
Ivan memperhatikan Mikha yang makan siang sambil melamun.
Mereka memutuskan makan siang di Villa saja sebelum kembali kerumah utama.
"Kamu kenapa dek? Masih nggak ikhlas?" Tanya Ivan sambil memasukkan sesendok nasi kemulutnya.
"Kak, apa aku terlalu egois ya kak?" Tanya Mikha dengan nada putus asa.
"Kamu baru menyadarinya, dek?" Ivan santai saja tetap mengunyah makanannya dengan teratur.
Mikha mengangguk.
"Kak, apa nanti ada yang mau dengan adikmu yang egois ini?" Tanya Mikha lagi.
"Tentu! Kamu memang egois. Kakak akui itu. Tapi dibalik itu semua kamu sebenarnya adikku yang manis!" Ujar Ivan dengan entengnya.
Mata Mikha berkaca-kaca menatap Ivan. Memang hanya Ivan lah yang mengerti Mikha dengan segala kekurangannya.
"Kak, kenapa tidak kau saja yang jadi kekasihku?" Ucap Mikha kemudian yang membuat Ivan tersedak makanannya sendiri.
Ivan mengambil minuman disisi kanan dan meminumnya sampai tandas. Ia lalu menatap Mikha yang sedang menahan tawa sehabis mengucapkan kalimat mengejutkan itu.
"Kau pikir aku mau punya kekasih sepertimu?"
"Tuh kan! Kakak aja nggak mau punya kekasih kayak aku!" Mikha memanyunkan bibirnya.
"Tentu saja aku mau kalau kau bukan adikku!"
"Dan itupun kalau kau bisa mencairkan hatiku!" Tambah Ivan lagi sambil menaik-naikkan alisnya.
Mikha tersadar lalu berdecak sambil mengelengkan kepalanya berulang.
"Ck! Sepertinya aku salah kak! Aku nggak mau punya kekasih sepertimu! Kau kaku seperti batu! Apalagi hatimu itu! nggak akan pernah cair, karna hatimu itu bukan es batu melainkan batu balok yang keras. haha!" Ujar Mikha sambil berlari meninggalkan Ivan yang masih bengong atas ucapan adiknya.
******
"Terimakasih karna kau sudah mencari dan menemukan Gia!" Ujar Erick melalui sambungan telepon pada Arga.
"Ya, aku akan menjaganya selama dia masih berada disini" jawab Arga enteng tanpa memikirkan perasaan Erick disana.
"Ku pastikan Gia akan segera kembali, jadi kau tak perlu terlalu berusaha"
Arga mengeluarkan smirk dibibirnya meski Erick tak mungkin melihatnya.
"Jagalah dia selama dia bersamamu!" Pinta Arga tulus.
__ADS_1
"Tanpa kau minta pasti aku lakukan!"
"Baiklah. Kalau kau tak menjaganya dengan baik, kau tau siapa orang yang akan menggantikanmu untuk menjaganya!" Jawaban Arga terus menantang Erick.
"Itu tidak akan terjadi!" Jawab Erick tegas lalu langsung memutuskan panggilan telepon itu. Malas mendengar ucapan Arga selanjutnya.
Arga masih berada dikontrakan Gia sehabis mengantarkan Gia pulang.
Arga geleng-geleng kepala melihat panggilan dari Erick tadi yang sudah terputus.
"Dasar emosian! Baperan!" Kata Arga mengata-ngatai ponselnya. Seolah ponselnya itu adalah Erick.
Gia yang dari tadi mendengarkan percakapan Arga dan Erick pun hanya memandang Lyra yang juga sedang memandang Gia. Ia duduk tak jauh dari mereka.
Mereka berdua mendengar percakapan Arga dan Erick barusan, karena entah ada maksud apa Arga sengaja mengaktifkan loudspeaker handphonenya.
"Hahahhahaaa" Lyra yang mendengar percakapan Erick dan Arga dari tadi pun akhirnya mengeluarkan suara tawanya yang tak bisa ia tahan lagi.
Gia menutup matanya sambil memijat pelipisnya pelan. Pening menjalar dikepalanya kini.
Arga yang melihat dua wanita didepannya sontak nyengir sendiri.
"Aku balik ya!" Pamitnya pada Gia dan Lyra.
*****
Mikha sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju alamat Gia yang ia ketahui tapi tak pernah ia kunjungi.
Sesampainya dikontrakan Gia, ia mengetuk pintu. Gia menatapnya bingung. "Mau apa dia kesini?" batin Gia.
"Gia, aku kesini mau minta maaf." Seolah menjawab pertanyaan di batin Gia, suara lirih Mikha itu langsung to the point.
"Masuklah"
Mikha masuk dan duduk. Lalu lanjut meminta maaf pada Gia.
"Aku tau tindakanku kemarin sudah sangat keterlaluan. Seharusnya aku menerima dengan lapang dada." Ucap Mikha kemudian.
"Mikha, aku memaafkanmu. Tapi aku berharap kau tidak mengulanginya lagi" jawab Gia tulus.
Mikha menatap wajah tulus itu. Ia tak menyangka Gia memaafkannya dengan semudah itu. Padahal tindakan Mikha sudah lewat batas wajar.
"Ka-kau benar-benar mau memaafkan aku?" Tanya Mikha yang langsung dijawab anggukan oleh Gia.
"Terimakasih. Aku pasti tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi." Ucapnya seraya memeluk Gia yang duduk disampingnya.
__ADS_1
Wajah Mikha amat senang karena Gia mau memaafkannya.
"Kamu memang baik, tidak egois sepertiku. Pantas saja dua orang itu menyukai bahkan mencintaimu!" Ucap Mikha dengan manja dan memanyunkan bibirnya. Berlagak merajuk.
Gia tertawa melihat tingkah Mikha.
Perhatian mereka teralihkan ketika seorang wanita berdehem.
Mikha mengedip-ngedipkan matanya tak percaya melihat seorang yang kini bergabung bersamanya dan Gia.
"Aku dengar ada tamu, jadi aku buatkan minum. Silahkan!" Ucap wanita itu cuek sembari meletakkan secangkir teh keatas meja.
"Ka-kamu? Kamu wanita itu kan?"
Lyra tersenyum sambil mengangkat bahu.
"Kamu kenal sama Lyra?" Tanya Gia pada Mikha.
"Aku-aku ragu apakah benar. Tapi memang benar!"
"Maksudnya? Aku nggak ngerti!" Ucap Gia lagi.
"Dia wanita yang ada di foto itu. Iya! foto yang didalam figura!"
Kini Gia dan Lyra menatap bingung pada Mikha. Ucapannya aneh dan mereka tak mengerti.
"Fotomu ada dalam figura dan figura itu disimpan baik-baik oleh kakakku didalam laci kerjanya!" Jelas Mikha lagi.
Lyra tahu yang dimaksud kakak oleh Mikha itu adalah Ivan. Dulunya Ivan pernah bilang bahwa Ivan punya adik bernama Mikha.
Lyra juga baru tahu Mikha adik Ivan adalah Mikha yang sama dengan yang berbisnis dengan Gia, ketika ia mencari Gia dirumah Mikha kemarin.
Tapi Lyra tak menyangka dengan penjelasan Mikha barusan.
"Ha? Fotoku disimpan Ivan dilaci kerjanya? Untuk apa?" Batin Lyra.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1