Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Kerelaan Nico -


__ADS_3

Arga dan Dion baru saja selesai melakukan meeting bersama beberapa rekan bisnisnya di sebuah Resto. Baru saja Arga melangkah keluar dari Reto itu, langkahnya terasa disusul oleh seseorang. Arga mengerutkan dahinya ketika menyadari bahwa orang itu adalah salah satu rekan yang mengikuti meeting tadi, Nico.


"Bisakah kita berbicara santai?" Nico memamerkan senyum. "Emm, maksudku berbicara diluar pekerjaan dan proyek kita?" Sambungnya pada Arga.


Arga melirik Dion, Asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu mengerti dan beranjak menuju parkiran mobil.


"Aku akan menunggu di mobil." Ucap Dion.


Arga mengangguk setuju.


Lalu, Arga kembali menatap Nico, menerka jika pembicaraan kali ini pasti tentang Gia. Baiklah, Arga pun akan memberitahukan Nico jika memang lelaki ini amat penasaran.


"Kita kembali ke dalam atau--" Nico tak melanjutkan ucapannya karena Arga lebih dulu masuk kembali ke dalam Resto.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa perihal Gia?" Tembak Arga ketika ia sudah menduduki sofa Resto dengan santai dan menopang sebelah kakinya dengan kaki satunya lagi. Tangannya direntangkan di sandaran sofa yang panjang, matanya menelisik lurus ke arah Nico yang duduk diseberangnya.


"Ck, kau sangat perasa dan bisa menebaknya." Jawab Nico sambil menyeringai. "Bagaimana? Apa hubungan kalian akan berhasil?" Pertanyaan Nico seolah sedang mengolok Arga. Dan Arga menangkap nada cemoohan disana.


Arga tersenyum miring, menganggap remeh ucapan Nico.


"Jika kau tahu aku dan Gia memiliki hubungan, lebih baik kau tidak usah mencampurinya!"


"Hahaha.. Dari jawabanmu aku sudah dapat menebak jika hubungan kalian tidak akan berakhir dengan baik."


Arga membuang pandangan ke lain arah, tiba-tiba ia teringat perjalanannya ke rumah mertua Gia kemarin dan sukses membuat perasaannya kacau balau karena tak berhasil membereskan hal itu, justru menambah pikirannya sekarang.


"Sudahlah, jika memang tidak berhasil. Menyerah saja. Kau bisa dapatkan wanita lain yang lebih darinya." Ucap Nico.


"Kenapa? Kau takut bersaing denganku? Kau saja yang cari wanita lain. Bukankah koleksimu sangat banyak!" Arga menaikkan sebelah alisnya.


"No! Aku lebih dulu mengenal Gia dari pada kau. Aku hanya merasa kau bisa dapatkan yang sepadan denganmu. Dan Gia, biarlah menjadi urusanku. Relakanlah dia!" Lagi-lagi pria itu menyeringai penuh maksud.


"Aku dan Gia akan segera menikah. Kau lebih baik sudahi angan-anganmu itu!" Arga bangkit dan ingin menyudahi percakapan ini.


"Itu tidak mungkin." Suara Nico terdengar merendah.

__ADS_1


Arga memutar tubuhnya untuk melihat Nico. "Kau tidak percaya? Itu urusanmu!" Arga melangkah keluar dari Resto dan memasang kacamata hitamnya, ia menuju mobil yang tak berselang lama sudah berhenti tepat dihadapannya saat ia berdiri di depan Resto.


Arga masuk ke dalam mobil dan supir sudah mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang.


Dion yang duduk di sebelah supir, menoleh kebelakang untuk melihat Arga.


"Mau apa dia?" Tanya Dion.


"Biasa." Ucap Arga datar.


"Oh.." Seolah sudah mengerti, Dion hanya ber-oh ria dihadapan Arga.


"Yon, lo tau nggak gimana dapat restu dari orang yang udah mati?" Tanya Arga setelah Dion kembali melihat ke arah depan. Sontak itu membuat Dion terkejut dan menatap heran ke arah Arga.


......🌸🌸🌸🌸🌸🌸......


Gia sedang sibuk menggambar desain gaun ketika Nico baru saja tiba di butiknya. Gia yang memang memiliki meja khusus disudut ruangan itu sedikit terkejut ketika tanpa permisi Nico sudah berada dihadapannya. Ia menatap jengah lelaki itu.


"Ada apa?" Gia menatap sekilas Nico tapi tetap sibuk dengan coretannya diatas kertas.


Gia bergeming. Ia menghentikan aktifitas menggambarnya.


"Jawab Gia, aku butuh jawabanmu!"


"Untuk apa?"


"Agar aku tahu." Nada suara Nico terdengar lirih.


"Lalu, setelah kau tahu, apa lagi?" Gia memutar bola matanya. Lelah dengan sikap Nico.


"Aku akan berhenti mengharapkanmu, Gi."


"Harusnya itu kau lakukan sudah sejak lama!"


"Ck! Kau tau itu sangat sulit!"

__ADS_1


"Biasakanlah. Semua akan mudah jika terbiasa."


"Aku sudah melewati banyak waktu bersama banyak wanita tapi yang aku inginkan tetap kau, Gia!"


"Itu semua karena kau terobsesi padaku, Nico! Kau mudah mendapatkan wanita manapun. Tapi kau belum mendapatkan aku. Itu sebabnya kau penasaran dan mencoba terus menerus padahal kau sudah gagal sejak dulu!" Gia menatap prihatin pada Nico yang tiba-tiba sudah tertunduk lesu.


"Pergilah Nico! Kau berhak bahagia, cari kebahagianmu. Mungkin bukan denganku!"


"Tapi, Gi.."


"Coba kau lihat Lyra. Dia juga begitu mencintaimu dulu. Tapi sekarang dia bisa hidup bahagia dengan orang yang tepat."


Nico masih bergeming. Ia seakan berperang dengan dirinya sendiri. Semua yang Gia ucapkan adalah kebenaran dan bagaikan tamparan keras untuknya. Berapa kali lagi selama hidupnya ia harus menerima penolakan dari Gia?


"Kau hanya perlu menemukan orang yang tepat. Seperti Lyra menemukan Ivan. Kau juga akan menemukannya, dan itu bukan aku!"


Nico mengangguk. "Jadi, apakah kau dan Arga memang akan menikah?"


Gia menggeleng. "Entahlah, aku hanya berharap pada takdir dan berusaha mengikuti alur hidupku."


"Semoga kau bahagia, Gia. Doakan aku juga akan begitu. Tapi, jika kau tidak mendapatkan kebahagiaanmu pada Arga, datanglah padaku, Gi!"


Lagi, Gia menggeleng. "Aku tidak akan pernah datang kepadamu hanya untuk menjadikanmu pelarian. Aku bukan wanita seperti itu. Lebih baik aku sendiri daripada mencari orang lain dan orang itu akan sakit hati karena aku. Seperti yang kau lakukan pada Lyra dulu."


"Baiklah, aku mengerti. Hari ini aku merelakanmu Gia. Aku mendoakan kebahagianmu. Aku benar-benar pergi."


Nico berbalik dan melangkah menuju pintu keluar, entah apa yang ia rasakan sekarang. Tapi Gia tahu ada perasaan sakit yang besar di hati lelaki itu. Bagaimanapun, perasaan Nico sudah terlalu lama menetap pada Gia.


Nico berjalan perlahan tak pernah menoleh lagi untuk melihat Gia di ruangannya. Gia bangkit dari duduknya dan sejenak menatap kepergian Nico yang berangsur-angsur menghilang di pandangan matanya.


"Semoga kau juga mendapatkan orang yang tepat dan bisa membuatmu bahagia." Ucap Gia seolah berbicara pada Nico.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2