Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Kepulangan Erick-


__ADS_3

"Kau dimana rick? Kapan kau mau pulang?"


Ucap Frans diseberang sana.


"Aku lagi diluar kota! Jangan bicarakan hal yang tidak pent--"


"Ini bukan tidak penting, papa sakit, Rick. Pulanglah! Papa barusan kami bawa kerumah sakit. Dan dia mencari-carimu!"


Erick diam sesaat. Memikirkan sesuatu.


"Oke, besok aku pulang."


Panggilan berakhir. Tapi Erick masih mengotak-atik ponselnya.


Ia menelepon seseorang. Ayah Gia.


"Halo" jawab seseorang diseberang sana.


"Selamat siang Oom. Ini Erick"


"Oh bagaimana nak? Kamu sudah dapat kabar tentang Gia?"


"Saya mau mengabari bahwa saya sudah menemukan Gia, Oom. dan saya juga sudah berbicara padanya"


"Benarkah nak? bagaimana kabarnya? Dia sehat kan?"


"Dia sehat Oom, apa Oom ingin berbicara padanya?'


"Tentu. Bisakah?"


"Sebentar ya Oom, nanti saya akan meminta Gia menelpon lagi jika saya sudah bersama Gia"


"Baiklah"


Panggilan berakhir. Erick ingin sekalian mengajak Gia pulang ke kotanya besok bersama-sama. Erick tidak mau Gia berada dikota ini sendirian. Tidak! Bukan sendirian, tapi ada lelaki bernama Arga disekeliling Gia. Erick tidak Rela.


Erick masuk kedalam rumah, dan melihat Gia yang sudah menghidangkan masakannya diruang depan.


"Ayo makan" kata Gia pada Erick dengan senyumnya.


Rasanya Erick ingin memeluk wanita yang sedang memegang piring itu. Tapi Erick harus menahan diri. Ia tahu, salah perlakuan lagi nanti Gia bisa merajuk bahkan marah seperti tadi.


Erick duduk dan mengambil piring makannya.


"Cuma ada ini. Kamu nggak apa kan?"


"Ya nggak apa lah. Apapun yang kamu masak aku pasti makan. Di Apartment malah aku jarang makan"


"Jangan nggak makan! Kamu udah lebih kurus dari terakhir kita ketemu!"


Gia merebut piring ditangan Erick, dan mengambilkan Erick Nasi yang banyak sekali.


"Udah udah, jangan banyak banget nanti aku gendut!"


"Laki-laki kok takut gendut. Takut itu kalo sakit nggak makan-makan!"


Erick tersenyum melihat Gia yang benar-benar sudah seperti dulu. Yang suka mengomelinya. Erick merindukan itu.


"Kalau aku gendut, nanti kamu nggak tertarik lagi. Apalagi pas kamu meluk aku, nanti kamu ilfeel lagi ada lemak ngeganjel diperut aku" jawab Erick sambil mengunyah makanannya.


"idihhh meluk kamu apaan!" Gia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Erick tersenyum melihat tingkah Gia.


Gia merasa terlalu naif dengan kehadiran Erick dirumahnya. Ia merasa ingin menjauh lagi seperti usahanya selama ini, karena ia tau Erick juga salah satu kesedihannya yang mungkin tidak dapat ia raih suatu saat nanti karena restu dari keluarga Erick yang sama sekali belum ia dapatkan.


Dengan pertemuan mereka lagi, dan adanya Erick disini sebenarnya telah menjebol tembok pertahanan yang Gia bangun dengan susah payah.


Tapi keadaan bertolak belakang dengan pertahanan Gia. Keadaan seolah sedang menguji cinta dan perasaan Gia terhadap Erick.


Kenyataan yang ada adalah direlung hati Gia yang paling dalam ia sangat merindukan moment-moment seperti ini dengan Erick.


Gia sadar, rasa cintanya yang ia pupuk selama ini untuk Erick berikut kehadiran Erick didepan matanya sekarang memang sudah meruntuhkan benteng pertahanannya sendiri.


"Kamu kapan mau balik Gi?" Ucap Erick melihat Gia yang termenung.


Gia menggeleng.


"Besok balik yuk, sama-sama aku!"


"Aku nggak mau balik, aku betah disini."


"Tapi Gia, kamu punya keluarga disana yang nyariin kamu. Aku tadi baru telpon ayah kamu. Ngabarin kondisi kamu. Pasti Ayah kamu berharap kamu cepat pulang"


"Aku belum bisa, Rick. Aku terlalu ngecewain orangtua aku. Kalau kamu mau balik besok. Yaudah kamu pulang sendiri aja."


"Nggak bisa gitu, Gia. Aku mau kamu juga balik. Pulang sama sama aku, ya?"

__ADS_1


"Atau ada yang buat kamu nggak rela ninggalin kota ini? Ninggalin tempat ini?" Tambah Erick


"Maksud kamu apa?"


"Ya siapa tau hati kamu mau pulang tapi ada seseorang yang menahan kamu biar nggak pulang, gitu."


Gia seketika menghentikan aktifitas mengunyahnya. Dia menarik gelas meminum air putih hingga tandas dengan sekali teguk.


"Aku udah nggak nafsu buat makan. Kamu makan aja sendiri" ucap Gia sambil meletakkan gelasnya keatas meja dengan sedikit menghentakkannya.


(Benarkan, kalau Erick salah ngomong pasti ngambek lagi deh Gia-nya)


"Kenapa kamu marah? Kalau memang nggak ada yang menahan kamu disini. Apa susahnya untuk pulang?" Tanya Erick lagi.


(Ini namanya Erick memang memancing kemarahan!)


Gia menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya.


"Rick, apa nggak bisa ya seperti ini aja?"


"Maksud kamu?"


"Aku lebih suka disini daripada disana. Nggak usah pulang. Disini aku nyaman kok"


"Nyaman karena ada lelaki itu?"


Gia berdecak sebal terhadap Erick. Ia membuang muka. Malas melihat Erick seketika.


"Apa dia memang orang yang berharga buat kamu? Seperti yang tadi kamu bilang?"


Gia paham sedari awal yang dimaksud Erick adalah Arga.


"Arga itu udah nolong aku, Rick!"


Erick berdecih.


"Menolong kamu sekali, lalu kamu anggap dia begitu berharga."


"Udahlah, kamu nggak akan ngerti! Kalau dia nggak nolong aku, bisa aja aku mati dijalanan dengan posisi keguguran dan kehabisan darah, Rick!"


"Oke, apa ucapan terima kasih kamu padanya nggak cukup? Apa dia mau kamu balas dia pake perasan?"


"Perasaan apa sih Rick? Lagian kenapa bahas dia? Kita tadi bahas persoalan pulang kan?"


"Kenapa bahas dia kamu bilang? Justru karena dia kamu nggak mau pulang kan?"


"Ya kasi aku alasannya lah. kenapa? Apa alasan kamu nggak mau pulang?


"Aku lebih suka begini. Disini.


Alasannya, karena..."


"Karena apa? Jujurlah!"


"Karena disini tidak ada orang-orang yang menentang hubungan kita. Dan kita bisa makan dengan tenang seperti ini tanpa takut dipergoki oleh orang-orang yang nggak suka sama kita!"


"Aku memang rindu dengan keluargaku. Dan aku akan secepatnya kasi kabar mereka. Dan ku rasa mereka pasti mengerti keputusanku untuk tetap disini." Tambah Gia lagi.


"Hubungan kita?" Erick menjadi sumringah mendengar jawaban Gia.


"Jadi maksud kamu, kamu mau tetap disini dan hubungan kita seperti sekarang ini? makan bareng dengan tenang setiap hari? Dan tanpa bayang-bayang keluarga aku, gitu?"


Karena Erick tau yang dimaksud Gia orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka adalah keluarga Erick.


Erick tersenyum membayangkan kata-kata Gia tadi, yang mengikutsertakan Erick dalam kehidupan Gia.


Erick mengerti, pulang ke kota asal mereka hanya akan menyakiti hati Gia lagi dan mengingat kenangan buruk. Terutama yang diciptakan oleh keluarga Erick.


Keinginan Gia itu adalah sama dengan keinginan terbesar Erick. Erick pun ingin pergi dari belenggu keluarganya dan tinggal bersama Gia.


"Awalnya, ketika aku pindah kesini ya nggak ada lagi nama kamu dalam list hidup aku" jawab Gia.


Erick merengut dan ingin protes. Tapi Gia kembali bersuara.


"Ya setelah ada kamu, ya kamu disini ajalah. Kenapa enggak? kenapa juga harus pulang?" Tambah Gia.


Erick mengu lum senyumnya.


"Aku mau hidup disini sama kamu, berdua. tanpa bayang-bayang orang yang nggak suka sama hubungan kita. Tapi aku mau hubungan kita ke jenjang yang serius, bukan hanya hidup bersama. itu tujuan aku." Jelas Erick.


"Maksud kamu?"


"Ya.. aku mau kita ada statusnya lah, menikah! Kamu jadi istri aku, dan aku jadi suami kamu. Seperti anggapan orang-orang disini"


"Makanya kita pulang dulu, paling enggak ya minta restu kedua orangtua kamu walau mungkin dari orangtua aku akan sulit" tambah Erick lagi.

__ADS_1


Gia hanya diam memperhatikan Erick. Ia mau menyambut niat baik Erick yang ingin menikahinya dengan menerima Erick.


Tapi, entah kenapa masih ada yang mengganjal dihatinya untuk melanjutkan. Meski hatinya sangat mencintai lelaki ini.


****


Erick sudah menyelesaikan makan siangnya dirumah Gia. Ia meminta Gia menelpon orangtua Gia. Gia pun menuruti.


Gia ngobrol panjang lebar melalui sambungan telepon dengan keluarganya. Mereka saling melepas rindu.


Obrolan mereka dimulai dari permintaan maaf Gia, kabar keguguran Gia dan kabar tempat tinggal Gia. Isak tangispun tak luput disela-sela pembicaraan mereka.


Tentu saja Gia dipaksa pulang oleh orangtuanya. Tapi Gia tetaplah Gia. Dia punya pendirian dan pendapat sendiri untuk hidupnya.


Akhirnya meski sulit, Gia bisa menyakinkan orangtuanya untuk tetap berada dikontrakannya sekarang.


Tak lama Erick pun pamit untuk kembali ke hotel dan berkemas untuk kepulangannya esok hari.


****


Erick memasuki bandara, hari ini ia akan pulang ke kota asalnya. Ia menggunakan pesawat sore.


Erick sempat menemui Gia pagi tadi di kontrakannya, Tapi Gia tetap menolak untuk ikut pulang sore ini. bahkan mengantar Erick ke bandara pun Gia tak mau.


Erick tidak bisa memaksa Gia lagi. Memaksanya sama dengan membuat pertengkaran lagi diantara mereka.


Erick ingin lebih lama disini, menemani Gia. Tapi ia sudah berjanji pada Papa nya untuk segera pulang. Lagipula, masa cuti kerja Erick akan berakhir besok.


Mau tidak mau, Erick memang harus pulang. Erick tidak rela meninggalkan Gia. Tapi Gia meyakinkan Erick bahwa ia akan baik-baik saja.


Erick pulang dengan perasaan yang cukup tenang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Gia lagi.


Dan kepulangannya inipun sekaligus tekadnya untuk mendapat restu dari kedua belah pihak orangtua mereka.


Soal hubungan mereka, akhirnya mereka memutuskan kembali bersama.


Tapi, Erick masih tidak paham dengan jawaban Gia yang seolah menggantung dihati Erick, tapi jika dicerna memang ucapan Gia itu ada benarnya dan tidak bisa lagi Erick bantah.


"Kalau kamu sudah dapat restu orangtuamu untuk menikahiku, kamu bisa datang kapan saja. aku tetap pada posisiku dan jawabanku pasti akan menerimamu" itulah itikad baik dari Gia menyambut perasaan Erick.


Tapi, yang membuat Erick bingung. Gia juga mengatakan perihal jodoh.


"Kalau kita memang tidak berjodoh, buat apa dipaksakan. Mungkin kamu akan menemukan jodohmu yang lebih baik dari aku."


Erick bisa menyimpulkan jawaban Gia. Yaitu jika Erick mendapat Restu orangtuanya, maka mereka akan menikah! Tapi jika restu itu tidak didapat, untuk apa memaksakan sesuatu yang memang bukan jodohnya!


Erick ingin menyangkal kalimat terakhir Gia, tapi semua yang dibilang Gia memang benar adanya.


"Apa aku memang harus melepaskanmu jika memang kita tidak berjodoh?" Batin Erick.


Erick juga meminta Gia menjauhi Arga agar ia bisa tenang. Tapi apa jawaban Gia?


"Aku dan Arga hanya berteman, tidak lebih"


Gia menganggap Arga adalah teman setelah Arga menolongnya kemarin. Dan Gia merasa Arga pun akan menganggap Gia sama. Sebagai teman.


"Dan bila ternyata ada hubungan lebih diantara kami, itu pasti terjadi setelah hubungan aku dengan kamu memang sudah benar-benar usai." Ucapan Gia yang membuat batin Erick perih.


Toh Gia juga tidak tahu kedepannya bagaimana dan bagaimana juga perasaan Arga.


"Apa aku juga harus merelakanmu dengan orang lain apa bila kita tidak berjodoh?" Batin Erick ketika mengingat kata-kata Gia.


"aku tidak mau egois menyuruhmu memilih antara aku atau keluargamu!" Ucap Gia di penghujung pembicaraan mereka pagi tadi.


Jadi Erick menyimpulkan bahwa kini mereka hanya bisa menikah jika Erick dapat persetujuan orangtuanya. Selain daripada itu, Gia tidak ingin menikah dengannya. Dan Erick harus siap melepaskan Gia dan Rela jika kenyataannya Gia nantinya akan berjodoh dengan orang lain.


Karena sejatinya, hidup kita akan terus berlanjut meski kita tidak ditakdirkan bersama. Dan siapapun pasangan kita nanti itu adalah jodoh untuk kita masing-masing.


Tidak semua hal yang kita inginkan akan tercapai di dalam hidup kita.


Dan tidak semua tujuan kita akan berhasil. Pasti ada satu atau dua hal yang akan menjadi jatah gagal kita.


Begitupun hubungan, kita bisa saja menjalaninya dan memupuk perasaan kita dengan serius dan penuh cinta. Tapi itu tidak menjamin hubungan itu akan berhasil.


Dan kembali lagi kepada sang maha pengatur jodoh. Kita hanya bisa memilih seseorang dan mengusahakannya, tapi yang menentukan itu jodoh kita atau bukan, sejatinya tetap bukanlah diri kita sendiri.


Erick membuyarkan pikirannya di ruang tunggu. Melanjutkan langkah karena sebentar lagi ia akan flight dan meninggalkan kota ini.


Erick memasuki kabin pesawat, ia pun duduk di bagiannya dengan diam. Dan melanjutkan perjalanannya dengan pikiran yang melanglang buana.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2