
Erick Darell Ravendra, lelaki yang sedari kecil menanggung beban di pundaknya, walaupun Ia hidup di keluarga yang berkecukupan.
Dia dibesarkan dengan penuh ketegasan dan sedikit kasih sayang. Karena orangtuanya selalu sibuk bekerja.
Sedangkan saudaranya, Rina dan Frans selalu sibuk mengejar prestasi dan sanjungan orang lain untuk mencari perhatian lebih dari orangtuanya yang sangat sibuk.
Sebenarnya mereka juga tidak sepenuhnya salah soal itu. Karena mereka sejatinya sama dengan Erick, kurang kasih sayang.
Tapi itu pulalah yang menjadi bomerang untuk Erick.
Ia harus menjadi orang yang lebih baik. Setiap hari dia di doktrin oleh orang-orang sekelilingnya untuk berpacu agar lebih dan lebih dibanding kedua kakaknya.
Saat Rina atau Frans mencapai sesuatu yang baik. Erick harus melebihi level mereka. Paling tidak, setara atau sama.
Sedari masih kecil, Erick tidak bisa lepas dari bayang-bayang saudaranya. Ia seakan tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri. Dia dituntut oleh keadaan agar selalu berhasil. Dan harus melebihi pencapaian para saudaranya.
Jika gagal, Erick bukannya mendapat sokongan. Ia malah dikucilkan oleh keluarganya sendiri.
"Kenapa kamu tidak lebih baik dari Rina, Erick?"
Atau
"Seharusnya kamu bisa lebih unggul dibandingkan Frans, dia kan abangmu! Contohlah dia! Atau jika perlu, harus di atas prestasinya!"
Maka dari itu, Erick harus punya pencapaian sendiri melebihi ekspektasi keluarganya.
Karena Erick selalu mendapat desakan untuk maju, disaat usianya yang masih menginjak remaja, ia sudah memikirkan masa depannya yang masih sangat jauh. Ia mulai menabung dari uang jajannya sendiri.
Erick bertekad suatu hari nanti dia harus lepas dari belenggu dirumah orangtuanya ini.
Erick menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Sesuai harapan orangtuanya. Dia juga melanjutkan study ke Universitas terbaik yang ada dikotanya.
Dia memilih jurusan sesuai keinginannya meski sempat bertentangan dengan kemauan orangtuanya.
"Bagaimana Erick nanti bisa berhasil, Ma? Jika jurusannya tidak Erick sukai?" Tanya Erick pada mama nya ketika itu.
Akhirnya, Erick kuliah dijurusan sastra bahasa Asing yang sesuai dengan minatnya. Bahasa Mandarin menjadi bahasa utama di fakultas yang ia pilih.
Ketika Erick antusias mengejar pencapaian seperti dua saudaranya, Selama itu pula lah ia tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Dia tidak pernah peduli akan hal itu.
Padahal dari segi penampilan, Erick terbilang lelaki kwalitas the best. Dengan wajah oriental tapi tetap macho, postur tubuh tinggi berisi, tidak terlalu kurus dan bukan gendut. Serta kulitnya yang bersih, tidak bisa dipungkiri bahwa dia 'anak orang berduit'.
Tak lupa pula penampilan ootd nya dari ujung kepala sampai ujung kaki semakin menunjang penampilannya setiap hari.
Mungkin Erick bisa dengan mudah lolos seleksi dunia model atau sejenis nya. Tapi Erick lagi-lagi tidak berminat dengan dunia itu. Dia tidak suka ter-ekspose. Dia nyaman dengan dirinya sendiri.
Banyak gadis yang mengejar bahkan menargetkannya. Tapi mereka selalu patah hati bahkan sebelum memulai. Alasannya? "Karena Erick orang yang cuek dan sedingin kulkas." Celetuk barisan patah hati itu.
Justru Erick merasakan getaran aneh kepada lawan jenis pertama kalinya saat ia sepintas melihat wanita yang sederhana.
Erick mengira itu hanya rasa penasaran saja. Ia berpikir mungkin seleranya akan jauh diatas wanita itu.
Tapi nyatanya ia salah. Ia justru jatuh cinta pertama kali pada wanita sederhana itu. Berulang kali dia menolak dan memutuskan menganggap perasannya itu keliru.
Tapi seiring berjalannya waktu, saat dia menatap senyum wanita itu serasa dunianya teralihkan. Wanita sederhana yang merupakan Cinta pertama Erick.
Penampilannya biasa saja, sederhana. Wajahnya tidak banyak polesan make-up seperti kebanyakan wanita karir.
__ADS_1
Rambutnya lurus panjang terurai tidak lebih dari sejengkal melewati bahu. Kulitnya kuning langsat, Mata bulatnya dihiasi bulu mata nan lentik dengan hidungnya yang bangir. Bibirnya ranum dan selalu tersenyum merona menyapa orang-orang disekeliling yang dikenalnya. Erick tersenyum membayangkannya.
Ya, dialah Gia. Anggia Eldira. Yang namanya pun diketahui Erick dari Nametag yang tersemat di seragam kerjanya.
Pertemuan pertama mereka ketika Erick masih menjadi Mahasiswa Magang di salah satu perusahaan asing yang kebetulan bersebelahan dengan kantor tempat Gia bekerja. Gedungnya Masih satu pekarangan.
Erick sering memperhatikan Gia secara diam-diam dari kejauhan. Tak jarang pula dia melihat wanita itu seperti curi-curi pandang melihatnya.
Erick kadang tersenyum sendiri ketika mengingat ekspresi wanita itu yang kadang tertangkap basah oleh Erick sedang memandang ke arah Erick.
Sebenarnya bukan tertangkap basah, tapi lebih tepatnya Erick yang lebih dulu menatapnya dari kejauhan.
Sampai akhirnya wanita itu balik menatap Erick tapi Erick bukannya mengalihkan pandangan malah Erick terus memandanginya dengan tatapan 'sedingin kulkasnya'.
Maka tertunduk malu lah sang wanita yang sebenarnya sudah jadi pusat perhatian Erick sedari awal.
Pada saat Erick magang, dia selalu menjadi tidak fokus akibat wanita itu.
Akhirnya, Erick memutuskan rasa penasarannya itu. Dia ingin mengetes perasaannya. Apakah hanya penasaran saja atau benar dia jatuh cinta.
Erick permisi meninggalkan kawan-kawannya yang sedang istirahat makan siang di cafe samping kantor.
Pikirannya tidak fokus lagi untuk makan setelah melihat seorang wanita incarannya melintas didepan cafe seperti menuju indomar*t selurusan cafe.
Erick berfikir cepat dan memilih mengikutinya.
"Mungkin ini saat nya aku harus berani mengetes perasaanku sendiri. Ku rasa aku cuma penasaran saja dengannya" gumam Erick dalam hati sembari tetap fokus berjalan mengikuti.
"Hai" sapa Erick setelah masuk ke indomar*t.
Erick memberanikan diri untuk memulai bicara.
Erick mau pertemuan ini dianggap wanita itu hanya ketidaksengajaan.
Tapi siapa sangka, bukan sapaan balik yang diterima Erick. Sikap Erick itu malah hanya mendapat senyuman dari bibir wanita itu. Padahal Erick sudah menyiapkan diri untuk menyapanya lebih dulu.
Bisa dibayangkan bagaimana kaku nya Erick menyapa wanita karena ia tidak pernah terlibat dengan perasaan seperti ini sebelumnya.
Erick mengira, wanita itu akan meresponnya balik. Tapi ternyata senyumannya pun tidak terlalu lama dan wanitanya berlalu begitu saja.
Tunggu, apa tadi "wanitanya?". Erick mengumpat didalam hati sambil mendengus.
"Shit!!!!"
Semenjak saat itu, Erick malah tertantang untuk mengenal lebih jauh pribadi wanita itu. Siapa dia.
Erick makin penasaran hingga kadang dia terlihat bodoh sendiri. Hal itupun ia sadari didalam dirinya.
Ia bahkan tidak pernah mengenal cinta. Bagaimana dia bisa tau bahwa perasaannya adalah cinta?
Cinta adalah hal yang pernah dianggapnya "nyeleneh" dan dia tidak percaya apa itu cinta. Karena dia tidak pernah mendapatkan itu dari keluarganya. Baginya, cinta orangtuanya kepadanya hanyalah obsesi. Obsesi untuk menjadikan Erick orang yang berkwalitas.
Sedangkan cinta dari kedua saudaranya adalah berupa sanjungan yang sebenarnya Erick rasakan biasa-biasa saja. Tidak ada artinya.
Akhirnya, Ia mencoba mengabaikan perasaan itu tapi entah kenapa rasanya ia berat hati melepaskan targetnya kali ini.
"Bahkan aku baru tau namanya hari ini. Itupun karena mencuri lihat nametag nya tadi. bisa-bisanya aku jadi begini" lagi-lagi Erick bergumam didalam hati.
__ADS_1
💠💠💠💠💠
2 hari kemudian, setelah pertemuan di indomar*t
Pagi yang baru diawal bulan yang baru. Bagi Erick pagi ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Erick biasa sarapan pagi sendirian dirumah. Lalu melanjutkan aktifitas magangnya dikantor. Begitulah kesehariannya.
Tiba dipelataran kantor, lagi-lagi ia sekilas melihat wanita itu. Ia mencoba mengabaikannya dan masuk kekantor.
*Tik Tok Tik Tok*
Waktu terus berputar. Disela jam istirahat kantor, Erick memutuskan menarik tunai uang di ATM sebelum ia makan siang di cafe biasa dia nongkrong bersama teman-temannya yang juga mahasiswa magang.
Erick dengan langkah panjangnya sudah berada dipintu masuk bilik ATM yang terletak disamping bank. Ia menunggu gilirannya karena masih ada yang menggunakan mesin penarik uang tersebut.
Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Memunculkan sesosok wanita yang..
Deg
Jantung Erick berpacu dengan cepat, dia seperti tidak bisa mengendalikan diri. Mata mereka bertemu. Memandang dalam satu sama lain.
Deg
Membuat Erick semakin diam tak bergeming. Erick tersadar ketika wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Erick.
"Mas nya mau masuk? Hei mas.. mas??" Ucap wanita itu.
Erick bukan tidak mendengar wanita itu bicara. Tapi dia seperti kaku tidak bisa bergerak. Bahkan hanya untuk membuka mulutnya.
Erick berdehem kemudian mulai mengeluarkan suara khasnya yang serak.
"I, iya saya masuk dulu. Permisi ya."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Erick setelah tidak sengaja saling menatap dalam mata wanita itu. Wanita itu hanya tersenyum lalu meninggalkan Erick.
Erick bahkan sampai lupa harus menarik tunai sejumlah uang.
Dia melangkah masuk tapi didalam bilik ATM dia masih saja seperti orang kebingungan. Untungnya dia langsung mengendalikan dirinya.
bersambung...
.
.
.
.
**Hai guys.. Aku mau terimakasih buat para readers yang sempatin lirik ataupun baca karya aku. mohon dukungannya ya..!!
😬😬😬😬
jangan lupa like, komen dan kalau punya poin lebih boleh di vote dong.
jujur aku belajar dari tulisan Author-author yang udah senior. Bukan untuk plagiat karya ya. ini asli karya dan pemikiran aku sendiri. Tapi selain suka nulis aku juga hobi baca.
Mohon kritik dan sarannya yah. Tapi yang membangun jangan yang menjatuhkan ya guys...!!!!
__ADS_1
luf............dari aku❤️❤️❤️❤️❤️**