Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Keputusan Arga -


__ADS_3

"Kamu yakin mau tinggal di Jakarta aja, Ga?" Tanya bu Dewi pada anak semata wayangnya.


Arga mengangguk yakin.


Ibu Dewi memperhatikan gerak-gerik anaknya yang sekarang semakin sibuk bekerja, bahkan jarang mempedulikan aktifitas lainnya.


Arga tidak mau mengambil pusing apapun saran dari Mamanya itu. Karena keputusannya sudah final, untuk lebih fokus bekerja dan mungkin akan pulang kerumah Mamanya hanya beberapa kali dalam setahun.


Sebenarnya Arga tak tega meninggalkan Mamanya seorang diri, hanya berteman dengan beberapa asisten rumah tangga dirumah peninggalan Almarhum papanya ini. Itulah yang membuat Arga selalu pulang-pergi agar bisa tetap dekat dengan Mamanya. Setiap akhir pekan Arga menyempatkan pulang meski perusahaaan yang dipimpinnya berfokus di Jakarta.


"Arga harus fokus kerja, Ma. Perusahaan dalam kondisi kurang baik sekarang. Nanti kalau sudah aman, mungkin Arga akan sering kesini lagi." Papar Arga pada Mamanya.


Arga sudah dari dulu meminta agar bu Dewi ikut tinggal bersamanya di Jakarta. tapi mamanya itu tak mau meninggalkan rumah yang banyak menyimpan kenangan bersama Almarhum suaminya.


"Atau kalau Mama mau, mama aja yang ikut Arga ma." Tambah Arga penuh harap.


"Mama pikir-pikir lagi lah!" Ujar Bu Dewi sembari pergi meninggalkan Arga yang masih sibuk didepan Laptopnya.


Arga hanya mengangguk-angguk sebagai tanda memahami mamanya yang selalu berujar kata yang sama setiap diajak pindah.


Keberangkatan Arga adalah sore ini juga, ia tak perlu banyak berkemas karena semua kebutuhannya sudah lengkap di Jakarta. Karena notabenenya Arga sebenarnya berdomisili disana. Barang-barangnya yang disana bahkan lebih lengkap daripada yang ada dirumah Mamanya ini.


Arga mengusap wajahnya frustasi. Perusahaannya sedikit terganggu karena akhir-akhir ini Arga sering abai. Arga biasanya tak pernah begini, tapi permasalahan hati kali ini sedikit banyak membuatnya lumayan tak fokus.


Dion, asisten pribadi sekaligus kawan dekat Arga pun kelimpungan menangani perusahaan Arga, sekaligus bingung menghadapi sikap Arga yang tak seperti biasanya.


Arga tidak bisa menyalahkan Dion. Ini murni kesalahannya. Banyak orang bergantung padanya. Semua staff dan pegawai yang bekerja dibawah naungan perusahaannya adalah tanggung jawab Arga.


Perusahaan mulai oleng, saham merosot turun. Untuk itulah Arga harus segera bertindak untuk menyusun strategi bisnis kedepannya. Untungnya Dion segera menyadarkan Arga, padahal Dion sendiri pun tak tahu bahwa Arga sedang mengalami permasalahan hati.


Dion hanya menebaknya saja sebagai seorang yang dekat dengan Arga.


"Ga, ini gue ngomong sebagai teman lo bukan sebagai bawahan lo. itupun kalo lo masih mau dengerin omongan gue! menurut gue, kalo lo ada permasalahan apalagi itu menyangkut perasaan. lebih baik lo sampingin dulu lah! lo harus inget, itu para pekerja lo, nasibnya semua ada ditangan elo, ya termasuk gue juga!" Ucap Dion ketika itu.


"Semua bakal pulih kalau lo mau bertindak. gitu juga dengan masalah lo. who knows?" Kata-kata Dion menyadarkan Arga bahwa memang ia harus bertindak, terlebih permasalahannya dengan hati. Ia harus bertindak paling tidak ya bekerja keras untuk melupakan Gia walau itu sulit.


Bicara soal Gia, Arga mendapat pesan berupa Undangan video yang dikirim dari nomor pribadi Gia beberapa saat lalu. Arga membuka pesan itu, tentu saja perasaannya pedih seusai melihat isi video itu.


Arga memutuskan tidak menghadiri undangan acara pernikahan Gia, walau sebenarnya bisa saja ia datang. Tentu saja dengan perasaan yang berkecamuk. Tapi Arga memutuskan untuk absen. Bagaimanapun Arga tidak bisa berpura-pura bahagia dengan pilihan Gia yang menikah dengan Erick.


Arga tidak munafik, jauh didalam lubuk hatinya ia merutuki Erick yang telah menikahi Gia. Kenapa lagi-lagi kisah cintanya begitu payah? padahal ia baru memulainya.


********


Arga memasuki Bandara, ia menoleh sebentar menatap dalam-dalam tempat kelahirannya yang juga tempat awal mula pertemuannya dengan Gia. Ia tersenyum miring mengingat pertemuan pertamanya dengan Gia di sebuah pasar tradisional. Gia, gadis yang awalnya ia anggap remeh dan tak jelas.

__ADS_1


Arga menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan ingatannya tentang Gia. Setelah hari dimana Gia menikah dengan Erick, kebiasaan Arga menjadi bertambah satu, yaitu kembali menstalking sosial media milik Gia, seperti yang pernah ia lakukan dulu.


Sebenarnya hati Arga amat sakit melihat unggahan foto pernikahan Gia di akun nya tersebut, foto Gia yang bersanding dengan Erick. Tapi Arga tersenyum melihat wanita yang masih berada dihatinya itu sangat anggun dan cantik. Arga berandai-andai bahwa dialah yang duduk disamping Gia sebagai pasangannya.


"emang bener udah gila lo Ga!" Batinnya bicara pada dirinya sendiri, menolak yang terlintas dipikirannya.


Arga sudah didalam kabin pesawat, ia duduk dan memasang safety belt-nya. Mengabaikan orang-orang yang lewat dan sedang mencari kursi yang sesuai.


Arga larut dalam lamunannya sendiri. Menghela nafas panjang dan memutuskan untuk memikirkan progres dan strategi yang telah ia susun untuk perusahaannya.


💠💠💠💠💠💠


Gia sedang harap-harap cemas menunggu suaminya yang belum juga pulang dari tempatnya bekerja.


Beberapa kali Gia menelepon Erick tapi panggilannya tidak tersambung. Perasaan Gia mulai tidak enak. Gia berjalan mondar-mandir diruang tamu Apartment.


Tiba-tiba pintu itu terbuka dari luar, pertanda ada yang masuk dengan menekan Pin Apartment.


"Sayang? kamu belum tidur?" Erick masuk menghampiri istrinya.


"Gimana mau tidur, suami aku belum pulang-pulang!"


"Maaf ya aku nggak ngabarin. Aku lembur tadi.. dan sangking sibuknya, baru sadar handphoneku habis baterai." ucap Erick sungkan sambil memperlihatkan ponselnya.


"Yaudah aku buatin kamu teh dulu, lain kali kalau lembur kabarin aku ya biar aku nggak khawatir."


Erick mengangguk dan mengikuti Gia yang berjalan ke dapur.


"Kamu udah makan?" Ucap Gia sambil membuatkan teh untuk suaminya.


Erick menggeleng sambil menerima segelas teh hangat yang dibuatkan Gia.


Erick meminum tehnya yang terasa hangat, menyisakan lagi didalam gelas.


"eh, kamu udah makan kan sayang?" Erick bertanya pada Gia.


Gia menatap Erick yang masih saja memperhatikannya padahal pasti ia sangat lelah.


"Belum. aku nungguin kamu!" jawab Gia.


"Sayang, lain kali kamu jangan nungguin aku, kamu makan duluan. Dan kalau aku lembur, kamu tidur aja duluan ya!" tutur Erick begitu lembut pada istrinya itu.


"Iya aku coba ya. Kamu belum makan kan? sekarang kamu mandi dulu, abis itu kita makan sama-sama. oke?" Gia membentuk jari telunjuk dan jempolnya menjadi huruf O.


Erick tersenyum dan berdiri, mengecup sekilas ujung kepala istrinya yang sangat ia cintai, lalu berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Erick keluar dengan setelan santainya. Kaos putih polos dipadu celana pendek berbahan kain ringan. Gia menatap suaminya itu dengan berbinar-binar. "Suamiku memang tampan" Batinnya.


Kemudian Erick dan Gia melakukan kegiatan makan malam bersama-sama setelah Gia mengambilkan nasi lengkap dengan laukknya dipirinh makan Erick dan dirinya sendiri.


"Sayang, aku sangat menyesal!" ucap Erick disela-sela makannya.


"Menyesal kenapa?" Gia pun tampak bingung arah pembicaraan Erick.


"Iya, menyesal menikah!" Ujar Erick dengan santainya.


"Maksud kamu? kamu nyesal udah menikah sama aku?" Gia menatap Erick tak percaya.


Erick mengangguk. "Iya sayang, aku menyesal menikah, kenapa nggak dari dulu aja aku menikah sama kamu. kenapa baru sekarang!"


Gia yang awalnya hampir kesal mulai mencerna kata-kata Erick barusan.


"Ternyata menikah itu enak, aku nyesal nggak berontak dari dulu supaya direstui. dan aku menyesali sikapku yang terlalu lama menjadi pengecut didepan keluarga kamu, sayang!"


"Kalau tau nikah seperti ini, aku pasti udah dari dulu memberanikan diri. Otomatis kita juga nggak akan melakukan hal yang dilarang." sambung Erick.


Gia tidak tahu mau menjawab apa kata-kata suaminya itu. Bukan hanya Erick, tapi dulu Gia pun terlalu takut untuk membicarakan perihal pernikahan. Selalu mengalihkan pembicaraan jiks menyangkut hal itu.


"Dan kita nggak bakalan kehilangan calon anak kita!" Ujar Erick lagi. Kini matanya berkaca-kaca. Gia menatap Erick penuh arti, takut kejadian ketika pertama kali Erick tahu bahwa Gia keguguran waktu itu terulang lagi.


"Udahlah sayang, semua udah terjadi. Aku udah ikhlas. Kamu juga harus ikhlas ya." Ucap Gia menguatkan Erick. tapi tak bisa dibendung airmatanya pun jatuh mengingat saat awal-awal kehamilannya dulu tanpa siapapun disisinya. Amat berat dan harus berakhir menyakitkan ketika kehilangan anak yang dikandungnya.


"Maaf sayang, waktu itu aku nggak berada disamping kamu!" Erick menghentikan aktifitas makannya. Merengkuh tubuh istrinya yang ketika dipeluknya malah semakin menangis terisak.


"Aku janji, kalau nanti kamu mengandung. aku bakal ada disamping kamu. Aku usahain turutin semua mau kamu sayang."


Gia mengangguk masih dalam pelukan suaminya itu. Mereka menyudahi makan malamnya karena sudah tak berselera.


Tiba-tiba ponsel Erick berdering menandakan adanya panggilan. Diliriknya layar ponsel 6 inci itu dan dengan cepat mengusap tombol hijau.


"Hallo, Ma?


"....."


"Apa? Iya Erick dan Gia kesana sekarang!"


Erick menutup panggilan yang tersambung. Menatap pada istrinya yang sudah mengakhiri tangisan dengan mata yang terlihat masih memerah.


"Sayang, ganti baju ya. kita secepatnya kerumah mama!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2