Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Semangat dan Mimpi -


__ADS_3

*POV. Gia


Matahari mulai tenggelam masuk keperaduannya di ufuk barat, menyisakan sembirat warna jingga dilangit biru yang hampir gelap.


Setelah membersihkan diri dan mandi, aku membaringkan tubuhku diatas single bed tanpa kaki dirumah kontrakan yang kini resmi menjadi tempat tinggalku.


Rasanya aku lelah sekali karena sejak tiba disini aku langsung merapikan barang-barang ku yang seadanya dan menyusun pakaianku dilemari kecil sudut kamar yang masih layak digunakan.


Rumah kontrakan ini lumayan. Sesuai dengan harganya. Bersih dan nyaman. Terdapat satu kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur. Ada pula ruang depan yang merangkap menjadi ruang tamu sekaligus ruang makan.


Aku tidak punya barang-barang rumah tangga disini. Tapi aku beruntung sudah dapat single bed, lemari kecil dan kompor kecil didapur. Sisanya, bisa ku beli nanti. Tentunya membeli yang sangat ku butuhkan.


Aku harus menyesuaikan diri disini. Meskipun kelihatannya tetangga disini ramah-ramah ketika menyapaku siang tadi.


Tapi, Dengan keadaanku yang hamil tanpa adanya suami, aku harus menyiapkan matang-matang mentalku atas cibiran dan gunjingan orang-orang sekitar.


Aku harus kuat menerima semua ucapan dan sindiran orang lain. Itulah konsekuensi yang harus ku tanggung saat ini.


Aku tidak bisa menutupi setiap mulut-mulut orang diluar sana yang mengoreksiku. Tapi aku bisa menutup telingaku sendiri untuk pura-pura tidak mendengar.


Aku akan lebih selektif dalam bergaul. Dan aku memutuskan tidak mau dekat dengan siapapun. Kecuali, jika ku nilai orang itu memang tulus peduli pada keadaanku.


Aku masih saja slonjoran di kasur sambil memikirkan hal-hal yang muncul dibenakku.


Aku teringat uang dari Nico yang memang masih tersisa baaaanyakkk. Tapi, cepat atau lambat uang itu pasti akan habis juga jika aku tidak mempunyai pendapatan.


Aku mulai berpikir untuk mendapatkan uang dan Menghasilkan.


Aku berpikir kalau aku melamar pekerjaan itu sangat tidak mungkin. Mengingat kondisiku yang sedang hamil dan mudah lelah sewaktu-waktu.


Perusahaan ataupun toko mana yang mau menerima karyawan yang hamil tapi tidak jelas statusnya ini. Single atau Janda?


Huh.. aku merutuki diriku sendiri.


Mau bagaimana lagi, sepertinya aku memang tidak bisa melamar pekerjaan. Bagaimana kalau aku pingsan lagi saat bekerja.


"Tidak! Tidak! Aku harus memikirkan cara lain." Tekadku.


Aku lanjut berpikir, memikirkan dari sudut pandangku yang lain. "Aku buka usaha aja." Batinku. "Tapi usaha apa ya?" Tambahku lagi.


Aku memikirkan talenta apa yang terpendam dalam diriku. Aku punya bakat melukis. Meski tidak profesional tapi lukisanku tidak jelek kok.


Lalu, Aku cuma punya pengalaman bekerja dibidang konveksi sebagai marketing atau pemasaran. Urusan jual menjual aku sudah tau triknya. "apa aku jualan aja ya?" Pikirku lagi.


Aku mengetuk-ngetuk dahiku dengan ponsel sambil berpikir profesi apa yang pastas ku lakonkan kali ini.


Aku teringat sesuatu, profesiku dulu sebagai asisten ibuku. Menjahit. Ya aku memang tidak handal dan masih amatiran dibidang itu. Tapi aku bisa menjahit.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku jualan tapi dari hasil jahitanku sendiri?" pikirku lagi.


Dan sebuah ide cemerlang muncul diotakku. Hobi melukisku juga bisa ku ekspresikan kali ini. Aku akan mendesign sendiri barang-barang yang akan ku jual dan ku jahit. Aku pun tersenyum sumringah.


Memang tidak semudah kelihatannya. Tapi aku harus mencoba dulu. Itulah tekadku.


Aku langsung mengambil pulpen dan kertas di Waist Bag ku. Mencatat keperluan apa yang akan ku beli. Membuatnya menjadi list belanjaanku nanti.


Aku berpikir untuk membeli seadanya saja dulu karena ini adalah awal buatku. 'Coba-coba siapa tau beruntung' itulah motto ku saat ini.


Karena akupun tidak mau menghamburkan uang. Aku tidak mau membeli hal yang tidak penting lagi seperti masa belia ku. Aku harus memikirkan hidupku, kandunganku dan persalinanku nantinya.


Aku bertekad harus berusaha sampai mahir apapun yang akan ku kerjakan nanti asalkan halal. Karena aku mau menabung kali ini. Untuk masa depan anakku. Aku tidak mau anakku diremehkan oranglain seperti diriku ini.


Mendadak aku jadi bersemangat sekali. Aku mengelus-ngelus perutku yang masih rata.


"Sabar ya nak, mama lagi usaha sayang. Ini untuk masa depan kita, nak. Kamu sehat-sehat didalam sana ya." celetukku bersuara, seperti sedang bicara dengan anakku yang ada didepan mata.


Mataku berbinar-binar. Mengelus perutku, membuat aku jadi teringat Erick.


"Apa kabarmu, Rick? Ku harap kamu sehat dan jangan melakukan hal bodoh." Gumamku dalam hati.


Perasaan khawatir melandaku ketika ku ingat Erick sudah ku tinggalkan beberapa hari lalu sebelum aku ke kota ini. Dia pasti tidak menerima ini semua dengan mudahnya.


Rasanya nyeri di dadaku, membayangkan apa yang akan dilakukan Erick. Cepat-cepat ku tepis bayang-bayang itu walau sulit. Hingga tanpa terasa akupun tertidur dalam perasaan nlangsa.


"Kamu ada masalah apa? kenapa seperti ini? bujuk Erick mencoba mendinginkan aku yang menggebu-gebu.


"nggak ada, aku cuma mau kita berpisah!" jawabku.


"Yang, kamu nggak ada petir nggak ada hujan tiba-tiba ngomong gini. kamu nge-prank aku ya?" tanya Erick lagi sambil mencoba tersenyum dan menggenggam tanganku. Dia mengatur nada bicaranya agar masih tetap tenang.


aku menarik tanganku dari genggamannya.


"aku pergi. kita selesai." ucapku sambil melangkah pergi.


"kamu kenapa, Gia? kenapa kamu tiba-tiba menyerah? apa aku kurang buat kamu? apa semuanya memang nggak ada artinya buat kamu?"


langkahku terhenti mendengar pertanyaannya. aku menahan bendungan air dipelupuk mataku.


"aku nggak mau, Gia" tambahnya lagi.


aku diam sembari melanjutkan langkahku meninggalkan taman. Tapi tiba-tiba pergelangan tanganku dipegang Erick.


"Tunggu. aku mohon jangan seperti ini" ucapnya lirih.


Air mataku rasanya tidak bisa ku tahan lagi. Bendungan air itu seketika menyeruak keluar membasahi kedua pipiku. aku terisak mendengar suara erick yang berbicara memohon kepada wanita sepertiku.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Erick merengkuhku kedalam dekapannya. Tangisku makin pecah di dada bidangnya.


Aku tidak tahu lagi harus berkata apa kepadanya. Tapi keberanianku yang sudah ku pupuk dari rumah sebelum menjumpainya ditaman ini, keluar lagi.


"Aku nggak cinta lagi sama kamu, Rick." ucapku disela-sela isak tangisku.


Erick menggelengkan kepalanya berulang kali. "Enggak! kamu bohong." katanya.


"Berhentilah dan ikhlaskan hubungan kita sampai disini" balasku.


"nggak mau!"


aku mendorong sekuat tenagaku melepaskan pelukan Erick. Cukuplah ini pelukan terakhir kami. batinku.


Aku langsung berlari meninggalkan Erick disana. Aku tidak mau menoleh kebelakang lagi untuk melihat wajah dan keadaannya. karena aku takut berubah pikiran.


Aku terus melangkah meski ku dengar Erick berulang kali memanggil-manggil namaku sampai aku jadi pusat perhatian orang yang berada disekitar taman. Tapi aku tetap pada pendirianku. Meninggalkan Erick.


Aku tersengal-sengal terbangun dari tidurku. Badanku rasanya panas dingin. ku raih gelas disamping ranjangku. ku teguk hingga tandas.


Aku memimpikan bagaimana hari terakhirku meninggalkan Erick di taman. Seperti dejavu. Seperti Kenyataan yang terulang kembali.


Aku merasa dada ku amat sesak. Ku lirik Jam di dinding kamar, sudah hampir subuh. Aku menyadari malam tadi aku tertidur saat memikirkan Erick.


Rasa khawatir menyelinap di relung hatiku. "Aku mencintainya, tapi aku meninggalkannya" gumamku dalam hati.


Aku tersenyum miris. Tapi inilah yang terbaik.


Aku mengambil keputusan sepihak untuk memutuskan hubunganku dengan Erick, setelah aku tahu aku hamil.


Erick tidak tahu kondisiku sedang mengandung anaknya. Aku terlalu takut. Aku takut Erick menolak ku dan menolak anak dalam kandunganku.


Aku tidak mau lebih sakit apabila dia tahu lalu menolakku. Maka, sebelum Ia menolakku dan makin menyakitiku akan lebih baik jika begini. "akan lebih sakit jika ia tahu dan tidak mau menganggap aku dan anak ini, biarlah dia tidak tahu"


Aku ragu padanya itu adalah kebenaran.


Entahlah. Aku juga tidak mau merusak hubungan baiknya dengan keluarganya dengan adanya anak dalam rahimku.


Aku pun tidak ingin merusak karirnya. itu yang ada dalam benakku.


Aku sudah mencoba menunggu restu keluarganya, tapi itu tidak kunjung ku dapatkan hingga kini.


Apalagi jika keluarganya tahu aku hamil. aku pasti dianggap mencoreng nama baik keluarga mereka. Itu sangat sakit bahkan ketika masih jadi bayanganku saja.


Inilah alasanku untuk pergi. Menghindar dan kalau perlu menjauh dari Erick selamanya. Meski batin dan hatiku tersiksa. Biarlah..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2