
Suara dering ponsel Gia membuyarkan dua orang manusia yang mematung diposisi dengan pikiran masing-masing.
Gia menggeser tombol hijau di touchscreen ponselnya untuk menjawab panggilan itu.
"Iya Rick? Aku sudah sampai dirumah!" Ucap Gia sembari melihat Arga yang berdiri disampingnya.
Arga mengerti bahwa itu panggilan dari Erick. Arga diam mencoba acuh dengan pembicaraan mereka. Ia kembali duduk dikursi teras, meninggalkan Gia yang masih pada posisinya bersandar di tiang penyangga.
"Aku tadi ada urusan kerjaan, aku belum bisa pulang kesana, Rick. Kebetulan tadi aku udah tanda tangani kontrak dengan sebuah butik. Jadi aku harus pantau dulu pembuatan yang diproduksi sama mereka" jelas Gia pada Erick.
Arga mendengar jelas pembicaraan Gia, tapi ia tak tahu apa yang dikatakan Erick diseberang sana.
Arga mencoba mengalihkan perhatian dengan mengambil ponselnya dan bermain game. Ia tidak enak harus menguping pembicaraan Gia lagi. Karena sekarang ia tahu bahwa Gia memang menjalin hubungan dengan Erick.
"Kamu nggak usah kesini untuk jelasin! Kamu bilang aja sekarang!" Desak Gia pada Erick diseberang sana.
"Aku udah bilang sama mama, tapi jawaban mama tetap sama, Yang." Jawab Erick. Terdengar suaranya lesu tak bersemangat.
Gia diam beberapa saat, sampai akhirnya dia bersuara lagi.
"Ya sudah, kalau keputusan final dari mama kamu seperti itu. Mungkin artinya kita tidak berjodoh!" Ucap Gia disela-sela tangisnya yang dia tahan.
Sayup-sayup suara Gia itu terdengar di telinga Arga yang masih memainkan Game, ia mengalihkan perhatiannya kedepan. Melihat Gia yang sepertinya sudah terisak.
Arga berdehem memberikan kode bahwa ia mau mengucapkan sesuatu. Ia benar-benar tak enak berada disini sekarang.
"Sebentar ya" ucap Gia pada sambungan handphone nya sembari melihat Arga yang beranjak.
"Aku pulang" kata Arga tanpa suara. Hanya mulutnya yang membentuk kata-kata itu.
Gia mengangguk setuju. Ia memperhatikan Arga yang berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Kamu sama siapa?" Suara Erick diseberang sana mengalihkan Gia.
"Apa?"
"Kamu sama siapa dirumah?"
"A-aku sama Lyra" jawab Gia gugup. Ia tidak mau Erick berpikiran yang tidak-tidak.
"Serius? Aku dengar suara lelaki tadi"
Erick mendengar suara Arga yang berdehem tadi.
"I-iya, serius. Aku sama Lyra"
"Ya udah, aku belum bisa terima keputusan kamu tentang kita yang nggak berjodoh, Gi. Aku bakalan bicara lagi sama mama. Atau kalau perlu sama papa sekalian!"
"Kamu jangan buat kondisi papa mu makin drop, Erick! Jangan egois. Aku sudah bilang kan, aku nggak mau kamu memilih antara aku dan keluargamu!"
"Kalau aku mau memilih, bagaimana?"
"Kalau kamu memang harus memilih, pilihlah keluargamu!"
"Tapi Gia? Kamu tau aku nggak mungkin ninggalin kamu!"
"Kalau itu yang terbaik, kenapa enggak? Sudahlah. Aku malas berdebat soal ini. Ujung-ujungnya hanya keributan yang ada diantara kita!"
"Aku memilihmu Gia. Tunggulah aku datang menjemput kamu!"
Gia langsung memutus panggilan tanpa berniat menjawab kata-kata Erick.
Semuanya terasa menyakitkan untuk Gia. Semua yang pernah ia dan Erick lalui sepertinya harus direlakan sampai disini.
Akhir kisah mereka sudah tampak didepan mata. Bukan berakhir bahagia tetapi tetaplah berakhir menyakitkan.
Gia sadar, Gia tidak mau melanjutkan ini jika banyak pihak yang akan tersakiti nantinya. Gia tidak mau memulai hubungannya dengan Erick jika ia harus mengecewakan orang banyak.
******
Hari-hari berlalu, tanpa terasa semenjak Gia menerima kenyataan bahwa restu dari keluarga Erick belum kunjung didapatkan, ia jadi malas menerima telepon dari Erick. Ia mengabaikannya.
Gia terlalu sakit hati dengan penolakan yang berkali-kali. Terlebih lagi ia lelah, lelah menjalani semuanya.
Gia memang mencintai Erick. Tapi ia sadar, cinta saja tidak cukup. Apabila memang mereka tidak ditakdirkan bersama. Apalagi yang mau dipaksakan.
Gia menjalani hari-harinya dengan semangat. Menyibukkan diri sebagai penilai rancangan yang sudah diproduksi menjadi baju atau gaun yang bisa dipasarkan.
__ADS_1
Gia mondar-mandir setiap hari dari rumahnya ke butik milik Mikha.
Perlahan-lahan, sudah tiga bulan ini dia menjalani bisnis bersama Mikha. Dan sudah tiga bulan terakhir ini pula ia sudah tak memberi kabar pada Erick.
Erick yang sering menghubunginya pun perlahan-lahan mulai jarang menelpon Gia. Entah apa yang dilakukannya disana. Gia tidak tahu.
Kadang Gia lemah dengan rasa rindunya terhadap Erick. Tapi ia urungkan untuk menghubungi Erick, hingga dia putuskan memblokir nomor Erick.
Gia melakukan itu bukan tanpa alasan, itu ia lakukan karena ia mau Erick sadar bahwa hubungan yang dipaksakan akan berakhir tidak baik.
Gia berusaha setiap hari menyibukkan dirinya untuk melupakan Erick. Meski sebenarnya Gia tidak mampu menghilangkan nama Erick dihatinya.
"Gi, aku boleh bertanya?" Mikha memulai obrolan dengan Gia yang sedang memantau hasil produksi di butik Mikha.
"Tentang apa?" Tanya Gia.
"Maafkan aku ya Gi, semenjak mengenalmu kurang lebih empat bulan lalu, aku merasa ada yang janggal."
"Maksudnya?"
"Aku ingin jujur kepadamu, Gia"
Mikha menjeda ucapannya beberapa saat.
"Waktu pertama kita berkenalan, namamu terasa familiar ditelingaku. Aku menyuruh kakakku menyelidiki latar belakangmu!"
"Apa?" Gia tampak syok.
"Untuk apa kau tau tentang latar belakangku?" Tanya Gia lagi.
"Kau pasti mengenal Erick, aku menyukainya semenjak pertemuan pertama kami." ucap Mikha tanpa keraguan.
Gia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan hatinya yang serasa bergemuruh akibat ucapan Mikha. Bisa-bisanya Mikha mengucapkan ia menyujai Erick dengan begitu frontal dan tanpa beban.
"Beberapa bulan lalu, setelah kakakku menyelidiki Erick, aku sudah tau semuanya tentang kalian. Aku memutuskan datang ke sana untuk bertemu Erick. Karena aku terus memikirkannya semenjak dia pernah menolongku."
"Tapi aku malah berjumpa dengan orang tua Erick. Ternyata mama Erick mempunyai usaha yang sama denganku. Dan kami sangat cocok membicarakan fashion dan selera kami ternyata sama."
"Aku mengetahui Erick memang memiliki kekasih bernama Gia. Tapi aku tidak menyangka bahwa Gia kekasih Erick adalah kau. Kakakku hanya menyelidiki tentang Erick tapi dia tidak menyelidiki tentang siapa dan bagaimana rupa kekasih Erick"
"Dan aku baru mengetahui bahwa Gia kekasih Erick adalah Gia yang sama dengan orang yang bekerja denganku. Itupun setelah aku menyelidiki tentangmu!"
"Maafkan aku Gia, aku tidak bermaksud menyakiti dan merebut Erick darimu. Kami akan segera bertunangan!" Tambah Mikha diakhir penjelasannya.
Gia tidak menyangka dengan kalimat terakhir Mikha. Bahwa ia dan Erick akan bertunangan. Bagaimana bisa?
"Bagaimana bisa kalian bertunangan?" Tanya Gia ditengah kekuatannya yang hampir habis.
"Seperti yang tadi ku bilang, aku dan mama Erick menjadi sangat dekat. Keluarganya sangat menyukai aku. Dan mereka mendesak Erick untuk menjadikan aku istrinya!" Jawab Mikha dengan mimik wajah yang tidak bisa dijelaskan.
"Lalu? Erick menyetujuinya?"
"Awalnya aku pikir Erick akan menolak keputusan orangtuanya. Tapi ternyata ia menerima semua dengan baik. Aku minta maaf Gia. Aku tidak bermaksud. Dunia ini terlalu kecil. Kadang kita bertemu dengan orang yang sama."
Gia menyunggingkan senyum terpaksa dihadapan Mikha. Bisa-bisanya Mikha jujur dan terbuka perihal ini.
Gia yakin, Mikha tidak mau sampai Gia tahu ini semua dari mulut orang lain. Mikha takut Gia mendengar persepsi lain dari orang lain. Apalagi jika Erick yang menjelaskan. Gia menangkap ketakutan itu dari gelagat Mikha.
Gia menyadari inilah konsekunsinya Gia melepas dan mengikhlaskan Erick tempo lalu.
Gia pun jadi mengingat dimana ia pernah melihat Mikha sebelumnya, Dicafe malam itu, itulah pertemuan pertama Mikha dan Gia. Jauh sebelum rencana bisnis ini terjadi.
"Apa semua kata-katanya benar? Dia tidak tau kalau Erick adalah kekasihku? Atau dia hanya berpura-pura untuk menutupi kebusukannya?" Batin Gia.
Gia ingin berprasangka baik terhadap Mikha, tapi entah kenapa dengan sikap Mikha yang seperti ini, secara tidak langsung Mikha ingin membuka pintu persaingan diantara mereka berdua.
Padahal seharusnya bisa saja Mikha menyembunyikan semuanya dari Gia dan berlagak sok tidak tahu perihal hubungan Gia dan Erick sebelumnya. Tapi nampaknya saingan Gia kali ini sudah terang-terangan menunjukkan bahwa ia lah pemegang piala kemenangan.
Mendadak, Gia memandang Mikha adalah seorang yang sangat menjijikkan. Ia tidak mungkin tidak tahu Gia adalah kekasih Erick. Mereka berjumpa di cafe malam itu. Yang menyebabkan Gia keguguran.
"Atau jangan-jangan sebelum melakukan bisnis denganku, sebenarnya dia sudah tau hubunganku dengan Erick? Dan dia mendekati dan mengikatku dengan cara bisnis ini? Agar tau sampai dimana hubungan kami?" Batin Gia menerka lagi.
"Gia? Apa kau mendengarku? Tanya Mikha pada Gia melihat Gia diam saja dengan pernyataannya.
Gia tersenyum sarkas mengingat Mikha dalam batinnya tadi.
"Kau benar, dunia ini memang terlalu kecil. Dan kau juga harus ingat! dunia ini juga terlalu kejam, Mikha. Kau bisa mendapatkan apa yang kau mau. Tapi dunia selalu punya cara untuk menjawab semua doa-doaku!" Sindir Gia pada Mikha.
__ADS_1
Gia melihat Mikha yang tersenyum atas jawabannya. Lalu Mikha tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Maafkan aku, ini untukmu. Datanglah!" Ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung tangan Gia dan memberikan undangan pertunangannya dengan Erick kepada Gia.
Mikha beranjak meninggalkan Gia yang mematung di sofa sudut ruangan butik kepunyaan Mikha.
Gia menahan air matanya. Ia sudah lelah untuk menangis.
Mungkin dari sekian banyak panggilan Erick ke handphone nya, Erick mau menjelaskan perihal hubungannya dengan Mikha.
Gia menghembuskan nafas. Tak ada yang perlu disesali. Karena sejak awal memang dia yang menutup akses untuk Erick dan secara tidak langsung menjauhi Erick.
Tapi Gia tidak menyangka, keputusannya itu akan membuahkan hasil yang begitu cepat.
Kini undangan pertunangan Erick sudah berada ditangannya.
Gia bangkit dan memutuskan untuk pulang ke kontrakannya.
*****
"Kok udah pulang Gi?" Tanya Lyra pada Gia.
Lyra memang masih tinggal dirumah Gia. Atas permintaan Gia. Putusan sidang cerainya sudah jatuh. Ia resmi menyandang status janda.
Sedangkan Nico, tetap pada kebiasaannya dengan wanita-wanitanya. Tapi ia juga tetap mengejar Gia seperti orang gila. Tanpa memikirkan perasaan Lyra yang kini berada disekitar Gia.
Lyra kini terlihat lebih dewasa semenjak status barunya. Ia bekerja kembali sebagai perawat dan memutuskan untuk tetap tinggal dikota ini dari pada pulang kerumah orangtuanya.
Awalnya Lyra ingin ngontrak sendiri tapi Gia mencegahnya. Gia perlu teman untuk menemaninya. Ia sekarang merasa sendirian.
Gia mendudukkan diri di kursi depan, ia beberapa kali memijit pelipisnya. Rasanya ia pusing dan ingin berteriak meluapkan kekesalannya terhadap Mikha.
Sepertinya Gia salah menduga kebaikan Mikha selama ini. Entah perasaan dari mana, setelah penjelasan Mikha tadi Gia merasa Mikha adalah wanita licik yang penuh kepura-puraan.
"Gia? Kamu sakit?" Tanya Lyra lagi melihat Gia tidak menjawab pertanyaannya dan Gia tampak lesu.
Gia menggeleng.
"Kamu udah makan?"
Gia menggeleng lagi.
"Kamu kenapa sih, Gi? Nggak biasanya kamu begini. Terakhir aku liat kamu begini waktu awal-awal kamu keguguran dulu!"
"Aku mau sendiri dulu ya, Ra. Nanti aku pasti cerita!"
"Oke. Aku berangkat dulu ya" ujar Lyra.
Lyra pun beranjak untuk pergi bekerja, hari ini dia masuk kerja sekitar jam 3 sore. Pekerjaannya sebagai perawat dirumah sakit, menuntutnya bekerja dalam tiga waktu. Pagi-sore, sore-malam dan malam-subuh.
Seperginya Lyra, Gia masuk ke kamar dan melemparkan asal tasnya. Ia duduk diranjang yang kini sudah berubah jadi Queen bed standard untuk ia dan Lyra beristirahat.
Gia tenggelam dalam kesedihannya. Ia memikirkan Erick. Erick tidak mungkin memutuskan mengiyakan pertunangan ini begitu saja. "Apa Erick memang sudah melupakanku?" Batin Gia.
Ini semua terjadi mungkin atas kesalahan Gia juga yang tidak memberi kabar sama sekali pada Erick. Mungkin Erick sebagai lelaki merasa bosan dengan hubungan yang tiada ujungnya ini.
Gia membuka lembaran surat undangan pertunangan Mikha dan Erick. Hatinya tersayat membaca undangan itu.
...~Erick Darell Ravendra~...
...dengan...
...~ Mikhayla Adijaya~...
Diundangan itu tertera bahwa pertunangannya akan dilaksanakan disebuah hotel dikota Erick berada. Bukan dikota yang sekarang Gia dan Mikha tinggali.
Gia menatap nanar undangan itu, sampai akhirnya ia tertidur dalam kenyataan pahit yang sudah melingkupi hidupnya.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1