia melanjutkan ceritanya.


"Jadi waktu aku tiba dikota itu dulu, aku sempat pingsan dan ditemukan oleh Lyra. Lalu Lyra menolong dan membawaku kerumahnya. Ya rumah Nico juga. Mereka tinggal dikota itu!"


Mendengar itu, seketika Erick memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia mematikan mesin dan mulai fokus menatap wajah Gia yang bercerita.


"Lalu?" Tanya Erick lagi.


"Sebelum aku pingsan, ternyata aku juga dirampok. Uangku tak bersisa, sayang. Habis! Dan setelah berdebat cukup lama dengan Lyra dan Nico, mereka menyuruhku pulang saja kerumah ibu, aku iyakan saja."


"Mereka sepakat memberiku uang untuk ongkos dan tanpa aku duga Nico malah mentransferku uang sangat banyak."


"Lalu kenapa kamu tidak pulang? dan Uang itu kamu apakan?"


"Aku malu untuk pulang dengan kondisiku. Aku melarikan diri dari rumah mereka dan uang itu lah yang aku jadikan modal usaha menjahitku, sayang. intinya, aku jadi berhutang sama Nico!"


"Oke, aku paham sekarang. Berapa hutang kamu sama Nico?"


"Dua puluh lima juta"


"Apa?" Erick sedikut syok.


Gia mengangguk lesu.


"Tapi uangnya masih bersisa di rekeningku. Nggak abis. Karena keburu aku punya uang dari hasil usaha dan kerja kerasku. Aku cuma pake uang itu diawal-awal aja. Itupun karena aku memang udah nggak punya uang sama sekali"


"Yaudah, makasih kamu udah jujur sama aku. Aku bantu kamu keluar dari masalah ini. Tapi aku juga harus ketemu Nico. aku nggak mau kamu yang ketemu dia dengan alasan bayar hutang atau apalah."


"Tapi, Nico..." Gia ragu-ragu menjelaskan tentang Nico pada Erick. Gia takut, selalu takut mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan Nico.


"Tapi apa?" Tanya Erick lagi.


"Tapi kamu janji ya kalau ketemu Nico kamu harus stok sabar sebanyak mungkin!" Jawab Gia cengengesan.


Erick masih bingung dengan maksud dari kata-kata Gia tapi ia mengangguk dan menurut saja.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


.hai udah hari senin nih. vote nya dikencangin dong!! biar author makin rajin up😬. terimakasih ya sudah memilih "Cinta diatas Hati" sebagai pilihan baca kalian.. seperti biasa, aku nggak bosen nyuruh kalian supaya jangan lupa like, komen, dan vote....! trus di love ya untuk di favorite-in. terimakasih❤️❤️❤️


__ADS_2