
Arga baru saja menyelesaikan aktifitas mandinya. Ia keluar kamar mandi dan mendapati sang istri yang tengah bercermin di meja rias. Ya, Gia dan Arga baru saja selesai mengikuti rentetan acara dan resepsi pernikahan mereka yang baru saja terjadi hari ini.
Gia melirik Arga dari pantulan cermin, tampaklah sosok lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi tubuh polossnya.
Gia menjadi salah tingkah karena untuk pertama kalinya ia melihat Arga dengan penampilan seperti itu. Ia menundukkan pandangan karena merasa malu sendiri.
"Ga.."
"Humm?" Arga melirik sekilas pada Gia, kemudian melanjutkan aktifitas membuka koper miliknya untuk mencari pakaian ganti di koper yang sempat ia bawa ke kamar hotel.
"Kamu sedang apa?" Tanya Gia yang heran melihat aktifitas Arga.
"Cari pakaian ganti." Jawab Arga lembut.
"Udah aku siapin itu." Tunjuk Gia pada tempat tidur hotel.
Arga melirik sekilas pada tempat tidur, tapi Gia yang menunduk malu membuatnya tersenyum penuh maksud.
"Kamu kenapa?" Bukannya mengambil pakaian yang dimaksud Gia, Arga malah mendekati sang istri yang masih tertunduk. Arga tahu pasti Gia sekarang malu melihat penampilan Arga yang hanya mengenakan handuk.
Gia menggeleng. Arga semakin mendekat dan berdiri di hadapan Gia.
"Kamu mau apa?" Tanya Gia masih tertunduk namun ia menyadari sekarang suaminya itu telah berdiri didepannya.
"Aku mau lihat wajah kamu yang kayak kepiting rebus." Jawab Arga sambil menahan gelak. Gia refleks mencubit perut Arga yang tidak dihalangi kain apapun.
"Aaaa..sakit, sayang!" Pekik Arga sambil meringis. Bukannya melepas cubitannya, Gia malah kembali memberikan Arga serangan lagi karena untuk pertama kalinya ia mendengar Arga memanggilnya "sayang" dan itu membuatnya merasa malu bercampur bahagia.
"Kamu udah berani pegang-pegang ya sekarang!" Ejek Arga pada sang istri. Mendengar itu Gia langsung menarik tangannya sendiri dan makin menunduk dalam.
"Hahaha..." Arga terkekeh geli melihat tingkah Gia.
"Sayang, kamu ternyata lucu ya." Ucap Arga sambil terus terkekeh.
"Udah sah, sayang! kalau mau pegang bagian lain juga boleh kok!" Bisik Arga tepat di telinga Gia, membuat wanita itu meremang menahan geli. Sontak Gia mengangkat wajahnya karena terkejut dengan perbuatan Arga, terutama karena ucapannya itu.
"Kamu mau pegang yang mana? Semuanya milik kamu sekarang!" Ucap Arga sambil memukul dadanya sendiri dengan bangga.
Gia mencebik dan memutuskan bangkit dari duduknya. Tak ada kata-kata dari mulutnya, hanya ada rasa malu karena ucapan Arga. Wajah wanita itu semakin panas dan memerah, Arga semakin gemas melihatnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Arga yang melihat sang istri sudah berdiri.
"Aku mau ke kamar mandi!" Jawab Gia pelan.
"Kan kamu udah duluan mandi tadi. Kenapa ke kamar mandi lagi?" Arga memperhatikan tingkah Gia yang aneh. Arga mengerti pasti Gia sedang kena serangan gugup sekarang.
"Aku mau cuci kaki." Jawab Gia asal, padahal ia mau menghindar dari suasana canggung antara ia dan Arga saat ini.
Gia berbalik dan ingin menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhenti karena sang suami sudah mencegat langkah itu dengan pelukan dari belakang tubuh Gia. Sepersekian detik tubuh wanita itu mengejang akibat ulah suaminya.
"Ka-kamu mau apa, Ga?" Tanya Gia pada Arga yang tersenyum mendengar pertanyaan gugup itu.
"Mau makan kamu!" Goda Arga. Gia semakin membeku di posisinya. Ada perasaan aneh dalam dirinya yang entah kenapa begitu membuncah. Ini bukan malam pengantin yang pertama baginya tapi entah kenapa ia merasa lebih gugup bersama Arga ketimbang waktu dulu. Entahlah. Mungkin karena Arga adalah sosok baru dan mereka tak pernah menjalin hubungan apapun sebelumnya.
__ADS_1
"Kok diem?" Arga terus saja menggoda Gia, kini tangannya sudah mulai merayapi kimono yang Gia kenakan, ia membuka tali kimono berbahan satin yang terikat di bagian perut Gia.
"Ga..." Suara Gia terdengar lirih dan ingin menghentikan aktifitas Arga, tapi bukannya berhenti Arga semakin tak kuasa ketika mendengar lirihan suara wanita itu. Arga melepas pelukannya sejenak saat tali pengikat kimono Gia sudah terlepas. Ia membuka perlahan kain itu dari belakang tubuh Gia, untuk memperjelas apa yang ingin ia lihat dibaliknya.
Gia menelan salivanya dengan susah payah ketika tiba-tiba Arga melepas penutup baju tidurnya yang tipis. Entah kenapa ia harus mengenakan ini, ini semua karena di kopernya hanya ada ini. Ini pasti ulah Nissa dan ibunya yang mengerjai Gia. Mereka sengaja mengisi koper Gia dengan baju-baju seperti ini dan mau tak mau Gia harus mengenakannya karena baju lain hanya baju untuk bepergian, tidak layak digunakan untuk tidur.
Gia gugup setengah mati ketika Arga sekarang sudah berdiri kembali dihadapannya. Lidahnya kelu tak bisa lagi bersuara ketika Arga menatapnya dengan tatapan sayu dan nanar, setelah kimono itu benar-benar terlepas dari tubuh Gia.
Arga mendekat dan memangkas jarak antara mereka berdua, ia memiringkan kepalanya dan meraih bibir sang istri dengan bibirnya. Merasai dan menncecap bibir itu dengan lembut. Gia membalas ciu man itu hingga bibir mereka terrtaut dan berpagutann satu sama lain. Ini adalah ciuman kedua mereka setelah pernah terjadi sekali didepan rumah Gia waktu itu. Dan ini benar-benar sesuatu yang baru untuk Gia. Getaran aneh mulai menguasai keduanya.
"Enghhh..." Gia melenguhh ketika bibir sang suami menempel di leher jenjangnya, membuat Arga semakin menjadi-jadi. Tangan Arga sudah bergerak leluasa dan tanpa ada yang mencegah, sudah menggera yangi tubuh bagian belakang istrinya.
"Arga...." Suara itu tertahan, karena lagi-lagi Arga melummatt bibir wanitanya dengan penuh gairahh.
Arga menguasai permainan mereka dan menuntun sang istri agar bergerak mendekati ranjang berukuran king itu. Dengan sekali tarikan, Arga melepaskan baju tipis penutup tubuh istrinya dan menanggalkan handuk yang sedari tadi menutupi tubuhnya, satu-satunya penghalang yang tersisa. Mereka berdua sudah polos di atas ranjang.
Arga menatap tubuh indah sang istri, perasaan yang membuncah semakin menggebu-gebu. Lidahnya beberapa kali mendarat di pucuk indah milik istrinya. Mere mas nya dengan gemas dan mengu lumnya. Suara rin tihan dan desahann mereka berdua terasa bergema di kamar hotel itu. Suara racauan Gia bak nyanyian yang indah di telinga Arga dan mendorongnya untuk melakukan lebih dan lebih.
"Aku akan melakukannya!" Ucap Arga lembut dengan suara parau. Gia hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Malam ini menjadi saksi penyatuan mereka berdua setelah keduanya resmi menikah siang tadi.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Gia terbangun dari tidurnya ketika bias-bias sinar mentari terasa menyilaukan. Ia terkesiap ketika melihat Arga sedang menyibakkan gorden kamar.
"Maaf, aku mengganggu tidurmu ya?" Tanya Arga pada sang istri sambil menyunggingkan senyum berlesung-nya.
"Kamu udah mandi? Ah, aku kesiangan ya?" Gia menggeliat dalam posisi berbaring, sementara Arga memandanginya dengan tatapan aneh. Gia spontan melihat ke arah tubuhnya sendiri yang ternyata tak mengenakan apapun, hanya ditutupi selimut dan selimut itu terangkat akibat ulahnya yang menggeliat barusan.
"Apa?" Tanya Gia pada suaminya yang melihati tubuh polosnya itu dengan tatapan nanar. Gia yang baru tersadar langsung menarik kembali selimut untuk menutupi bagian yang terbuka.
Arga menyeringai. "Nggak apa-apa kok!" Ucapnya sambil nyengir.
"Yaudah, aku mau mandi!" Kata Gia datar.
"Mau di mandiin enggak?" Arga menaik-naikkan alisnya.
Gia berdecak. "Gak usah. Udah gede, udah bisa mandi sendiri!" Jawab Gia asal.
Arga terkikik mendengar jawaban Gia. 'istriku yang lucu' batinnya.
Gia bangkit dan ikut menarik selimut itu untuk ia jadikan penutup tubuh selama menuju kamar mandi diujung kamar.
"Ribet amat sayang, lepasin selimutnya nanti basah!" Ucap Arga yang mencegat langkah Gia yang tertatih-tatih.
"Kamu jangan enggak-enggak ya, Ga! aku mau mandi. Ini udah lengket banget!" Protes Gia.
"Ya aku kan saran aja biar kamu gak ribet. Lagian ngapain ditutupin gitu? Aku juga udah liat semuanya!" Jawab Arga cuek dan dibalas pelototan tajam oleh sang istri. Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian mundur teratur karena melihat Gia memberikannya tatapan tajam.
"Oke, selamat mandi sayangku!" Ucapnya dengan tatapan lembut nan menggoda.
"Humm" Gia melangkah masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Sesampai dikamar mandi, Gia bersandar di daun pintu setelah menguncinya. Ia malu sendiri melihat wajah sang suami akibat pergu mulan mereka malam tadi. Gia memegang dadanya yang masih berdebar-debar, kemudian tangannya pindah untuk menangkup kedua pipinya yang terasa memanas akibat membayangkan apa yang sudah terjadi antara ia dan Arga. Sebersit senyuman terbit dari kedua sudut bibirnya.
"Sayang, mandinya jangan lama-lama ya!" Pekik Arga dari luar kamar mandi, membuyarkan lamunan Gia yang terjadi beberapa saat.
"Iya." Jawab Gia. Ia pun memutuskan untuk segera membersihkan diri.
Selang beberapa saat, Arga melihat Gia sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe, ia tersenyum bahagia mendapati pemandangan ini.
"Udah siap?" Pertanyaan yang seharusnya tak perlu dijawab oleh Gia.
Gia mengangguk dan Arga menarik tangannya untuk ikut bergabung di sofa.
"Aku pakaian dulu, Ga!" Ucap Gia.
"Ini minum dulu!" Ucap Arga. Gia terkejut, ternyata bukan hanya kesiangan, tapi tanpa sengaja ia juga telah membiarkan suaminya yang menyediakan segelas teh untuk ia minum.
"Kamu buatin aku teh? Aku minta maaf, Ga. Seharusnya ak--"
"Stttss...gak apa-apa. Aku tau kamu capek. Udah minum dulu!"
Gia mengangguk.
"Oh iya, boleh aku minta satu permintaan hari ini?"
"Apa itu?" Tanya Gia sambil menyesap teh dari cangkirnya.
"Mulai sekarang, biasakan memanggilku dengan sebutan 'sayang', oke?"
Gia terkikik sambil mengangguk. Ia pun menyadari jika panggilannya pada Arga masih kaku seperti dulu.
"Coba praktek!" Suruh Arga.
"Sa..yang.." Gia ragu-ragu.
"Hahaha..ya sudah, biasakan ya!" Arga ikut menyesap kopi miliknya.
"Aku sayang kamu." Ucap Gia dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Apa?"
"Enggak."
"Kamu bilang apa tadi? Coba ulangi!"
"Gak ada."
"Ada kok. Aku dengar!"
"Yaudah kalau dengar." Gia bangkit dan ingin menuju koper untuk mencari pakaian ganti.
"Aku lebih sayang kamu!" Ucap Arga yang membuat Gia tersenyum bahagia disela-sela kegiatannya meraih koper.
____________________
__ADS_1