
Semua keluarga tengah berkumpul di sebuah meja bundar di dalam sebuah Restoran. Mereka sudah selesai dengan hidangan yang baru saja mereka santap. Kini, waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, dimana semua akan membahas perihal pernikahan Gia dan Arga yang rencananya akan dilaksanakan bulan depan.
Bu Ratih dan Pak Anton sudah tiba sejak kemarin di Jakarta, mereka khusus datang untuk membicarakan hal ini dengan Bu Dewi, Mamanya Arga.
"Berarti kita sepakat ya pernikahan Gia dan Arga akan di lakukan di Jakarta bulan depan?" Bu Dewi tersenyum menatap semua orang dihadapannya.
Gia hanya menunduk karena merasa gugup. Arga yang duduk di sampingnya mencoba meraih tangan yang ada dipangkuan wanita itu, dan menggenggamnya. Arga tahu ini mungkin terlalu cepat untuk Gia.
"Ma, aku rasa itu terlalu cepat buat Gia, kita beri dia waktu sedikit lebih lama ya?" Arga menatap Mamanya kemudian beralih menatap Gia. "Aku mau kamu yang nentuin, seberapa kamu siap aja!" Ucap Arga meyakinkan.
Gia membalas tatapan Arga, ia yakin Arga adalah lelaki yang baik. Tapi entah kenapa perasaan gugup dan ragu bercampur menjadi satu di hatinya. Ia ragu, bukan kepada Arga, tapi ia ragu pada dirinya sendiri. Ia takut jika yang Arga katakan kalau Gia menerima semua ini karena rasa balas budi pada Arga. Gia takut mengecewakan Arga karena sejujurnya ia masih mengenang Erick jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"A-aku, aku akan ikut keputusan keluarga aja. Jika semuanya udah merestui, aku yakin pasti itu yang terbaik." Ucap Gia sambil tetap menatap mata Arga. Genggaman Arga ditangannya terasa semakin kuat.
"Baiklah, kalau boleh aku dan Gia permisi sebentar, kami perlu berbicara empat mata ya.. Om, tante dan Nissa boleh lanjutkan pembahasan ini bersama Mama. Atau kalau mau tambah makanan lagi juga boleh." Arga berbicara dengan sopan seraya menatap ke-empat orang itu.
"Bicarakanlah, Nak. Kalian memang perlu membangun komunikasi yang baik sebelum menikah." Jawab Pak Anton, Ayah Gia.
Arga mengangguk dan menarik lembut tangan Gia untuk ikut bersamanya, memisahkan diri dari keluarga agar bisa leluasa berbicara dari hati ke hati.
Setelah melewati meja-meja Restoran dan beberapa ruangan, sampailah mereka di belakang Restoran. Disana, terdapat sebuah kursi besi yang menghadap langsung ke kolam renang. Kolam renang itu dihiasi lilin-lilin yang mengapung diatasnya, menambah kesan manis dan romantis bagi siapa saja yang melihatnya di malam ini. Pemandangan ini sedikit me-rileks-kan pikiran Gia yang sempat gugup tadi.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Arga sesaat setelah mereka berdua duduk di kursi.
Gia memandang lurus kedepan, tak menatap Arga yang tengah berbicara padanya. Lebih tepatnya ia takut jika menatap kedua mata Arga saat ini.
Gia menggeleng lemah sebagai jawaban untuk Arga.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu seperti banyak pikiran? Bilang sama aku! Cobalah untuk jujur, Gia!" Arga memegang kedua bahu Gia, meminta Gia untuk melihatnya.
"Ga, jujur saja aku ragu." Ungkap Gia dengan suara bergetar.
"Ragu soal apa? Kamu meragukan aku?" Arga mencoba menelisik ke dalam mata Gia, mencari jawaban disana.
"Bukan, aku ragu sama diriku sendiri. Aku takut ngecewain kamu." Gia berucap pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Kamu belum mencobanya, Gia. Kita belum memulainya. Aku yakin kamu gak akan ngecewain aku!"
Gia menghela nafasnya dengan berat. Setitik airmatanya jatuh membasahi pipi mulus itu.
"Aku ragu bisa melupakan Erick dan aku takut kamu gak bisa menerima itu." Gia membuang pandangannya ke samping.
Arga mencoba mencerna ucapan Gia. Hening pun tercipta diantara mereka berdua.
"Dengar aku baik-baik, Gia!" Ucapnya. Gia pun membalas tatapan mata yang serius itu. "Aku, gak pernah dan gak akan minta kamu buat ngelupain Erick. Aku paham dia akan selalu ada dihati kamu." Arga menjeda ucapannya seraya mengelus pipi Gia.
"Aku tahu masa lalu kamu dan aku menerima semua itu. Erick pasti punya tempat tersendiri dihati kamu. Gak papa kalau kamu gak bisa ngelupain dia. Tapi, bagaimanapun Erick tetaplah masa lalu kamu, Gia. Kamu tetap harus menjalani masa sekarang." Ucap Arga panjang lebar.
"Aku hanya takut--"
"Stt..! Kamu yang lebih tahu hidupmu kedepannya harus seperti apa, kamu mau terus hidup bersama masa lalu atau memulai hidup baru bersama orang yang baru pula." Kata-kata Arga kali ini benar-benar diresapi oleh Gia.
Gia mengangguk setuju dengan pernyataan Arga. "Aku akan memulainya, Ga..Aku akan berusaha agar tak hidup dimasa lalu lagi."
"Ya, tapi bukan berarti kamu aku paksa untuk ngelupain Erick. Semua kamu yang jalani dan kamu yang paling tahu tentang hatimu, Gi! Dan aku menerima apapun itu." Arga mengusap airmata Gia yang lagi-lagi terus mengalir.
__ADS_1
"Lagipula, semua sudah direncanakan oleh keluarga kita. Aku gak mau ngecewain mereka. Tapi semua keputusan tetap ada di kamu."
"Kalau aku menolak sekarang, apa kamu juga bisa menerimanya?" Gia menatap Arga yang wajahnya berubah pias seketika Gia selesai dengan pertanyaannya barusan.
Arga mengangguk. "Aku akan menerimanya, apapun keputusanmu. Jika memang begitu, berarti keputusanmu adalah untuk menjalani hidup dengan masa lalu dan aku menghargainya." Arga mengangkat wajahnya dan tersenyum kaku dihadapan Gia.
"Kita akan menikah bulan depan, Ga." Suara Gia berubah semangat. Arga terkejut dan menatap Gia tak percaya.
"Serius?
"Huum."
Arga terperangah lagi mendengar itu dan senyumannya yang kaku berubah menjadi satu senyuman yang melengkung indah seperangkat dengan lesung dipipinya yang otomatis ikut muncul, membuat Gia ikut melemparkan senyum manisnya ke hadapan pria itu.
Mereka saling memberikan aura kebahagiaan bagi satu sama lain, Arga berhasil meyakinkan Gia jika hidup tak selamanya harus berada di masa lalu. Keputusan yang terbaik adalah keputusan yang mengikuti kata hatimu sendiri. Begitu juga dengan Gia, ia berusaha mengikuti alur dan bertanya pada dirinya sendiri, manakah yang terbaik untuknya.
Dari semua yang telah ia jalani selama ini, dari semua cobaan hidup yang menimpanya, entah kenapa Arga selalu ada disetiap ia membutuhkan. Mulai dari pelariannya, disaat ia harus mengalami keguguran, sempat disekap oleh Mikha dan sebagai pendonor ginjal untuk Gia.
Jika ada kata yang lebih dari sekedar ucapan terima kasih, maka pastilah Gia akan memberikan dengan sukacita dan cuma-cuma pada Arga. Dari situlah ia merasa belum memberi Arga apa-apa. Hingga hati kecilnya berontak, ingin sekali membalas semuanya dengan memberikan cinta itu pada Arga. Arga layak mendapatkannya.
Erick, dia akan tetap berada dihati Gia dan tak akan pernah Gia lupakan. Tapi semesta memang memiliki andil kuat dalam pertemuan Gia dengan Arga, sehingga Gia dengan sadarnya kali ini pun mencoba untuk memulai kembali semuanya dengan orang yang baru tanpa menghilangkan sosok Erick. Arga adalah jawaban semesta untuk dirinya.
Bu Dewi menatap anaknya yang terus tersenyum sepanjang malam, pertemuan keluarga ini benar-benar terjadi dan sudah lama ia tak melihat sang putra tersenyum semringah seperti itu. Tangan Arga yang terus menggenggam jemari Gia, serta tatapannya pada Gia membuat hati Bu Dewi merasa yakin jika Arga benar-benar sudah menemukan kebahagiaannya.
Bu Ratih, Pak Anton dan Nissa terus tersenyum bahagia melihat kedua calon pengantin itu. Entah kenapa bagi orangtua Gia, Arga adalah laki-laki yang baik dan tepat untuk melengkapi Gia. Sejak awal pertemuan mereka dengan Arga, mereka merasa yakin dengan lelaki itu.
Gia menatap Arga yang tengah berbicara hal konyol pada semua orang dihadapannya. Beberapa kali mereka semua tertawa dengan lelucon yang Arga buat. Arga memang bisa mencairkan suasana, pandai berprilaku. Ia tahu kapan harus serius dan kapan waktunya bercanda. Gia memandang senang keluarganya dan ia merasa sudah lama keluarganya kehilangan momen hangat seperti ini. Gia benar-benar yakin sekarang jika Arga adalah tujuan akhirnya.
__ADS_1
...-The End-...