
Erick baru saja menutup panggilan teleponnya yang entah dari siapa. Gia masih asyik menonton drama korea dari aplikasi di ponselnya sambil bersandar dikepala ranjang.
"Sayang, kalau besok kita balik ke Apartment aku enggak apa kan?" Erick menatap Gia serius.
Gia mengalihkan perhatiannya pada suaminya lalu ia mengangguk setuju karena mana mungkin mereka akan berada di hotel ini terus menerus. Mereka sudah dua malam menginap disini, dan Gia mulai merindukan aktifitasnya dulu.
Gia berfikir sudah saatnya mereka memulai babak baru kini, setelah keduanya resmi sebagai suami-istri.
"Sayang?" Gia mulai beranjak mendekati Erick.
"hmm?" Erick memasukkan ponsel yang masih dipegangnya kedalam saku celananya dan beralih menatap Gia.
"Boleh nggak, kalau aku tetap jalanin bisnis sama Mikha? ya kali ini Mikha berjanji akan lebih profesional nggak seperti waktu itu." Gia sebenarnya ragu mengungkapkan ini.
Erick menatap kedua manik hazel milik istrinya itu.
"Kamu yakin? Aku bukan nggak ngasih, tapi ingat kamu berurusan sama Mikha itu buat aku khawatir, sayang. Kamu nggak lupa kan apa yang udah dia perbuat?"
"iya, aku ingat tapi dia kan udah minta maaf sama aku."
"Ya tapi tetep aja itu nggak bisa merubah penilaian aku terhadap dia, Sayang!"
"Kalau kamu mau bisnis, yaudah bisnis sendiri aja. Nanti kamu bisa kelola cafe aku!" tambah Erick lagi.
"Aku kan mau bisnis sekalian jalanin hobi dan kemampuanku, Yang!" Gia mulai cemberut karena Erick tak memahami maksudnya.
"Aku hobi gambar dan aku bisa nuangin hobi itu dalam bentuk desain, terus kemampuan aku jahit nggak mau aku sia-siakan, Sayang! Dengan kata lain, semua yang udah aku mulai dengan susah payah kemarin, nggak mau aku buang gitu aja!"
Erick memeluk istrinya yang mulai sewot. Mengelus punggung belakang Gia untuk menenangkannya.
"Iya aku paham, yaudah nanti kamu joint aja sama butik mama sekalian mendekatkan diri!" Erick melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi Gia dengan tangannya.
"Aku nggak yakin mama mau!" Gia pesimis.
"Kita kan belum coba, lagian kamu pernah bilang kan kalau brand kamu mulai dikenal orang waktu joint sama Mikha tempo lalu"
Gia mengangguk.
__ADS_1
"Tapi itu kan disana, bukan di kota ini. Brand aku belum menjangkau pasar seluas itu, sayang!"
"Nggak apa-apa, mama juga pasti ngerti. Dan dia juga bisa menilai karya desain kamu. bukan cuma dari matanya yang seorang pemilik butik, tapi dari mata orang awam juga. Kita coba aja dulu."
"Kalau mama nggak mau, gimana?"
"Ya nggak apa. Nanti aku bantuin kamu cari investor deh buat modalin kamu buka butik. Atau aku aja ya yang jadi investornya? hahaha."
"Ah aku enggak mau kalau kamu yang jadi investornya, nanti kamu pasti banyak nuntutnya!" Gia sudah menebak isi kepala suaminya yang selalu jail itu.
"Kamu emang paling tau ya, Yang! hehehe" Erick mencubit gemas pipi Gia. Gia hanya bisa tersenyum menyipit karena kelakuan suaminya itu.
💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Erick sudah mulai bekerja karena ia tak bisa untuk libur kerja berlama-lama, mengingat ia sudah pernah mengambil jatah cutinya beberapa bulan lalu saat mencari Gia waktu itu.
Gia tengah menyiapkan sarapan untuk mengisi perut suaminya yang akan bekerja. Gia sedang menata makanan dimeja ketika Erick sudah rapi dengan setelan yang sebelumnya telah Gia siapkan untuk dikenakan oleh Erick.
"Sarapan dulu yah!" Ucap Gia.
Erick mengangguk dan duduk dimeja makan yang ada di Apartmentnya.
Erick menyantap sarapannya dengan sesekali melakukan perbincangam ringan dengan istrinya itu.
"Maaf ya sayang, aku nggak bisa nemenin kamu pagi ini. Aku harus kerja!" Ucap Erick disela-sela makannya.
"Iya nggak apa-apa sayang, kamu semangat ya kerjanya!" Gia tersenyum tulus sembari mengangkat tangan dan mengepalkan jari membentuk kekuatan untuk menyemangati Erick. Matanya menyipit dengan senyum yang dibuat selebar mungkin.
Erick menahan gelak melihat tingkah istrinya yang sangat lucu dimatanya. Erick mengacak-acak gemas rambut Gia yang duduk disampingnya.
"Udah jadi istri tapi kok masih aja nge-gemes-in!" Ucap Erick.
"Hahaha pagi-pagi aku udah sarapan gombal! ya udah sana berangkat! nanti terlambat loh!" Ujar Gia yang melihat Erick sudah selesai dengan sarapannya, yang ternyata juga sudah memakan sepotong roti panggang.
"Iya istriku bawel!" Erick beranjak untuk pergi tapi sebelum langkahnya keluar menuju pintu, ia berbalik.
"Ada yang kelupaan?" Tanya Gia heran melihat suaminya berbalik. Gia yang berjalan dibelakang Erick pun menghentikan langkahnya, awalnya Gia ingin mengunci pintu ketika Erick sudah pergi. Gia mengira pasti ada yang terlupa untuk Erick bawa.
__ADS_1
CUP!
Erick mendaratkan bibirnya di pucuk kepala istrinya lalu mengelus-elus rambut Gia.
"Maaf, itu yang kelupa-an" Ucapnya.
Seketika itu juga wajah Gia memerah. Perlakuan manis suaminya ini selalu berhasil membuat Gia terpaku dengan pikirannya sendiri.
"Aku berangkat ya sayang. Kamu jangan nakal!" Ujar Erick sebelum pergi.
Gia menarik tangan Erick, dan mencium tangan itu dengan takzim. Erick malah mendekati istrinya itu membuat Gia refleks mundur tiba-tiba.
"Eh?"
Erick melumatt bibir Gia karena gemas dengan ulah istrinya itu.
"ehmmmmhhh" Gia mencoba melepas ciuman yang awalnya biasa tapi lama-lama makin menuntut.
Gia sedikit mendorong dada bidang suaminya itu untuk melepas tautan bibir mereka.
"Sayang kamu nanti terlambat!" suara Gia terengah-engah.
Pandangan Erick mulai nanar, entah kenapa istrinya ini membuatnya jadi frustasi di pagi hari. Dan ini di jam-jam mepet berangkat kerja. Erick mengusap kasar wajahnya untuk mengontrol diri.
"Baiklah, aku berangkat sekarang!" Ujar Erick dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Erick kesal harus menyudahi ulahnya sendiri. Ia ingin melakukan yang lebih, entah kenapa Gia membuatnya terhipnotis dan selalu menginginkannya lagi dan lagi. Candu. Begitulah yang Erick rasakan setelah menikah.
Erick segera beranjak dari hadapan Gia sebelum pikirannya dikuasai oleh perasaannya yang menggebu-gebu ini.
Dalam hati dia mengumpat dirinya sendiri yang kelepasan, tak bisa mengontrol hasrat saat bersama istrinya itu.
Erick memasuki mobil Mercedes Benz CLA miliknya dan mulai mengemudikan mobil itu menuju kantornya dengan perasaan berkecamuk. Pikirannya jadi terbagi bagi sekarang.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...