Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Bersama Arga -


__ADS_3

Hari menjelang sore sepulangnya Arga dan Gia dari Cafe.


Gia memasuki mobil Arga dan duduk dengan tenang diposisinya. Ia merasa sangat senang atas kerjasama yang terjalin dengan Mikha. Ini adalah awal yang baik untuk Gia dan usahanya.


Arga melirik kesampingnya sekilas. Melihat Gia yang tengah tersenyum-senyum sendiri dengan pikirannya.


Arga ingin bersuara memecah keheningan diantara keduanya, tapi niat itu diurungkannya mendengar ponsel Gia yang berdering, dan panggilan itu langsung dijawab oleh Gia dengan cepat.


Arga berusaha mencuri dengar apa yang sedang Gia bicarakan melalui sambungan handphone itu.


Entah kenapa Arga merasa dirinya sekarang seperti Follower garis keras Gia, yang sangat kepo dan ingin tahu dengan segala hal yang menyangkut Gia termasuk urusan pribadinya sekalipun.


"Hallo, Rick?" Jawab Gia pada Erick.


"Sayang, aku sudah dapat jawaban dari mama. Kamu balik kesini ya!"


Gia tampak diam mendengarkan dan belum ada jawaban dari mulutnya, sesekali mata Gia melirik Arga yang ada disebelahnya. Sungkan untuk berbicara permasalahan pribadi didepan Arga.


"Aku lagi dijalan. Bentar lagi nyampek rumah. Nanti kita bahas soal itu ya." Jawab Gia pada Erick diseberang panggilan.


"Kamu darimana?"


"Nanti aku ceritain ya."


"Oke sayang. Kamu hati-hati dijalan ya"


"Iya" jawab Gia langsung mematikan panggilan di ponselnya.


Gia menatap keluar jendela mobil, udara masih sangat sejuk meski hujan telah berhenti. Sekarang jalanan mulai dipadati kendaraan. Mungkin karena banyak orang menuju pulang, karena weekend telah berakhir.


"Siapa?" Tanya Arga memecah keheningan.


"Ha?"


"Itu tadi yang nelpon kamu siapa?"


"Kepo!" Jawab Gia dengan senyuman mengejek Arga.


Arga menggelengkan kepalanya pelan, ia pun heran dengan tingkahnya sendiri. Biasanya ia tak mau tahu urusan orang lain.


"Besok aku balik ke jakarta. Kamu disini baik-baik ya!" Pinta Arga pada Gia.


Gia mengalihkan pandangannya kepada Arga setelah mendengar ucapan Arga itu.


Wajah Gia kentara sekali menunjukkan keterkejutannya. Tapi ia enggan untuk bicara.


"Kenapa?" Tanya Arga lagi.


"Kamu yang kenapa? Untuk apa berbasa-basi seperti itu padaku?"


Arga mengulas senyum dibibirnya sembari tetap fokus dengan jalanan didepannya.


"Aku bukan berbasa-basi, itu murni pesanku untuk kamu, agar kamu tetap dengan kondisi yang baik disini"


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Ck, kenapa harus memikirkan kondisiku? Udah kayak pacar aja!"


Arga menginjak rem mendadak mendengar kata-kata Gia. Ia jadi tidak fokus menyetir. Mobilnya berhenti seketika. Bisa-bisanya Gia berkata begitu didepan Arga. Membuat Arga jadi merasa nervous saja.


"Apa-apaan sih, Ga! Aku kaget tau!" Ucap Gia seraya tangannya refleks memukul bahu Arga disebelahnya.


Mendapat perlakuan itu bukannya membuat Arga melanjutkan perjalanan, malah membuat konsentrasi Arga serasa buyar seketika.


"Ga?" Desak Gia.


"Apa?" Mendadak Arga pusing dengan debaran di jantungnya.


"Kamu kenapa sih? Mau sampai kapan berhenti disini?"


Arga menatap jalanan, mesin mobilnya masih menyala meski berhenti tepat di jalanan. Untungnya kawasan yang kini menjadi keberadaan mereka sedikit sepi dari kendaraan lain.


Arga mengatur nafasnya berulang kali. Rasanya sudah lama sekali ia tak seperti ini. Kenapa berada didekat Gia begini membuatnya seperti hilang kendali.


Ingin rasanya Arga meneriaki Gia agar diam. Karena ia sedang menetralisir perasaannya yang membuncah. Namun lagi-lagi Gia malah mendorong-dorong pelan bahu Arga, berusaha menyadarkan Arga, agar Arga cepat menjalankan mobil.


"Oh Tuhan. Tidak taukah dia dengan perlakuannya ini malah makin menghambat perjalanan menuju pulang!" Batin Arga dalam hati sambil matanya melirik tangan Gia yang mendorong-dorong bahunya.


"Kalau kamu nggak jalan juga, aku turun ini!" Ancam Gia.


Arga menutup matanya, menyadarkan dirinya. Kemudian ia mulai fokus menyetir.


"Gi?"


"Apa lagi?

__ADS_1


"Suami mu yang mana sih?"


"Ck! Itu lagi"


"Aku serius, Gia. Aku ingin tau!"


"Aku kan sudah bilang diantara mereka nggak ada yang suami aku."


"Iya itu aku udah tau. Kan kamu udah bilang!"


"Lah terus?"


"Ya makanya aku mau tau suami kamu yang mana! Kalau bukan diantara mereka berdua, berarti ada kan seorang lagi yang menjadi suami kamu!"


Gia diam sambil memainkan kukunya. Ia tak tahu mau menjawab apa lagi kini dengan Arga. Tapi ia juga sadar, bahwa Arga sedikit banyaknya harus tahu kenyataan. Karena Arga pun sudah tahu bahwa Gia pernah mengalami keguguran.


"Kalau kamu mau tau, nanti aku cerita ya. Tapi bukan sekarang."


"Kenapa?"


"Kita tunggu sampai dirumah aja. Aku takut nanti kamu nge-rem mendadak lagi" ucap Gia sambil nyengir kuda.


Akhirnya Arga fokus menyetir agar cepat sampai dikediaman Gia.


****


Sesampainya dirumah Gia, mereka duduk diteras rumah.


Lyra tampak sedang memainkan ponsel diruang depan, Nico sudah tak disana. Entah dimana sekarang keberadaannya.


Gia ingin menanyakan pada Lyra tapi dia mengurungkannya mengingat Arga masih berada diteras untuk menunggu penjelasan Gia perihal 'suami ' tadi.


Sepertinya Arga akan tetap menuntut Gia untuk klarifikasi jika ia merasa belum mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari mulut Gia.


Hari sudah mulai gelap. Tanda malam sudah mengambil alih peran menggantikan sore.


"Aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Gia pada Arga sembari menyodorkan minuman kaleng pada Arga.


"Makasih" jawab Arga menerima minuman itu dan mengangguk tanda setuju.


"Kamu sama Mikha ada hubungan sebelumnya?"


"Nggak ada. Hanya teman kampus aja. Kenapa?"


"Nggak, aku hanya ingin tau. Nggak apa kan aku ingin tau sedikit tentang kamu?" Tanya Gia lagi.


"Jangankan sedikit, banyak juga nggak apa-apa!"


"Bukan begitu, kamu seperti ingin tau tentang hidup aku. Jadi biar impas aku juga harus tau hidup kamu! Adil kan?" Gia cengengesan.


"Hmm, jadi kamu mau ceritain tentang kamu kalau aku juga bercerita tentang aku. Gitu?"


Gia mengangguk setuju.


"Oke, jadi aku dulu pernah punya tunangan. dia berteman akrab dengan Mikha. kami bertiga satu kampus dulunya." Jelas Arga dengan santainya.


"Ohhh" Gia hanya bisa ber-oh saja mendengar perkataan Arga. Tapi mendadak jiwa kepo nya ingin terpuaskan.


"Aku pikir Mikha yang pernah jadi pacar kamu! Hehehe. Trus mana tunangan kamu? Kapan kalian menikah?"


Arga tampak meminum minumannya sebelum menjawab pertanyaan Gia.


"Batal nikah Gi, belum jodohnya!"


"Loh kenapa? Pasti kamu nih yang buat ulah"


"Bukan Gia. Memang belum ditakdirkan bersama aja"


Gia manggut-manggut mendengar jawaban Arga.


"Namanya Citra, kami cuma ditakdirkan bertunangan. Dia mengalami kecelakaan tiga tahun lalu dan akhirnya dia meninggalkan aku untuk selama-lamanya"


"Hah?" Gia terperangah mendengar cerita Arga.


"Maaf ya, Ga. Aku nggak bermaksud membuka luka lama kamu!"


"Nggak apa Gia. Aku sudah mengikhlaskan dia. Lagi pula, karena kecelakaan itu aku jadi tau bahwa selama ini dia berselingkuh."


"Maksudnya?"


"Iya, dia kecelakaan bersama lelaki selingkuhannya." Ucap Arga sembari memanyunkan bibirnya.


"Ya Tuhan" ucap Gia syok sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Dulu aku sempat terpuruk mengingat kepergian Citra, apalagi mengingat perselingkuhannya, sakit hati lebih dominan dari rasa kehilangan." jelas Arga.


"Kamu nggak apa-apa kan? Aku minta maaf. Kalau buat kamu makin sakit hati dan sedih jangan dibahas lagi ya!"

__ADS_1


"Hahahahaa" Arga tertawa dengan kuatnya. Membuat Gia terheran-heran.


"Aku nggak sedih lagi, Gi. Kan udah ada kamu sekarang sebagai obat kesedihan aku"


"Cih.. pede kamu! Memangnya aku mau jadi obat. Ya kali !!!, berarti aku cuma dibutuhin pas sakit doang dong!" Ucap Gia.


Mendengar kata-kata Gia membuat Arga mengulumm senyumnya.


"Terus kamu maunya dibutuhkan setiap waktu, gitu?"


"Iya dong. Aku maunya dianggap seperti air putih. Biar nggak mewah tapi sangat dibutuhkan setiap hari" kata Gia dengan bangganya.


"Kalau kamu aku jadikan oksigenku aja, gimana?"


Arga menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Gia. Gia malah memelototi Arga.


"Iya, kan biar bisa dibutuhkan setiap saat. Kalau nggak ada kamu yang jadi oksigenku, aku bisa mati sesak nafas. Hahaha" tambah Arga diselingi tawanya melihat Gia membuang muka.


"Kamu jangan sembarangan ngomong, Ga! Kamu nggak akan mau deh punya oksigen kayak aku kalau kamu tau gimana dengan kehidupanku"


"Memang gimana kehidupanmu? Cerita dong! Katanya biar adil!"


Gia memikirkan matang-matang, ia ingin memberi tahu Arga saja apa yang sebenarnya terjadi dengan kondisinya. Karena ia tidak mau Arga semakin berharap kepadanya nanti.


Gia ingin memutuskan harapan Arga dengan memberitahu Arga kenyataan, bahwa Gia tak layak menerima apapun dari Arga termasuk hal perasaan.


Lagipula, ini berkaitan dengan aibnya sendiri. Gia menimbang-nimbang keputusannya untuk memberitahu Arga.


"Hmm, aku belum bersuami, Ga! Waktu itu aku hamil diluar nikah. Dan aku mempertahankan kandunganku atas keinginanku. Itulah sebabnya aku berada disini sekarang." Gia tertunduk malu.


Arga terdiam, mencerna kata-kata Gia. Awalnya dia syok tapi ia tak mau langsung bersuara dan menunjukkan keterkejutannya.


Arga mengangguk-angguk menandakan ia mengerti apa maksud Gia.


"Boleh aku tau, siapa lelaki itu?" Tanya Arga.


"Lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilanmu!" Tambah Arga lagi.


Gia berdiri dan berjalan menatap langit. Tangannya mencengkram tiang penyangga yang ada diteras. Ia membelakangi Arga yang duduk.


Gia tak mau melihat wajah Arga. Ia terlalu malu untuk melihat wajah Arga sekarang. Bagaimanapun sekarang Gia sedang menceritakan dan membuka Aibnya kepada Arga secara sadar pula.


Gia pun heran dengan dirinya, entah kenapa ia bisa bercerita dan terbuka dengan Arga. Padahal Ia dan Arga belum mengenal terlalu lama.


"Lelaki itu adalah Erick." akhirnya ucapan pengakuan Gia keluar juga dari bibirnya.


"Kalau kamu belum tau lelaki yang bernama Erick. Dia adalah lelaki yang memukulmu waktu itu!" Gia mempertegas jawabannya.


Arga menggeram mengingat Erick. Erick yang pernah memukulnya. Pantas saja Erick terlihat sangat posesif. Ternyata dia yang memang mempunyai hubungan khusus dengan Gia.


"Apa kau mencintainya?" Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Arga.


Arga hanya ingin memastikan bahwa Gia dan Erick saling mencintai, bukan karena Erick melecehkan Gia atau semacamnya yang menyebabkan Gia hamil.


"Erick adalah cinta yang ku letakkan diatas hatiku" jawab Gia meneteskan air matanya mengingat Erick, perlakuan Erick dan tentu saja, keluarga Erick.


Semua kejadian menyenangkan dan menyedihkan terasa berputar-putar dikepala Gia. Sikap Erick yang tidak bisa menutupi perasaannya.


Gia sadar Erick pun sama dengannya. Cinta Erick begitu besar untuknya. Gia rasanya tak sanggup mendengar penjelasan Erick nanti mengenai restu yang sedang diperjuangkan Erick.


"Lalu, kenapa kamu tetap disini? Dan sekarang ada dimana dia, Gia? kenapa kalian tidak bersama?" tanya Arga heran dan mencoba menahan sesak di dadanya atas jawaban Gia tadi mengenai cintanya pada Erick.


"Erick sedang berjuang untuk hubungan kami didepan orangtuanya, Ga!"


Sekarang Arga paham dan mengerti, bahwa hubungan antara Gia dan Erick permasalahannya hanya satu. restu dari orangtua.


Arga berdiri, berjalan sedikit menuju Gia yang menyandar di tiang.


"Kalau kamu memang yakin padanya, bertahanlah sedikit lagi!" Ucap Arga menguatkan Gia sembari ia berdiri tepat disamping Gia.


"Aku yakin padanya, Ga. Tapi aku nggak yakin orangtuanya mau merestui kami!"


"Lalu? jika restu itu tetap tak kalian dapatkan, bagaimana?"


"berarti Erick bukan jodohku, Ga!"


Arga menangkap sikap pesimis Gia dari jawabannya. Tapi sikap Gia itu bisa dimakluminya. Gia seorang wanita, ia tidak punya banyak hal untuk pembuktian didepan orangtua Erick.


Bahkan kondisinya yang pernah mengandung anak Erick pun tidak bisa dianggap pembuktian pengorbanannya untuk Erick dimata keluarga Erick.


"Kamu sabar ya! semoga semua harapan kamu sesuai dengan takdir yang sudah digariskan!" ucap Arga sembari menepuk pelan bahu Gia.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2