
*POV. Gia
Aku memulai hariku dengan senyum ramah menyapa para ibu-ibu yang sudah duduk cantik dikedai biasa aku membeli sarapan.
"Bang Nasi uduknya satu yah" kataku memesan sarapanku.
"Bentaran ya, neng"
"Sip"
Ku lirik banyak orang yang masih mengantri untuk dilayani. Ada yang makan ditempat tapi banyak juga yang bawa pulang. Kedai ini termasuk yang paling ramai diminati karena nasi gurihnya benar-benar gurih.
(Ya kali, namanya juga nasi gurih. Kalo nasinya goreng ya nasi goreng bukan nasi gurih. Dihhh apasih. Heheh)
Aku memutuskan menunggu sambil duduk. Aku mengambil bangku plastik yang tersedia. Duduk sambil menggoyangkan kaki menunggu pesananku siap.
"Eh, ada Gia." Sapa bu Nila yang pernah menjadi konsumen pertama jahitanku waktu itu.
"Iya bu. Nunggu pesanan sarapan juga bu?"
"Iya nih, sekalian mau beli beras di grosir depan situ." Jawab bu Nila sembari tangannya menunjuk seberang jalan.
"Oh iya mumpung ketemu disini, saya bilang disini aja deh ya"
"Bilang soal apa ya bu?"
"Itu lho Gia, anak ibu yang kemarin Tunangan kan mau menikah bulan oktober nanti. Jadi, ibu mau kamu buatin seragaman buat keluarga ibu, bisa nggak ya kira-kira?"
Aku tersenyum sumringah. "Wahh job besar ini mah" barinku kegirangan.
"Bisa dong bu" jawabku antusias.
"Mau untuk berapa orang? Kapan bisa Gia ukur bu?" Tambahku lagi.
"Nggak banyak kok, Gi. Paling cuma 12 orang. Hehehe soalnya kami keluarga besar" kata bu Nila cengengesan.
'Astaga bu Nila ini ya. Bilangnya aja nggak banyak. Dan apa katanya tadi? Cuma 12? Cuma?Tapi ujung-ujungnya tau diri kalo dia punya keluarga besar. Hahaha' lucu ku dalam hati. 'Mau ketawa beneran tapi kok enggak tega ya sama si ibu'
Aku nyengir menunjukkan sederetan gigiku menanggapi jawaban bu Nila barusan padahal pkiranku udah kemana-mana.
"Bisa kan Gi? Soalnya kamu kan jago tuh buat baju yang bagus. Saya nggak mau sama yang lain Gi, nanti modelnya gitu-gitu aja, nggak kayak anak zaman now!"
"Idihhhh bu Nila ini memangnya ibu anak zaman now?" Kataku berseloroh.
"Saya mah emak-emak zaman now, Gi. Hahahaha"
Kami pun tertawa serentak.
"Okedeh bu, hari ini juga Gia ukur ya bu. Nanti Gia deh yang mampir kerumah ibu. Tapi 12 orangnya kumpulin ya bu, jadi ngukurnya sekalian"
"Okelah, nanti sepulang dari sini saya kabarin keluarga saya dari grup WA"
"Sip lah bu. Jam 2 ya" kataku menambahi seraya mengambil pesanan nasi udukku yang sudah siap.
"Oke bos" jawab bu Nila sambil mengacungkan jempolnya.
Aku pun undur diri pulang ke kontrakan duluan.
***
Siang ini aku menuju rumah bu Nila yang berjarak tidak jauh dari kontrakanku. Bu Nila punya rumah sendiri. Tidak ngontrak sepertiku.
Rumahnya lumayan besar dan Asri.
Aku masuk setelah dipersilahkan oleh sang empunya rumah.
"Ini lho yang namanya Gia, nanti dia yang jahitin baju kita-kita, mbak" ucap bu Nila kepada para saudaranya yang sudah berkumpul bagaikan ada acara demo masak. Rame dan riuh.
"Wah, masih muda banget kamu nak. Seumuran anakku ini" kata ibu yang satunya.
Aku hanya cengengesan.
"Iya, masih muda udah punya bakat yang bagus. Semoga usahanya lancar ya nak" ucap ibu ibu paruh baya lainnya yang ku rasa seumuran dengan ibuku.
"Aamiin" jawabku mengaminkan.
Aku mulai mengukur ukuran mereka satu persatu. Ku catat dan ku tandai dengan nama masing-masing.
"Modelnya mau samaan aja semua bu?" Tanyaku pada ibu-ibu yang ada disana.
"Samain ajalah Gi" ucap bu Nila menimpali.
"Iya, supaya cepat kelar dan lagi biar biayanya sama. Nggak ada yang kemahalan dan kemurahan. Hehehe" tambah ibu lainnya lagi.
Aku mengangguk-angguk tanda setuju. Benar juga, kalau beda-beda model nanti lama siapnya. Aku ngerjain sendiri dan waktunya beneran mepet cuma 2 bulan lagi.
"Beres bu! yang penting kalo ada next orderan jangan lupa hubungin Gia ya. Noh rumah kontrakan paling ujung di Gang sebelah! ucapku mempromosikan diri.
Aku sebenarnya memang gini. Aku terbiasa ramah dan cepat akrab dengan orang lain. Apalagi pekerjaanku dulu seorang marketing. Jadi bisa banget aku bicara ujung-ujungnya nyerempet ke promosi hal yang lagi ku geluti.
Akhirnya setelah kami ngobrol ngalur-ngidul dari bahas seragaman, totalan, promosi ini itu sampai bahas bunga janda ****ng yang lagi hits, aku pun pamit pulang.
__ADS_1
Aku antusias dan langsung membelanjakan uang dp dari bu Nila untuk membeli bahan-bahan buat seragaman keluarga bu Nila.
Hari-hari ku lalui dengan bekerja berusaha dan berdoa. Meskipun terkadang "merenung" juga masuk dalam list di hari-hariku sekarang.
Sosial media yang ku gunakan untuk promosi baju-baju yang ku jual juga sudah mulai ramai viewers. Sepertinya usahaku mulai dikenal orang lain bukan hanya dikalangan tetangga sekitar kontrakan.
****
Hari ini aku memutuskan pergi ke pasar kota yang jaraknya lumayan jauh dengan kontrakanku. Aku kesini bukan karena apa-apa tapi karena pasar yang didekat kontrakan tidak menjual barang-barang yang ku cari.
Aku mencari patung badan atau manekin untuk memajang koleksi baju hasil jahitanku dirumah. Biar ada penampakannya. Sekaligus promosi model. Kalau tidak digantungkan di manekin, model dan bentukan bajunya tidak kelihatan.
Maka dari itu aku berada disini sekarang. di pasar kota. Pasar kota sangat ramai. Letaknya bersebelahan dengan lahan Mall kota yang tak kalah besar.
Aku ingin sekali masuk Mall itu, karena sudah lama sekali rasanya kakiku ini tidak masuk mall.
Meskipun dulu aku tidak kaya. Tapi masuk mall ya aku sering lah. Apalagi sesudah aku bekerja. Hehehe
Tapi ku urungkan niat itu.
"Bisa khilaf aku nanti. Jadi beli barang-barang yang nggak penting" gumamku sambil cemberut sendirian.
Akupun memutuskan beranjak pulang. Barang belanjaanku yang lumayan besar-besar akan diantarkan karyawan tokonya ke kontrakan. Tentunya dengan membayar ongkos kirimnya nanti.
Aku berjalan dengan langkah gontai sampai aku merasa menabrak seseorang yang...
Menakutkan. iya! aku takut dengannya.
"Nico?"
"Gia?"
'selalu seperti ini' batinku. Aku memutuskan pergi menghindar tapi langkahku yang pendek akan tetap kalah dengan langkah tegap lelaki yang terus mengejar mengikutiku.
"Gia, tunggu Gia!" ucapnya tegas dan tergesa-gesa.
Nico langsung menarik pergelangan tanganku yang tetap berjalan didepannya.
"Kalau kamu mau menagih hutang sekarang, mohon maaf aku belum bisa membayarnya." Kataku mengalihkan hal yang akan ditanyakannya kepadaku meski ku tahu itu takkan berhasil.
Aku tahu nanti dia akan menanyakan aku tinggal dimana. Jadi ku alihkan duluan sebelum dia bertanya.
"Hei hei hei" ucapnya sembari tersenyum kegirangan sambil menyibakkan tanganku yang berusaha menutupi wajahku.
"Apa?" Kataku menyerah sambil membuka kedua tanganku memperlihatkan wajahku.
Tapi tanpa aku menduganya, tanpa izin dan tanpa aba-aba, Nico langsung menarikku dalam pelukannya.
Aku terperangah dengan apa yang dilakukan Nico saat ini. Bisa bisanya dia seperti ini. Ku tolak dadanya dengan tanganku mencoba melepaskan pelukannya.
"Apa-apaan kamu Nico?" Kataku marah.
"Ma, maaf" katanya lirih.
"Aku cuma terlalu senang bertemu denganmu. Sedang apa kamu disini, Gia? Dimana kamu tinggal? Aku mencarimu kemana-mana" tambahnya.
Benar saja dugaanku soal pertanyaan yang akan diajukannya.
"A, aku...--"
"Sudah, sudah. Kita bicara dulu. Boleh? Kamu udah makan? Kita bicara di situ dulu ya" katanya sambil menunjuk etalase resto yang nampak berjejer dilantai dasar Mall yang mau ku masuki tadi.
"Aku tidak bisa. Aku sibuk" kataku memutuskan harapannya.
Aku merasa benci dengan tingkah dan prilaku Nico. Bisa-bisanya dia memeperlakukanku begini. Diakan pria beristri. Rasanya mau ku bejek-bejek si Nico kampret ini. Batinku.
Tapi tiba-tiba aku mengingat kebaikannya telah memberiku uang yang nominalnya saja tidak pernah ku bayangkan akan masuk dalam rekeningku. Aku jadi merasa tidak tega menolaknya.
"Ayolah Gia. Hanya bicara saja. Kalau kamu sangat sibuk, paling tidak kasi aku waktu untuk bicara sama kamu sebentar saja"
"Memangnya kamu mau bicarain apa? Yaudah disini aja lah" kataku menunjuk emperan toko.
Nico memasang wajah memelasnya. Akhirnya akupun menurut. Sudah lelah aku berdebat dan menolaknya. Ku iyakan sajalah biar cepat beres.
Kamipun berjalan seiringan menuju Fount*in yang berada disamping pintu masuk Mall .
"Bagaimana keadaanmu Gia?" Ujar Nico memulai percakapan diantara kami.
"Aku, baik..seperti yang kamu lihat" kataku datar.
"Emm, kandunganmu? Tanyanya lagi ragu-ragu.
Aku sontak memegang perutku.
"Dia sehat, semua baik-baik saja."
Jawabku kemudian sambil memilih menu minuman yang sejak kami datang sudah ditawarkan pelayan Fount*in.
"Gak pesan makan sekalian?" tanyanya seperti mengulur-ulur waktu. Lalu melakukan hal yang sama sembari menyerahkan buku menu kepadaku lagi.
"Sudah, jangan berbasa basi. Aku sibuk, Nico" ujarku lagi sembari menunjukkan wajah tidak suka ku dan langsung mengembalikan buku menu kepada pelayan disampingku.
__ADS_1
"Baiklah, aku to the point aja ya. Aku mau, aku juga ikut menanggung bebanmu." katanya santai.
"Apa maksudmu?"
"Iya, aku ingin kamu dan anak itu menjadi bagian diriku. Aku akan menanggung hidup kalian. Dan aku, akan menganggapnya sebagai anakku"
"Gila kamu!" kata-kata itu langsung terlontar dari mulutku.
Dasar Nico tidak tahu diri. Pantas saja aku sangat benci kepadanya. Pantas kan dari awal aku takut berjumpa dengannya. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya, sedari aku masih berada dirumah Lyra. Memang yang terbaik aku harus menghindarinya. Tapi kenapa aku selalu dipertemukan lagi dengannya?
"Aku serius, Gia. Bila perlu.."
"Bila perlu apa?" Ketusku.
"Bila perlu aku akan meninggalkan Lyra"
"Bener-bener gila kamu itu ya. Sekarang lebih baik kamu pulang. Kamu guyur kepala kamu pakai air dingin. Kalau perlu pakai air kulkas biar gak sableng" kataku.
Sebenarnya aku ingin memakinya saat itu juga. Mendengar jawabannya sama saja aku seperti mendengar seruan neraka. Aku benci sekali pria beristri mengucapkan hal ingin meninggalkan istrinya demi wanita lain.
Memangnya dia menikahi wanita itu atas dasar apa? Cuma diatas kertas? Gitu?
Cinta itu letakkan diatas hati. Bukan cuma diatas kertas. Apalagi diatas dengkul. 'idih si Nico ini. Bikin aku geram saja' batinku menggeram dalam hati.
Hampir saja ku layangkan tamparan ke pipinya mendengar kata-katanya. Dia benar-benar tidak berubah sedari aku memutuskannya dulu.
Tapi Nico justru tersenyum mendengar jawabanku. Dia menggelengkan pelan kepalanya atas jawabanku.
Mungkin dia mengira aku main-main padahal aku serius ingin mengguyurnya dengan air kulkas. Kalau perlu pun dia sekalian aku masukin di kulkas.
Aku bergidik ngeri melihat senyumnya. Lagi lagi batinku berkata-kata. 'Apa dia ini sebenarnya psikop*t ya? Hiii'
"Kalau lelaki yang membuatmu seperti ini tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, bukankah dia yang lebih pantas diguyur air kulkas olehmu?" katanya menyindirku membawa-bawa hal soal tanggung jawab.
Aku mendengus mendengar ucapannya. Ku pasang senyum mengejek.
"Istrimu sendiri tidak kau pertanggung jawabkan. Sok-sok-an mau ikut menanggung jawabi aku dan anakku. Dengar Nico, berubahlah! Hargai istrimu!"
"Aku menghargainya kok."
"Apa iya? kau sudah menikahinya. Bertanggung jawablah!"
"Tapi, aku mencintaimu Gia!"
Aku terpaku dengan kata-kata itu. Bisa bisa nya Nico main-main dengan cinta. Arrrghhhh. Umpatku dalam hati.
"Aku sudah berusaha Gia. Dan aku bertanggung jawab penuh atas hidupnya selama ini. Tapi aku tetap merasa kosong bersamanya"
"Dan itupun akan kau katakan kepada wanita-wanita mu yang lain kan, untuk menutupi keburukanmu? jangan cari pembenaran atas tindakanmu!" Cecarku kepada Nico.
"Gia, aku serius dengan kata-kataku. Ku mohon kamu bisa memikirkan dan mempertimbangkannya"
"Aku menolakmu. Dan aku juga serius dengan kata-kataku. Aku tidak mencintaimu lagi, Nico. Bagaimana aku bisa hidup denganmu. Bagaimana aku bisa hidup diatas kesengsaraan istrimu ha?"
"Soal Lyra biarlah menjadi urusanku. Tata lah hatimu Gia untuk bisa menerimaku"
"Lagi pula, apa kau tidak ingin anakmu mempunyai ayah?" Tambahnya.
"Aku tidak perlu mempertimbangkannya, karna jawabanku tetap tidak. Hatiku sudah ada yang mengisi. Dan itu bukan kamu lagi Nico."
"Mungkin iya aku mencintaimu, tapi itu dulu. Jauhhhh sebelum semuanya sekarang. Dan soal anakku ini kenapa kau harus turut repot memikirkan apa dia ingin punya ayah atau tidak? Dia punya ayah! dan itu bukan kau" ujarku tegas berapi-api.
"Baiklah" jawabnya seperti putus asa.
"Aku akan tunggu sampai kau sendiri yang mencariku" katanya lagi.
Aku mendengus.
"Aku tidak akan mencarimu kecuali aku ingin membayar hutangku"
Ku lihat dia mendengus, lalu aku pun pergi meninggalkannya tanpa menyentuh setetespun minuman yang sempat kami pesan.
aku keluar Mall dengan perasaan marah, kesal dan jengkel bercampur jadi satu seperti es campur. ah aku mendadak haus.
Akupun membeli air mineral di pedagang asongan pinggir jalan sambil duduk di emperan toko memesan Kang Ojek melalui aplikasi diponselku.
"Gila bener si Nico ya. Dari dulu selalu memancing kemarahan dan mencari keributan denganku" gumamku dalam hati.
Tak lama, setelah minumanku tandas, Kang Ojek pesananku datang lalu aku pun pulang menuju rumah kontrakanku.
Jujur saja aku mendadak lelah setelah perdebatanku dengan Nico tadi.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1