
*Flashback On
Erick memasuki kantor dalam keadaan sunyi. Ia mengernyit heran, kenapa tidak ada satupun yang datang ke kantor hari ini. Ia mencoba menghubungi atasannya namun atasannya itu memberi titah untuknya agar ia masuk saja kedalam ruangan atasannya itu. Alias owner dari perusahaan. Erick mendengar suara-suara yang berasal dari ruangan itu, namun ia mengabaikan pendengarannya.
Erick mengetuk pintu, dan hanya dengan satu ketukan, pintu itu dibuka dari dalam. Erick sedikit terkejut mendapati bosnya dan beberapa orang berpenampilan misterius. Erick mencoba mengabaikan orang-orang itu dan berusaha fokus hanya pada bos-nya.
"Apa hari ini para staff di liburkan, Pak?" Tanya Erick pada lelaki setengah baya itu.
Lelaki itu mengangguk.
"Lalu, kenapa saya diminta untuk datang?" Tanya Erick semakin heran.
"Aku meminta bantuanmu Erick, ku harap kau bisa bekerja sama dengan kami!" jawab bos-nya itu.
"Kami?" Erick mengangkat sebelah alisnya sambil melihat orang-orang misterius itu yang berjumlah lima orang. Perasaannya mulai tak enak.
"Begini Erick, kenalkan ini Mr. Tan, Dia adalah rekan bisnis ku dari Tiongkok."
Erick mengangguk mengerti.
"Kendalanya seperti biasa Erick, Mr. Tan tidak bisa berbahasa indonesia dan inggris. Ia hanya bisa menggunakan bahasanya. Jadi, tugasmu menerjemahkan pembicaraan kami!"
"Baik." Ucap Erick sedikit ragu.
Setelah berbincang dan menjelaskan panjang lebar, Erick hendak permisi pamit dengan membawa perasaan tidak nyaman. Namun, langkahnya dihentikan oleh seseorang yang berada didalam ruangan itu. Serangan yang tiba-tiba membuat Erick tidak berkesempatan untuk melawan. Tiba-tiba tubuhnya sudah bersimbah darah. Pisau belati itu menancap tepat dijantungnya.
Erick dibiarkan terkapar begitu saja didalam ruangan itu. Dan semua yang berada diruangan itu pergi meninggalkannya entah kemana.
__ADS_1
*Flashback Off
"Jadi maksudmu, Erick dibunuh?" Pekik Arga kepada Gia setelah mereka sampai didalam mobil Arga. Arga terlihat syok.
Gia mengangguk lemah. Pertanyaan Arga membuatnya mau tak mau untuk mengenang masa lalu. Masa yang sulit dan sangat sangat menyakitkan.
"Alasannya?"
"Karena dia tahu sebuah rahasia dari percakapan antara mereka!"
"What?" Arga terbelalak dan Gia menyeka air matanya setelah mengenang kejadian itu.
"Pembunuh dan semua yang terkait sempat kabur dari incaran polisi, ada pula yang mengatakan bahwa Erick bunuh diri."
Arga memijat keningnya yang mendadak pening.
"Namun aku yang mengenal Erick tetap tidak terima jika suamiku dianggap mengakhiri hidupnya sendiri, terlebih pisau itu berada tepat dijantungnya!" sambung Gia lagi, pandangannya mulai kosong saat bercerita.
"Gia, dengar aku, kalau kamu tidak sanggup menjelaskan lagi sudahi sampai disini. Setidaknya aku sudah memahaminya"
Arga sebenarnya tak berniat agar Gia menjelaskan secara detail, ia hanya ingin tahu kenapa Erick meninggal. Ia tak menyangka, ternyata rivalnya itu harus pergi dengan cara tragis. Arga masih merutuki dirinya sendiri, ada penyesalan kenapa ia menyerahkan foto-foto ketika pemakaman Erick pada Gia. Harusnya ia hanya bertanya saja tidak menuntut penjelasan. Hanya saja, rasa penasarannya dan rasa pedulinya terhadap Gia membuatnya salah langkah dan salah mengambil tindakan.
"Maafkan aku sudah menuntut penjelasan ini!" Arga menangkup kedua pipi Gia. berusaha menatapnya agar pandangan Gia beralih kepadanya.
Gia mengangguk lemah.
"Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pembunuhan itu terungkap berdasarkan sidik jari dari pisau itu" Jelas Gia lagi.
__ADS_1
"Sudah Gi, jangan diteruskan!"
"Tak apa Ga, aku sudah mengikhlaskannya" Arga membantu mengusap air mata Gia. Ia merasa nyeri melihat tangisan Gia. Walaupun kematian Erick membuat status Gia kembali sendiri, tapi bukan berarti Arga senang akan hal itu. Justru ia ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Gia. Bagaimanapun, ia tahu bahwa Erick sangat mencintai wanita yang juga ia cintai ini.
"Mereka mafia. Berbisnis barang haram, Erick mengetahui hal itu karena Erick mengerti jelas percakapan mereka. Untuk menghindari Erick yang bisa saja melaporkan transaksi dan bisnis mereka, untuk itulah mereka melenyapkan Erick! sungguh tidak berprikemanusiaan!"
Gia terlihat murka, kini wajahnya memerah. Sepertinya ia menyimpan dendam untuk orang-orang itu. Arga mengerti perasaan yang Gia rasakan. Untuk itu Arga tetap diam dan mendengarkan. Tak ada lagi airmata dari wajah wanita itu yang tersisa hanyalah pias kebencian dan amarah.
Arga memeluk Gia, mencoba meredam api kemarahan itu.
"Mereka pasti mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya, Gi!" Ucap Arga disela-sela pelukannya pada Gia yang melemah. Gia mengangguk.
"Mereka pasti akan dihukum mati. Apalagi mereka adalah pengedar kelas kakap sekelas Mafia barang haram. Dan mereka tidak akan dilepaskan begitu saja, mengingat mereka juga membunuh Erick!"
"Ya, aku tahu itu Ga. Karena dari itulah, aku mencoba ikhlas dan berusaha kembali hidup dengan baik-baik saja. Setidaknya, pembunuh Erick sudah mendapat ganjaran yang setimpal" Ucap Gia.
Arga melajukan mobilnya, entah kemana ia akan membawa Gia. Yang jelas, Arga ingin membantu Gia memulihkan luka dihatinya. Arga tidak akan memaksa Gia untuk menjelaskan apapun lagi. Arga meyakini, Gia yang sekarang masih tetap sama dengan Gia yang dulu ia kenal. Hanya saja, kenyataan hidup terus mengujinya untuk kuat.
Ada perasaan menyesal direlung hati Arga, kenapa ia tak berada disamping Gia disaat-saat terburuknya dulu. Pasti saat itu Gia sangat terpukul. Dan selama setahun belakangan pasti Gia berusaha tetap tegar didepan banyak orang.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...