Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Tidak Percaya Diri -


__ADS_3

Gia sedikit mundur karena orang didepannya mulai berjalan maju mendekatinya.


"Aku tidak melihatmu ada disini juga dari tadi. Apa kau baru saja sampai?" Tanya lelaki itu.


Tentu saja ia tak akan melihat Gia berada di Cafe yang sama karena sedari tadi Gia berada diruangan Privat khusus yang hanya bisa dimasuki oleh Erick, suaminya.


"Iya." Jawab Gia singkat. Malas menjelaskan pada lelaki tengil didepannya ini.


"Permisi aku harus ke toilet!" Sambung Gia. Ia melewati begitu saja tubuh tinggi didepannya.


Setelah selesai dengan urusannya ditoilet, Gia sedikit merapikan penampilannya didepan cermin sebelum keluar dari ruangan itu. Gia berjalan pelan melewati lorong dan sesampainya didepan lorong itu ia tak menyangka lelaki itu masih disana dan sepertinya memang sengaja menunggunya.


Gia ingin meninggalkannya tapi langkahnya terhenti ketika lelaki itu berbicara padanya.


"Aku sempat khawatir ketika kau menghilang waktu itu!" Ucapnya.


"Syukurlah sekarang kau baik-baik saja, dan selamat ya atas pernikahanmu! Maaf aku tidak bisa hadir karena ada urusan pekerjaan. Semoga kamu berbahagia, Gia!" Sambungnya lagi.


Gia menoleh melihat lelaki yang ia belakangi sekarang.


"Terimakasih Nico. ku harap kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu!" Jawab Gia tulus.


Nico mengangguk-angguk, senyumnya tak hilang. Namun ucapannya sukses membuat Gia mengerutkan kening.


"Kebahagiaanku sudah diambil oleh orang lain. Ku rasa aku tak akan pernah bahagia!" Ucapnya pesimis.


"Maksudmu?"


"Kau, kau kebahagiaanku Gia. Tapi nampaknya takdir tidak pernah berpihak padaku!"


Gia menggelengkan kepalanya. Ia malas untuk menjawab lagi ucapan Nico. Ia ingin pergi saja dari hadapan Nico sekarang.


"Jangan menyalahkan takdir. Kau yang banyak menyia-nyiakan waktu!" Tiba-tiba suara yang sangat Gia kenal itu menyahuti ucapan Nico.


Gia yang hendak melangkah pergi pun urung, karena mendapati Erick sudah berada ditengah-tengahnya dan Nico.


Nico tersenyum miring mendengar kalimat Erick. Ia sadar bahwa ucapan Erick adalah benar. Tapi mana mungkin ia mengiyakan.


"Darimana kau berpikir bahwa aku banyak menyia-nyiakan waktu? apa kau mengenalku?" Sindir Nico.


Erick mengangkat bahu dan mencebikkan bibirnya.


"Kenyataannya waktumu sudah habis sekarang!" Ucap Erick dengan santainya.

__ADS_1


Erick meraih tangan Gia, mengajaknya untuk pergi meninggalkan Nico yang terdiam dengan ucapan Erick barusan.


"Jangan terlalu banyak mencari! Yang sama tidak akan pernah ada, hanya ada satu dan itu sudah jadi milikku!" Erick menoleh ke arah Nico dengan senyuman bangga yang terkesan mengejek.


Gia meremas jemari Erick yang masih menggenggam tangannya. Gia gemas melihat Erick masih meladeni Nico. Ia memberi kode untuk segera pergi.


"Milikmu akan jadi milikku jika kau menyia-nyiakannya! ingat itu!" Ancam Nico. Suara Nico bergema karena ia sedikit berteriak ketika Erick dan Gia sudah melangkah meninggalkannya.


Tentu saja Erick masih mendengar suara bariton nya itu. Erick hanya melambaikan tangan seolah mengusir Nico tanpa menoleh sedikitpun dan terus berjalan kearah luar Cafe.


°°°


"Cih! Bisa-bisanya dia mengancamku." Erick memasang seatbelt namun masih jengkel dengan kelakuan Nico.


Gia yang duduk disebelahnya pun hanya bisa diam tak mau menimpali ucapan suaminya yang ia tau memang sedang kesal. Jangankan Erick, Gia saja selalu kesal jika bertemu Nico. Selalu.


"Aku enggak mau kamu ketemu dia lagi!" tegas Erick, kini menatap istrinya dengan serius.


"Mana aku tau bisa ketemu dia di Cafe tadi." Ucap Gia pada akhirnya. Ia tak mau Erick mengira Gia sengaja bertemu dengan Nico.


Erick mulai mengemudikan mobilnya dan diam dengan pikirannya sendiri.


"Apa dia besar kepala karena pernah membantu kamu?"


"Gimana nggak dibahas. Aku rasa semua lelaki yang dekat sama kamu itu terang-terangan ya nantangin aku!"


"Maksud kamu?"


"Ya nggak mantan kamu itu, nggak si Arga, sama!"


Gia terdiam mendengar Erick menyebut nama Arga. Entah bagaimana kabar Arga saat ini.


Hening..


"Kenapa? kamu teringat sama Arga?"


Gia menatap Erick tak suka. Kenapa jadi membahas Arga sekarang. Padahal baru beberapa saat tadi Erick marah soal Nico.


"Kenapa jadi bahas Arga sih? Nggak ada hubungannya!" Ucap Gia pelan seperti menggerutu. Tapi tentu saja Erick masih mendengarnya.


"Enggak ada hubungannya kamu bilang? kan udah aku bilang mereka berdua sama!"


"Ya tapi kenapa Arga dibawa-bawa!"

__ADS_1


"Jadi kamu nggak terima? kamu mau belain dia?"


"Kan...kan kok jadi gini sih?" Gia membuang pandangan keluar jendela mobil. Percakapan ini nggak akan berakhir kalau dilanjutkan terus. Lebih baik ia diam.


Perjalanan mereka menuju rumah terasa amat lama, karena hanya keheningan yang tercipta. Gia memijat pelipisnya yang mendadak pening karena pertengkaran yang berujung membahas Arga.


Sesampai dirumah, Erick menahan lengan Gia yang akan membuka pintu mobil.


"Maaf sayang, aku tadi emosi!"


Gia hanya mengangguk malas.


"Mungkin aku bisa menghadapi Nico, karena apa yang dia lakukan untuk kamu bisa aku gantikan. Tapi menyangkut Arga, aku--"


"udahlah jangan dibahas lagi!" Gia masih kesal dengan tingkah suaminya itu.


"Sayang, jujur aja aku nggak percaya diri menghadapi Arga. Dia selalu bisa menolongmu disaat aku nggak ada. Sepertinya dia juga punya tempat tersendiri dalam hati kamu!" Erick tertunduk menyadari ucapannya.


"Maaf aku harus membahasnya dan membuatmu teringat padanya" ucap Erick lagi.


"Aku enggak mau bahas itu lagi. Bisa kan?" Gia tak mau memberi pernyataan apapun tentang ucapan Erick. Mungkin benar Arga punya tempat tersendiri dihati Gia. Entahlah. Tapi mana mungkin ia mengiyakan ucapan suaminya itu.


"Sekarang berangkatlah! jam makan siangmu sudah habis!"


Erick mengangguk dan melepas kepergian istrinya menuju rumah yang sudah didepan mata.


Ia mengusap wajahnya dan mencoba menetralkan perasaannya sebelum akhirnya ia mengemudikan lagi mobilnya itu untuk kembali menuju kantor.


Gia menghembuskan nafas perlahan, mencoba menata hatinya yang tiba-tiba jadi teringat Arga akibat ulah suaminya sendiri. Apa benar setelah kebersamaannya beberapa waktu lalu bersama Arga sudah membuatnya punya perasaan tersendiri untuk lelaki itu.


Arga sering menolongnya, mungkin itu lah yang membuat Gia sedikit berpikir lebih tentang Arga. Sepertinya kata-kata Erick benar adanya.


Gia melangkah masuk kedalam rumah, mencoba membuang pikirannya tentang Arga.


"Apakah sekarang aku ragu atas perasaanku sendiri? Tidak! tidak! semua ini udah pada semestinya!" Batin Gia menolak perasaan yang muncul ketika mengingat Arga. Menepis pikiran-pikirannya yang tiba-tiba dipenuhi oleh sosok Arga.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2