
Gia baru saja melihat sosial media di ponselnya. Sepertinya Gia beruntung hari ini. Ada seseorang yang ingin berbisnis dengannya karena tertarik dengan hasil desainnya dan ingin menghargai gambar-gambar rancangan Gia dengan sejumlah keuntungan.
Gia tertegun dan terharu, rasanya usahanya tidak sia-sia. Gia ingin bertemu dengan orang itu untuk membicarakan bisnis. Tapi sebenarnya, Gia merasa takut jika harus pergi sendiri. Ini dunia baru untuk Gia.
Mendadak, Gia sekarang merasa sendiri. Tidak punya teman atau kawan bercerita. Dulu bahkan Gia punya banyak teman. Dan bisa nongkrong kemana-mana usai pulang bekerja dan diakhir pekan.
"Kenapa sekarang aku baru merasakan sendirian?" Batin Gia.
Gia mungkin merasa sendirian karena sekarang sudah tidak ada lagi anak yang berkembang didalam rahimnya.
Ditambah ia belum punya orderan lagi untuk menyibukkan diri.
Hari-hari yang Gia lalui hanya dengan merancang desain baju. Mencari inspirasi dan menuangkannya dalam bentuk gambar.
Apa Gia juga merasa sepi karena kepergian Erick hari ini? Ia bahkan tidak berniat mengantarnya ke bandara meski Erick memaksa. Gia tidak mau jika nanti hal itu justru membuatnya menjadi tidak rela, dan akhirnya memutuskan untuk ikut pulang bersama Erick ke kotanya.
****
Hari menjelang sore, Gia kembali merenung dengan keputusannya pagi tadi saat bertemu dengan Erick.
Gia dan Erick memang kembali bersama. Dan Erick memutuskan untuk menikahi Gia. Gia senang dan merasa bahagia. Itulah tujuannya menjalin hubungan dengan Erick.
Tapi lagi-lagi Gia ragu akan mendapatkan restu dari keluarga Erick.
Gia terkejut ketika pikiran yang melayang jauh harus dibuyarkan oleh suara ketukan pintu.
Gia bangkit dan segera membuka pintu.
Gia melihat seseorang yang berdiri disana,
"Lyra?" Gia terkejut melihat Lyra berdiri diambang pintu rumah. Lyra menunduk sambil Jari-jemarinya bertautan menggenggam satu sama lain. Gia melihat Lyra tidak seperti kemarin yang penuh emosi. Kali ini Lyra tampak ragu-ragu.
Gia menatap wajah Lyra yang kini juga menatap tanpa kata. Gia melihat kesedihan dimata Lyra.
Gia merasa baru beberapa hari yang lalu Lyra kerumahnya dan bersikap sangat arogant serta dengan lancang menampar Gia.
Meski ketika itu Gia juga membalasnya dengan hal yang sama, tapi kali ini berbeda. Lyra tampak murung dan bersedih.
"Lyra, kamu kenapa?" Tanya Gia spontan.
Lyra masih menatap Gia dengan tatapan yang mengiba hati.
"Ayo masuk dulu. Kamu mau bicara apa?" ujar Gia sambil mengajak tubuh Lyra masuk dan duduk di dalam rumah.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan? Atau kamu mau minum dulu? Tunggu biarku am--"
"Tidak usah, kamu disini saja, Gi! Maafkan kedatanganku yang mengejutkanmu." Lirih Lyra berkata-kata.
"Ada apa, Ra? Kenapa kamu menemui ku? Jika kamu mau menanyakan Nico. Aku bersumpah aku tidak ada hubungan dengannya. Yang kau lihat hany--"
"Aku tau, untuk itu aku datang kesini, untuk meminta maaf padamu! Apa kamu mau memaafkanku, Gi?" Lagi-lagi Lyra memotong kalimat Gia dengan kata-katanya yang membuat terperangah.
Gia mengangguk. Gia tidak tahu lagi mau berkata apa kepada Lyra.
Gia berharap Lyra yang akan memulai percakapan diantara mereka selanjutnya.
"Gi, apa menurutmu keputusanku sudah benar?" tanya Lyra setelah tadi terdiam beberapa saat.
"Keputusan apa, Ra?"
"A, aku.. aku menggugat cerai Nico ke pengadilan."
"Astaga" ucap Gia refleks sambil menutup mulut dengan tangan.
"Iya Gi, aku sudah tidak sanggup dengannya. Aku memang mencintainya. Tapi aku juga berhak bahagia kan, Gi?"
"Kenapa, Ra? Kenapa kamu malah menceritakan hal ini padaku?"
"Aku minta maaf Gi, aku tidak tau mau menceritakan ini kemana. Mengumbar aib suamiku hanya makin membuatku sakit hati dengan mengingatnya. Hanya kamu Gi, yang tau bagaimana Nico tanpa aku harus menjelaskannya!" Ucap Lyra sambil tersedu-sedu.
Gia memeluk Lyra. Gia seakan tahu Lyra butuh dukungan saat ini. Meskipun Gia sakit hati dengan kata-katan Lyra tempo hari, tapi Gia masih mengingat jasanya pernah menolong Gia. Gia bukan orang yang tidak tahu berterima kasih.
Mungkin inilah jalannya untuk Gia membalas menolongnya. Karena sepertinya dia tidak punya teman untuk berbagi. Sama hal nya dengan Gia saat ini. Sendirian.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" Tanya Gia pelan sambil mengelus bahu Lyra.
Lyra mengangguk cepat.
"Aku yakin Gi, aku memang salah memilih Nico. Seharusnya bukan lelaki seperti dia yang menjadi suamiku. Aku mencintainya tapi aku juga butuh dicintai, Gi! Bukan untuk disia-siakan! bukan sekali dua kali tapi terlalu sering!"
"Ya sudah, kalau kamu memang sudah yakin dengan keputusanmu. Aku mendukungmu! Tapi, kamu jangan menyangka aku akan mengambil kesempatan dari perceraianmu. Aku tidak berminat dengan Nico." Ucap Gia sambil tersenyum.
"Aku tau Gi, aku tau Nico yang mengejarmu. Tapi aku malah melampiaskan rasa tidak terima kepadamu. Sekali lagi maaf. Maafkan aku!" Lyra semakin tersedu-sedu.
"Sudahlah. Lupakan saja masalah itu. Aku juga akan melupakannya. Sekarang, apa tujuan kamu selanjutnya?"
"Aku mau pulang kerumah orangtua ku, Gi. Tapi sepertinya Nico tidak terima keputusanku. Dia mempersulit semuanya. Aku mau pergi dari rumah tapi dia juga menahan barang-barangku. Aku tidak punya apapun sekarang."
"Nico tidak mencintaiku, Gi. Tapi dia menjerat ku dalam status pernikahan dan dia tidak mau melepaskan aku! Aku tidak tau kenapa dia menahanku." Tambah Lyra.
Gia berdecak kesal mendengar kata-kata Lyra. Bagaimana bisa Nico menyiksa batin Lyra dengan menikahinya tanpa cinta lalu mengikatnya. Ya Lyra seperti terikat tanpa bisa keluar dari jeratan Nico.
"Aku mau membantumu Lyra, tapi aku tidak tau mau menolongmu dari mana. Karena jujur saja, aku takut pada Nico."
Tiba-tiba Lyra tersenyum lalu suara tawanya keluar begitu saja.
"Ada apa?" Tanya Gia heran.
"Aku pikir, kamu adalah wanita yang paling berani menentang Nico. Nico saja takluk padamu. Tapi nyatanya aku lebih berani daripada kamu. Buktinya sekarang aku keluar dari rumah itu karena menentangnya. Hahahah" ucap Lyra yang sekarang malah terkekeh melihatku bingung dengan ucapannya.
"Bukan begitu, Ra. Emmm aku.. aku memang takut pada Nico. Dia sangat mengerikan. Aku sering merinding jika melihatnya!" Ucap Gia lagi sambil membayangkan Nico dan bergidik ngeri.
"Hahaha kamu ada-ada saja Gi, memangnya dia hantu bisa membuatmu begitu"
"Bukan karena dia seperti hantu, Ra. Tapi karena dia....dia--" Gia ragu-ragu melanjutkan kalimat.
Sementara Lyra seperti menantikan Gia meneruskan ucapannya.
"Kamu jangan marah ya, Ra. Karena Nico, Nico itu seperti psikop*t di mataku. hiiiiii" lanjut Gia pelan ditelinga Lyra sembari bergidik lagi.
__ADS_1
Lyra memukul pelan punggung lengan Gia.
"Aw.. iss kamu ini. Aku serius, itu yang ku rasakan jika didekatnya" ucap Gia memprotes tindakan Lyra.
"Dia begitu karena dia sangat menginginkanmu. Terimalah dia, Gia! Jika kau mencintainya juga, aku akan mendukung kebahagiaan untuk Nico. Dan tentunya agar dia melepaskan aku." Ucap Lyra tersenyum tulus.
"Ihhh makasih deh, Ra. Udah pernah sih aku sama dia. Nggak berminat lagi aku tuh! Kamu aja mau keluar dari kandang singa, kok malah nyuruh aku nyobain masuk kedalamnya juga sih? Dihhhh" Ucap Gia tidak terima. Dan bergidik ngeri lagi membayangkan harus hidup dengan singa seperti Nico.
"Nico bukan Singa kali, Gi" kata Lyra.
"Terus?"
"Nico itu buaya" Lyra terkekeh dengan jawabannya sendiri.
Gia pun ikut tertawa dengan kata-kata Lyra. Benar kata Lyra Nico itu buaya.
Mereka pun tertawa bersama-sama. Gia merasa sudah lama tidak tertawa begini dengan seorang teman. Ya, Gia menganggap Lyra sekarang sebagai teman. Teman baru, yang meski diawal perkenalan mereka terasa tidak begitu baik tapi Gia berjanji akan menolong Lyra semampunya.
💠💠💠💠ðŸ’
Gia sudah siap dengan piyama tidurnya, ia menatap Lyra yang juga sudah bersiap untuk tidur. Ya Gia memaksa Lyra untuk tinggal bersamanya. Salah satu bentuk dan niat Gia menolong Lyra.
Gia menyengir menatap Lyra yang duduk memojok dikamarnya.
"Maaf ya, Ra. Nggak bisa kasi kamu tempat tinggal yang nyaman. Kamu tidur di kasur aja. Aku biar di karpet" ucap Gia mengingat kasurnya yang hanya muat ditempati satu orang.
Lyra menggeleng.
"Aku sudah kamu kasi tempat berteduh dan tinggal aja udah bersyukur, Gi!"
"Bukankah aku juga pernah berteduh dan menumpang dirumahmu. Hehehe"
"Tidurlah dikasurmu!" Kata Lyra.
Gia pun menurut tanpa mau memprotes karena ia tidak mau berdebat disaat ini.
"Ra?"
"Hmm?"
"Apa kamu sangat mencintai Nico?"
"Ya begitulah"
"Lalu, apa tidak apa-apa jika kamu berpisah dengan orang yang kamu cintai?"
"Ya selama itu adalah yang terbaik. Ku rasa itu tak akan jadi masalah. Jodohku sama Nico memang sudah sampai disini saja. Makanya kami harus berpisah."
Lyra yang awalnya berbaring menatap langit-langit kamar, akhirnya berbalik badan melihat Gia yang ada dikasur. Disampingnya.
"Ada apa? Kamu ada masalah Gi?"
Gia tersenyum lirih. Tapi pandangan matanya tetap melihat kelangit-langit tidak balik melihat Lyra.
"Aku sudah kehilangan anak dalam kandunganku, Ra."
"Apa?" Lyra terduduk kaget dan menatap Gia seolah meminta penjelasan.
"Dia mengejarku, tapi aku berlari terus sampai aku beberapa kali menabrak orang dan mobil diparkiran karena aku terburu-buru untuk menghindari dia" tambah Gia.
Lyra masih diam tapi wajahnya terbengong dan seperti ingin tahu lebih lanjut detail cerita Gia.
"Saat itu, aku tidak merasakan sakit diperutku. Mungkin aku terlalu emosi sampai aku lupa, Ra. Aku lupa aku sedang mengandung" air mata Gia mengalir setetes demi setetes.
Lyra merangkul Gia. Menenangkannya.
"Sudah Gi, kamu yang sabar ya. Mungkin ini sudah digariskan Tuhan. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Gi"
Gia mengangguk.
"Aku sudah ikhlas kok, Ra. Karena aku tau semua sudah ada yang mengaturnya. Aku cuma sedih mengingat kebodohanku."
"Emmm, Gi maaf ya, apa Erick itu ayah dari anak kamu?"
Gia mengangguk lagi pelan. Sambil melihat wajah Lyra.
"Kenapa?" Tanya Gia.
"Enggak. Aku cuma penasaran dia seperti apa. Hehe"
Gia mengambil ponselnya, dan menunjukkan beberapa foto Erick disana yang dia comot dari sosial media milik Erick. Gia tidak munafik, semenjak ponselnya yang dulu rusak. Ia tidak mempunyai foto Erick lagi. Dan itu membuatnya menstalking sosmed Erick lalu menyimpan banyak foto Erick di ponsel barunya. Pelepas rindunya kala itu.
Lyra melihat foto Erick di ponsel Gia untuk memuaskan rasa penasarannya.
"Oh ini. Kamu cinta sama dia Gi?"
"Hmm, iya Ra."
Baru saja Gia menjawab pertanyaan Lyra. Ponselnya sudah berdering tertanda ada yang panggilan masuk.
"Nih! Baru juga diomongin. Udah nelpon." Ucap Gia yang membuat Lyra semakin terheran-heran. Karena baru tadi Gia bilang Gia berlari menghindari Erick dan Erick terlihat bersama wanita lain kemarin.
Lyra heran kenapa lelaki itu malah menelpon Gia. Dan reaksi Gia biasa saja tanpa ada marah diraut wajahnya ketika melihat Erick meneleponnya.
"Halo" kata Gia menjawab Erick diseberang sana.
"Aku udah sampai dirumah. dari tadi aku nunggu kamu nanya'in aku. tapi kamu di diemin malah balik diem ya?"
"maaf.. syukurlah kamu udah dirumah sekarang. aku bukan diem. aku baru aja mau nanya tapi kamu udah keburu nelpon duluan nih. hehehe"
"Alesan...Kamu belum tidur? tanya Erick.
Gia sengaja membuat Lyra yang terbengong makin penasaran. Gia mengaktifkan Loudspeaker ponselnya agar Lyra mendengar apa yang Erick katakan, karena Gia membaca dari raut wajah Lyra kalau Lyra sangat terperangah akan pembicaraan Gia dan Erick yang seperti tidak ada kejadian. Sikap jail Gia pun auto ON seketika.
"Aku belum tidur, nih masih ada teman aku dirumah"
"Teman? Malam-malam gini?" Suara Erick terdengar curiga.
"Iyalah teman, masa suami orang dirumah aku malam-malam" Gia terkekeh dalam hati.
__ADS_1
"Kamu jangan main-main ya, aku serius ini. Siapa yang kamu maksud teman? Lelaki itu?"
"Lelaki siapa?" Gia bingung sendiri.
"Lelaki itu, Arga" jawab Erick dengan tegas.
"Hahaha, ya bukan lah. Ngapain juga Arga disini jam segini. Ini tuh teman aku, cewek. Namanya Lyra. Dia nginep disini"
Tapi panggilan malah dimatikan. Gia garuk-garuk kepala meski kepalanya tidak terasa gatal. Tak lama sebuah panggilan video masuk ke ponselnya.
"Kamu nggak percaya? Ucap Gia sambil memandang Erick diseberang sana lewat aplikasi panggilan video di ponselnya.
"Bukan gitu sayang, aku cuma heran. Kamu disana belum ada dua bulan kok udah punya teman yang nginap-nginap segala."
"Noh..." Ucap Gia sambil memamerkan wajah Lyra kepada Erick melalui ponselnya.
"Kamu say hai sama dia, Ra. Kalau perlu ngomong tuh biar tau dia aku disini beneran sama cewek. Bukan sama Arga"
pinta Gia pada Lyra dengan agak menyolot pada Erick.
"Hai.." sapa Lyra kikuk pada Erick.
Terlihat Erick hanya tersenyum dan mengangguk dari layar handphone.
"Yaudah ya, aku nggak enak nih sama teman aku kalau VC gini sama kamu! Aku tutup ya. Selamat malam" ucap Gia.
"Baiklah, selamat malam sayang. Kamu jangan terlalu larut tidurnya, oke?"
"Iya iya."
"Yang?" Kata Erick lagi.
"Hmm?"
"I miss you"
"Baru juga tadi pagi ketemu!"
"Yang?"
"Apa lagi?"
"I love you"
Gia tersenyum.
"bye" kata Gia lalu langsung memutuskan panggilannya.
Melihat itu, Lyra langsung bersuara.
"Gi?"
"Ya?"
"Aku bukannya mau ikut campur urusan kamu, tapi aku kok jadi merasa kamu sama seperti aku"
"Maksudnya?" Gia yang sekarang gantian bingung dengan pemikiran Lyra yang sudah dia jailin tadi.
"Iya sama kayak aku, setelah tau Erick pergi dengan wanita lain kamu malah seperti tidak ada kejadian! jangan bilang kamu sama seperti aku dan Jangan bilang juga Erick sama seperti Nic--"
"Hahahaa. ya enggaklah, Ra. Jadi aku udah puas marah-marah sama Erick. Jadi sekarang capek marah melulu" ucap Gia memutus kalimat Lyra.
"Loh loh jadi kamu memaafkan perselingkuhan Erick? Sama dong kamu kayak aku yang memaafkan Nico gitu aja! berkali-kali malah."
"Aku nggak bilang Erick berselingkuh kan, Ra? Aku juga nggak mau senaif kamu Lyra. Wanita itu bukan siapa-siapa. Erick sudah menjelaskan."
"Dan kamu percaya?"
Gia mengangguk. "Awalnya aku nggak percaya, tapi semuanya logis dan masuk akal. Aku juga akhirnya memaafkan Erick karena Erick mencari aku kemana-mana. Apalagi setelah dia tau aku hamil anaknya"
"Jadi dia tau Gi?"
"Iya tepatnya sih baru tau dari orangtuaku. aku juga nggak nyangka. tapi disaat dia baru tau , disaat itu pula aku keguguran."
Lyra menepuk-nepuk punggung tangan Gia pelan.
"Dia mau tanggung jawab sama kamu?"
"Dia mau ngajakin aku nikah udah sedari lama, Ra"
"Terus? Kenapa nggak nikah aja? Kalau aku lihat kalian saling cinta"
Gia kembali berbaring dari posisinya yang sudah duduk ketika Erick menelponnya tadi. Gia memejamkan matanya. Tapi dari mulutnya keluar kata-kata.
"Apa kamu lupa aku pernah bilang hubungan kami ditentang kedua belah pihak keluarga? Ya mungkin sekarang keluargaku udah nerima Erick, melihat usaha Erick mencari aku. Tapi keluarga Erick? Entahlah Ra, entah sampai kapan aku nunggu agar bisa dapat restu menikah dengan Erick."
Lyra mencerna ucapan Gia. Ternyata Gia memang berbeda dengannya. Dan Erick juga bukan lelaki seperti Nico.
Mungkin Erick memang brengs*k sudah merusak Gia. Membuat Gia hamil diluar pernikahan. Tapi Erick dan Gia saling mencintai. Dan mereka tidak kunjung dapat restu dari pihak keluarga.
Memang tindakan Erick dan Gia juga tidak bisa dibenarkan. Itu jelas salah. Tapi kembali lagi, Erick memang brengs*k tapi dia mencintai Gia terlepas dari kesalahannya.
Sedangkan Nico? Nico memang menikahi Lyra. Tapi sebaliknya, status itu mungkin dibuat Nico untuk menutupi kebrengs*kannya yang sesungguhnya. Dan Lyra hanya sebagai korban dan tameng Nico dihadapan oranglain.
Dimata orang memang Erick brengs*k sudah merusak Gia. Membuat oranglain yang tau kisah mereka, pasti memandang Erick sebelah mata. Tapi sejatinya Erick tidak pernah menyakiti Gia. Erick mencintai Gia. Dia rela mencari-cari Gia meski banyak diluar sana pilihan yang lain yang mungkin akan disetujui oleh keluarganya.
Lain hal nya dengan Nico, dimata oranglain dia Pria baik-baik dan perfect husband, tapi itu semua hanya topeng. Dia terlalu banyak menyakiti Lyra dan menutupi itu semua dengan berlagak mencintai Lyra. Kemunafikan yang hakiki ada didalam rumah tangga mereka.
"Ah, entah kenapa aku jadi membandingkan mereka berdua?" Batin Lyra.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...