
"Hallo?" Jawab seorang diseberang sana.
"Arga?"
Arga mengernyitkan dahi mendengar suara wanita diseberang sana yang sepertinya sedang berteriak ditelinganya.
"Siapa lo?"
"Arga, ini aku Lyra temannya Gia. Kamu ingat kan?"
Arga mencoba berfikir cepat diantara kesadarannya, Arga sudah tertidur sejak tadi. Ia melirik jam di dinding yang menunjukkan sudah lewat tengah malam.
"Oh. Ada urusan apa kau menelponku? Bukankah ini sudah cukup larut?" Tanyanya heran dan terkesan cuek.
Lyra menceritakan pada Arga perihal Gia yang belum juga pulang sedari kepergiannya pagi tadi.
Arga yang belum terlalu sadar sepenuhnya dari bangun tidurnya, terkejut mendengar keterangan Lyra. Ia spontan bangkit dari posisi sebelumnya yang sedang berbaring.
Entah kenapa Arga selalu sensitif mendengar hal tentang Gia. Padahal setelah tau Gia akan menikah, Arga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berlagak 'masa bodoh' dengan hidup Gia selanjutnya.
Lyra meminta bantuan Arga untuk membantunya mencari Gia, karena tidak biasanya Gia seperti ini. Lyra sangat khawatir sekali sekarang.
"Jadi Gia sudah ada dikota ini lagi sekarang? " Tanya Arga yang sudah tidak tahu apa-apa tentang kabar Gia.
"Iya, Ga! Sudah hampir seminggu Gia disini. Dia mengurus bisnisnya dengan Mikha dibutik milik si Mikha itu. Tapi aku tidak pernah bertemu dengan Mikha sih. Aku hanya pernah mendengar Gia bercerita tentangnya!"
"Mikha ya? Iya aku tahu Gia berurusan dengannya!" Jawab Arga sambil mengingat pertemuannya lagi dengan Mikha ketika mengantar Gia menemui Mikha waktu itu.
"Kamu tau orangnya yang mana? Atau kamu tau alamat butiknya dimana, Ga? Soalnya Gia bilang mau ke butik itu sih pagi tadi!"
"Aku nggak tau butiknya dimana. Tapi aku tau dengan Mikha"
"Kau mengenalnya?"
"Ya" jawab Arga datar.
"Kalau begitu, kau bisa menghubunginya ga? Tanya dia tentang Gia!"
"Aku nggak punya contact nya! Yaudah kamu dimana sekarang? Kita cari Gia sekarang!" Jawab Arga dengan nada antusias.
Lyra menjawab Arga bahwa posisinya saat ini masih dikontrakan.
Lyra bingung apakah harus ikut Arga untuk mencari Gia atau tidak. Mengingat waktu sudah lewat tengah malam.
Tapi setelah cukup berfikir, Lyra mengiyakan saja keinginan Arga. Toh Lyra benar-benar ingin menemukan Gia sekarang.
Menurut cerita Gia juga Arga lelaki baik yang tidak mungkin melakukan hal hal aneh padanya. Lyra berusaha untuk pasrah dan mengikuti kata hatinya saja.
Tak berselang lama, Lyra menerima panggilan lagi dari Arga. Arga mengatakan ia sudah sampai Gang didepan kontrakan.
Arga ingin berjalan masuk menemui Lyra. Tapi Lyra menolak dan memilih untuk menghampiri Arga saja didepan Gang agar lebih cepat.
"Kita mau cari kemana sekarang?" Tanya Lyra bingung.
Lyra sudah duduk bersandar disamping Arga yang mengemudikan mobil.
"Kita cari kerumah Mikha. Karena aku nggak tau butiknya dimana!" Jawab Arga.
"Kamu tau rumah Mikha?" Lyra agak terheran.
Arga mengangguk pelan.
Lyra masih bingung kenapa Arga bisa kenal dengan Mikha bahkan tahu alamat rumahnya. Ia ingin menanyakan tapi ia sungkan. Akhirnya Lyra memilih diam.
Arga mengemudikan mobilnya menuju jalanan kota yang sudah mulai terlihat lengang di jam tidur seperti ini.
Mobil Arga berbelok memasuki kawasan perumahan dengan Cluster Elite.
Setelah melewati pos satpam dan diinterogasi sedikit perihal tujuan mereka, Arga dan Lyra pun bisa masuk kedalam area perumahan dengan meninggalkan tanda pengenal Arga di pos satpam.
"Ternyata benar dia tau alamat rumah Mikha. Apa dia dan Mikha mengenal dengan cukup dekat?" Batin Lyra.
Lyra terus memperhatikan Arga yang membawanya menuju ke kediaman rumah Mikha.
"Nggak usah natap aku kayak gitu! Nanti kamu jatuh cinta bakal susah urusannya!" Ketus Arga dengan percaya dirinya. Arga menyunggingkan senyum sejuta wattnya.
"Hidihhhhh!" Lyra mencebik sambil mengangkat bahunya lalu membuang pandangan keluar jendela mobil.
Tak lama mobil Arga berhenti didepan rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi.
"Udah sampai!" Kamu tunggu disini apa mau ikut keluar?" Tanya Arga.
"Aku tunggu disini saja ya!" Jawab Lyra.
"Oke"
Arga menuruni mobil dan memencet bel rumah yang ada didepan pagar.
Lagi-lagi Arga harus berhadapan dengan satpam. Jika tadi satpam perumahan, kali ini satpam yang khusus menjaga kediaman Mikha.
Terlihat Arga sedikit berbincang dengan satpam itu. Lalu Arga masuk kembali kedalam mobil.
Arga diam tak bersuara. Lyra enggan untuk bertanya. Mencoba tutup mulut saja dan melihat apa yang akan dilakukan Arga selanjutnya.
Tak lama pintu gerbang rumah besar itu dibuka. Mungkin tadi satpam rumah mengkonfirmasi apakah Arga boleh masuk atau tidak kedalam pekarangan rumah itu.
Mobil Arga memasuki pekarangannya dan memarkirkan mobil di basement yang luas.
"Ayo turun!" Ucap Arga pada Lyra.
Lyra ikut beranjak turun meski hatinya sungkan untuk masuk kerumah yang asing ini.
Tanpa perlu memanggil sang empunya rumah, pintu rumah itu terbuka disambut oleh seorang wanita setengah baya.
"Silahkan masuk mas, mbak! silahkan duduk! Tunggu sebentar disini ya!" Ucap wanita itu sopan. beliau tampak memaksakan kesadarannya. Mungkin sudah terlelap juga tadi.
Arga dan Lyra mengangguk. Dan wanita itu meninggalkan keduanya untuk menunggu.
__ADS_1
Lagi-lagi Lyra jadi merasa sungkan harus membangunkan penghuni rumah dengan berkunjung di jam istirahat seperti ini.
"Apa nggak apa-apa kita kesini hanya untuk menanyakan Gia? Aku jadi nggak enak, Ga!"
"Udah tenang aja!" Jawab Arga santai.
"Tapi kalau Mikha nggak tau dimana Gia, bagaimana?" Tanya Lyra lagi.
"Yaudah kita cari ketempat lain. Kamu ada kepikiran nggak, kira-kira Gia kemana?"
Lyra bingung menjawab pertanyaan Arga. Karena dari tadi ia menepis pikirannya tentang Gia yang mungkin ada pada Nico.
"Bilang aja, Ra!" Suara Arga sedikit memaksa ketika melihat gelagat Lyra yang agak aneh.
"Aku mikirnya sih, Gia--Gia kemungkinan ada bersama Ni-Nico!" Jawab Lyra dengan ragu pada akhirnya.
Arga terdiam.
Lyra menundukkan kepalanya dan merem*s jari jemarinya sendiri. Karena ia melihat raut kemarahan diwajah Arga setelah ia menyebut nama Nico.
"Kamu udah tanyakan pada lelaki itu?"
"Nomornya tak bisa dihubungi!"
Tangan Arga mengepal mendengar pernyataan Lyra. Ia mencoba menetralkan rasa berkecamuk didadanya.
"Selepas dari sini, kita kerumah lelaki itu!" Jawab Arga tegas.
Lyra mengangguk pasrah.
Dari tangga rumah terlihat seseorang menuruni tangga. Bukan, itu bukan Mikha melainkan kakaknya, Ivander.
Ivan melihat Arga yang berdiri dan seorang wanita disebelahnya yang masih terduduk tanpa mengangkat kepalanya.
Ivan mendekat kearah Arga. Ia sangat tau siapa lelaki yang berkunjung kerumahnya ini.
"Ada apa kau kerumahku?" Tanya Ivan datar.
Arga mendekat ke arah Ivan.
"Apa aku bisa bertemu dengan Mikha? Dimana dia?" Jawab Arga dengan pertanyaan pula.
Lyra yang awalnya menunduk, melihat sumber suara yang sedang bertanya pada Arga.
Suara yang sangat familiar ditelinganya. Lyra membeku diposisinya dengan tatapan lurus melihat Ivan yang kini sudah berdiri dihadapan Arga.
Ivan belum menyadari tatapan aneh Lyra padanya karena ia sibuk ingin mengintrogasi lelaki yang ada dihadapannya ini.
Mendengar pernyataan Arga membuat Ivan menyeringai.
"Mau apa kau dengan adikku? Bukankah--"
"Aku tidak mau berbasa-basi! Aku mau bertemu Mikha!" Potong Arga masih dengan suara datar.
"Mikha tidak ada. Dia sedang berlibur!"
"Gia? Jadi kau mau membahas soal rekan bisnis adikku itu?"
Ivan mulai berjalan menuju sofa tanpa mengalihkan perhatiannya pada yang lain.
"Duduklah!" Perintahnya pada Arga.
Ivan mendahului Arga untuk duduk. Ia duduk dengan menyilangkan kaki. Tapi pandangannya sekilas melirik wanita yang dibawa Arga kerumahnya ini.
Ivan duduk diseberang Lyra, sedangkan Arga duduk tak jauh dari posisi Lyra duduk.
Ivan masih terdiam. Begitupun Lyra. Mereka saling menatap tanpa ada kata-kata. Arga yang berada disana merasa bingung karena ia seperti orang yang tidak dianggap keberadaanya.
Arga berdehem menyadarkan kedua orang yang sepertinya sudah terpaku ini.
"Arga, ada hubungan apa kau dengannya?" Tanya Ivan pada Arga menunjuk Lyra dengan dagunya.
Arga menggelengkan kepalanya. Ia merasa pasti ada yang tidak beres dengan kedua orang ini.
Mata Lyra menunjukkan keterkejutan dan mata Ivan tampak tidak kalah terkejutnya mendapati wanita yang tengah duduk bersebrangan dengannya ini.
"Hey hey aku ingin menanyakan keberadaan Gia pada Mikha! Gia tidak pulang kerumah setelah pamit untuk ke butik Mikha. Kenapa jadi membahas tentang hubunganku dengannya?" Jawab Arga sembari menunjuk Lyra.
"Arga, Kita pulang saja! Gia tidak ada disini!" Kata Lyra.
Arga menyimpulkan bahwa memang ada sesuatu antara Lyra dan Ivan. Arga menyunggingkan senyumnya.
"Aku pastikan kita tidak akan beranjak dari sini sebelum aku tahu keberadaan Gia!" Jawab Arga dengan tegas.
Ivan menghela nafas berat. Ia mengatakan pada Arga bahwa ia akan menelpon Mikha terlebih dulu.
Lyra diam dan tertunduk tanpa ada sepatah katapun lagi yang keluar dari mulutnya.
Setelah beberapa kali panggilan pada Mikha, akhirnya panggilan itu dijawab juga oleh Mikha.
"Dek, kamu dimana? Apakah kamu berlibur bersama temanmu?"
"......"
"Benarkah?"
"......."
"Oke!"
Panggilan berakhir.
"Mikha sedang ada di Villa. Ia benar-benar sedang berlibur. Tadi siang ia memutuskan untuk berangkat."
"Apakah Gia ada bersamanya?"
"Sepertinya tidak. Ia sendirian kesana untuk menenangkan diri!"
__ADS_1
Arga menoleh menatap Lyra.
"Ra! Kita kerumah Nico sekarang!" Ujar Arga.
Lyra mengangguk setuju.
"Tunggu! Bukankah Nico adalah suamimu?" Tanya Ivan yang kini tertuju pada Lyra.
"Urusanku disini sudah selesai. Terimakasih! Aku harus pergi!" Jawab Lyra dengan nada datar.
Ivan diam tak bergeming.
Arga menatap Ivan lalu mengangkat bahu.
"Aku balik ya! Terimakasih sudah mau mengizinkan kami masuk kerumahmu ini!" Kata Arga.
Ivan terus diam membeku, mencoba mencerna situasi apa yang ada dihadapannya ini. Ia benar-benar bingung. Ia tak bisa menahan rasa terkejutnya malam ini ketika melihat Lyra berada didepannya.
Lyra dan Arga memutuskan meninggalkan kediaman Ivan dan Mikha.
Setelah mobil Arga memasuki jalanan, Arga melirik Lyra yang sejak tadi sedikit berbicara dan hanya memilih untuk diam. hanya beberapa kali berbicara tentang alamat rumah Nico.
"Aku benar-benar tidak suka mencampuri urusan oranglain!" Ucap Arga memecah keheningan.
"Tapi bisakah kau bicara tentang apa saja sekarang! Aku makin mengantuk melihatmu diam begini! Bukankah tadi kau amat cerewet!" Pinta Arga sambil menahan tawanya mengingat tingkah Kikuk dua anak manusia didepannya tadi.
"Emmm iya" kata Lyra pelan.
"Bagaimana kau bisa mengenal Mikha?"
"Mikha? Dia teman kuliah ku dulu. Sahabatnya Citra!" Jawab Arga cuek.
"Siapa lagi Citra itu?"
"Mantan tunanganku!"
"Kau pernah bertunangan?"
"Hahaha aku menahan rasa ingin tahuku melihat kau dengan Ivan tadi. Tapi sekarang kau dengan tidak tahu malu ingin tahu urusanku!"
"Bu-bukan begitu, aku hanya mencari alasan untuk bicara agar kau tidak mengantuk!" Jawab Lyra sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Apa hubunganmu dengan Ivan?" Akhirnya Arga bertanya juga.
"Hahaha itu tidak ada urusannya denganmu!" Jawab Lyra mulai tertawa.
"Sial! Kau membalas kata-kataku!"
Lyra terkekeh mendengar umpatan Arga.
"Seharusnya kau seperti Gia! Dia mau berbagi cerita denganku asalkan aku juga bercerita. Jadi impas!" Ujar Arga dengan nada bangga.
"Hahaha belum move on ya kamu! Oke, aku akan cerita setelah kamu cerita!"
Arga menggeleng.
"Ladies first!"
Lyra memutar bola matanya jengah. Tapi ia menceritakan juga perihal ia yang mengenal Ivan.
Ivan dulunya tinggal dirumah neneknya, dikota asal Lyra. Yang juga sama dengan kota asal Gia.
Ivan tinggal disana lumayan lama karena ia anak yatim piatu. Awal mereka kenal karena Lyra tinggal tak jauh dari rumah nenek Ivan. Mereka sering bertemu tidak sengaja.
Karena ketidaksengajaan itu, lama-lama Ivan seolah sengaja untuk bertemu Lyra. Lyra awalnya hanya kasian dengan Ivan. Ia tak mau memberi harapan. Karena pada saat itu, Lyra punya hubungan dengan Nico.
Tapi entah kenapa Lyra yang terbiasa dengan kehadiran Ivan malah menjadikan Ivan tumpuannya dikala Nico sering menduakannya.
Akhirnya Lyra menjalin hubungan juga dengan Ivan untuk membalas kelakuan Nico. Jadi Ivan lah lelaki yang Lyra jadikan pelarian setiap ia merasa kecewa dengan Nico.
Sebenarnya, Lyra merasa amat bersalah pada Ivan. Lelaki itu tahu bahwa Lyra punya hubungan dengan Nico tapi tak sekalipun ia berniat pergi dari Lyra.
Sampai pada akhirnya Lyra memutuskan menerima Nico untuk menjadi suaminya. Dan setelah Lyra menikah, Lyra tak pernah tahu lagi kabar dan keberadaan Ivan.
"Jadi, dia tau kamu punya pacar? Dia kamu jadiin yang kedua?" Arga menerka-nerka.
Lyra mengangguk.
"Dia nggak pernah memaksaku untuk memilih. Tapi akhirnya keputusanku menikah dengan Nico mungkin adalah jawaban untuknya!"
"Ternyata dia sama aku sebelas dua belas! Hahahah!"
Lyra tergelak mendengar pernyataan Arga.
"Iya ya? Sama sama ditinggal nikah!" Ujar Lyra dengan polosnya.
"Tapi aku masih berkelas dibanding dia. Aku nggak pernah mau dijadikan yang kedua!" Ucap Arga bangga.
Mobil Arga memasuki kawasan rumah Nico setelah Lyra memberi petunjuk.
"Halah, kalau Gia mau, kamu pasti juga mau dijadikan yang kedua. Hahahha!" Lyra mengejek Arga.
"Ya enggaklah! Aku mau Gia bahagia. Dia menjalani hidup yang cukup berat selama ini!" Ujar Arga dengan nada Lirih.
Lyra melihat kesungguhan dimata Arga.
"Terus? Kalau kamu sama mantan tunangan kamu itu gimana?"
.
.
.Bersambung...
__ADS_1