
*POV AUTHOR
Matahari mulai beranjak naik. Namun nampaknya dua insan itu masih enggan untuk bangun. Mereka masih terlelap dan berada dibawah selimut yang sama didalam sebuah kamar hotel.
Suara alarm memecah keheningan. Tentu saja itu alarm yang berasal dari ponsel Erick. Ia biasa menyetel alarmnya untuk membangunkannya yang tinggal seorang diri di Apartment. Apalagi weekend begini Erick biasa melakukan olahraga pagi hingga ia harus bangkit dari tidurnya walau hanya untuk lari pagi di sekitaran kawasan Apartment tempat tinggalnya.
Gia menggeliat dari posisi tidurnya, mendengar alarm yang memekakkan telinga, ia mencari-cari dimana keberadaan ponsel Erick itu untuk segera membungkam suara yang mengganggu tidurnya.
Bagaimana tidak mengganggu, Gia rasanya baru tertidur beberapa jam saja, sementara letih ditubuhnya belum hilang. Acara resepsi kemarin membuatnya lelah. Belum lagi melayani Erick dikamar mandi dan berlanjut lagi diranjang King size ini. Rasanya badan Gia benar-benar litak.
Gia hendak bangkit dari posisinya yang berbaring, tapi ia urungkan karena tersadar bahwa ia tak menggunakan pakaiannya. Gia melirik suami disampingnya yang tidur nyenyak dengan nafas yang teratur seolah tak ada kejadian. Padahal alarm bising yang terdengar dari ponselnya itu, benar-benar mengganggu indera pendengaran.
"huufff" Gia menghembuskan nafas kasar. Matanya mencari-cari sesuatu. Dan seolah berbinar ketika melihat kaos oblong Erick yang teronggok dilantai, kaos yang sempat Erick kenakan ketika mereka selesai dengan urusan dikamar mandi malam tadi. Tapi lagi-lagi kaos itu harus rela dicampakkan Erick ke lantai karena urusan mereka berlanjut lagi dikamar ini.
Gia meraih kaos itu, dan mengenakannya tanpa pikir panjang lagi. Ia berjalan memutari ranjang menuju nakas yang berada disamping suaminya yang sedang terlelap.
Gia meraih Waist Bag milik Erick dan membukanya, menemukan ponsel yang sedari tadi menjerit-jerit bagai minta pertolongan.
"Bisa-bisanya dia nggak terbangun, padahal ini sangat berisik!" Ucap Gia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat wajah Erick yang tertidur pulas bak seorang bayi. Sangat teduh.
Gia mematikan alarm itu. Lalu Ia menggulung rambutnya dan mencepolnya asal. Gia memutuskan membereskan keadaan kamar yang berantakan karena ulahnya dan Erick.
Gia memunguti bajunya sendiri yang ternyata tercampak cukup jauh disekitar lemari, karena sebenarnya ia belum sempat mengenakannya.
Lalu Gia memunguti Bathrobe yang juga teronggok dilantai. Bathrobe itulah yang masih dikenakan Gia ketika memilih-milih baju didalam kopernya, koper yang sempat ia bawa ketika akan mengadakan acara resepsi dihotel ini.
Namun entah kenapa belum sempat memakai baju yang telah ia pilih, Erick kembali mengganggu Gia dengan serangan nakalnya.
Lagi-lagi Gia menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian malam tadi yang membuatnya nyaris tak tidur.
Setelah selesai dengan urusan membereskan kamar itu, Gia memutuskan untuk mandi pagi. Kali ini ia harus memastikan mengunci pintu kamar mandi. Tak ingin mengulang hal yang sama. Karena tidak lucu kalau harus bercengkrama dalam air lagi pagi ini. Bisa-bisa Gia pingsan karena masuk angin plus karena kelelahan.
__ADS_1
Selesai mandi, Gia langsung mengenakan baju gantinya yang malam tadi tak sempat ia pakai. Ia sudah membawa baju itu ikut kamar mandi tadi. Ia langsung memakainya dikamar mandi saja. Mencari aman. Begitu pikir Gia.
Ketika keluar dari kamar mandi, benar saja Erick sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Wajahnya yang baru bangun tidur itu sontak membuat Gia tersenyum. Pemandangan yang indah bukan ketika mendapati lelaki tampan sedang fokus, terlebih lelaki itu adalah suaminya sendiri.
Erick menoleh melihat Gia yang sudah dengan balutan busana santai dan rambutnya yang basah masih ditutupi handuk.
"Pagi istriku!" Ucap Erick dengan suara berat khas bangun tidur.
"Pagi." Jawab Gia tersenyum.
Erick menepuk sofa tepat disebelahnya, kode untuk Gia agar duduk disampingnya.
"Sini!" Ucapnya dengan suaranya yang selalu menenangkan buat Gia.
Gia melangkah mendekat dan duduk tepat disamping Erick. Erick membuka balutan handuk yang masih bertengger dikepala Gia. Ia menggosok handuk itu ke rambut Gia. Rupanya ia mencoba membantu mengeringkan rambut istrinya itu.
"Nggak usah, biar aku aja" Ucap Gia sambil menahan tangan Erick dengan tangannya.
"Tapi apa?" Tanya Gia. Perasaannya mulai tidak enak.
"Tapi sebagai gantinya nanti kamu bantuin aku mandi. hahahaha" Seringaian mulai muncul dari bibir Erick.
Gia mencebik dan berdecak.
"Itu sih maunya kamu! lagian mandi kenapa harus dibantuin? selama ini juga mandi sendiri!" Ujar Gia sewot.
"Itu kan dulu, sekarang kan udah ada kamu sayang!"
"Yee jadi tugas aku sekarang mandiin suamiku gitu?" Gia mulai protes.
"Hahahaha siapa?"
__ADS_1
"Hah? maksudnya?"
"Iya tadi kamu bilang mandiin siapa?"
"emmm suamiku?"
"Nah iya, hahahaha" Erick tertawa kencang.
"Kenapa?"
"Enggak, rasanya kayak mimpi aja karena udah jadi suami kamu" Ujar Erick sumringah.
"kamu mandi deh sekarang biar nggak kena serangan kaget!"
"Kok serangan kaget?" Erick mulai bingung dengan pernyataan Gia.
"iyalah! siapa tau setelah kamu mandi kamu jadi sadar dan kaget karena ternyata kamu memang udah jadi suami aku dan itu bukan mimpi!" Gia tak kalah tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Iya iya aku mandi sekarang, tapi abis mandi aku pastiin aku nggak akan kaget, karena kejadian semalam udah buat aku sadar bahwa kita emang beneran udah suami-istri sekarang!" Ujar Erick santai. Ia menekankan kata 'kejadian semalam' agar Gia mengingatnya kembali.
Erick bangkit dan berdiri dari posisinya menuju kamar mandi.
"Jadi merah kan wajah kamu inget kejadian semalam!" Goda Erick pada Gia sebelum membuka pintu kamar mandi.
Gia pun sontak menutup wajahnya dengan tangannya sendiri karena merasa malu dengan ucapan suaminya itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...